K l i n i k

Klinik itu tersuruk di antara dua bangunan yang begitu megah menghimpitnya, seperti plastik bekas yang dijejalkan diantara rongga kosong barang elektronik yang baru saja kita beli. Jika engkau memasukinya, akan kau temui ruangan berukuran 4x4 meter.

Di ujung ruangan itu, terdapat partisi yang dibikin keliling, mirip kubikal, dengan meja lajur yang berguna sebagai meja pendaftaran. Di meja itu, berjejalan karton-karton coklat lusuh yang hanya ditahan oleh pembatas seng baja. Karton-karton itu adalah kartu kontrol yang berguna untuk mencatat kunjungan pasien. Karton-karton itu begitu lusuh, mungkin karena sering diambil, lalu terkena keringat petugas yang kerap keluar di ruangan tanpa AC ini—yang bahkan kipas angin pun tidak ada.

Pemilik kartu-kartu itu, pikir saya, pasti orang yang kerap berobat di sini atau orang yang sudah lampau terdaftar di klinik ini. Betapa hebatnya ia sakit selama itu tapi tak kunjung menemui ajal.

Di sebelah kanan ruang tunggu itu, terdapat dua ruangan seperti kamar. Yang pertama bertuliskan “Administrasi”. Di situ terdapat dua petugas perempuan paruh baya yang terlihat sama kusamnya dengan cat warna gading lapuk dinding ruangan itu. Ataukah jangan-jangan, mereka bertugas di sini semenjak klinik ini berdiri? Kamar berikutnya bertuliskan “Ruang Pemeriksaan”.

Ruangan ini pasti tempat petugas kesehatan yang akan memeriksa saya. Entah itu dokter, atau seorang mantri. Saya harap adalah seorang dokter. Mantri hanyalah perawat. Meski ia telah beberapa kali mengikuti pelatihan kesehatan, menurut hemat saya bukanlah orang yang tepat untuk mendiagnosis suatu penyakit. Barangkali itu hanya pendapat saya saja, masalah cocok-cocokkan diperiksa, tiap orang pasti berbeda-beda.

Saya masih menunggu di kursi lajur yang menempel ke tembok. Di ruang pemeriksaan masih ada pasien, seorang anak balita dengan ibunya, saya lihat tadi sewaktu mendaftar. Dari dalam ruangan, sayup-sayup terdengar percakapan mereka.

“Anak saya diare..” lalu kalimat berikutnya menghilang.. “….jangan diberi minum susu.” Sepenggal kalimat, yang saya kira adalah dokter itu, terdengar. “Saya beri dia tajin..” “Ibu.. Mules..” suara anak kecil menyeletuk. “…daun jambu biji sama garam.” “Pokoknya jangan! Itu bikin… keluar cacing.”

Dari situ saya simpulkan anak tadi sedang menderita diare, penyakit yang disebabkan oleh bakteri di makanan yang tidak higienis. Penyakit yang.. yah sudah lumrah di daerah seberang. Daerah tempat pemulung tinggal dengan rumah-rumah kardus dan sampah-sampah yang berserakan itu. Ironisnya, tempat itu hanya beberapa meter dari perumahan.

Pintu pun dibuka, seorang ibu yang memakai baju daster berwarna putih kopi (warna putih yang sudah kandas oleh noda) menggandeng seorang balita perempuan berwajah kuyu. Sisa-sisa ingus terlihat di pinggir-pinggir hidungnya, mungkin itu sebab anak-anak kecil di negeri ini disebut dengan anak ingusan. Ingus itu tentu karena virus influenza. Namun entah, anak yang ingusan sepertinya menjadi hal yang lumrah.

Ingus adalah cairan bening yang keluar dari hidung anak kecil, dan itu tidak membahayakan, mungkin begitu mereka pikir. Berbeda dengan saya yang justru karena ingus itulah saya datang ke klinik ini.

Ibu beranak tadi menuju ke loket Administrasi. Dari dompet kain yang lusuh, ibu itu mengeluaran tiga lembar uang sepuluh ribuan yang lusuh pula. Lalu petugas yang lagi-lagi berwajah lusuh, menyerahkan seplastik obat berjenis empat. Masing-masing jenis obat dikemas dalam plastik kecil dengan kertas bertuliskan: 3 X SEHARI, DIMINUM SETELAH MAKAN. ***

Salah satu petugas di ruang administrasi membukakan pintu untuk saya. Rupanya, antara dua ruangan itu terdapat pintu tembus. Saya masuk. Lalu dipersilahkan duduk oleh seorang—anggaplah dokter. Dokter perempuan di hadapan saya berkacamata, dengan alis yang begitu jelas terlihat bikinan pensil alis. Rambutnya sebahu, beberapa kerutan sudah terlihat di dahinya. Namun gerak-geriknya masih sigap, terlihat dari suaranya yang cekatan menanyai saya. “Ada keluhan apa, Pak Nur?” Ia menanyai saya sambil melihat data saya di karton coklat lusuh itu. “Saya batuk dan pilek, sudah satu minggu, padahal seringnya cuma tiga atau empat hari.” “Ada keluhan lain?” “Tiga hari ini buang air besar saya mencret. Saya sudah minum obat. Aktiflu dan Stopcret.” “Baik. Mencret itu sering atau sesekali?” “Maksudnya, Bu?” “Mencret bapak itu, terjadi terus-menerus, atau cuma beberapa kali dengan jeda waktu?” “Oh, beberapa kali saja.” “Bapak punya alergi obat?” “Tidak, Bu” “Bapak sudah menikah?” Oh, pertanyaan apa yang dia tanyakan? Sungguh menyebalkan. “Belum.”

Dokter itu tersenyum. Genit. Saya hanya nyengir kuda membalasnya. Dokter itu mencatat diagnosa pada kartu kontrol saya. “Bapak ini jangan minum susu, makanan pedas, buah-buahan, roti, makanan bersantan. Istirahat yang cukup, Bapak. Jangan terlalu banyak beraktivitas. Nah sekarang tolong buka jaket bapak.”

Saya membuka jaket kerja de Pucci saya, dokter tadi dengan stetoskopnya mulai mendengarkan detak jantung saya. Sedang saya mendengar detik jarum jam di dinding. “Baik, saya buatkan resep obat, nanti tolong diminum setelah makan. Semoga lekas sembuh, ya, Pak..” “Terima kasih, bu..”

Saya keluar dari ruang pemeriksaan. Oh, betapa mudahnya kerja dokter itu. Mendengar keluhan, mendengar degup jantung, menulis resep dan menyerahkannya ke petugas obat—dan sesekali tersenyum genit.

Tidak lama kemudian, saya dipanggil oleh petugas loket administrasi. Sama seperti anak kecil tadi, saya diberi empat jenis obat, lengkap dengan kertas kecil bertuliskan: 3XSEHARI, DIMINUM SETELAH MAKAN. “Silahkan obatnya, Pak. Biayanya enam puluh lima ribu.” “Oh, iya.”

Saya mengeluarkan dua lembar uang lima puluh ribu, menyerahkannya dengan sedikit tanda tanya. Bukankah ibu beranak tadi hanya membayar tiga puluh ribu? Mengapa saya enam puluh lima ribu? Apakah karena pakaian saya lebih bagus dan bersepatu kulit? Ah, toh saya akan tetap membayarnya. Barangkali memang iya bila ibu yang terlihat lusuh tadi mendapatkan keringanan.

Kesehatan memanglah hal yang mahal di negeri ini—selain pendidikan. Dokter-dokter di rumah sakit dibayar dengan biaya yang tidak terjangkau oleh rakyat miskin. Kartu Jaminan Kesehatan Miskin hanyalah pepesan kosong belaka. Mereka yang dirawat di Rumah Sakit dan menggunakan kartu tersebut, seringnya mendapat perawatan dengan kelas yang bawah. Di satu ruangan yang berisi banyak orang dan perawat serta dokter yang baru saja magang.

Nabila, putri Pak Kardi, satpam kantorku misalnya, harus kehilangan penglihatan mata sebelah kirinya akibat penanganan yang tidak benar dari suatu rumah sakit. Kendati demikian, ia tetap dikenakan biaya pengobatan. Masalah mata Nabila yang rabun? Tidak ada yang mau bertanggung jawab.

Maka, klinik-klinik umum seperti ini adalah harapan bagi rakyat yang kurang mampu. Menjadi tumpuan—paling tidak sugesti—supaya mereka kembali sehat dengan meminum obat ber-resep. *** Setelah menerima kembalian, Saya mengucapkan terima kasih kepada petugas Administrasi. Saya lantas keluar, meninggalkan ruangan yang penuh dengan kemuraman itu. Di luar, di bawah atap klinik yang terlihat rapuh, terpampang papan bertuliskan “Klinik Harapan, Balai Pengobatan Khusus Orang Miskin”. Dan papan itu telah berdiri sejak—entah. Pengadegan, 14 Juli 2011 _____________ M. Nurcholis lahir di Cilacap 22 Juni 1986. Menulis cerpen dan puisi di waktu senggangnya mengabdi kepada negara sebagai Pegawai Negeri Sipil. No HP: 085880944812.

Bermimpi Merdeka dari Balik Jeruji

Bendera merah putih terbuat dari plastik, ukuran kecil, telah terangkai dan sudah terpasang di pian, mengelilingi seluruh sel-sel berbentuk letter U. Di depan, gedung aula juga sudah berpacak, penuh aroma merah-putih. Bangunan di depannya lagi, ah, tak bisa dilihat. Itu gedung utama para sipir dan kepala. Tak mungkin bisa terlihat. Tapi yakin, pasti lebih meriah lagi, sebab akan terlihat dari para pengendara yang melintasinya. Jalan propinsi.

Ya, Hari Kemerdekaan telah tiba. Besok pasti ada upacara. Ada pengumuman nama-nama yang mendapatkan remisi. Ah, betapa bisa dirasa kawan-kawan yang melonjak gembira, masa hukuman dapat berkurang.

Tapi... Pada malam yang telah sepi. Sinar rembulan tersamar jatuh di tanah lapang. Dari kejauhan, terlihat sipir tengah asyik menonton televisi. Ya, seorang anak lelaki di balik jeruji, tangannya menggenggam dua besi yang menggigil kedinginan. Delapan temannya, sudah terbuai oleh mimpi. Beralas seadanya. Saling menindih kaki mengundang kehangatan.

Ia memandang ke depan. Memandang langit yang kelam. Memandang jeruji dari tiap sel yang bisa dilihatnya dari tempat ia berdiri. Tentu semuanya telah tertidur, atau berpura-pura tidur. Berdiri di balik jeruji memandang keluar, pastilah bukan kegiatan yang menyenangkan lagi. Biasanya hanya dilakukan oleh orang-orang yang baru menjadi penghuni. Ketika mencoba beradaptasi pada ruang kecil, dan bermimpi dapat melihat dunia luas kembali.

Ia telah bertahun. Setidaknya, berdasarkan ingatan, telah tiga tahun mendekam di sini. Sejak usia 12 tahun. Jadi sekarang usianya 15 tahun. Berarti tiga tahun lagi, ia baru bisa keluar dari sini.

Pikirannya melayang-layang. Mencoba berpijak pada peristiwa yang menghantarkannya ke sini. Ia ingat Lik Bono bersama tiga orang kawannya, mengajak ke suatu tempat. Sebuah rumah. Ia diminta menunggu di luar, mengawasi sekiranya ada orang lewat. Tugasnyalah untuk memberi kode. Tapi dasar, di pinggiran parit, ia merebah. Malah tertidur.

“Rampok! Rampok! Rampok!” disertai suara kentongan telah membuatnya tergeragap. Ketika bangkit, sebuah tinju telah melayang ke pipinya yang membuat ia terjerambab.

“Jangan, jangan, kasihan anak kecil. Cari pelakunya yang lain,” suara seseorang yang tampak berwibawa lantaran didengar. Seseorang menarik tangannya, mencengkram bahunya, dan memapah, serta melindungi dari amarah orang-orang yang entah sudah banyak sekali dan berusaha melontarkan pukulan ataupun tendangan ke tubuhnya.

”Kecil-kecil sudah ngerampok! Kalau gede jadi penjahat besar kali,”

”Dasar bajingan kecil!”

Berbagai umpatan berlompatan. Diamankan di sebuah rumah sampai sebuah mobil patroli tiba dan membawanya pergi. Sebuah tendangan mendarat di ulu hatinya membuatnya terjatuh. Ia diam saja. Menahan rasa sakit.

”Saya cuma tahunya Lik Bono. Itupun saya kenalnya di perempatan jalan Pak. Dia biasa datang, minta uang kepada anak-anak. Tiga lainnya, tidak saya kenal, Pak,” katanya ketika ditanya oleh polisi yang memeriksanya.

”Saya tidak punya rumah, Pak. Orangtua juga tidak tahu. Sungguh, Pak!” katanya terbata.

Tapi ia merasa saja, jawaban-jawabannya tidak pernah dianggap benar. Bentakan-bentakan yang membuat jantung berdetak lebih cepat. Pukulan-pukulan yang sesekali mendarat di sekujur tubuhnya. Belum lagi orang-orang yang lewat, entah polisi atau bukan, berjaket hitam, tanpa bertanya sudah melayangkan bogem mentah ataupun tendangan ke tubuhnya, lalu berlalu.

Ia dimasukkan ke sebuah sel. Sudah ada beberapa orang di sana. Mata mereka memandang seperti pedang, menusuk. Ketika petugas menghilang dari pandang. Ia tetap di depan jeruji besi. Memandang tembok di hadapannya, dengan pikiran melayang. Melayang-layang, ketika tubuhnya terjamah, dan untuk kesekian kali dialami, duburnya yang panas! Ia tidak bisa berteriak mengingat sebuah tangan kokoh menutup mulutnya. Tapi ia ingat, masih bisa menangis.

Ah, menangis. Mengeluarkan air mata. Sudah berapa lamakah tak mampu tertumpah lagi? Ya, air mata, tak berguna. Tidak bisa menyelesaikan masalah. Tetap saja ia harus melalui jalan yang sama sekali tak pernah dibayangkan sebelumnya. Tapi setidaknya, ia tahu. Tiga tahun lagi ia masih akan berada di sini. Kepastian yang tidak ia miliki ketika berada di luar.

Ia tak tahu, siapa orangtuanya. Sungguh. Ia tidak tahu. Tapi ia tahu, pasti ada ibu yang melahirkannya. Tak mungkin hadir tiba-tiba di muka bumi ini, bukan? Masa kecilnya banyak tak diingat. Kecuali sebuah panti asuhan, ia jalani kehidupan hingga umur sebelas tahun. Sempat bersekolah sampai kelas lima. Tapi, peristiwa yang tidak mungkin dilupakan olehnya, yang membawa dendam pada hidupnya, ketika seorang dewasa, menyodominya di suatu malam. Kesakitan tiada tara. Panas. Berdarah. Hingga berjalan-pun susah.

Ia tidak berani bercerita pada siapapun. Ancaman telah dijatuhkan. Ia hanya menahan sakit. Berusaha berjalan tegak bila pengurus Panti dilihatnya. Suatu malam. Dengan sebilah pisau, ia hujamkan berkali-kali ke tubuh orang yang telah menyodominya. Pintu-pintu yang telah ia siapkan terbuka, segera berlari. Entah apa yang terjadi dengan orang itu. Tapi ia merasakan kepuasan. Kepuasan bisa membalas.

Ia berlari, berlari sejauh mungkin. Di sebuah lampu merah, ia naik kendaraan terbuka. Berganti lagi, terus berganti. Hingga tiba di kota lain. Malam pertama di kota ini, ia lalui di sebuah taman kota. Pengulangan kembali terjadi, ketika sekelompok orang, datang menyergap. Menyodominya pula. Sakit. Sakit. Sakit.

Tapi ia tidak mendendam. Dalam kesakitan, sosok-sosok itu menawarkan minuman dan makanan. Terasa lapar dan dahaga teramat sangat. Tanpa peduli, segera ia habiskan. Beberapa orang tertawa melihat kelakuannya.

”Orang baru ya? Darimana? Mau kemana?”

”Kita sekarang sudah berkawan. Besok bisa cari makan di perempatan. Jangan takut, tidak akan ada yang mengganggu. Tapi kalau ada orang bernama Lik Bono, jangan macam-macam. Ia minta uang, kasih saja tanpa alasan.” seseorang mengatakan.

Begitulah, ia kini tinggal di taman, di balik rimbun pepohonan. Mencari uang dengan bertepuk-tepuk tangan sambil menyanyikan lagu-lagu yang tak pernah selesai di perempatan. Dari situ ia bisa akan. Dari situ ia memiliki teman.

Seperti dibilang, Lik Bono memang sering ke perempatan. Mendatangi anak-anak, seringkali posisinya sudah sempoyongan. Ia hanya tersenyum, “Hai, adik-adik... Mana nih jatah Lik Bono,” tanpa menunggu dua kali, anak-anak berebutan untuk menyerahkan uang kepadanya.

Seringkali terpikir di kepalanya. Mengapa orang-orang takut dengan Lik Bono? Wajahnya tidak menyeramkan. Masih muda, ganteng lagi. Tapi, ah, entahlah.

Hingga suatu hari, Lik Bono memanggilnya. Mengajaknya. “Nanti kamu bisa kaya. Bisa dapat uang banyak. Nanti malam kamu di jemput di sini, ya. Jangan kemana-mana,”

Ia hanya mengangguk.

Sebulan kira-kira, ia berada di kantor polisi. Selanjutnya ia pindah ke rumah tahanan. Selanjutnya, ia harus mengikuti persidangan-persidangan.

”Memutuskan sebagai anak negara,” tok..tok..tok. suara palu diketuk. Beberapa hari kemudian ia dipindah ke sebuah bangunan di kota lain. Walaupun bangunan belanda yang sudah kuno, tapi ia merasa lebih tidak menyeramkan dibandingkan sebelumnya. Ia menjumpai, rata-rata anak sebayanya yang berada di sana.

Sebuah bintang jatuh dari langit. Dari balik jeruji ia mencoba untuk tersenyum. Kata teman-teman, kalau melihat bintang jatuh, ucapkanlah permintaan. Konon bisa dikabulkan. Tapi ia tidak meminta apa-apa. Sebab di hatinya berharap ia bisa merdeka. Keluar dari jeruji ini. Keluar dari bangunan ini. Bukankah tidak mungkin minta merdeka, sebab ia tahu itu akan terjadi tiga tahun lagi. Saat berumur 18 tahun.

Langit makin menggelap. Sebuah pukulan di jeruji besi mengagetkannya.

”Hayo, sudah tengah malam, tidur,”

Yogyakarta, 18 Agustus 2011

Tajil

Serambi masjid sore itu ramai oleh para jamaah yang mengikuti pengajian. Mereka duduk membentuk lingkaran dari satu titik hingga titik berikutnya. Mereka antusias mendengarkan ceramah yang disampaikan oleh ustadz babakan masalah agama khususnya tentang puasa Ramadhan. Kebetulan saat itu sudah memasuki hari kelima belas puasa bulan Ramadhan.

Seperti biasanya usai melaksanakan shalat ashar para jamaah yang ingin memperbanyak amal ibadah dan mencari keridhaan Allah selalu datang dalam pengajian itu. Tak terkecuali Mbah Sumo yang setiap hari rutin duduk di sebelah kiri serambi masjid. Ia khusuk mendengarkan ceramah yang disampaikan ustadz.

“Ibadah puasa tidak hanya menahan makan dan minum saja, tetapi juga menahan amarah dan hawa nafsu. Barang siapa yang mampu melekasanakn ibadah puasa dengan sempurna maka Allah akan memberi pahala kepada kita dengan berlipat ganda. Dalam sebuah hadits dijelaskan pula, barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mencari keridhaan Allah, maka segala dosa yang telah dilakukan diampuni oleh Allah,” kata ustadz dalam pengajian sore itu.

Mbah Sumo memanggut-manggutkan kepalanya mendengar uraian ustadz. Ia merasa bahwa puasanya hingga hari kelima belas merasa belum sempurna. Dalam hatinya berkecamuk karena merasa puasanya selama ini dianggap sia-sia karena sering marah-marah dan menuruti hawa nafsu. Ia juga merasa iri jika ia melihat ada orang lain yang mendapatkan rizqi.

Mbah Sumo mendesah sambil menyandarkan kepala ke dinding serambi masjid. Ia menyesal karena sewaktu berpuasa ia tidak mampu menghindari hal-hal tercela seperti itu. “Mbah, kenapa?” tanya salah satu jamaah di samping kanannya. “Eh, tidak apa-apa,” jawabnya terkejut.

Suasana pun kembali mencair. Mbah Sumo memperhatikan lagi isi ceramah yang disampaikan ustadz. Kali ini dia tidak bisa mengarahkan konsentrasinya kepada materi yang disampaikan ustadz dalam pengajian. Pikiran Mbah Sumo mulai terbagi pada makanan ta’jil yang dibawa oleh para warga ke masjid. Setiap ada orang yang datang dengan membawa bingkisan, Pikiran Mbah Sumo selalu sibuk menebak isi bungkusan itu.

“Wah, paling-paling gedhang!” kata Mbah Sumo dalam hati. Saat panitia membuka isi bungkusan, mata Mbah Sumo menatap tajam ke tempat dikumpulkannya makanan ta’jil. “Lha, bener tho? Pisang!!” “Hussss…!” tegur tetangga duduknya.

Bungkusan berikutnya dibuka oleh panitia. Lagi-lagi Mbah Sumo bersikap seperti anak kecil. Ia selalu memperhatikan apa isi bungkusan yang menumpuk di sekitar para lelaki yang dengan sukarela membantu membagikan makanan ta’jil kepada para jamaah. “Lha, bothe!” ucap Mbah Sumo yang kali ini terdengar di separo serambi masjid. Ucapan Mbah Sumo sontak membuat para jamaah tertawa terpingkal-pingkal. Mereka geli melihat tingkah Mbah Sumo. “Ono opo tho?” tanya Mbah Sumo sambil memandang orang-orang di sekelilingnya yang memandang ke arahnya. “Sampeyan itu bagaimana tho? Mereka itu melihatmu yang berulah seperti anak kecil,” terang jamaah lain.

Mendengar jawaban itu Mbah Sumo tetap bergeming. Ia tak merasa terusik oleh perhatian para jamaah yang mengikuti pengajian. Tatapan penasaran Mbah Sumo pada jajan yang akan dibagikan kepada jamaah sebagai menu berbuka puasa tak surut. Ia tak ingin melepaskan begitu saja isi bungkusan tas kresek yang dibuka oleh para relawan ta’jil.

Gema suara ustadz yang sedang membalah kitab Sullamuttaufiq merembet di setiap pilar penyangga masjid yang megah. Satu persatu fasal dia utarakan kepada para jamaah yang sebagian besar adalah para manula dan anak-anak. Sedangkan para remaja yang semestinya menjadi penggerak kegiatan di masjid tak kelihatan sama sekali. Mereka, para remaja, lebih suka menghabiskan waktu sore hingga menjelang berbuka di tempat-tempat keramaian. Mereka bergerombol di pinggir-pinggir jalan sambil menggosip ke sana kemari. Saat matahari hampir tenggelam mereka baru membubarkan diri sembari menggeber motor yang mereka kendarai. Mereka saling mengadu kecepatan motor. *** Waktu berbuka tinggal lima belas menit lagi. Para lelaki yang menjadi sukarelawan pembagi makanan ta’jil mulai membagikannya kepada para jamaah. Satu persatu jamaah yang duduk sambil mendengarkan ceramah dari ustad mendapat bagian ta’jil. Demikian pula Mbah Sumo. Ia melongo memperhatikan makanan ta’jil yang sudah diterima oleh jamaah lainnya. “Sebungkus nasi. Ya, sebungkus nasi,” katanya girang. “Sabar, Mbah Sumo. Nanti pean juga kebagian. Bersabarlah menunggu giliran!” tegur jamaah di sampingnya.

Mbah Sumo resah saat bungkusan nasi yang dibagikan kepada jamaah tinggal beberapa bungkus sedangkan tempat dia duduk masih jauh dari lelaki yang membagikan bungkusan tersebut. Ternyata kekhawatiran Mbah Sumo menjadi kenyataan. Sebelum sampai kepada dia, nasi yang dibagikan para lelaki itu telah habis. “Lha…, tidak kebagian!” ungkapnya kecewa. “Jangan kuatir, Mbah Mo. Itu di sana masih menumpuk.”

Seorang lelaki datang mendekati tempat duduk Mbah Sumo dengan membawa tas kresek yang berisi makanan. Ia segera meraih makanan yang masih tersembunyi di dalam tas kresek. Perlahan ia mengangkat makanan ta’jil itu lalu menaruhnya di depan Mbah Sumo. “Waduh, kebagian mbothe Jo!” katanya kaget kepada Wak Kirjo.

Mbah Sumo menggerutu dalam hati karena makanan ta’jil pembagian lelaki sukarelawan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Ia merasa kesal kepada lelaki yang baru saja meletakkan mbothe tepat di depan tempat duduknya. Hatinya semakin berkecamuk lantaran makanan ta’jil yang masih menumpuk di sudut serambi belum juga dibagikan lagi. Ia sangat penasaran makanan ta’jil apa yang akan diterimanya lagi. Dengan hati berdebar-debar ia menatap lelaki yang membagikan bungkusan kepada para jamaah. Mbah Sumo berharap mendapatkan bagian makanan yang sesuai dengan selera. “Ini dia, nasi uduk, kesukaanku!” gumamnya dalam hati. Lagi-lagi Mbah Sumo sedang bernasib sial. Ketika giliran dia mendapatkan pembagian makanan ta’jil yang sesuai dengan seleranya, ia selalu tidak kebagian. “Apes…apes!” umpatnya. “Kenapa, Mo?” “Saya tidak kebagian lagi.” “Sabar to Mo! Itu diambilkan lagi. Masih banyak makanan ta’jilnya.”

Sepotong roti sisir diberikan lelaki berkopiah haji kepada Mbah Sumo. Ia spontan menolak pembagian itu. Mbah Sumo berdiri lalu mengumpat lelaki itu sambil melemparkan makanan ta’jil yang diterimanya kepada lelaki tadi. Ia merasa disepelekan karena hanya menerima ta’jil mbothe dan sepotong roti sisir. Sementara jamaah yang lain menerima sebungkus nasi dan makanan yang disukainya. “Ini tidak adil!” katanya sambil berteriak.

Para jamaah yang tadinya khusuk mendengarkan ceramah dari ustadz mendadak riuh mendengarkan ucapan Mbah Sumo. Mereka heran kenapa Mbah Sumo bersikap demikian itu. Padahal, makanan ta’jil yang diterimanya itu hanyalah makanan yang digunakan untuk menyegerakan berbuka puasa agar mendapatkan kesunatan dalam berpuasa. Pak Ustadz tersenyum simpul menyaksikan kejadian itu. Ia pun berdiri lalu mendekati Mbah Sumo agar dia sabar dan menerima ta’jil yang dibagian lelaki sukarelawan tadi. “Sabar nggeh Mbah! Panjenengan remen ta’jil nopo?” tanya ustadz kepada Mbah Sumo. “Kulo kepengen nasi bungkusan,” jawabnya mrengut. “Baiklah, kalau begitu!” Pak ustadz segera mengambilkan sebungkus nasi ta’jil jatahnya kemudian memberikannya kepada Mbah Sumo. “Niki kangge panjenengan,” kata pak ustad sambil menyodorkan sebungkus nasi kepada Mbah Sumo. “Matur Suwun, matur suwun…!” ucap Mbah Sumo dengan wajah yang ceria. Tak lama kemudian para jamaah kembali duduk dengan tenang melanjutkan kegiatan yang sempat terganggu ulah Mbah Sumo. “Asyhaduallailahaillallah, Astaghfirullah, nas aluka ridhaka waljannah wanaudzubika min sakhotika wannar!” Pak Ustadz memimpin para jamaah melantunkan dzikir pada Allah hingga waktu berbuka puasa tiba.

Kini detik-detik berbuka puasa telah tiba. Mbah Sumo dan para jamaah lainnya telah bersiap-siap berbuka puasa. Sesaat kemudian beduk yang menggantung di serambi masjid dipukul bertalu-talu dan para jamaah pun melaksanakan berbuka puasa. “Allahumma laka shumtu, wabika amantu, wa’ala rizqika afthortu birahmatika ya arhamarrahimin!” Mbah Sumo berdoa kemudian melaksanakan berbuka puasa dengan menikmati makanan ta’jil yang diberi oleh pak ustadz. (*)

Lamongan, Agustus 2011

Bebek goreng

Semua orang mengelilingi kuburan yang tampak tidak menyeramkan lagi karena ditaburi bunga-bunga dan bunga terus menerus.

Beberapa kerabat sudah banyak yang pergi melewati celah, menapaki jalan pekuburan satu demi satu, mencari pintu keluar, bergegas ke luar menuju arah kehidupan nyata.

Ada yang begegas pulang ke rumah. Ada yang sekadar mampir di sebuah café untuk minum kopi, usai membasuh seluruh wajah di kamar kecil. Atau masuk ke restoran untuk makan sekenyang-kenyangnya setelah mencuci tangan berkali-kali karena debu dan terik matahari. Atau hanya ingin minum air putih dengan es batu yang banyak sambil duduk menghela napas. Menenangkan pikiran.

Menghadiri penguburan seorang teman, saudara, atau sahabat memang sangat menyita energi. Begitu banyak kenangan dan tekanan ketika kita harus mengantar dan berdiri di sisi liang lahat menyaksikan jasad terbujur disiram timbunan tanah yang menutupinya sedikit demi sedikit.

Mendengar rintihan, tangisan, raungan keluarga kerabat, membuat seluruh badan menjadi diri sendiri. Kita tidak tahu lagi apa tujuan hidup ini. 24 jam giat bekerja. Bertahun-tahun. Mulai dari pagi hari. Sangat pagi. Bahkan belum tampak matahari. Manusia pun sudah gradak-gruduk nonstop sampai jelang ketemu pagi hari lagi.

Ada dan tanpa kasih sayang. Ada dan tanpa beriba hati. Senang dan benci kepada orang lain. Berbagi dan tidak bebagi dengan orang lain. Kadang kita tertawa gembira atau berteriak lantang menuntut ketidakadilan dunia! Mengerikan hidup ini. Mengerikan juga mati itu.

***

Seorang gadis cantik bernama Lidia tampak berdiri menjauhi lubang kubur. Ia sendirian terhenyak penuh rasa duka jiwa raga!

“Kamu di mana…? Aku rindu…,” lirih rintih di dalam hati.

Ia menatap dengan matanya yang sayu, berusaha memandang dari kejauhan ke arah gundukan tanah mungil yang terhalang tumpukan karangan bunga.

***

Suatu saat di sebuah Kota Kecil. Lidia berjalan bergandengan tangan dengan Karudin di sepanjang trotoar. Pasangan yang punya hobi jalan-jalan sore di seputar alun-alun Kota Kecil kala senggang. Terutama malam Minggu, malam libur. Banyak orang sekitar sudah mengenali mereka. Pasangan yang paling rajin bergandengan tangan mondar mandir sepanjang jalan.

Bahkan tingkah laku pasangan tersebut menjadi pemandangan seru dan dijadikan objek permainan tersendiri bagi penduduk setempat. Ulah pasangan itu sering dijadikan tebak-tebakan oleh orang-orang yang kongkow di pinggir jalan. Minum kopi di warung ‘Selamat Malam,’ yang menjadi langganan para sopir truk, juga pasukan sopir ojeg.

“Nah… kan lihat tuh. Sebentar lagi lewat sini. Benerrr. Masih bergandengan tangan toh! Serasa dunia miliknya sendiri…!”

“Ayo taruhan sampai mana itu tangan nempel kayak lem? Aku tebak dulu ya? Paling sampai deket pangkalan ojeg sudah dilepas. Ayo, sini lima ribu kasih aku…!” orang-orang mulai ramai bertaruh.

“Enggaklah… Sono. Sampai sono, deket Bu Minem, baru deh dilepas tangannya…!”

“Ya… enggak bisa! Kan orang lagi kasmaran pegangan terus pasti sampai pulang sampa mati…! Ha ha ha…!” banyak orang bercanda asal menebak.

“Aku yakin sebentar saja sudah lepas! Kan keringatan! Ih… mau ngapain pegang-pegang begitu…!” ada juga yang protes.

“Nah... nah kan lepas, yo sumuk…! Sudah aku bilang, wong lengket semua itu tangan…!”

“Ih sampeyan sirik aja… Mana istrimu? Udah balik belum ke rumah? Nah! Lihat! Wah, yang laki mau garuk-garuk badannya doang kok ! Lepas sebentar iya boleh toh…! Ugghhh ! Sampeyan emang dasar kurang gaul! Jemput istrimu sana jangan dibiarkan lama-lama di kampungnya. Disamber orang baru tahu rasa..!” mereka masing-masing saling beradu pendapat.

Sementara pasangan itu terus berjalan seakan melayang menikmati malam semakin kelam.

***

Tujuan mereka untuk kesekian kali ingin makan bebek goreng. Tempatnya lesehan di sudut jalan sebelah toko besi.

“Kita makan bebek goreng lagi yang sambelnya muantap…!” kata Karudin girang sambil memainkan jari jemari pasangannya.

Lidia hanya menganggukkan kepala.

***

Suasana lesehan sama saja seperti tempat makan lainnya. Tetapi bebek goreng Mang Dun memang sangat terkenal. Kadang malam libur paling padat, sulit mendapatkan tempat. Bisa-bisa pada antri kayak menunggu karcis depan loket.

Kondisi yang mejadi riuh cenderung berdesakan, membuat penikmat bebek sering merasa terganggu. Karena banyak orang yang tidak sabar, malahan berdiri-diri begitu saja di belakang orang-orang yang sedang asyik lesehan dan makan.

Hawa sekitar menjadi panas. Yang menunggu giliran hanya melongo, memandang begitu saja ke arah hidangan yang tergelar di tikar. Tentu saja suasana begitu membuat yang sedang makan tidak enak.

Risih lagi!

Tetapi memang di situ seninya makan di warung lesehan Mang Dun! Siapa cepat dia dapat! Berkeringat berpeluh bersimbah rasa lembab di seluruh badan sampai wajah! Wah, momen itu yang dikangeni setiap orang. Bisa cerita ke tetangga, atau teman betapa penuh perjuangan untuk bisa berhasil makan bebek goreng Mang Dun . Tentunya dengan tambahan bumbu kalimat kata yang penuh kehebohan agak berlebihan!

(Aneh…?).

***

Karudin masih berpegang tangan (males deh, ya…) mendekati kerumunan orang yang sedang makan.

“Misi... permisi…! Bisa tolong digeser…! Maaf… Iya… Ke sana sedikit masih cukup kok…,” desak Karudin seenaknya.

“Sayang… ayo…! Duduk aja. Enggak apa kok masih lega…!” bujuk Karidun.

Lidia setengah malas setengah enggak enak hati menjatuhkan badannya duduk di samping pacarnya. Ia tidak berani mengangkat kepala. Hanya menunduk menatap meja di hadapannya yang terlapis vinil bermotif bunga.

“Mas… Mas…!” tedengar suara Lidia yang halus nyaris tak terdengar sambil tangannya menarik-narik ujung kemeja Karudin.

Karudin hanya menoleh sebentar. Dan melanjutkan gerak gerik sibuk mengambil piring, sendok, menyusun dengan yakin dan rapih di depan Lidia.

Beberapa orang tidak senang kenyamanan santap malamnya dan atmosfernya serasa disabotase.

“Wah, mas… sabar sedikit kenapa! Belum mau kiamat kok… Desek-desek…!” omel seorang bapak tua yang memang posisinya nyaris ‘terjungkal’.

“Iya nih...!.Sampeyan lapar atau enggak tahu sopan santun…? Sana tunggu giliran…!” kata yang lain menghardik Karudin.

Karudin ‘cuek. Percaya diri mengabaikan semua omelan orang sekitar. Malah mulai menyendokin nasi putih ke piring Lidia, juga ke atas piringnya.

“Pak… Bebek goreng dua biasaaa ya… Garing banget…!” kata Karudin lantang.

Mang Dun bergegas menyiapkan pesanan Karudin dibantu beberapa rekan lain yang mondar mandir meletakkan sayuran, lalapan, sambal, juga beberapa gorengan, sambil menunggu bebek favorit matang.

“Mas... Enggak usah buru-buru... Yang lain belum kebagian... Kita tunggu saja, ya…!” bujuk Lidia masih sambil mengelus tangan Karudin.

Karudin tidak sabar menunggu pesanannya. Ia iseng mencicipi beberapa gorengan. Tangannya sibuk menggapai ke kanan ke kiri mengambil gorengan, krupuk, perkedel, acar. Sekaligus menyenggol ini itu, botol kecap, kotak tisu berjatuhan. Wuih pokoknya Karudin cuek abis!

Lidia hanya bisa menegur dengan berkali-kali menyentuh, mencowel pinggang sang pacar agar sabar menunggu.

“Iya, saya menunggu. Saya orang yang sabar, kok…” jawab Karudin sambil mulutnya masih mengunyah-ngunyah.

***

Sesudah makan malam Karudin dan Lidia melanjutkan menonton film dan berakhir dengan mengantar pulang Lidia. Sebelumnya ia memberi kenangan kecupan di pipi Lidia tanda selamat tinggal dan selamat tidur. ***

Memang pasangan itu belum ada rencana untuk menikah apalagi berkhayal akan mempunyai beberapa anak kelak. Baru sebatas luapan rasa cinta, makan bebek goreng dan bergandengan tangan. Itu saja.

***

Yang pasti: Karudin dan Lidia saling jatuh cinta!

Setiap hari. Eh... setiap detik.. .Karudin merindukan Lidia. Lidia pun mustinya demikian. Namun ekspresi yang berlebihan dari seorang Karudin kadang membuat Lidia kehilangan akal. Bahkan nyaris bingung menghadapi pacarnya yang terlalu mengebu-gebu. Mungkin saking cintanya Karudin bisa-bisanya setiap menit menelepon atau SMS, BB-an dan harus dijawab langsung tanpa alasan, tanpa jeda.

“Lidia cintaku, sudah makan sayang...?” sapa Karudin.

“Tadi pagi kamu ngobrol sama siapa saja...? Jangan senyum-senyum sama si Broto botak, ya...! Dia itu pasti naksir kamu. Jangan diladenin, ya sayang…! Hanya ada aku untukmu…!”

“Lid, Lid…. aku baru habis dari toilet. Heran sekali kenapa wc di kantorku selalu kotor. Itu tugas Mas Udi dan Samin. Padahal mereka digaji melebihi UMR! Kamu ingat Samin kan? Sering lo aku ketemu dia sibuk mengelap, menunggu kamar kecil itu. Tapi ya ajaib… Tetap aja kotor. Sampah di mana-mana. Atau orang kantor sini jorok semua, ya? Lagi apa sayang…?”

“Say… Ini aku…!”

“Barusan aku ditegur bos Kisik. Cuma karena kelupaan pakai batik. Kamu ingetin aku dong setiap malam Jumat. SMS tulis aja: B A T I K. BATIK BATIKKKK, biar aku ingat, ya sayang ya…!”

“Lidia sayang… Pasti kamu lagi pakai lipstick 009?”

“Sayang, kok SMS-ku enggak dijawab…? Sorry BB-ku ngadat lagi. Besok hari Minggu kita ke Ambassador, aku mau cek ulang ini BB. Mau kan sayang…?”

“Lid… Lid…!”

“Sayang..yang…. yang..”

“Cintaku…. Yang….!”

“Love you… Lidia love...!”

“Sayang ! Jangan terlalu capek nanti kamu keletihan…!”

(Ya pasti letih apalagi baca nonstop pesan singkat Karudin! He he he…!) *** Rentetan tegur sapa ‘cinta’ Karudin bertahun-tahun, perhatian yang sempurna dari ujung rambut sampai ujung jari kaki. Membuat Lidia sesak napas. Tapi Lidia berusaha memaklumi luapan gairah cinta kekasihnya. Dia berusaha mengimbangi melalui hari ke hari juga dengan kadar, porsi yang sama. Walau enggak se-’hot’ Karudin.

***

Momen terindah adalah kalau malam Minggu. Bagi pasangan itu ritual yang tak bisa ditawar lagi. Kembali dimulai dengan berjalan bergandengan tangan sepanjang jalan. Terbuai angin senja.

Puasnya bercengkrama bagi orang yang punya pasangan. Karena sejenak melupakan pekerjaan, utang piutang, atau tumpukan pekerjaan yang masih tersisa pada hari Jumatnya.

Berbeda untuk pasangan yang sudah menikah. Mau bersama nonstop. Permasalahan tetap akan jadi masalah karena menjadi tanggungjawab berdua apalagi kalau sudah beranak pinak. Wah itu lebih ‘tak jelas’. Problema semerawut! Desakan ekonomi yang mendesak kadang bisa membuat tangan jemari tidak akan pernah tergenggam lagi. Bahkan untuk bersikap hal yang romantis juga lupa, sudah enggak tahu caranya. (he he he kasihan juga ya orang menikah terlalu lama).

***

Hari kesekian lagi.

Lidia bersama Karudin berjalan bergandengan tangan menyusuri trotoar. Sambil sekali sekala berhenti di sebuah warung atau lapak kaki lima yang menjual berbagai macam benda. Mulai dari obeng sampai korset pelangsing badan.

Memang unik pasangan itu. Walau sekarang adalah zaman edan, zaman digital, zaman modern. Mereka melalui kebersamaan sangat ’jadul’. Bukan ke mal atau ke restoran atau café. Cukup mengitari Kota Kecil yang bisa terjangkau dengan berjalan kaki.

Langkah demi langkah. Entah sudah jejak tapak kaki hitungan ke berapa kali. Mereka berdua berjalan bersama sambil begandengan tangan.

***

Suatu hari.

“Tumben Karudin tidak SMS, sudah jam segini…!” keluh Lidia pada rekan kantornya.

“Aduh si Ibu…! Baru kemarin ketemu udah kangen…!” “Ah, lo tahu dia kan, Rin? Dret drettt dreiii bunyi HPku sepanjang hari dari Karudin. Ada yang janggal, nih? Tadi pagi dia juga tidak bangunin aku lewat telepon! Ada apa ya…? Sumpah, Rin! Aku enggak terima kabar apa pun sejak pagi! Aduh, kenapa ya? Apa BB, HP nya rusak semua…?” Lidia gelisah.

“Sudah... biar saja dulu. Biasanya kamu gerah kalau pacarmu kontak melulu. Take a break, dear…”

“Pasti HP nya rusak! Iya kan, Rin?” cemas Lidia

Lidia melewati kesehariannya. Sampai bubar kantor.

Dalam keheningan.

***

Lidia hanya bisa memandang handphonenya. Dicobanya membetulkam posisi baterei, mengutak ngutik keypad. Dan menekan sembarangan nomer telepon. Setiap kali meminta maaf kalau ada nada sambung yang bicara dengannya.

Masih tidak tahu harus berbuat apa iseng membuka file foto. Isinya hanya ada wajah Karudin atau wajah mereka berdua dengan berbagi pose kocak.

Tetapi ada kok terselip satu foto seekor monyet yang memakai topeng yang dipaksakan menggunakan kepala boneka. Itu mereka potret waktu sedang jalan-jalan melewati jalan besar.

Lidia hanya bisa tersenyum memandang satu-satunya foto yang beda.

Lidia sempat protes ketika Karudin akan menggunakan HP nya untuk motret monyet di jalanan. Ia tidak tega melihat kelakuan para monyet yang menari-nari di antara selipan ban-ban kendaraan yang sedang macet merayap tengah ibukota. Miris melihat monyet yang lehernya terjerat rantai ditarik-tarik sampai meringis. Miris dan merinding melihat para pemilik monyet yang mencari nafkah hidup dengan begitu.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 wib.

Karudin belum berkabar.

Tetapi Lidia tidak juga ingin menghubungi lebih dulu. Karena sudah menjadi kesepakatan mereka berdua. Yang boleh menghubungi terlebih dulu adalah Karudin. Dimulai sejak kokok ayam pagi. Baru selanjutnya masing-masing bisa saling kontaksepanjang hari sepanjang waktu.

Dan sampai gelap pun tanpa kabar .

Senyap.

***

Beberapa jam kemudian.

Handphone Lidia berbunyi. Nama Karudin muncul...

“Halo sayang, di…?” sapa spontan Lidia.

Namun, yang terdengar jenis suara berat yang sangat asing di telinga.

“Ini Lidia Sukma…?” suara datar di seberang sana.

Lidia bingung hanya menganggukan kepala.

“Halo…! Ini ibu Lidia…?”

“Iya…! Bapak siapa? Karudin di mana?” suara Lidia begetar.

*** Suatu malam.

Sosok perempuan semampai berjalan sendiri sangat lamban, nyaris oleng ke kiri ke kanan. Langkah kecil terus berjalan mendekati warung Mang Dun.

“Pak… Bebek yang garing, ya…!” suara lemah memohon.

Mang Dun tercengang melihat Lidia sendirian. Mengenakan baju merah jambu terang benderang . Hanya raut wajahnya sangat suram, nyaris tidak berbentuk dan sangat kucel, mata pun bengkak.

“Sendiri, Neng...?”

Lidia hanya menjawab dengan menganggukkan kepala ke bawah ke atas. Kedua tangannya sibuk menggapai gorengan, botol kecap. Yang tersentuh tangannya menggelinding begitu saja.

Lidia mulai menelan makanan yang dimulutnya dengan pelan.

“Neng… Neng… sehat? Masnya ke mana...?” tanya Mang Dun yang mulai cemas memandang kliennya yang tampak tidak sehat.

Lidia masih diam. Mulutnya terus mengunyah. Air matanya pun turun menetes satu dan satu…

“Dia… Ma...ti…!” jawab Lidia.

Hening.

Para pelanggan sekitar terdiam. Memandang, melihat sosok perempuan yang pucat, yang kelihatan masih berusaha mengunyah sepotong demi sepotong tempe goreng.

Lalu… Kepala perempuan itu makin menunduk sedikit demi sedkit, dan tubuhnya jatuh begitu saja sampai kepalanya terantuk meja. Bersamaan dengan keluarnya suara raungan tangisan berkepanjangan.

Sangat pilu.

***

Rajawali, April 2011

Anak Pelacur

Cerpen Edy Firmansyah
Langit makin mendung. Udara makin dingin. Tapi dinginnya cuaca tak juga mampu menahan airmata Yati. Begitu masuk rumah, airmata Yati meleleh pelan-pelan. Bergegas ia masuk kamar. Dilemparkan tas sekolahnya ke sofa panjang berwarna coklat yang warnanya mulai redup karena usia di ruang tamu itu. Dibantingnya pintu kamarnya keras-keras. Di dalam kamarnya, Yati menangis sejadi-jadinya.

Segala perkataan Pak Irsyad, guru Agamanya itu pada jam terakhir pelajaran Agama tadi terus berkelebat dalam benaknya. “Kau itu anak pelacur. Mestinya kau sadar dan semakin mendekatkan diri Pada Allah. Masak hanya menghafalkan do’a kunut kau tak bisa. Dalam darahmu juga ada dosa-dosa ibumu. Kalau kau tak dekat dengan agama kau akan terkutuk sepanjang hidupmu. Dan neraka tempat orang-orang yang terkutuk.” Dan tiap kali kata-kata Pak Irsyad itu semakin jelas dalam benaknya, airmatanya mengucur tak terbendung.

Di saat-saat kekalahan begini, semua perlakukan buruk teman-temannya, tetangganya, lingkungannya timbul tenggelam dalam kepalanya. Tiba-tiba terlintas bagaimana cemoohon Rudi, teman sekelasnya ketika ia pertama kali berjilbab karena peraturan sekolahnya mewajibkan semua siswa putri berjilbab. ”Anak pelacur berjilbab mau kemana? Tempatmu nanti berakhir juga di kamar gelap seperti ibumu.” Teriak Rudi sambil meludah lalu melempar telur busuk tepat kena jilbab putih hadiah ibunya. Tak ada teman-temannya membelanya. Tak ada. Semua hanya menonton. Sebagian lainnya tertawa. Dan Rudi tak pernah dapat sanksi dari sekolah atau perlakuan itu. Dan Yati hanya diam. Menahan sedih, menahan amarah menahan dendam yang berkecamuk dalam dadanya. Yang bisa dilakukan hanya menangis. Menangis.

Pernah juga Yati berkeinginan untuk bunuh diri ketika merasa hidupnya hancur begini. Tapi pesan ibunya lebih kuat dari keinginannya. ”seburuk-buruknya hidup, sekejam-kejamnya hidup, ia anugrah. Harus dipertahankan semampunya meski maut sudah mengancam di depan mata.” Ketika semua kenangan itu semakin terang, tangisnya makin keras.

Indah, ibu Yati yang sedari tadi khusuk menonton berita di TV yang menyiarkan tentang Tukijo, seorang petani karena penolakannya atas penambangan pasir besi di pesisir Kulon Progo ‘diculik’ secara terencana oleh Polisi karena dituduh telah melakukan penyanderaan pada 7 karyawan PT Jogya Megasa Iron (JMI) itu, kaget mendengar tangis Yati. Ia Segera mengecilkan volume TV-nya dan bergegas ke kamar Yati.

”Apakah kamu diolok-olok lagi Yati?” Tanya Ibunya sambil membelai rambut Yati yang panjang sebahu itu. Sambil sesegukan Yati mengangguk. Kemudian bangun dari tempat tidur dan bersandar di bahu ibu sambil mengusap airmata. “Kali ini siapa yang mengolok-olok kamu, anakku? Rudi? Ira?“ Yati menggeleng. “Pak Irsyad, Bu..” Ujar Yati lirih. Indah segera memeluk Yati lebih dalam. Melihat anak semata wayangnya itu menangis perempuan paro baya itu berkaca-kaca. “Yang sabar ya, Nduk. Yang sabar. Tuhan bersama orang-orang yang sabar” bisik Indah sambil membelai rambut anaknya lagi. Dan pelan-pelan suara tangis Yati mereda. “Kenapa aku lahir sebagai anak pelacur, Bu? Kenapa?”

Indah yang tak pernah menduga Anaknya yang berusia 15 tahun itu akan bertanya seperti itu tersintak. Airmatanya sedari tadi menggantung di pelupuk matanya tak terasa menetes ke pipinya. Tiba-tiba suara mami Susi, induk semangnya di lokalisasi dulu hadir lagi dalam benaknya.

”Masyarakat negeri adalah masyarakat terkutuk, Indah. Terkutuk dan munafik. Jangan kau korbankan hidup dan masa depan janinmu itu pada masyarakat negeri ini. Ia akan menanggung stigma dosa turunan. Dosa yang sebenarnya tak pernah ia lakukan. Gugurkan saja, Indah! Gugurkan! Cukup kita yang menanggung dosa kita sendiri. Jangan kau bawa kehidupan lain, yang sama sekali tak tahu apa-apa tapi kena getahnya. Gugurkan Indah. Sebelum terlambat.” “Tapi ia mahkluk, mami. Ia hidup. Ya, saya teledor waktu itu. Tapi saya tak bisa membunuhnya. Tak bisa. Saya akan mempertahankannya.” ”Sejak kapan pelacur punya hati nurani, Indah. Sejak kapan? Gugurkan. Atau kau akan mengalami penderitaan tak habis-habisnya.”

Derita tak habis-habis. Derita tak habis-habis. Mungkin ini yang dimaksud derita tak habis-habis itu, batin Indah. Ini bukan kali pertama Yati pulang ke rumah dengan menangis karena diolok-olok sebagai anak pelacur dan tak berbapak. Sudah puluhan kali sejak Yati bersekolah SD ia diolok-olok macam begitu. Bahkan oleh Ira, teman sekelasnya yang anak kepala sekolah tempat Yati sekolah itu, Yati pernah dijungkalkan ke lumpur kemudian diludahi. ”anak pelacur sampai mati hidupnya memang penuh lumpur.” Tiap kali Indah ingat cerita Yati itu ia selalu menangis.

Sebenarnya Indah menyesal juga kenapa ia tak turuti nasehat Marti, teman seprofesinya dulu agar tak lekas keluar dari lokalisasi begitu anaknya lahir. Marti menyarankan agar anaknya tidak lepas dari lingkungannya. ”Kalau kau sedang ada pasien, titipkan saja sama mami atau teman-teman disini. Seperti yang aku lakukan pada Sandra dulu. Sekolahkan juga di sekolah sekitar sini. Di sini ada juga kok guru ngaji yang bijak dan baik sama anak-anak pelacur.” Begitu ujar Marti menasehati.

Tapi Indah bergeming. Ia kukuh pada keputusannya. Keluar dari lokalisasi. Ia ingin Yati anaknya lepas dari kehidupan hitam. Hidup lebih baik. Ia tak mau Yati seperti Sandra. Karena tinggal di lingkungan lokalisasi, sering mendengar ibunya mendesah, merintih karena ditindih laki-laki sementara Sandra ada di kolong ranjang, akhirnya Sandra juga jadi pelacur. Ia tak mau itu terjadi pada anaknya.

Indah memilih pergi dari kehidupan itu. Berjualan gorengan di pinggiran kota. Tapi kenapa orang-orang toh tahu juga masa lalunya. Tahu juga sejarah hidupnya. Bahwa ia anak perempuan bernama Ijah yang hamil karena diperkosa majikannya di kota tempatnya bekerja. Tapi bagi Indah Ijah perempuan hebat. Berani pulang kembali pada keluarga meski derita akibat luka masa silamnya akan menghantuinya. Dan begitu orang-orang mulai tahu segalanya dimulailah derita tak habis-habisnya itu. Para tetangga tak lagi ramah padanya. Tak juga ramah pada Yati. Bahkan laki-laki langganannya yang awalnya bersikap baik padanya mulai juga bertindak gila. Kadang menepuk pantatnya ketika berjalan. Kadang juga memegang payudaranya. Dan Yati pernah beberapakali melihat itu semua.

“Kenapa aku dilahirkan jadi anak pelacur, bu?” Yati mengulang lagi pertanyaannya. Dan Indahpun tersadar dari segala lamunannya. ”Kau bukan anak pelacur, Yati. Pelacur itu hanya sebutan saja. hanya sebutan. Kau anak Ibu. Anak manusia. Sama seperti anak-anak lainnya.” ”Tapi semua orang bilang Ibu pelacur. Dan Ibu diam. Tak membantah. Ibu dipegang-pegang laki-laki dan Ibu juga diam. Kenapa Ibu jadi pelacur. Itu khan jahat, bu?” ”Kebanyakan manusia terlalu pendek pikirannya untuk mendalami dan memahami kehidupan orang lain, anakku. Kehidupan terdalam orang lain. Bukan tampak luarnya saja. Banyak yang lebih jahat dari sekedar melacur, anakku.”

Suasana kamar tiba-tiba hening. Yati dan Ibunya bersitatap. Cukup dalam. Keduanya sama-sama saling mengusap airmata. Angin dingin menyusup dari sela-sela jendela. Gorden dan kalender dekat jendela bergerak-gerak. ”Apakah anak pelacur bisa masuk surga, Ibu?” ”Semua manusia punya hak untuk masuk surga, anakku. Kecuali orang yang menindas orang lain karena kekuasaannya. Dan kau punya kesempatan itu. Lihatlah tulisan-tulisanmu itu” ujar Indah sambil menunjuk guntingan-guntingan Koran berisi cerpen yang Yati tulis dan berhasil dimuat yang ditempel di dinding kamar Yati. ”tak banyak anak semua kamu yang bisa menulis seperti itu. Mestinya kau tak hirau dengan segala olok-olok itu. Kau bisa lebih baik dari mereka bukan?” “Tapi aku tak mau jadi penulis Ibu?” “Kau mau jadi apa?” “Aku mau membantu Ibu saja.” “Ibu akan bangga jika masa depanmu lebih baik dari Ibu, anakku.” Yati dan Ibunya sama tersenyum. Kemudian keduanya berpelukan erat sekali.

Tak terasa hari sudah beranjak sore. Yati dan Ibunya kemudian bergegas mandi dan melaksanakan sholat ashar bersama. Sambil menunggu waktu maghrib keduanya memasak pisang goreng di dapur untuk jualan nanti malam. Tampak cahaya baru dalam wajah mereka. Cahaya hidup yang menyala.

Tapi semua itu peristiwa 10 tahun yang lewat. Kehidupan cepat berubah dan tak terduga. Nasib juga begitu. Tapi kenangan tetap. Nasib dan kehidupan adalah pilihan masing-masing orang. Yati kini sudah dewasa. Indah, ibunya sudah meninggal 1 tahun lalu. Kini Yati hidup dengan mewah. Tak lagi ia dengar olok-olok seperti masa dulu. Semua orang tak peduli lagi dengan masa lalunya. Tiap kali ingat masa lalunya Yati selalu tertawa. “olok-olok hanya milik orang miskin dan kalah. Orang kaya tak akan merasakan sakitnya diejek.” Begitu selalu batinnya bersuara.

Maklumlah Yati kini tidak lagi tinggal di pinggiran kota tempat ia dan ibunya memulai hidup dulu. Ia kini tinggal di apartemen mewah. Menjadi istri simpanan seorang anggota dewan. Namun tiap kali Yati ingat ibunya, segala kesedihannya datang. Dan ia akan mengurung diri di kamar seperti dulu ketika ia pulang ke rumah usai diolok-olok teman atau gurunya sebagai anak pelacur. Dan tanpa terasa bantalnya basah oleh airmata. Disaat-saat begitu ia merasa sangat berdosa. Berdosa pada ibunya. Dan segala pencapaian hidupnya yang sekarang seakan tak punya makna.

TENTANG PENULIS *Edy Firmansyah adalah Pengelola Sanggar Bermain Kata (SBK) Madura. Kumpulan cerpen muktahirnya adalah ”Selaput Dara Lastri” (IBC, 2010). Cerpennya juga terangkum dalam Antologi Cerpen Purnama Majapahit (Dewan Kesenian Kab. Mojokerto, 2010).

Hijau

Banyak cerita yang diawali di kedai kopi. Cerita yang ini pun begitu. Kisah ini dimulai dengan seorang gadis yang tengah duduk di salah satu sofa kedai kopi ternama, menyesap Greentea Frapuccino. Pilihan yang sangat tidak kopi. Minuman berwarna hijau, dilesap oleh seorang gadis mungil berpakaian serba hijau. Di atas meja, di sebelah minuman yang embunnya menetes-netes di pinggiran gelas, terbuka sebuah buku. Tangan kirinya yang lentik memberati lembaran kiri buku tersebut agar tetap pada halaman yang tengah dibacanya. Jika kau melihat lebih dekat, kau akan melihat tak hanya deretan teks, tetapi juga sebuah ilustrasi peri kecil yang diwarnai dengan cat air dalam gradasi hijau.

Kau tentu berpikir gadis itu sangat menyukai warna hijau? Pakaian hijau, minuman hijau, dan membaca buku berilustrasi hijau. Tidak, ini hanya kebetulan saja. Terkadang kebetulan terjadi secara bersamaan. Bukankah ini hanya alam yang berkonspirasi? Konspirasi. Betapa berat kata-kata itu. Padahal, ini hanyalah sebuah cerita romantis yang tidak melibatkan konspirasi politik. Hanya cinta.

Baiklah, sudah mulai penasaran? Atau malah bosan? Kau dipersilakan untuk mundur kapan pun, Tuan dan Nona. Aku tak ingin membuang-buang waktumu yang berharga itu untuk membaca kisah seorang gadis hijau yang sedang menyesap minuman teh hijau. Telepon genggamnya berbunyi. Dia mengangkatnya segera, memulai sapaan standar itu.

“Halo?” “Ya, udah nunggu. Cepetan, leprechaun milkshakenya udah hampir abis nih. Aku diliatin orang-orang dari tadi.” “Haha, maksudnya greentea frappuccino.” “Oke, kutunggu. Love you.”

Apakah kau menguping cukup dekat? Aku baru saja menyamar jadi sedotannya agar bisa memperhatikan gadis ini lebih saksama. Oh tidak, bibirnya mulai menuju ke arahku, mengatupkannya di ujungku dan mulai menyedot minuman hijaunya dari tabungku.

Lelaki yang dipanggilnya sayang itu akhirnya datang juga. Minuman hijau pucat itu telah tandas. Mereka saling mencium pipi, lalu memanggil pelayan. Espresso, ujar si lelaki. Aku mau biskuit cokelat, kata si gadis hijau. Mereka mulai bertatap-tatapan hingga aku jengah harus mengintip pemandangan seperti itu. Keduanya mengobrol, berbagi cerita yang tercecer setelah tujuh hari absen bertemu, berbagi kisah yang tak sempat mereka utarakan melalui telepon ataupun fasilitas BlackBerry Messenger. Telepon si lelaki bergetar. Dia sejenak ragu. “Siapa, Yang?” Gadis hijau bertanya. “Bukan siapa-siapa,” jawabnya. Dengan gusar dijejalkannya kembali BlackBerry itu ke dalam kantong celananya. Namun telepon itu kembali menyalak-nyalak galak. Berteriak-teriak meminta perhatian. Lelaki itu semakin gusar. Dia mohon diri.

Bolehkah aku ikut keluar dan menguping pembicaraannya? Ah, sungguh kurang kerjaan aku ini. Tidak boleh? Baiklah, aku akan duduk di dalam, menemani gadis hijau dan menyamar menjadi serbet. Lelaki itu tak lama berada di luar, dia segera kembali dengan wajah kusut. “Aku harus pergi.” “Kamu kan baru datang!” “Ada teman kecelakaan.” “Astaga. Siapa? Gimana keadaannya? Parahkah? Aku ikut, ya!” “Ga usah.” “Aku bawa mobil. Biar cepet sampai.” “Ga apa-apa. Aku sendiri aja.” “Aku maksa. Udah, kamu yang nyetir.” Dengan enggan lelaki itu menerima kunci mobil dari si gadis hijau, sementara pacarnya sigap memanggil pelayan dan membayar tagihan. “Siapa sih yang kecelakaan?” tanya si gadis hijau ketika mereka berdua mulai melaju. “Teman.” Lelaki itu menjawab gelisah. “Iya tahu teman kamu, tadi kan kamu udah bilang. Tapi siapa?” Lelaki itu meminggirkan mobil di tempat sepi, mendesah berat. “Anggra, sebenarnya tak ada yang kecelakaan.” “Lalu?” Lelaki itu kembali menarik napas susah payah dan dengan berat mengembuskannya kembali. Kepalannya memukul-mukul keningnya sendiri. “Aku…” Jeda itu agak terlalu lama. Anggra menanti tak sabar, tetapi dia tidak mengatakan apa pun. “Aku, tadi aku datang untuk putus denganmu. Seharusnya aku pergi sendirian sekarang. Aku akan menemui Freya. Dia sudah menungguku.”

Anggra membayangkan kaca depan mobilnya dihantam oleh tinju raksasa dan membuat wajah manisnya yang tirus penyok terkena tonjokan itu dan pecahan-pecahan kaca kecil. Namun dia bergeming. Wajahnya tidak berubah. “Maksud kamu? Freya?” “Ya, Freya. Maafkan aku. Aku harus mengantarnya ke dokter.” “Dokter?” “Freya hamil.” “Maksud kamu? Kenapa harus kamu yang mengantarnya ke dokter?” “Karena aku ayahnya.”

Kali ini Anggra membayangkan tangan tak kasat mata menjawil kerah kemeja Fahmi dan melemparkannya keluar dari mobilnya, lalu dia jatuh di tengah jalan dalam keadaan berserakan. Aku masih menonton, menjelma mainan anjing yang mengangguk-angguk di dashboard mobil.

“Bukannya kamu udah janji? Kita udah janji. Kita mau menikah akhir tahun ini. Kamu lupa?” Anggra dengan napas memburu. Marah. “Aku, minta maaf.” “Telan lagi maafmu! Kuharap kata itu menggerogoti dari dalam, gentayangan menghantuimu sampai kamu tak bisa hidup tenang. Keluar! Keluar dari mobilku!” Laki-laki yang dicintai si gadis hijau keluar seperti penjudi yang kalah taruhan. Dengan kepala tertekuk dan tangan melunglai. Anggra mengambil alih kursi pengemudi dan mulai menangis. ***

Dahulu, dua belas tahun lalu, rumah mereka adalah rumah paling ideal yang pernah ditinggali keluarga mana pun. Keluarga paling bahagia yang pernah ada. Setidaknya, bahagia itu menurut pendapat mereka, terutama putri satu-satunya, Anggraeni, yang mudah dibuat senang dengan permen kapas warna-warni dari pasar malam. Kemudian, Ibu membakar rumah mereka.

Anggraeni tidak tahu apa yang terjadi, yang dia tahu hanyalah bahwa rumah mereka terbakar, dan ayahnya meninggal. Dan tentu saja, dia juga tidak tahu kalau ibunyalah yang membakar rumah, karena dialah yang dipeluk ibunya saat wanita berusia akhir dua puluhan itu menangis tersedu-sedu sambil berteriak menyayat-nyayat hati memanggil-manggil nama suaminya. Semua orang bersimpati pada keluarga ini. Pada istri yang ditinggalkan suaminya, dan seorang anak perempuan yang tak lagi punya ayah.

Kehidupan bahagia mereka langsung berubah. Ibu tak lagi jadi wanita baik hati yang menyiapkan sarapan bergizi setiap pagi, dengan segelas susu hangat agar putrinya tumbuh tinggi dan cerdas. Bukan lagi wanita yang mencium tangan suaminya tatkala sang suami.

Semua itu karena beberapa lembar rambut cokelat di pakaian Ayah. Rambut Ibu hitam legam, tak pernah diwarnai cokelat. Lagi pula, rambut Ibu tidak sepanjang itu. Jadi Ibu memilih untuk membakar rumah, dan Ayah.

Kemudian mereka pindah ke rumah kontrakan. Di rumah lebih kecil dengan dua kamar yang disekat tripleks itu, Anggra sering mendengar lenguhan-lenguhan berbeda setiap malamnya. Dia yakin ibunya mulai gila. Karena tak seorang pun masuk rumah. Tak ada satu lelaki pun masuk rumah. Tetapi suara lenguh-desah itu adalah campuran suara Ibu dan suara laki-laki. Anggra tidak mengerti.

Fahmi tahu siapa laki-laki yang sering berkunjung ke kamar Ibu. Dia melihatnya menyelinap dari celah pintu, atau muncul dari langit-langit ruang tamu, menjalar lewat lubang kunci. Terkadang ia berupa udara hijau, namun seringkali ia menjelma buto ijo, apalagi ketika malam purnama, begitu kata Fahmi.

Ketika dia menceritakan itu padaku, aku tak percaya. Mungkin karena aku tak melihatnya. Kata Fahmi, makhluk itu mengikuti ketika kami pindah ke rumah baru yang kubeli dari hasil jerih payahku. Ia menetap di kamar Ibu. Ibu tidak mengatakan apa pun ketika aku bertanya. Dia hanya membisu, seolah-olah membenarkan perkataan Fahmi. *** “Anggra,” Suara ketukan memanggil-manggilku seperti bor yang membolongi kepalaku. “Bangun.” Bisik itu semakin dekat. Seperti datang dari kejauhan kemudian mendekat. “Geser, biar aku yang nyetir,” ujarnya. Aku mengangkat kepalaku dari setir, dan suara nyaring yang menyilet-nyilet telingaku itu berhenti. “Mana Freya?” tanyaku. “Freya siapa?” “Freya! Perempuan yang kauhamili itu! Kamu sudah janji! Kamu akan menikah denganku!” “Anggra, sayang, kita sudah menikah. Tak ada Freya. Tak pernah ada Freya. Ayo kita pulang. Kamu pindah, ya, duduknya.”

Aku membiarkannya mengambil alih setir dan duduk di kursi penumpang. Hingga kulihat sekelebat bayangan. Rambut-rambut panjang berwarna cokelat di kemeja Fahmi, pertengkaran kami, api yang berhasil dipadamkan, bau obat-obatan, dan senyum perempuan itu. Aku merebut setir, dan menghantamkan mobil pada apa pun yang padat di hadapanku

Mashurie

1965
Ketika peristiwa berdarah penumpasan PKI meletus, Tulungagung adalah salah kota kabupaten di Jatim yang paling seru hiruk-pikuknya. Demikian dikisahkan bapak pada sebuah masa. Saat itu, kenang bapak, anak-anak sekalipun turut menenteng gaman bernama apa saja, untuk kemudian mencincang siapa saja yang dituding atau sekedar ditengarai anggota PKI. Sedangkan para ulama, dengan gagahnya menyerukan ganjaran berlipat ganda bagi siapa saja yang bisa menumpas sejumlah orang anggota PKI, maka bayarannya, "Sama halnya pergi ke Tanah Suci," ujar bapakku.

Bapak waktu itu adalah kandidat doktorandus dari sebuah universitas ternama di Jateng. Yang terpaksa tertunda wisudanya lantaran G 30 S meletus di Jakarta. Bukan karena skripsi bapak yang membidik tema Nasakom yang menjadi kendala. Tapi, semua proses belajar mengajar memang dipaksa berhenti untuk sementara, demi membersihkan siapa saja, dan apa saja dari pengaruh PKI.

Meski akhirnya bapak memang mengganti skripsinya, tapi bukan kisah skripsi dan kelulusan pada akhirnya, yang akan aku kisahkan. Juga bukan cerita bagaimana bapak dulu menyembunyikan, sekaligus menyelamatkan beberapa kawan kuliahnya yang dituding PKI, dan oleh karenanya, pada saat itu, pantas dihukum mati, dengan cara yang paling nista.

Juga bukan bagaimana bapak dulu, di Tulungagung menyaksikan anak-anak dan remaja tanggung laki-laki dengan bangga mencantolkan sejumlah daun telinga yang telah terpotong dari tempatnya, di leher mereka, dengan seutas tali. Atau bagaimana menohok bau anyir dan merahnya warna kali Brantas, yang tidak seberapa jauh letaknya dari rumah eyang putri dari pihak ibu, karena terlalu sesak oleh mayat-mayat orang-orang yang dianggap PKI.

Bukan itu semua yang akan aku tuliskan. Melainkan bagaimana bapak bisa emoh turut membantai orang-orang PKI, meski bapak juga tahu bagaimana PKI dulu menyudutkan umat Islam. Bahkan dengan garang, di banyak tempat di Jatim dan di Jateng, orang-orang PKI bisa dengan riang mengambil alih tanah milik para tuan tanah, dengan cara tak kalah berdarah-darahnya. Lewat cara mengadu amarah, menumpahkan darah.

Meski sebagai putra kyai sekaligus saudagar ternama dari Padangan, sebuah kecamatan dari kabupaten Bojonegoro, bapak dibesarkan dalam naungan kaum Nahdliyin totok. Demikian halnya ketika kedua orang tuanya, eyang kakung dan eyang putri kami mengirim bapak belajar mengaji ke Krapyak, Yogyakarta ketika masih belia. Sebelum akhirnya melemparkannya ke Surabaya hingga SMA, dan akhirnya kuliah di Semarang, tetap tidak menjadikan bapak berpikiran ekseklusif.

Oleh karenanya, ketika banyak nyawa orang-orang PKI melayang, juga orang-orang dituduh PKI meregang, bapak tidak turut peran serta. Meski tentu saja, dengan sangat menyesal, bapak tidak juga dapat mencegahnya. Meski bapak, sekali lagi, juga sangat tahu ketika berada di Jakarta, poster-poster, spanduk-spanduk, grafiti-grafiti, selebaran-selebaran dari orang PKI nada bunyinya menggidikkan bulu roma, dengan pilihan bahasa yang sangat menista. Mengintimidasi siapa saja, tanpa pandang bulu, dengan kalkulasi politik seolah tiada tandingannya.

Bapak adalah bapak yang mampu malihrupa menjadi malaikat, dan dengan sendirinya mampu tidak tidur selama berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, demi mengawasi perkembangan semua anak-anaknya. Tidak itu saja, bahkan ketika subuh belum menjelang, dan adzanya masih jauh dikumandangkan, berjilid-jilid sedekah telah bapak siapkan, bagi siapa saja yang paling pagi menegakkan nafkah.

Jadi, jangan heran jika bapakku berkawan dengan sangat baik sekali dengan tukang sampah, satpam penjaga kampung, tukang gosek atau pemulung, loper koran, atau siapapun saja yang dengan tekun mengibarkan layar nafkahnya masing-masing. Kerendahan hati adalah ilmu bapak yang diajarkan kepada anak-anaknya sejak kami kanak-kanak.

Sedangkan fakultas kehidupan, sebagaimana dikatakan bapak, hanya dapat dibaca oleh orang-orang yang cukup mempunyai kedalaman. Karena, ilmu urip, demikian bapak biasa mengatakan kepada kami, hanya akan memberikan berkahnya, kepada orang-orang yang gemar memelihara kehidupan itu sendiri. Dengan ilmu terus memberi itulah, hidup, dengan sendirinya akan terus juga memberi, kepada orang-orang yang gemar berbagi rejeki. Layaknya para nabi.

Meski kerap kali, imbuh bapak, kehidupan paling gemar berbicara dengan manusia via bahasa tanda. Oleh karenannya, hidup "Hanya mampu dibaca oleh orang-orang yang biasa terlatih dengan penderitaan, dan kuat dalam masa keprihatinan". Untuk soal yang satu ini, bukan perkara gampang. Pada awalnya, ketika kesusahan, yang kerap kali datang bersama kawan baiknya bernama penderitaan menyapa, aku kerapkali dibuat lintang pukang dibuatnya.

Tapi, seiring berjalannya waktu, ketika kesusahan jelma, masa keprihatinan tiba, aku sudah terbiasa. Maka, ketika semua perkara itu datang, malah sebisa mungkin, aku tertawa-tawa akhirnya. Apakah orang-orang PKI yang tumpas pada tahun 65-66 itu tertawa-tawa juga ketika maut dipaksakan menyapanya? Aku tidak tahu, demikian halnya dengan bapakku. Yang pasti, banyak kawan kuliahnya waktu itu, hilang entah ke mana? Entah dihilangkan atau sengaja menghilangkan diri, tidak ada yang tahu pasti.

Hidup dengan sangat kejam memaksa orang-orang PKI, yang sepenceritaan bapakku, dulu berada di atas angin. Tiba-tiba dalam hitungan hari, dimakan pusaran angin yang menelan mereka bersama keluarga mereka, dan keturunannya. Sebuah tragis yang memaksa kawan menjadi lawan, bapak menjadi musuh, anak menjadi seteru. Dan dendam mengembara ke mana-mana, ke setiap sudut serta mengancam kemanusiaan yang mulai dan telah kehilangan perinya.

Untung bapak tidak kehilangan peri itu. Meski pengambil kebijakan negeri ini, pada saat itu, dengan para perangkatnya telah bermain buta, dan telah lama kehilangan peri kemanusiaannya, dengan membantai sesamanya atas nama apa saja. Bapak memilih membesarkan anak-anaknya dengan cara apa saja, kecuali menjadi maling apalagi rampok. Sebuah ihwal yang rata-rata diajarkan para pengambil kebijakan negeri ini, dalam mendidik dan membesarkan anak-anak mereka. Jadi tidak mengherankan, jika negeri ini menjadi republik maling, karena hampir semua pelakunya adalah rampok. Yang orang tuanya, notabene dulu pernah mempunyai tanda jasa, karena turut menumpas pemberontakan yang konon akibat sepak terjang PKI. Bukan yang lain.

Jadi, siapa sebenarnya yang pantas ditumpas hingga ke akar-akarnya? PKI yang laten dan keturunannya, atau maling-maling yang kebengisannya jauh lebih keji dari kelakuan dan rupa penjahat yang paling biadad sekalipun. Meski mereka kerap dan tekun melakukan ritual keagamaan yang menciutkan nyali? Ah, bapakku memang telah pulang, dan telah lama menera negeri ini akan menjadi negeri maling. Tapi paling tidak, anak-anaknya tidak menjadi salah satu dari banyak maling, yang makin hari makin menyesak dan dimaklumkan. Bahkan baru-baru ini, ada seorang petinggi lembaga negara dengan bangga memaklumkan perma'afan bagi para maling uang negara. Aduhai, alangkah indahnya. (Agustus 2011)