Lisa tak mengerti kenapa Ibunya yang suka mendongengkan cerita dan menyanyikan lagu untuknya sebelum tidur harus pergi. Lisa tak mengerti kenapa Ibunya yang cantik itu harus pergi jauh sementara Lisa belum selesai sekolahnya. Padahal Lisa ingin membahagiakan Ibunya sampai sekolahnya selesai. Lisa tak ingin lagi ribut dengan adiknya Didi yang bawel dan pelit, dan juga ia tak mau menyusahkan Ibu dengan seringnya minta uang jajan.
Tapi, hari ini Ibu berkata ia harus pergi. Pergi ke mana, Bu, tanya Lisa. Jauh, Nak. Ibu pergi untuk kamu, Nak. Semuanya untuk Rufi, kamu dan Didi, kata Ibu sambil membelai halus rambut Lisa.
Lisa tak mengerti setelah ayahnya yang pergi lebih dulu kali ini Ibunya juga harus pergi. Olala, betapa sepinya, kata Lisa. Kan, ada Nenek, Lisa, kata Ibu. Nenek dan Mbak Rufi akan menemani Lisa dan Didi setiap hari. Tenanglah, Ibu pasti akan pulang, Lisa, kata Ibu.
Ya, tapi pergi ke mana dan pulangnya kapan, Ibu tak menjawab. Bagi Lisa, Ibu tak mau menceritakan rencana kepergiannya karena Ibu ingin membuat kejutan untuknya. Kejutan berarti sesuatu yang membahagiakan dan pasti juga indah, batin Lisa.
Berkali-kali Ibunya hanya bilang ia pergi untuk Lisa, untuk Didi, untuk kami semua di sini. Ibu bilang ia pergi bukan untuk dirinya sendiri. Tapi apakah Ibu akan kembali? Ibu tersenyum mendengar pertanyaan Lisa. Tentu Ibu akan kembali, Nak, jawab Ibu. Sekali lagi Ibu pergi untuk kalian, Nak, bukan untuk Ibu. Janji, ya, kata Lisa. Ibu berjanji, Lisa, bisik Ibu.
Hari ini adalah hari terakhir Ibu bersamanya. Seperti biasa malam ini Ibu mendongeng dan menyanyikan lagu untuk Lisa sebelum tidur. Suara Ibu yang nyaring dan jernih menyejukkan hati Lisa. Tak lama kemudian Lisa tertidur. Dalam mimpinya Lisa bermimpi naik kereta yang ditarik sepuluh ekor kuda bersayap putih bersama Ibu bersama Didi, Nenek dan juga Mbak Rufi ke langit penuh bintang. Di sisi mereka muncul bunga-bunga bermekaran.
Olala, betapa indahnya.
***
Sore ini Ibu sudah berkemas. Koper, tas ransel dan kerudung berwarna putih di kepala Ibu sudah siap. Didi, Lisa, Mbak Rufi dan Nenek menghantar kepergian Ibu. Lisa, Didi, jangan nakal, ya, Ibu pasti kembali, kata Ibu. Ya, Bu, jawab Lisa. Setelah Ibu naik ke atas bus, Lisa menghentikan tangisnya.
“Hati-hati, Bu! Ingat, Ibu pulang, ya!” jerit Lisa.
Dilihatnya Ibu melambaikan tangan di kaca jendela. Ya, ini hari terakhir Lisa dan Didi melihat Ibunya. Kata Mbak Rufi Ibu pergi ke Arab Saudi. Tapi bukan itu yang penting buat Lisa. Apakah Ibu akan kembali dan tidak pergi seperti ayah, tanya Lisa. Mbak Rufi tersenyum. Ibu pasti pulang, Lisa, kata Mbak Rufi. Ibu pasti pulang. Ya, Ibu pasti pulang...
2010
Dua tahun berlalu. Tak ada kabar dari Ibu. Lisa kangen sekali sama Ibu. Dituliskannya perasaan kangen Lisa kepada Ibunya dalam surat. Karena Lisa tak tahu alamat Ibu, surat-suratnya ia masukkan ke dalam botol dan ia hanyutkan ke sungai. Mungkin Ibu tak membaca suratku, tapi ia pasti tahu apa isi hatiku, batin Lisa. Hampir setiap bulan Lisa melakukan itu. Selain surat Lisa juga suka menggambar ibunya yang sedang naik kereta ke atas langit ditarik kuda bersayap putih seperti dalam mimpinya terakhir sebelum ibunya pergi. Sebenarnya Nenek dan Mbak Rufi tahu alamat Ibunya. Tapi mereka tak bisa memberitahukannya karena kata mereka tempat Ibu bekerja berpindah-pindah, dari satu majikan ke majikan lainnya.
“Tapi Ibu tak ingkar janji Lisa. Ibu tak lupa dengan kalian walau tidak bicara dengan kalian,” kata Nenek.
“Buktinya apa? Pasti Ibu pergi seperti Ayah dan tidak akan kembali lagi!” jerit Lisa.
“Lisa, Ibumu kirim uang buat kalian. Lihat, baju, boneka, tas, sepatu, dan seragam baru buat kamu kemarin siapa yang belikan? Itu semua dari Ibu, Lisa! Ibu kirim dari jauh!” jelas Nenek.
“Lisa nggak butuh uang, Lisa mau ngomong sama Ibu! Lisa ingin dengar dongeng dan lagu yang Ibu nyanyikan tiap malam!” jerit Lisa. Tangisnya meledak.
“Lisa, nggak boleh begitu. Ibu kan’ sudah janji pergi untuk kamu, untuk kalian, untuk kita. Ibu pergi untuk kita, Lisa dan ini buktinya!” jelas Mbak Rufi.
Lisa terdiam. Air matanya meleleh. Ibu, kenapa kau harus pergi jauh, batin Lisa. Mbak Rufi memeluknya.
“Ibu pasti akan kembali, Lisa. Ibu tidak lupa dengan kalian,” bisik Mbak Rufi.
Lisa pergi ke kamar. Dipandanginya di dinding lukisan Ibu karyanya yang sedang naik kereta ke langit ditarik kuda-kuda bersayap. Di mata Lisa lukisan Ibu bergerak. Langit yang penuh kerlap-kerlip bintang memancarkan sinarnya sementara sayap-sayap di kuda-kuda itu mengepak dengan indahnya. Ibunya tersenyum dan melambaikan tangan.
Oh, Ibu.
Keheningan malam mulai menyergap. Rasanya begitu lama Lisa tak lagi mendengar dongeng dan lagu untuknya.
2011
Sampai pada suatu sore yang cerah Lisa terkejut melihat kedua mata Mbak Rufi sembab di ruang tamu. Pulang dari rumah Evie, dilihatnya Mbak Rufi dan Nenek berpelukan, lalu menangis. Selain itu dilihatnya beberapa orang laki-laki dan perempuan yang tak dikenalnya duduk di ruang tamu. Wajah-wajah mereka tampak asing di mata Lisa. Mungkin mereka dari kota.
“Ada apa, Mbak, ada apa, Nek?” tanya Lisa heran.
Keduanya tak menjawab. Mbak Rufi membelai kepala Lisa kemudian menyuruhnya ke dalam. Di kamar Lisa mendengar suara Mbak Rufi menjerit, histeris.
“Ini tidak adil! Ibu tidak bersalah! Kalau ibu memang salah kenapa dia harus dihukum begitu keji? Ini tidak adil! Tidak adil!” jerit Mbak Rufi.
“Tapi ini kabar yang kami terima, Mbak. Kami juga tak menyangka jadinya akan seperti ini. Apa daya sepertinya…”
“Sepertinya apa?? Lantas apa tanggung jawab kalian?? Apa kerja kalian, ha??”
“Kami hanya menyampaikan kabar ini kepadamu, Rufi. Ibumu …”
Oh, jadi ini tentang ibu? Ibu pulang? Hore, Ibu mau pulang! Tapi kalau Ibu mau pulang kenapa Mbak Rufi dan Nenek menangis?
“Kami bahkan tahu kabar ini setelah membaca koran asing. Tapi kami akan usut sampai tuntas kasus ini sampai mereka tahu bahwa ada yang tidak beres. Kami tahu sebenarnya ini adalah pembelaan diri Ibu kalian terhadap sikap majikannya. Kami tahu hal ini tidak sepatutnya terjadi bila vonis segera direspon advokasi pemerintah...”
“Ya, sepertinya ada yang ditutupi sehingga kasus ini baru ketahuan kemarin. Ada yang tidak mau kami tahu kabar ini….ada yang….”
Oh, ada apa dengan Ibu? Tadi orang-orang kota itu bilang “kasus”? Apakah Ibu berbuat kesalahan? Apakah Ibu mencuri? Apakah Ibu…Lalu Ibu ke mana? Kenapa Ibu tidak pulang? Lisa mengerti ini semua pasti tentang Ibu. Segera ia menghambur keluar dari bilik kamarnya yang sempit.
“Ibu pulang, ya, Nek? Ibu kapan pulang? Ibu kenapa, Mbak Rufi? Ada apa dengan Ibu, Mbak?” tanya Lisa. Ditariknya tangan Nenek, juga Mbak Rufi. Tapi di ruang tamu itu tak ada yang menjawab. Semuanya yang ada di ruang tamu hanya memandang Lisa dengan wajah muram.
Mbak Rufi lalu memeluk dan membelai kepala Lisa.
“Ibu pergi ke surga, Lisa,” bisik Mbak Rufi pelan.
Pamulang-Rawamangun, Juni 2011.
Negasi Holmes
Kau tahu? Semestinya kota ini sudah punya polisi kota sendiri. Jalanan sudah macet, mobil-mobil susah diatur, motor apalagi. Truk-truk dari kota-kota besar sudah meruah, membawa bahan baku untuk industri kota kita. Angka kriminal meningkat tajam. Kau tau, kan, berita kemarin? Perampok menggasak toko emas di pasar siang hari bolong. Menggunakan senjata lengkap laras pendek maupun panjang. Tidak ada yang berani menolong. Kemana polisi-polisi kita itu? Masih sibuk mengurusi terorisme, mungkin. Apa sih yang kamu lakukan di pos jaga?
Mungkin menarik bila kubuka kantor konsultan detektif di kota ini. Maraknya kriminal di kota kita merupakan lahan yang potensial untuk profesi detektif. Tentu sangat mengasyikkan. Sebagai awal, tidak usah kupecahkan kasus perampokan toko mas itu. Biar kasus-kasus yang ringan saja dahulu. Seperti misteri percintaan. Misteri siapa yang telah bersemayam di hatimu.
***
Malam minggu ini ramai sekali, tidak seperti malam-malam minggu sebelumnya. Di area Gereja mobil-mobil berparkiran sepanjang jalan, banyak juga sepeda motor. Ada Misa Malam Pekan Suci rupanya.
Di depan Gereja seorang kakek berambut putih, berjenggot putih berpakaian kaos putih dan bercelana katun putih berdiri di tengah jalan. Menadahkan topinya kemudian bersenandung kepada para pengunjung: "Semoga Tuhan memberkati! Semoga Tuhan memberkati!". Beberapa pengunjung melemparkan uang logam atau uang kertas pecahan kecil ke dalam topinya. Semoga Tuhan memberikan berkah kepada amalan mereka.
Aku limbung, hampir jatuh dari motor. Setelah di kelokan depan berpapasan dengan ibu biarawati yang hendak menyeberang. Beliau tergopoh meninggalkan Gereja saat Misa sedang berjalan. Mungkin mendapat kabar yang mengejutkan hingga tidak bersiaga di jalanan kota kita yang makin ramai saja. Tuh,kan, kota kita makin tidak aman.
Kutunggu kau di bawah pohon Akasia di samping pos jaga polisi, Va. Apa sih yang kamu lakukan di dalam Gereja?
***
Mempelajari kejahatan itu mengasyikkan. Kau ingat, kan, tentang masa remaja kita dahulu. Di ruang tengah kita bermain bersama. Bermain tebak-tebakan bersama ibuku. Ibuku sangat baik. Beliau menemani kita, supaya tidak terjadi hal-hal yang buruk, katanya. Beliau juga yang membuat kita menyukai kriminal. Koleksi buku detektifnya luar biasa. Kaungat percakapan ini, "Eva jika besar nanti mau jadi apa?" tanya ibuku waktu itu.
"Polisi!" kaujawab mantap.
"Mengapa Eva mau jadi polisi?" tanya ibuku selanjutnya.
"Biar Eva bisa menangkap penjahat! Biar Ibu sama Mustafa aman!" begitu jawabmu.
Ibuku tersenyum waktu itu. Selanjutnya dia membacakan serial-serial detektif dari koleksi novelnya. Sampai kita hafal betul, dan setelahnya kita bisa menebak penyelesaian kasus-kasus baru dari serial yang baru saja keluar di pasaran. Kita berujar mengenai cita-cita dan kita menjawab sama, "Detektif."
"Hampir semua hal di dunia ini bisa dijelaskan dengan logika. Bagaimanapun tanggapanmu terhadap suatu hal, itu adalah hasil dari olah pikirmu, Fa. Dari endapan pemikiranmu. Termasuk Tuhan." tiba-tiba Engkau berbicara kepadaku, Va, selepas menyelesaikan kuliahmu di Sepolwan itu.
Dan saranku, "Agamaku adalah agamaku, Agamamu adalah agamamu. Betapa muskil keduanya bisa disatukan. Sama saja engkau menjadi musuh dari keduanya. Engkau sahabatku, dan aku merasa lebih dari itu. Engkau yang aku inginkan untuk selalu di sampingku. Namun terdapat sekat yang teramat kuat, serta rapat."
Aku berpikir mungkin engkau bertambah relijius, dan tentu aku turut senang. Meski kita berseberangan keyakinan, ada satu yakin yang membuat kita tetap berhubungan. Cinta mereka bilang.
Percayakah kau akan rahasia rintik hujan yang mengguyur kota kita malam ini? Ada sesuatu yang turun bersamanya. Seperti menyanyikan kidung kerinduan yang mendalam. Ada sesuatu yang melekat bersama molekulnya. Mungkin dari rindu yang menguap berbulan-bulan lalu, kemudian menggumpal bersama awan, lalu jatuh menimpaku. Di bawah pohon Akasia ini.
***
Aku jadi teringat perdebatan dengan ayah sepekan silam setelah aku pulang mengantarmu bertugas. Aku didudukkan di ruang tamu. Ayah duduk di hadapanku, kemudian ibu di sampingnya. Engkau tau, aku disidang malam itu.
“Mustafa, darimana kamu?” Ayahku bermuka serius. Jarang-jarang beliau begitu. Beliau biasanya bersikap tenang yang sangat mencerminkan bahwa beliau seorang dosen di Universitas ternama di Yogyakarta. Kau tentu jarang bertemu dengannya karena beliau sibuk mengajar disana. Sedangkan aku tinggal bersama Ibu di kota tercinta kita, Cilacap Bercahaya.
“Sehabis mengantar Eva dari pos jaga, Pak.”
“Evangelin Kristanti?”
“Iya, Pak.”
Ayah mendesah, membuang pandangannya ke lukisan rumah gubug di tengah-tengah sawah yang terlihat sangat reyot dan sebentar lagi mungkin rubuh.
“Mustafa, sadarkah kamu? Kita ini orang Muslim yang terpandang. Bapak berprofesi sebagai dosen Jurusan Syariah di Universitas Islam ternama. Bagaimana tanggapan orang jika melihat anaknya bepergian dengan wanita yang bukan muhrim? Beragama lain pula.”
Aku hanya terdiam mendengar bapak berbicara. Di dalam hati, aku ingin membela diri. Namun Bapak masih melanjutkan pidatonya.
“Berapa umurmu sekarang? Dua puluh lima, kan? Ya, kau sudah cukup umur untuk menikah. Segeralah menikah. Tentang pekerjaanmu di kantor advokat biar nanti Bapak carikan kenalan di Yogyakarta. Kau cari pengalaman hidup di kota pelajar itu.”
“Iya, Pak. Tapi Mustafa sudah menentukan pilihan. Mustafa sudah mantap.”
“Siapa gadis itu?” Bapak sangat penasaran. Sedang ibu terdiam biasa saja.
“Eva, Pak. Mustafa memutuskan untuk menikahinya supaya tidak terjadi fitnah.”
Bulan malam itu enggan menampakkan diri. Mungkin tidak ingin menjadi saksi tentang kemarahan pertama sang Ayah kepada anak laki-laki satunya ini. Langit kelam tertutup awan hitam yang sekelam suasana rumahku kemudian.
“Astaghfirullaah! Sadarlah kau, Fa! Mengapa kau ambil ia sebagai calonmu?! Istighfar! Ingat asalmu, jangan sampai kau terperosok ke jalan yang sesat!” Nada bicara ayah meninggi. Di sampingnya ibu mengusap-usap halus punggung Ayah.
Aku mencoba tenang. Mencoba menata pikiranku. Beginilah dilema yang pernah kubayangkan sebelumnya. Mencintai seseorang yang berseberangan dengan keyakinanku merupakan hal yang sangat sulit untuk diwujudkan. Aku harus menerjang orang-orang yang kusayangi, keluargaku sendiri.
“Tapi, Ayah, aku seorang laki-laki. Seorang pemimpin rumah tangga nantinya. Aku telah mencari ketentuan dalam kitab suci kita dan tuntunan Nabi bahwasannya seorang lelaki muslim boleh menikah dengan seorang perempuan ahli kitab. Sebagian ulama pun membolehkannya.” Aku mencoba membela diriku. Aku tahu, ini adalah sikapku yang kurang ajar. Selama ini apa yang dikatakan ayah dengan takzim akan kupatuhi. Bagiku, beliau adalah lubuk akal tepian ilmu. Orang yang berilmu dunia dan akhirat. Namun, hatiku telah terhias oleh perasaan yang telah diciptakan Tuhan begitu indah, begitu mulia.
Ayah tetap pada pendiriannya. Beliau sangat terpukul dengan sikapku. Semenjak pertemuan malam itu, aku belum bertemu ayah sampai kini. Beliau menyibukkan diri dengan urusannya di Yogyakarta. Ibu, sebagai pengayom keluarga menjadi mediator bagi kami tinggal bersamaku di kota kelahiran. Aku melihat beberapa kali beliau menangis. Aku memahami, beliau merasakan kepadihan dalam hati. Beliau memahami perasaanku karena beliaulah yang sedari kecil mengerti hubunganku dengan Eva. Aku mengerti bahwasannya hidup adalah kumpulan dari kosistensi.
***
Semestinya engkau-pun tahu, Va, bahwa kita telah menjalani cinta yang salah. Sebagaimana engkau yang telah diberi kecaman oleh ibumu. Tapi cinta rupanya tak terikat pada logika, seperti yang engkau pernah ucapkan saat kita dahulu mendiskusikan bahan bacaan Sherlock Holmes yang kupinjam pada ibu. Kita sama-sama tergelitik dengan perkataannya: when you have eliminated the impossible, whatever remains, however improbable, must be the truth. Sebuah acuan teori eliminasi yang telah membawamu meretas kasus-kasus kejahatan secara gilang-gemilang. Ya, pegangan yang membuatku memenangkan beberapa kasus dari klien yang kutangani. “Jika kita mengeliminasi hal yang tidak mungkin, apapun yang tersisa, bagaimanapun juga mustahilnya, itulah kebenaran”, begitu terjemahanmu.
Kita terbahak kala membahas kalimat Holmes yang telah membawa kita sukses dalam bidang kita masing-masing. Aku suka derai tawamu, rahangmu yang keras, mengisaratkan kau wanita yang berpendirian tegas. Namun matamu yang sendu mengisyaratkanmu sebagai wanita yang penuh dengan kelemah-lembutan.
Saat itu kau membuat sebuah kuis, “Apa ingkaran dari pernyataan Holmes ini, Fa?”
“Ah, entalah. Dia detektif sialan. Hasil dari yang kita singkirkan ketidakmungkinannya meskipun mustahil memang biasanya benar. Itu yang selalu kutemui. Menurutmu, Va?”
“Sama, Fa. Akupun begitu. Sering kupecahkan kasus dengan mengeliminasi ketidakmungkinan-ketidakmungkinan yang ada. Baiklah, mungkin misteri ingkaran Holmes ini akan menjadi kuis abadi kita. Hal apa yang tidak sesuai dengan teorinya.”
“Hehehe..”, dan tawa kita-pun berderaian bersama.
Kau tahu, Va, aku telah menemukan jawabannya. Di bawah deraian gerimis ini. Aku telah menemukan sesuatu yang bahkan aku tidak bisa menemukan kesimpulan sebab ia ada. Sebab ia telah membuatku selalu merindu. Aku telah mengeliminasi kemungkinan cantiknya parasmu karena di luar sana banyak wanita yang lebih rupawan darimu, bahkan berjilbab yang sesuai dengan ajaran agamaku. Aku telah menghapus kemungkinan restu orangtua karena jelas-jelas orang tua kita tidak sepakat dengan hubungan kita. Aku tidak mengerti, Va, apa yang membuatku jatuh Cinta.
***
Kulihat jam tangan, jarum jam sudah bungkuk ke angka 20.30 namun ibadahmu belum saja selesai. Menunggu itu memang membosankan, namun aku tahu hasil yang aku peroleh setelahnya akan mengobati kepenatan yang telah kulalui sebelumnya.
Bangunan Gereja Tua St. Stephanus terlihat perkasa, meski di sana-sini menyiratkan kemuraman karena musim yang sudah mengikis putihnya cat-cat yang menempel padanya. Lonceng Gereja berdentang tiga kali ketika tiba-tiba aku melihat seberkas sinar keluar dari pintu Gereja. Sinar kuning yang menyilaukan dan tiba-tiba saja menghempas udara di depanku. Dentuman serupa meriam membahana membelah malam di kota kita. Orang-orang berlarian. Jemaat-jemaat berusaha menyelamatkan diri. Petugas polisi segera pontang-panting mengangkat tubuh-tubuh yang bergelimpangan. Kota kita meriah. Kamu dimana, Va?***
Jakarta, September 2010
Catatan:
Sherlock Holmes: Tokoh detektif rekaan Sir Arthur Conan Doyle.
M. Nurcholis, penikmat sastra, tinggal di Kalibata, Jakarta Selatan. Twitter: @n_choliz
Mungkin menarik bila kubuka kantor konsultan detektif di kota ini. Maraknya kriminal di kota kita merupakan lahan yang potensial untuk profesi detektif. Tentu sangat mengasyikkan. Sebagai awal, tidak usah kupecahkan kasus perampokan toko mas itu. Biar kasus-kasus yang ringan saja dahulu. Seperti misteri percintaan. Misteri siapa yang telah bersemayam di hatimu.
***
Malam minggu ini ramai sekali, tidak seperti malam-malam minggu sebelumnya. Di area Gereja mobil-mobil berparkiran sepanjang jalan, banyak juga sepeda motor. Ada Misa Malam Pekan Suci rupanya.
Di depan Gereja seorang kakek berambut putih, berjenggot putih berpakaian kaos putih dan bercelana katun putih berdiri di tengah jalan. Menadahkan topinya kemudian bersenandung kepada para pengunjung: "Semoga Tuhan memberkati! Semoga Tuhan memberkati!". Beberapa pengunjung melemparkan uang logam atau uang kertas pecahan kecil ke dalam topinya. Semoga Tuhan memberikan berkah kepada amalan mereka.
Aku limbung, hampir jatuh dari motor. Setelah di kelokan depan berpapasan dengan ibu biarawati yang hendak menyeberang. Beliau tergopoh meninggalkan Gereja saat Misa sedang berjalan. Mungkin mendapat kabar yang mengejutkan hingga tidak bersiaga di jalanan kota kita yang makin ramai saja. Tuh,kan, kota kita makin tidak aman.
Kutunggu kau di bawah pohon Akasia di samping pos jaga polisi, Va. Apa sih yang kamu lakukan di dalam Gereja?
***
Mempelajari kejahatan itu mengasyikkan. Kau ingat, kan, tentang masa remaja kita dahulu. Di ruang tengah kita bermain bersama. Bermain tebak-tebakan bersama ibuku. Ibuku sangat baik. Beliau menemani kita, supaya tidak terjadi hal-hal yang buruk, katanya. Beliau juga yang membuat kita menyukai kriminal. Koleksi buku detektifnya luar biasa. Kaungat percakapan ini, "Eva jika besar nanti mau jadi apa?" tanya ibuku waktu itu.
"Polisi!" kaujawab mantap.
"Mengapa Eva mau jadi polisi?" tanya ibuku selanjutnya.
"Biar Eva bisa menangkap penjahat! Biar Ibu sama Mustafa aman!" begitu jawabmu.
Ibuku tersenyum waktu itu. Selanjutnya dia membacakan serial-serial detektif dari koleksi novelnya. Sampai kita hafal betul, dan setelahnya kita bisa menebak penyelesaian kasus-kasus baru dari serial yang baru saja keluar di pasaran. Kita berujar mengenai cita-cita dan kita menjawab sama, "Detektif."
"Hampir semua hal di dunia ini bisa dijelaskan dengan logika. Bagaimanapun tanggapanmu terhadap suatu hal, itu adalah hasil dari olah pikirmu, Fa. Dari endapan pemikiranmu. Termasuk Tuhan." tiba-tiba Engkau berbicara kepadaku, Va, selepas menyelesaikan kuliahmu di Sepolwan itu.
Dan saranku, "Agamaku adalah agamaku, Agamamu adalah agamamu. Betapa muskil keduanya bisa disatukan. Sama saja engkau menjadi musuh dari keduanya. Engkau sahabatku, dan aku merasa lebih dari itu. Engkau yang aku inginkan untuk selalu di sampingku. Namun terdapat sekat yang teramat kuat, serta rapat."
Aku berpikir mungkin engkau bertambah relijius, dan tentu aku turut senang. Meski kita berseberangan keyakinan, ada satu yakin yang membuat kita tetap berhubungan. Cinta mereka bilang.
Percayakah kau akan rahasia rintik hujan yang mengguyur kota kita malam ini? Ada sesuatu yang turun bersamanya. Seperti menyanyikan kidung kerinduan yang mendalam. Ada sesuatu yang melekat bersama molekulnya. Mungkin dari rindu yang menguap berbulan-bulan lalu, kemudian menggumpal bersama awan, lalu jatuh menimpaku. Di bawah pohon Akasia ini.
***
Aku jadi teringat perdebatan dengan ayah sepekan silam setelah aku pulang mengantarmu bertugas. Aku didudukkan di ruang tamu. Ayah duduk di hadapanku, kemudian ibu di sampingnya. Engkau tau, aku disidang malam itu.
“Mustafa, darimana kamu?” Ayahku bermuka serius. Jarang-jarang beliau begitu. Beliau biasanya bersikap tenang yang sangat mencerminkan bahwa beliau seorang dosen di Universitas ternama di Yogyakarta. Kau tentu jarang bertemu dengannya karena beliau sibuk mengajar disana. Sedangkan aku tinggal bersama Ibu di kota tercinta kita, Cilacap Bercahaya.
“Sehabis mengantar Eva dari pos jaga, Pak.”
“Evangelin Kristanti?”
“Iya, Pak.”
Ayah mendesah, membuang pandangannya ke lukisan rumah gubug di tengah-tengah sawah yang terlihat sangat reyot dan sebentar lagi mungkin rubuh.
“Mustafa, sadarkah kamu? Kita ini orang Muslim yang terpandang. Bapak berprofesi sebagai dosen Jurusan Syariah di Universitas Islam ternama. Bagaimana tanggapan orang jika melihat anaknya bepergian dengan wanita yang bukan muhrim? Beragama lain pula.”
Aku hanya terdiam mendengar bapak berbicara. Di dalam hati, aku ingin membela diri. Namun Bapak masih melanjutkan pidatonya.
“Berapa umurmu sekarang? Dua puluh lima, kan? Ya, kau sudah cukup umur untuk menikah. Segeralah menikah. Tentang pekerjaanmu di kantor advokat biar nanti Bapak carikan kenalan di Yogyakarta. Kau cari pengalaman hidup di kota pelajar itu.”
“Iya, Pak. Tapi Mustafa sudah menentukan pilihan. Mustafa sudah mantap.”
“Siapa gadis itu?” Bapak sangat penasaran. Sedang ibu terdiam biasa saja.
“Eva, Pak. Mustafa memutuskan untuk menikahinya supaya tidak terjadi fitnah.”
Bulan malam itu enggan menampakkan diri. Mungkin tidak ingin menjadi saksi tentang kemarahan pertama sang Ayah kepada anak laki-laki satunya ini. Langit kelam tertutup awan hitam yang sekelam suasana rumahku kemudian.
“Astaghfirullaah! Sadarlah kau, Fa! Mengapa kau ambil ia sebagai calonmu?! Istighfar! Ingat asalmu, jangan sampai kau terperosok ke jalan yang sesat!” Nada bicara ayah meninggi. Di sampingnya ibu mengusap-usap halus punggung Ayah.
Aku mencoba tenang. Mencoba menata pikiranku. Beginilah dilema yang pernah kubayangkan sebelumnya. Mencintai seseorang yang berseberangan dengan keyakinanku merupakan hal yang sangat sulit untuk diwujudkan. Aku harus menerjang orang-orang yang kusayangi, keluargaku sendiri.
“Tapi, Ayah, aku seorang laki-laki. Seorang pemimpin rumah tangga nantinya. Aku telah mencari ketentuan dalam kitab suci kita dan tuntunan Nabi bahwasannya seorang lelaki muslim boleh menikah dengan seorang perempuan ahli kitab. Sebagian ulama pun membolehkannya.” Aku mencoba membela diriku. Aku tahu, ini adalah sikapku yang kurang ajar. Selama ini apa yang dikatakan ayah dengan takzim akan kupatuhi. Bagiku, beliau adalah lubuk akal tepian ilmu. Orang yang berilmu dunia dan akhirat. Namun, hatiku telah terhias oleh perasaan yang telah diciptakan Tuhan begitu indah, begitu mulia.
Ayah tetap pada pendiriannya. Beliau sangat terpukul dengan sikapku. Semenjak pertemuan malam itu, aku belum bertemu ayah sampai kini. Beliau menyibukkan diri dengan urusannya di Yogyakarta. Ibu, sebagai pengayom keluarga menjadi mediator bagi kami tinggal bersamaku di kota kelahiran. Aku melihat beberapa kali beliau menangis. Aku memahami, beliau merasakan kepadihan dalam hati. Beliau memahami perasaanku karena beliaulah yang sedari kecil mengerti hubunganku dengan Eva. Aku mengerti bahwasannya hidup adalah kumpulan dari kosistensi.
***
Semestinya engkau-pun tahu, Va, bahwa kita telah menjalani cinta yang salah. Sebagaimana engkau yang telah diberi kecaman oleh ibumu. Tapi cinta rupanya tak terikat pada logika, seperti yang engkau pernah ucapkan saat kita dahulu mendiskusikan bahan bacaan Sherlock Holmes yang kupinjam pada ibu. Kita sama-sama tergelitik dengan perkataannya: when you have eliminated the impossible, whatever remains, however improbable, must be the truth. Sebuah acuan teori eliminasi yang telah membawamu meretas kasus-kasus kejahatan secara gilang-gemilang. Ya, pegangan yang membuatku memenangkan beberapa kasus dari klien yang kutangani. “Jika kita mengeliminasi hal yang tidak mungkin, apapun yang tersisa, bagaimanapun juga mustahilnya, itulah kebenaran”, begitu terjemahanmu.
Kita terbahak kala membahas kalimat Holmes yang telah membawa kita sukses dalam bidang kita masing-masing. Aku suka derai tawamu, rahangmu yang keras, mengisaratkan kau wanita yang berpendirian tegas. Namun matamu yang sendu mengisyaratkanmu sebagai wanita yang penuh dengan kelemah-lembutan.
Saat itu kau membuat sebuah kuis, “Apa ingkaran dari pernyataan Holmes ini, Fa?”
“Ah, entalah. Dia detektif sialan. Hasil dari yang kita singkirkan ketidakmungkinannya meskipun mustahil memang biasanya benar. Itu yang selalu kutemui. Menurutmu, Va?”
“Sama, Fa. Akupun begitu. Sering kupecahkan kasus dengan mengeliminasi ketidakmungkinan-ketidakmungkinan yang ada. Baiklah, mungkin misteri ingkaran Holmes ini akan menjadi kuis abadi kita. Hal apa yang tidak sesuai dengan teorinya.”
“Hehehe..”, dan tawa kita-pun berderaian bersama.
Kau tahu, Va, aku telah menemukan jawabannya. Di bawah deraian gerimis ini. Aku telah menemukan sesuatu yang bahkan aku tidak bisa menemukan kesimpulan sebab ia ada. Sebab ia telah membuatku selalu merindu. Aku telah mengeliminasi kemungkinan cantiknya parasmu karena di luar sana banyak wanita yang lebih rupawan darimu, bahkan berjilbab yang sesuai dengan ajaran agamaku. Aku telah menghapus kemungkinan restu orangtua karena jelas-jelas orang tua kita tidak sepakat dengan hubungan kita. Aku tidak mengerti, Va, apa yang membuatku jatuh Cinta.
***
Kulihat jam tangan, jarum jam sudah bungkuk ke angka 20.30 namun ibadahmu belum saja selesai. Menunggu itu memang membosankan, namun aku tahu hasil yang aku peroleh setelahnya akan mengobati kepenatan yang telah kulalui sebelumnya.
Bangunan Gereja Tua St. Stephanus terlihat perkasa, meski di sana-sini menyiratkan kemuraman karena musim yang sudah mengikis putihnya cat-cat yang menempel padanya. Lonceng Gereja berdentang tiga kali ketika tiba-tiba aku melihat seberkas sinar keluar dari pintu Gereja. Sinar kuning yang menyilaukan dan tiba-tiba saja menghempas udara di depanku. Dentuman serupa meriam membahana membelah malam di kota kita. Orang-orang berlarian. Jemaat-jemaat berusaha menyelamatkan diri. Petugas polisi segera pontang-panting mengangkat tubuh-tubuh yang bergelimpangan. Kota kita meriah. Kamu dimana, Va?***
Jakarta, September 2010
Catatan:
Sherlock Holmes: Tokoh detektif rekaan Sir Arthur Conan Doyle.
M. Nurcholis, penikmat sastra, tinggal di Kalibata, Jakarta Selatan. Twitter: @n_choliz
Sehabis Hujan di Bulan Desember
Sisa hujan sore tadi masih membekas. Bulan ini memang sering disuguhi hujan hampir setiap harinya, dan mungkin hujan sore tadi akan menjadi hujan terakhir di tahun ini. Tanah basah. Pohon-pohon mengucurkan air, terimbas angin malam. Udara dingin menusuk. Suara katak ditingkahi jangkerik, membentuk simponi alam nan indah. Sesekali bunyi petasan dan kembang api mulai melalakukan pemanasan dengan melukis langit dari kejauhan membentuk pelangi di malam hari.
Semua fenomena itu siap mengantar kotaku menuju pergantian tahun. Lalu, banyak cerita yang bergulir dengan sendirinya. Tak mau kehilangan seluruh momen tersebut, aku segera menggerakkan jemari, bekerja di atas tuts-tuts keyboard seolah mengikuti irama tetesan air jatuh mengaliri dedaunan yang frekuensinya semakin melambat. Tetes demi tetes air itu seperti menggulirkan cerita sendiri-sendiri. Ingin kurekam seluruh pemandangan dan perasaan itu, tapi tunggu sebentar, tanganku masih basah.
Beberapa jam yang lalu…
Hari yang cerah tiba-tiba menjadi hari yang basah. Hujan turun, aku mengkerut di atas motor. Menyusut di antara sweeter kumal di tengah jalan macet. Sementara itu, orang-orang berlarian dan berteriak kepanikan. Mereka lupa payung sedangkan aku tak membawa jas hujan. Semua begitu, siapa sangka akan hujan.
Aku menepikan motor lalu berteduh di halte sambil menunggu hujan reda. Tapi kemudian itu pun berlalu bersamaan dengan sebatang A Mild yang terselip di jari tanganku. Lalu sepeda motor melintas cepat, air hujan yang tergenang di pinggir jalan muncrat ke wajah dan badanku. Aku lalu mengumpat, “Sial! Tanganku basah…!!!”
*
Well .. tahun baru sebentar lagi, sudah ramai orang membicarakan refleksi satu tahun ke belakang dan ekspektasi pada tahun yang mendatang. Sedikit ingin ikut arus juga sebenarnya tapi bukan mengenai hegemoni tahun baru. Ini tentang hujan. Lebih tepatnya kisah sehabis hujan. Dan aku suka sekali sehabis hujan di bulan Desember.
Kenapa harus sehabis hujan dan kenapa harus di bulan Desember?
Kontempelasi pun di mulai. Udara dingin, suara jangkerik. Sebentar lagi tengah malam. Dengan tangan yang masih basah, aku membuka catatan harian lalu memikirkan tentang apa yang pernah ku lalui sepanjang tahun ini. Aku tahu bahwa masa lalu dalam catatan itu adalah masa yang aku mengetahuinya dengan benar, sok tahu, karena hal itu adalah milikku sendiri, aku yang mengalami sendiri.
Lalu aku mulai menyelami aksara demi aksara untuk menemukan feel kejadiannya. Suka cita, kesal, kecewa, semua coba kurasakan kembali. Namun, tiba-tiba masa lalu itu menjadi kabur dan tak sungguh-sungguh tampak. Yang ada, ternyata, tak lebih dari coretan tanganku di buku harian tersebut. Tak ada realitas yang kudapati dari coretan yang kubuat sendiri, sekuat apapun aku pikirkan, aku tak bisa mengalami kembali masa lalu yang telah ku lalui itu.
Mungkin aku bisa memeriksanya di ‘laboratorium’ dan menemukan bahwa kertas buku harian tersebut dibuat di pabrik tertentu, dengan mesin tertentu, jumlah pekerja sekian, dan upah hariannya sekian, serta dibuat dari campuran kayu apa dan apa. Aku juga bisa memeriksa ternyata tinta yang dipergunakan berasal dari ballpoint anu , ukuran berapa, dan dibuat di mana. Tapi sungguhkah apa yang kemudian aku peroleh itu merupakan kenyataan di masa lalu?
Seberapa pentingkah pabrik kertas itu bagi apa yang terjadi pada hari ketika buku harian tersebut aku tulis? Aneh. Tiba-tiba aku meragukannya, dan seketika menyadari betapa kurangnya jejak-jejak yang telah ditinggalkan. Kertas, ballpoint , alphabet, itu adalah jejak-jejak. Tapi aku selalu merasa kekurangan jejak, seolah apapun yang terjadi, hanya membawaku pada ke ketersesatan.
Aku merasa jejak-jejak itu mewakili sesuatu. Masa lalu. Namun di satu sisi juga sadar, jejak itu sesungguhnya hanya mewakili dirinya sendiri. Aku mempertanyakan sejarahku sendiri dan aku mencurigai penulisnya yakni, diriku sendiri. Tapi sejarah tentang diriku itu ada di sana, di suatu tempat yang tak seorang pun tahu, atau lebih tepatnya aku menjadi demikian sok tahu.
Lantas, apa kemudian yang aku miliki? Selama ini aku merasa sudah memiliki masa laluku (Bukankah satu-satunya yang kita miliki adalah masa lalu?). Akan tetapi, masa depan yang gelap pun, ketika kita membayangkannya, merekonstruksinya, merepresentasikannya, ia dengan tiba-tiba menjadi sebuah masa lalu yang lain. Dan pameo “satu-satunya yang kita miliki itu adalah masa lalu”, dengan semena-mena kehilangan semua relevansinya. Dan aku tahu bahwa segala hal tentang masa lalu, ternyata, tak lebih dari sekadar bagaimana kita memikirkan hal itu.
*
Mungkin bagi sebagian orang, hanya saat hujanlah yang lebih menguasai alam memori pikirannya yang kadang naif. Air yang turun dan meluncur jatuh dari langit itu melambangkan anugerah dan cinta dari Tuhan.
Ada yang mengatakan, seprimitif apapun peradaban suatu bangsa pasti secara eksplisit maupun implisit mengagungkan hujan. Namun bagiku, aku suka hingga sehabis hujan, apalagi sehabis hujan di bulan Desember. Ia seperti cover buku tahunan yang menutup jejak-jejak kisah setahun dengan dingin sebagaimana filosofi hujan dalam peribahasa lama yang menyebutkan, “panas setahun terhapus hujan sehari,” dan hanya hujan di bulan Desember yang relevan untuk melakukan hal itu.
Akan tetapi, kisah tidak berakhir dalam hujan, melainkan kisah tetap bergulir sehabis hujan dengan spirit baru dan harapan baru. Dan bagiku, itu yang lebih penting. Begitu banyak peristiwa yang sudah kulewati dalam hidup yang menjadikan diriku seperti sekarang ini, itu karena keistimewaan hujan dan harapan sehabis hujan. Itulah sebabnya aku suka suasana sehabis hujan di bulan Desember.
*
Akhirnya, satu yang pasti dan kusadari betul bahwa hujan turut mendewasakan diriku dalam segala abstraksi hidup ini. Dengan turunnya hujan tadi, dengan bau tanah basah sehabis terkena hujan ini aku selalu ingat akan kasih Sang Pencipta yang tak terkira. Aku selalu ingat untuk berbuat yang terbaik bagi hidup kini dan hari esok. Aku selalu ingat untuk terus tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aku selalu ingat pada kasih dan pengorbanan orang tuaku beserta semua orang terdekat yang kusayangi. Aku selalu ingat untuk ikhlas dan bersyukur atas semua yang kupunya. Dan sehabis hujan ini, kuingin torehkan kisah yang lebih baik dari ‘panas’ setahun yang sudah kulalui.
*
Kamar ukuran 4×4 meter. Laptop di depan mata. Headphone tertempel di telinga. Dari balik headphone , Tracy Chapman bernyanyi lagu kesukaanku, “Give me one reason.” Aku mengangguk-anggukkan kepala sambil tanganku yang sudah agak kering berlarian di atas tuts-tuts laptop. Ku tulis feature . Cerita tentang diriku di masa depan dalam bentuk masa lalu.
*
Manado, 31 Desember 2010. Pukul 22.12 Wita.
Haz Algebra tinggal di Manado. Bergiat di Komunitas Bibir Pena.
Semua fenomena itu siap mengantar kotaku menuju pergantian tahun. Lalu, banyak cerita yang bergulir dengan sendirinya. Tak mau kehilangan seluruh momen tersebut, aku segera menggerakkan jemari, bekerja di atas tuts-tuts keyboard seolah mengikuti irama tetesan air jatuh mengaliri dedaunan yang frekuensinya semakin melambat. Tetes demi tetes air itu seperti menggulirkan cerita sendiri-sendiri. Ingin kurekam seluruh pemandangan dan perasaan itu, tapi tunggu sebentar, tanganku masih basah.
Beberapa jam yang lalu…
Hari yang cerah tiba-tiba menjadi hari yang basah. Hujan turun, aku mengkerut di atas motor. Menyusut di antara sweeter kumal di tengah jalan macet. Sementara itu, orang-orang berlarian dan berteriak kepanikan. Mereka lupa payung sedangkan aku tak membawa jas hujan. Semua begitu, siapa sangka akan hujan.
Aku menepikan motor lalu berteduh di halte sambil menunggu hujan reda. Tapi kemudian itu pun berlalu bersamaan dengan sebatang A Mild yang terselip di jari tanganku. Lalu sepeda motor melintas cepat, air hujan yang tergenang di pinggir jalan muncrat ke wajah dan badanku. Aku lalu mengumpat, “Sial! Tanganku basah…!!!”
*
Well .. tahun baru sebentar lagi, sudah ramai orang membicarakan refleksi satu tahun ke belakang dan ekspektasi pada tahun yang mendatang. Sedikit ingin ikut arus juga sebenarnya tapi bukan mengenai hegemoni tahun baru. Ini tentang hujan. Lebih tepatnya kisah sehabis hujan. Dan aku suka sekali sehabis hujan di bulan Desember.
Kenapa harus sehabis hujan dan kenapa harus di bulan Desember?
Kontempelasi pun di mulai. Udara dingin, suara jangkerik. Sebentar lagi tengah malam. Dengan tangan yang masih basah, aku membuka catatan harian lalu memikirkan tentang apa yang pernah ku lalui sepanjang tahun ini. Aku tahu bahwa masa lalu dalam catatan itu adalah masa yang aku mengetahuinya dengan benar, sok tahu, karena hal itu adalah milikku sendiri, aku yang mengalami sendiri.
Lalu aku mulai menyelami aksara demi aksara untuk menemukan feel kejadiannya. Suka cita, kesal, kecewa, semua coba kurasakan kembali. Namun, tiba-tiba masa lalu itu menjadi kabur dan tak sungguh-sungguh tampak. Yang ada, ternyata, tak lebih dari coretan tanganku di buku harian tersebut. Tak ada realitas yang kudapati dari coretan yang kubuat sendiri, sekuat apapun aku pikirkan, aku tak bisa mengalami kembali masa lalu yang telah ku lalui itu.
Mungkin aku bisa memeriksanya di ‘laboratorium’ dan menemukan bahwa kertas buku harian tersebut dibuat di pabrik tertentu, dengan mesin tertentu, jumlah pekerja sekian, dan upah hariannya sekian, serta dibuat dari campuran kayu apa dan apa. Aku juga bisa memeriksa ternyata tinta yang dipergunakan berasal dari ballpoint anu , ukuran berapa, dan dibuat di mana. Tapi sungguhkah apa yang kemudian aku peroleh itu merupakan kenyataan di masa lalu?
Seberapa pentingkah pabrik kertas itu bagi apa yang terjadi pada hari ketika buku harian tersebut aku tulis? Aneh. Tiba-tiba aku meragukannya, dan seketika menyadari betapa kurangnya jejak-jejak yang telah ditinggalkan. Kertas, ballpoint , alphabet, itu adalah jejak-jejak. Tapi aku selalu merasa kekurangan jejak, seolah apapun yang terjadi, hanya membawaku pada ke ketersesatan.
Aku merasa jejak-jejak itu mewakili sesuatu. Masa lalu. Namun di satu sisi juga sadar, jejak itu sesungguhnya hanya mewakili dirinya sendiri. Aku mempertanyakan sejarahku sendiri dan aku mencurigai penulisnya yakni, diriku sendiri. Tapi sejarah tentang diriku itu ada di sana, di suatu tempat yang tak seorang pun tahu, atau lebih tepatnya aku menjadi demikian sok tahu.
Lantas, apa kemudian yang aku miliki? Selama ini aku merasa sudah memiliki masa laluku (Bukankah satu-satunya yang kita miliki adalah masa lalu?). Akan tetapi, masa depan yang gelap pun, ketika kita membayangkannya, merekonstruksinya, merepresentasikannya, ia dengan tiba-tiba menjadi sebuah masa lalu yang lain. Dan pameo “satu-satunya yang kita miliki itu adalah masa lalu”, dengan semena-mena kehilangan semua relevansinya. Dan aku tahu bahwa segala hal tentang masa lalu, ternyata, tak lebih dari sekadar bagaimana kita memikirkan hal itu.
*
Mungkin bagi sebagian orang, hanya saat hujanlah yang lebih menguasai alam memori pikirannya yang kadang naif. Air yang turun dan meluncur jatuh dari langit itu melambangkan anugerah dan cinta dari Tuhan.
Ada yang mengatakan, seprimitif apapun peradaban suatu bangsa pasti secara eksplisit maupun implisit mengagungkan hujan. Namun bagiku, aku suka hingga sehabis hujan, apalagi sehabis hujan di bulan Desember. Ia seperti cover buku tahunan yang menutup jejak-jejak kisah setahun dengan dingin sebagaimana filosofi hujan dalam peribahasa lama yang menyebutkan, “panas setahun terhapus hujan sehari,” dan hanya hujan di bulan Desember yang relevan untuk melakukan hal itu.
Akan tetapi, kisah tidak berakhir dalam hujan, melainkan kisah tetap bergulir sehabis hujan dengan spirit baru dan harapan baru. Dan bagiku, itu yang lebih penting. Begitu banyak peristiwa yang sudah kulewati dalam hidup yang menjadikan diriku seperti sekarang ini, itu karena keistimewaan hujan dan harapan sehabis hujan. Itulah sebabnya aku suka suasana sehabis hujan di bulan Desember.
*
Akhirnya, satu yang pasti dan kusadari betul bahwa hujan turut mendewasakan diriku dalam segala abstraksi hidup ini. Dengan turunnya hujan tadi, dengan bau tanah basah sehabis terkena hujan ini aku selalu ingat akan kasih Sang Pencipta yang tak terkira. Aku selalu ingat untuk berbuat yang terbaik bagi hidup kini dan hari esok. Aku selalu ingat untuk terus tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aku selalu ingat pada kasih dan pengorbanan orang tuaku beserta semua orang terdekat yang kusayangi. Aku selalu ingat untuk ikhlas dan bersyukur atas semua yang kupunya. Dan sehabis hujan ini, kuingin torehkan kisah yang lebih baik dari ‘panas’ setahun yang sudah kulalui.
*
Kamar ukuran 4×4 meter. Laptop di depan mata. Headphone tertempel di telinga. Dari balik headphone , Tracy Chapman bernyanyi lagu kesukaanku, “Give me one reason.” Aku mengangguk-anggukkan kepala sambil tanganku yang sudah agak kering berlarian di atas tuts-tuts laptop. Ku tulis feature . Cerita tentang diriku di masa depan dalam bentuk masa lalu.
*
Manado, 31 Desember 2010. Pukul 22.12 Wita.
Haz Algebra tinggal di Manado. Bergiat di Komunitas Bibir Pena.
Wajah Hujan
Air menderas. Terus berjalan menyusuri lekukan. Berbelok menuju selokan, tempat air yang lain juga berkumpul.
Hawa semakin dingin. Orang-orang berlalu-lalang menaiki motor dan mobilnya. Jalanan semakin sesak. Jam pulang kantor selalu macet. Ditambah lagi dengan air deras kiriman langit. Selokan pinggir jalan tak cukup bagi air. Jalanan menjadi tampungan. Air menggenang.
Roda beradu dengan waktu. Sesegera ia ingin pulang ke rumah. Tak peduli kanan kiri. Roda melaju. Dijejakkannya dengan cepat pada genangan di jalanan. Tercipta cipratan. Lampu-lampu kota menjadikannya merona. Air mancur gratisan. Berkali-berkali begitu lagi. Sekarang pun belum berhenti.
Dua ruas jalanan dibagi pembatas jalan yang tinggiya tak lebih dari 30 senti. Ruas jalan menuju kota tak seramai ruas satunya lagi. Aku baru saja menyeberang. Aku menyeberang bersama seorang lelaki. Kali ini kami berhenti di pembatas jalan. Macet menguntungkanku. Aku bisa menyeberang lebih cepat. Tangan kiri dengan telapak terbuka kuangkat ke atas. Kutengokkan mukaku ke kiri. Kuberikan isyarat untuk berhenti.
Ternyata temanku belum juga datang. Aku berdiri di sisi jalan. Lelaki itu masih saja di pembatas jalan. Sesekali aku melintaskan pandangan padanya. Masih saja ia tak menyeberang. Sudah hampir setengah jam temanku tak kunjung datang. Lelaki itu masih di pembatas jalan.
Kali ini mukanya tak lagi melihat jalanan. Ia tengadah. Menantang hujan. Membiarkan mukanya tertumbuk rintik hujan. Mulutnya tertutup. Matanya terbuka. Gerak mukanya seperti orang sesenggukan. Entahlah, apa dia menangis ataukah tidak. Tak jelas lagi. Mungkin saja airmatanya tercampur hujan. Jatuh bersama di pembatas jalan menuju selokan.
Oh, tidak. Bukan airmata yang keluar dari matanya. Baju putihnya memerah seperti terkena darah. Airmatanya merah. Turun bersama air hujan menuju selokan. Tak diterima selokan, darahnya menggenang di jalanan. Tersapu roda, air dan darah menciprati sepatu-sepatu di jalanan.
Aku masih diam. Dia tengadah menantang hujan di pembatas jalan. Matanya merekah seperti tanah di kuburan. Kelopaknya mengelupas. Kepalanya seperti dikuliti. Darah mengucur deras. Darah bersama air hujan terus jatuh di pembatas jalan. Hanya menggenang di jalanan. Orang-orang masih berlalu-lalang. Dengan darah terus mengucur dari penjuru kepala, ia menyeberang.
-----
Nila Rahma lahir di Bojonegoro pada 29 Juli 1989. Masih berkuliah di jurusan Sastra Indonesia UI dan aktif di Komunitas Langit Sastra. Saat ini penulis tinggal di Depok.
Hawa semakin dingin. Orang-orang berlalu-lalang menaiki motor dan mobilnya. Jalanan semakin sesak. Jam pulang kantor selalu macet. Ditambah lagi dengan air deras kiriman langit. Selokan pinggir jalan tak cukup bagi air. Jalanan menjadi tampungan. Air menggenang.
Roda beradu dengan waktu. Sesegera ia ingin pulang ke rumah. Tak peduli kanan kiri. Roda melaju. Dijejakkannya dengan cepat pada genangan di jalanan. Tercipta cipratan. Lampu-lampu kota menjadikannya merona. Air mancur gratisan. Berkali-berkali begitu lagi. Sekarang pun belum berhenti.
Dua ruas jalanan dibagi pembatas jalan yang tinggiya tak lebih dari 30 senti. Ruas jalan menuju kota tak seramai ruas satunya lagi. Aku baru saja menyeberang. Aku menyeberang bersama seorang lelaki. Kali ini kami berhenti di pembatas jalan. Macet menguntungkanku. Aku bisa menyeberang lebih cepat. Tangan kiri dengan telapak terbuka kuangkat ke atas. Kutengokkan mukaku ke kiri. Kuberikan isyarat untuk berhenti.
Ternyata temanku belum juga datang. Aku berdiri di sisi jalan. Lelaki itu masih saja di pembatas jalan. Sesekali aku melintaskan pandangan padanya. Masih saja ia tak menyeberang. Sudah hampir setengah jam temanku tak kunjung datang. Lelaki itu masih di pembatas jalan.
Kali ini mukanya tak lagi melihat jalanan. Ia tengadah. Menantang hujan. Membiarkan mukanya tertumbuk rintik hujan. Mulutnya tertutup. Matanya terbuka. Gerak mukanya seperti orang sesenggukan. Entahlah, apa dia menangis ataukah tidak. Tak jelas lagi. Mungkin saja airmatanya tercampur hujan. Jatuh bersama di pembatas jalan menuju selokan.
Oh, tidak. Bukan airmata yang keluar dari matanya. Baju putihnya memerah seperti terkena darah. Airmatanya merah. Turun bersama air hujan menuju selokan. Tak diterima selokan, darahnya menggenang di jalanan. Tersapu roda, air dan darah menciprati sepatu-sepatu di jalanan.
Aku masih diam. Dia tengadah menantang hujan di pembatas jalan. Matanya merekah seperti tanah di kuburan. Kelopaknya mengelupas. Kepalanya seperti dikuliti. Darah mengucur deras. Darah bersama air hujan terus jatuh di pembatas jalan. Hanya menggenang di jalanan. Orang-orang masih berlalu-lalang. Dengan darah terus mengucur dari penjuru kepala, ia menyeberang.
-----
Nila Rahma lahir di Bojonegoro pada 29 Juli 1989. Masih berkuliah di jurusan Sastra Indonesia UI dan aktif di Komunitas Langit Sastra. Saat ini penulis tinggal di Depok.
Karang Seribu Tulisan
Saju terhenyak melihat karang tempat biasa ia menempelkan tulisannya tertelan ombak. Tersisa hanya pucuk karang. Sebuah perahu cadik di rahang pantai berliak-liuk. Ia baru ingat hari ini ombak pasang lebih awal. Dengan menggunakan langkah sampar angin, ia tarik perahu itu, lalu melilitkan talinya pada pohon kelapa.
Di pangkal karang yang tegak lurus dengan bibir pantai, seorang nelayan baru berlabuh. Ia sibuk merapikan jala, lalu memungut ikan-ikan yang keluar tong akibat guncangan ombak pasang. Nelayan itu tersenyum melihat ketidaksabaran Saju menunggu ombak surut. Berkali-kali ia mengamati sebuah kertas warna-warni berisi tulisan di tangan Saju.
“Anak itu pasti akan menempel tulisan lagi di karang seberang.” Gumam kecil Nelayan sembari mengencangkan tutup tong berisi ikan, agar ikan-ikannya tidak tumpah kembali.
Saju tidak memperhatikan sekeliling. Yang ia pikirkan hanya surut ombak, kertas-kertas berwarna-warni berisi tulisan, dan cara membaca buku usang bertuliskan “Ma-e-ma-ika”. Ia pandangi buku itu, lalu berpikir bagaimana jika judul buku ini menjadi pedoman judul buku matematika sekarang? Mungkin saat guru bertanya, “sekarang pelajaran apa anak-anak?” mereka akan menjawab, “Ma-e-ma-ika!”
Tak lama berselang, seorang lelaki berlari dari arah belakang Saju. “Saju, maaf aku telat. Beruntung kau datang cepat. Jika tidak, perahu itu sudah hilang terseret ombak. Dan kita tak bisa menyeberangi seratus jengkal laut ini, hingga sampai pada karang itu dan menempelkan tulisan kita pada dindingnya.”
Setiap harinya mereka selalu menempel tulisan di karang seberang. Sebuah karang yang terletak tak jauh dari pantai dengan posisi diapit dua buah karang dari kejauhan, sehingga membentuk seperti dua tanjung dengan sebuah titik di tengahnya, seperti titik dalam tanda kurung.
“Satu yang belum kau ucapkan, ‘mengamati SMP di pintu masuk pantai itu kan?’ Halah, sudah lupakan saja kebiasaan lalaimu itu Ibar. Esok juga kau akan mengulanginya.”
“Hahaha… Aku hanya memuaskan kepenasaranku pada SMP itu.”
“Sudahlah, kita tak mungkin bersekolah di tempat itu. Lebih baik sekarang kita menulis!”
“Tentu. Sudah berapa tulisan yang kau buat hari ini?”
“10 puisi, 1 cerpen, dan 1 artikel.”
“Ah, hari ini aku tertinggal lagi. Aku baru menyelesaikan setengahnya darimu.”
“Tak apa, masih beruntung kita bisa menulis dengan objek alam bebas, tak terbelenggu apapun,” Saju meletakkan bolpoin di buku kertas, menutupnya, lalu berbisik, “kau ingat mereka? Murid-murid SMP itu ketika mendapat PR untuk menulis tentang lingkungan sekitar?”
“Ya, ingat!” Sahut Ibar dengan wajah antusias seperti kala ikan menangkap umpan.
“Kau lihat bagaimana mereka merengek meminta kita yang mengerjakan?”
“Dengan iming-imingan makanan dan mainan itu?”
“Ya!” Saju memantapkan.
Ombak masih berdebur kencang. Keras. Hingga burung-burung pantai enggan mengecipakkan kakinya. Mungkin takut. Mungkin malu. Atau mungkin terlupa pada air yang menjadikannya lepas dahaga.
Sesekali perahu mangayun, bergeser ke kanan, ke kiri oleh lidah ombak.
“Tapi kau malah meninggalkan mereka.”
“Tidak, Ibar. Aku tidak meninggalkan mereka. Justru aku mengajarkan mereka.”
“Mengajarkan? Mengajarkan apa, Kau? Setelah Kau pergi, mereka justru kelimpungan hingga tak bisa berjalan tegak. Dan mereka pun pulang dengan kepala tertunduk.”
“Jika aku mengerjakan, mereka pasti akan kembali dengan niat yang sama. Niat penjilat! Kau mengerti, Ibar?”
Ibar menunduk tiba-tiba. Tak sepatah katapun keluar darinya. Ia bingung memikirkan antara menolong, mengajar, atau justru memerosokkan teman-temannya.
“Hei, lihat Ibar! Ombak sudah surut,” Teriak Saju tiba-tiba sembari menepuk pundak Ibar, “ayo! Segera kita menuju karang di seberang. Kita tempel tulisan hari ini pada dindingnya.”
Dengan cepat mereka mendayung. Saju sibuk mengemas buku-bukunya, buuku yang ia sewa dengan menjadi kuli bangunan dahulu di tempat penyewaannya. Setelah mendekat, ia pepetkan badan perahu dengan ujung badan karang termenonjol. Lalu ia ikatkan pada tali perahu dengan tonjolan ujung karang. Di depannya, lewat sebuah perahu bermesin dengan seorang nelayan di dalamnya.
“Ah, dinding karang ini kosong lagi. Ombak itu menyeret tulisan kita lagi.”
Setiap kali mereka menempel, setiap kali juga mereka kehilangan tulisannya. Pasang surut ombak tak bisa mengingkari orbitasi geraknya.
Di pantai, lelaki nelayan itu masih terjaga. Ia memandangi terus mereka dari kejauhan. “Anak-anak aneh.” Lalu meninggalkan pantai, sambil berkata lirik, “kerjaannya hanya main-main saja” terus berjalan menyusuri pantai, “mungkin semangat kalian tidak usang, tapi keliru tempat.” Suaranya semakin menghilang. Sosok tubuhnya semakin menjauh, terlihat kecil.
“Tak apa, Kawan! Tulisan kita akan terbaca oleh udara, laut, bulan, matahari, dan ikan-ikan di sana. Kita bisa bersahabat dengan mereka.”
“Ah… Betul, Saju! Betul. Kita memiliki keluasan. Kita juga memiliki keleluasaan.”
Saju dan Ibar telah selesai menempelkan tulisan-tulisannya hari ini pada dinding perahu. Segera berbalik kembali ke pantai, menambatkan perahu pada pohon kelapa, lalu pulang. Tak lama berselang, ombak pasang, dan segera pula tulisan itu kembali hilang. Pemikiran rumus, dan senandung cita yang tak mereka dapatkan di sekolah hilang begitu saja oleh ombak. Begitu juga keesokkan harinya. Terus. Terus setiap hari, setiap bulan, hingga setiap tahun. Mereka tak pernah mengeluh. Tak pernah merasa sia-sia tulisan-tulisannya hilang. Hingga pagi kembali hadir.
“Apa yang kalian lakukan di situ?” Tanya lelaki nelayan yang seperti biasa, berlabuh, mengurai jala, lalu mengencangkan tutup tong berisi ikan.
“Kami belajar, Pak.”
“Belajar tidak seharusnya di sini. Tidak menempel-nempel tulisan pada dinding yang sebentar saja hilang.”
“Kami lebih nyaman di sini, Pak. Kami bisa memandang langit, merasakan deburan ombak, bahkan mengintai burung-burung jantan pantai yang menguntitti burung-burung betina.” Terang Saju sesekali menatap Ibar.
“Tetapi sudah ada sekolah di daratan sana yang siap menampung kalian.”
“Ah… itu tidak benar, Pak,” potong Ibar, “sekolah di sana hanya cocok untuk orang-orang yang mampu membayar saja. Sedang kami tidak mampu membayar, maka kami tidak cocok belajar di sana.”
“Siapa bilang? Ada. Ada sekolah tanpa memungut biasa sepeserpun.”
“Benarkah? Di mana itu?” Sahut Saju.
“Lebih baik kita mendarat dulu sekarang.” Ajak Lelaki Nelayan berusia lima puluhan berkaos oblong tak bersandal itu. Pak Soleh mengawali pendaratan dengan memacu lurus perahunya. Muka perahunya memang sudah mengarah ke pantai, sedang Saju dan Ibar perlu membalikkan perahu terlebih dahulu sebelum mereka mendayung.
Pak Soleh sudah menunggu sambil duduk di dinding perahu. Saju dan Ibar merapat.
“Mari, saya antarkan.”
“Bapak yakin sekolah itu tidak memungut biaya? Bukankah kebanyakan sekolah pasti memiliki tarif biaya?” Tanya Ibar meyakinkan.
Pak Soleh tersenyum manis. Kantung matanya terlihat mengendur. Mungkin terlalu capek setelah semalaman berburu ikan. Atau mungkin memang sudah waktunya mengendur.
“Tepatnya di mana, Pak, sekolahnya? Saya tidak pernah mendengar, bahkan melihatnya.”
“Sekolah itu, sering kalian lihat, bahkan sering kalian lewati.” Saju mendesakkan kepalanya ke kepala Ibar, dan berkata lirih.
“Atau jangan-jangan sekolah yang bisa Kau intip itu, Bar?”Ibar mengangkat bahu.
Mereka berjalan di atas tanah berbatu. Di depan, muncul sebuah bangunan. Bangunan itu kerap mereka lewati saat hendak menuju pantai. Sekarang mereka bertiga tepat berada di depan gerbang sekolah. Gerbang itu terbuat dari ragumam lempengan kayu, dengan menghitam dan keropos pada bagian bawah. Seorang petugas keamanan menyambut.
“Silahkan masuk, adik-adik. Silahkan masuk Pak Soleh.”
Saju dan Ibar sontak kaget. Mereka heran. Bagaimana mungkin petugas jaga itu mengenal Pak Soleh? Padahal ia hanya seorang nelayan. Apakah ia lulusan SMP ini? Atau dulu pernah mengajar di sini? Tapi tidak mungkin. SMP ini baru berdiri dua tahun lalu. Mereka menempelkan tulisan di dinding sudah dua tahun ini, dan saat itulah mereka melihat Pak Soleh berprofesi nelayan. Kalau Pak Soleh lulusan SMP ini lebih tidak mungkin lagi. Usianya jauh lebih tua dari usia sekolah. Atau jangan-jangan pemilik sekolah ini? Tidak mungkin karena sekolah ini milik pemerintahLalu siapakah Dia? Pergumulan pertanyaan terus berlangsung dalam hati sepanjang Saju dan Iba berjalan.
Sampailah mereka di ruang tata usaha. Ruang ini memang dirancang untuk melayani penerimaan murid, karyawan, juga guru. Ruangan ini akan ramai setiap akhir bulannya. Karena saat itu para guru mengambil upah mengajarnya.
“Selamat pagi, Pak.” Saju dan Ibar semakin bingung. Mereka bukannya yang mengucapkan salam, tetapi malah yang disambut.
“Selamat pagi,” sahut Pak Soleh dengan suara berat namun tenang, “bisa minta tolong daftarkan mereka di sekolah ini?”
“Tentu, Pak.” Petugas itu langsung mengambil arsip dari brankas yang tak jauh dari meja kerjanya.
Pak Soleh keluar. Mungkin ingin mencuci muka atau membasuh kedua tangannya setelah terkontaminasi air laut. Saju dan Ibar mengisi formulir pendaftaran. Mereka tidak merasa canggung menulis karena memang sudah kebiasaannya menulis untuk ditempelkan pada karang. Pengisian sampai pada bagian penandatangan formulir, sekaligus mengakhiri sesi penerimaan siswa baru. Mereka diperkenankan pulang. Namun mereka hanya saling lempar pandang. Jika di tempat orang, mereka akan canggung, tak seperti saat mendayung, menyeberang laut, lalu menempelkan tulisan di dinding karang. Petugas jaga segera membaca pertempuran batin murid baru itu.
“Mari, saya antar menemui Pak Soleh.”
Mereka keluar ruangan. Raut Ibar sepertinya sedang merencanakan hari esok, hari pertama kali sekolah. Namun tidak pada saju. Masih terbesit sosok Pak Soleh yang begitu tak asing di sekolah ini.
Mereka terus berjalan menyusuri latar sekolah. Saju terus saja memikirkan sembari membaca nama ruang yang tertulis pada rangka pintu atas. Perjalanan terhenti di depan sebuah ruangan yang terletak paling pojok, menghadap berlawanan dengan arah kedatangan mereka. Pak Soleh sudah berdiri. Menghadap mereka.
“Sudah selesai, Nak?”
“Ibar! Lihat! Lihat tulisan itu!”
Saju bukannya merespon pertanyaan Pak Soleh, tapi memilih mengajak Ibar membaca nama ruang.
“Benarkah itu, Saju?!”
Sebuah papan nama ruang bertuliskan:
RUANG KEPALA SEKOLAH
HEAD MASTER ROOM
SOLEH MALAINO, M.Hum.
Saju dan Ibar mendadak seperti terkena shock terapy. Mereka segera sungkem kepada Pak Soleh.
“Terima kasih, Pak.”
“Terima kasih, Pak..”
“Selamat bergabung, Nak. Besok kalian bisa mulai masuk. Seragam bebas. Tak perlu paksakan membeli seragam. Satu hal lagi, ajari siswa-siswa di sini menulis!”
Saju dan Ibar langsung pulang. Mereka tak mengira seorang nelayan yang tempo hari ia hiraukan, ternyata seorang kepala sekolah bergelar magister. Jalan nelayan Pak Soleh tempuh guna menopang biaya perlengkapan dan operasional semua murid yang tidak mampu membayar. Termasuk Saju, juga Ibar.
Keesokkan harinya, hari pertama Saju dan Ibar bersekolah. Mereka berseragam rapi, namun bukan seragam SMP. Seragam yang mereka pakai adalah seragam andalan yang biasa digunakan untuk berlebaran tiga tahun terakhir. Kini ada seorang pengajar yang setiap hari mengajari yang tak pernah mereka dapati sebelumnya.
Pak Soleh mengubah sistem pembelajaran. Setiap akhir jam pelajaran, semua siswa diwajibakan menempelkan tulisan pada dinding karang di laut. Alhasil, setiap jam akhir pelajaran, semua siswa berduyun-duyun menuju pantai, membawa tulisan dan menempelkannya pada karang. Tak hanya para siswa, namun juga para nelayan. Mereka belajar menulis lalu menempelkannya pada karang. Warga pantai pun tak mau ketinggalan. Semua orang menulis lalu menempelkannya pada karang dengan beragam kertas warna. Hingga karang menjadi berwarna-warni seperti kerlip bola Kristal jika dilihat dari kejauahan.
Seribu tulisan menempel pada dinding tiap harinya. Terus bertambah, hingga ribuan, puluhan ribu, bahkan ratusan ribu.
YK, 12-12-2012, sewaktu banjir lahar dingin
Di pangkal karang yang tegak lurus dengan bibir pantai, seorang nelayan baru berlabuh. Ia sibuk merapikan jala, lalu memungut ikan-ikan yang keluar tong akibat guncangan ombak pasang. Nelayan itu tersenyum melihat ketidaksabaran Saju menunggu ombak surut. Berkali-kali ia mengamati sebuah kertas warna-warni berisi tulisan di tangan Saju.
“Anak itu pasti akan menempel tulisan lagi di karang seberang.” Gumam kecil Nelayan sembari mengencangkan tutup tong berisi ikan, agar ikan-ikannya tidak tumpah kembali.
Saju tidak memperhatikan sekeliling. Yang ia pikirkan hanya surut ombak, kertas-kertas berwarna-warni berisi tulisan, dan cara membaca buku usang bertuliskan “Ma-e-ma-ika”. Ia pandangi buku itu, lalu berpikir bagaimana jika judul buku ini menjadi pedoman judul buku matematika sekarang? Mungkin saat guru bertanya, “sekarang pelajaran apa anak-anak?” mereka akan menjawab, “Ma-e-ma-ika!”
Tak lama berselang, seorang lelaki berlari dari arah belakang Saju. “Saju, maaf aku telat. Beruntung kau datang cepat. Jika tidak, perahu itu sudah hilang terseret ombak. Dan kita tak bisa menyeberangi seratus jengkal laut ini, hingga sampai pada karang itu dan menempelkan tulisan kita pada dindingnya.”
Setiap harinya mereka selalu menempel tulisan di karang seberang. Sebuah karang yang terletak tak jauh dari pantai dengan posisi diapit dua buah karang dari kejauhan, sehingga membentuk seperti dua tanjung dengan sebuah titik di tengahnya, seperti titik dalam tanda kurung.
“Satu yang belum kau ucapkan, ‘mengamati SMP di pintu masuk pantai itu kan?’ Halah, sudah lupakan saja kebiasaan lalaimu itu Ibar. Esok juga kau akan mengulanginya.”
“Hahaha… Aku hanya memuaskan kepenasaranku pada SMP itu.”
“Sudahlah, kita tak mungkin bersekolah di tempat itu. Lebih baik sekarang kita menulis!”
“Tentu. Sudah berapa tulisan yang kau buat hari ini?”
“10 puisi, 1 cerpen, dan 1 artikel.”
“Ah, hari ini aku tertinggal lagi. Aku baru menyelesaikan setengahnya darimu.”
“Tak apa, masih beruntung kita bisa menulis dengan objek alam bebas, tak terbelenggu apapun,” Saju meletakkan bolpoin di buku kertas, menutupnya, lalu berbisik, “kau ingat mereka? Murid-murid SMP itu ketika mendapat PR untuk menulis tentang lingkungan sekitar?”
“Ya, ingat!” Sahut Ibar dengan wajah antusias seperti kala ikan menangkap umpan.
“Kau lihat bagaimana mereka merengek meminta kita yang mengerjakan?”
“Dengan iming-imingan makanan dan mainan itu?”
“Ya!” Saju memantapkan.
Ombak masih berdebur kencang. Keras. Hingga burung-burung pantai enggan mengecipakkan kakinya. Mungkin takut. Mungkin malu. Atau mungkin terlupa pada air yang menjadikannya lepas dahaga.
Sesekali perahu mangayun, bergeser ke kanan, ke kiri oleh lidah ombak.
“Tapi kau malah meninggalkan mereka.”
“Tidak, Ibar. Aku tidak meninggalkan mereka. Justru aku mengajarkan mereka.”
“Mengajarkan? Mengajarkan apa, Kau? Setelah Kau pergi, mereka justru kelimpungan hingga tak bisa berjalan tegak. Dan mereka pun pulang dengan kepala tertunduk.”
“Jika aku mengerjakan, mereka pasti akan kembali dengan niat yang sama. Niat penjilat! Kau mengerti, Ibar?”
Ibar menunduk tiba-tiba. Tak sepatah katapun keluar darinya. Ia bingung memikirkan antara menolong, mengajar, atau justru memerosokkan teman-temannya.
“Hei, lihat Ibar! Ombak sudah surut,” Teriak Saju tiba-tiba sembari menepuk pundak Ibar, “ayo! Segera kita menuju karang di seberang. Kita tempel tulisan hari ini pada dindingnya.”
Dengan cepat mereka mendayung. Saju sibuk mengemas buku-bukunya, buuku yang ia sewa dengan menjadi kuli bangunan dahulu di tempat penyewaannya. Setelah mendekat, ia pepetkan badan perahu dengan ujung badan karang termenonjol. Lalu ia ikatkan pada tali perahu dengan tonjolan ujung karang. Di depannya, lewat sebuah perahu bermesin dengan seorang nelayan di dalamnya.
“Ah, dinding karang ini kosong lagi. Ombak itu menyeret tulisan kita lagi.”
Setiap kali mereka menempel, setiap kali juga mereka kehilangan tulisannya. Pasang surut ombak tak bisa mengingkari orbitasi geraknya.
Di pantai, lelaki nelayan itu masih terjaga. Ia memandangi terus mereka dari kejauhan. “Anak-anak aneh.” Lalu meninggalkan pantai, sambil berkata lirik, “kerjaannya hanya main-main saja” terus berjalan menyusuri pantai, “mungkin semangat kalian tidak usang, tapi keliru tempat.” Suaranya semakin menghilang. Sosok tubuhnya semakin menjauh, terlihat kecil.
“Tak apa, Kawan! Tulisan kita akan terbaca oleh udara, laut, bulan, matahari, dan ikan-ikan di sana. Kita bisa bersahabat dengan mereka.”
“Ah… Betul, Saju! Betul. Kita memiliki keluasan. Kita juga memiliki keleluasaan.”
Saju dan Ibar telah selesai menempelkan tulisan-tulisannya hari ini pada dinding perahu. Segera berbalik kembali ke pantai, menambatkan perahu pada pohon kelapa, lalu pulang. Tak lama berselang, ombak pasang, dan segera pula tulisan itu kembali hilang. Pemikiran rumus, dan senandung cita yang tak mereka dapatkan di sekolah hilang begitu saja oleh ombak. Begitu juga keesokkan harinya. Terus. Terus setiap hari, setiap bulan, hingga setiap tahun. Mereka tak pernah mengeluh. Tak pernah merasa sia-sia tulisan-tulisannya hilang. Hingga pagi kembali hadir.
“Apa yang kalian lakukan di situ?” Tanya lelaki nelayan yang seperti biasa, berlabuh, mengurai jala, lalu mengencangkan tutup tong berisi ikan.
“Kami belajar, Pak.”
“Belajar tidak seharusnya di sini. Tidak menempel-nempel tulisan pada dinding yang sebentar saja hilang.”
“Kami lebih nyaman di sini, Pak. Kami bisa memandang langit, merasakan deburan ombak, bahkan mengintai burung-burung jantan pantai yang menguntitti burung-burung betina.” Terang Saju sesekali menatap Ibar.
“Tetapi sudah ada sekolah di daratan sana yang siap menampung kalian.”
“Ah… itu tidak benar, Pak,” potong Ibar, “sekolah di sana hanya cocok untuk orang-orang yang mampu membayar saja. Sedang kami tidak mampu membayar, maka kami tidak cocok belajar di sana.”
“Siapa bilang? Ada. Ada sekolah tanpa memungut biasa sepeserpun.”
“Benarkah? Di mana itu?” Sahut Saju.
“Lebih baik kita mendarat dulu sekarang.” Ajak Lelaki Nelayan berusia lima puluhan berkaos oblong tak bersandal itu. Pak Soleh mengawali pendaratan dengan memacu lurus perahunya. Muka perahunya memang sudah mengarah ke pantai, sedang Saju dan Ibar perlu membalikkan perahu terlebih dahulu sebelum mereka mendayung.
Pak Soleh sudah menunggu sambil duduk di dinding perahu. Saju dan Ibar merapat.
“Mari, saya antarkan.”
“Bapak yakin sekolah itu tidak memungut biaya? Bukankah kebanyakan sekolah pasti memiliki tarif biaya?” Tanya Ibar meyakinkan.
Pak Soleh tersenyum manis. Kantung matanya terlihat mengendur. Mungkin terlalu capek setelah semalaman berburu ikan. Atau mungkin memang sudah waktunya mengendur.
“Tepatnya di mana, Pak, sekolahnya? Saya tidak pernah mendengar, bahkan melihatnya.”
“Sekolah itu, sering kalian lihat, bahkan sering kalian lewati.” Saju mendesakkan kepalanya ke kepala Ibar, dan berkata lirih.
“Atau jangan-jangan sekolah yang bisa Kau intip itu, Bar?”Ibar mengangkat bahu.
Mereka berjalan di atas tanah berbatu. Di depan, muncul sebuah bangunan. Bangunan itu kerap mereka lewati saat hendak menuju pantai. Sekarang mereka bertiga tepat berada di depan gerbang sekolah. Gerbang itu terbuat dari ragumam lempengan kayu, dengan menghitam dan keropos pada bagian bawah. Seorang petugas keamanan menyambut.
“Silahkan masuk, adik-adik. Silahkan masuk Pak Soleh.”
Saju dan Ibar sontak kaget. Mereka heran. Bagaimana mungkin petugas jaga itu mengenal Pak Soleh? Padahal ia hanya seorang nelayan. Apakah ia lulusan SMP ini? Atau dulu pernah mengajar di sini? Tapi tidak mungkin. SMP ini baru berdiri dua tahun lalu. Mereka menempelkan tulisan di dinding sudah dua tahun ini, dan saat itulah mereka melihat Pak Soleh berprofesi nelayan. Kalau Pak Soleh lulusan SMP ini lebih tidak mungkin lagi. Usianya jauh lebih tua dari usia sekolah. Atau jangan-jangan pemilik sekolah ini? Tidak mungkin karena sekolah ini milik pemerintahLalu siapakah Dia? Pergumulan pertanyaan terus berlangsung dalam hati sepanjang Saju dan Iba berjalan.
Sampailah mereka di ruang tata usaha. Ruang ini memang dirancang untuk melayani penerimaan murid, karyawan, juga guru. Ruangan ini akan ramai setiap akhir bulannya. Karena saat itu para guru mengambil upah mengajarnya.
“Selamat pagi, Pak.” Saju dan Ibar semakin bingung. Mereka bukannya yang mengucapkan salam, tetapi malah yang disambut.
“Selamat pagi,” sahut Pak Soleh dengan suara berat namun tenang, “bisa minta tolong daftarkan mereka di sekolah ini?”
“Tentu, Pak.” Petugas itu langsung mengambil arsip dari brankas yang tak jauh dari meja kerjanya.
Pak Soleh keluar. Mungkin ingin mencuci muka atau membasuh kedua tangannya setelah terkontaminasi air laut. Saju dan Ibar mengisi formulir pendaftaran. Mereka tidak merasa canggung menulis karena memang sudah kebiasaannya menulis untuk ditempelkan pada karang. Pengisian sampai pada bagian penandatangan formulir, sekaligus mengakhiri sesi penerimaan siswa baru. Mereka diperkenankan pulang. Namun mereka hanya saling lempar pandang. Jika di tempat orang, mereka akan canggung, tak seperti saat mendayung, menyeberang laut, lalu menempelkan tulisan di dinding karang. Petugas jaga segera membaca pertempuran batin murid baru itu.
“Mari, saya antar menemui Pak Soleh.”
Mereka keluar ruangan. Raut Ibar sepertinya sedang merencanakan hari esok, hari pertama kali sekolah. Namun tidak pada saju. Masih terbesit sosok Pak Soleh yang begitu tak asing di sekolah ini.
Mereka terus berjalan menyusuri latar sekolah. Saju terus saja memikirkan sembari membaca nama ruang yang tertulis pada rangka pintu atas. Perjalanan terhenti di depan sebuah ruangan yang terletak paling pojok, menghadap berlawanan dengan arah kedatangan mereka. Pak Soleh sudah berdiri. Menghadap mereka.
“Sudah selesai, Nak?”
“Ibar! Lihat! Lihat tulisan itu!”
Saju bukannya merespon pertanyaan Pak Soleh, tapi memilih mengajak Ibar membaca nama ruang.
“Benarkah itu, Saju?!”
Sebuah papan nama ruang bertuliskan:
RUANG KEPALA SEKOLAH
HEAD MASTER ROOM
SOLEH MALAINO, M.Hum.
Saju dan Ibar mendadak seperti terkena shock terapy. Mereka segera sungkem kepada Pak Soleh.
“Terima kasih, Pak.”
“Terima kasih, Pak..”
“Selamat bergabung, Nak. Besok kalian bisa mulai masuk. Seragam bebas. Tak perlu paksakan membeli seragam. Satu hal lagi, ajari siswa-siswa di sini menulis!”
Saju dan Ibar langsung pulang. Mereka tak mengira seorang nelayan yang tempo hari ia hiraukan, ternyata seorang kepala sekolah bergelar magister. Jalan nelayan Pak Soleh tempuh guna menopang biaya perlengkapan dan operasional semua murid yang tidak mampu membayar. Termasuk Saju, juga Ibar.
Keesokkan harinya, hari pertama Saju dan Ibar bersekolah. Mereka berseragam rapi, namun bukan seragam SMP. Seragam yang mereka pakai adalah seragam andalan yang biasa digunakan untuk berlebaran tiga tahun terakhir. Kini ada seorang pengajar yang setiap hari mengajari yang tak pernah mereka dapati sebelumnya.
Pak Soleh mengubah sistem pembelajaran. Setiap akhir jam pelajaran, semua siswa diwajibakan menempelkan tulisan pada dinding karang di laut. Alhasil, setiap jam akhir pelajaran, semua siswa berduyun-duyun menuju pantai, membawa tulisan dan menempelkannya pada karang. Tak hanya para siswa, namun juga para nelayan. Mereka belajar menulis lalu menempelkannya pada karang. Warga pantai pun tak mau ketinggalan. Semua orang menulis lalu menempelkannya pada karang dengan beragam kertas warna. Hingga karang menjadi berwarna-warni seperti kerlip bola Kristal jika dilihat dari kejauahan.
Seribu tulisan menempel pada dinding tiap harinya. Terus bertambah, hingga ribuan, puluhan ribu, bahkan ratusan ribu.
YK, 12-12-2012, sewaktu banjir lahar dingin
Kembang Desa Pulang Kampung
Dusun Adem Ayem digegerkan oleh kedatangan Yuni Amperawati mantan kembang desa puluhan tahun silam. Tak seorangpun tahu kapan Yuni meninggalkan kampung. Ibunya menangis dan hanya bilang Yuni pergi merantau, entah ke Arab, Taiwan, Jepang, atau hanya ke Jakarta. Kala itu banyak pemuda dusun patah hati. Dan kini ketika Yuni pulang -- tak seorangpun mengendus kehadirannya kecuali sisa-sisa kecantikan yang masih terpancar di wajah dan tubuhnya.
Warga dusun Adem Ayem amatlah bersahaja, sopan, dan religius. Pak Kyai Joko sebagai panutan dan pengayom warga dusun punya peran penting dalam menjaga keharmonisan hidup sehari-hari. Hanya bu Sastro, istri Pak Kepala Dusun agak terganggu dengan kepulangan Yuni.
Tak butuh waktu lama Yuni dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang pernah jadi kesehariannya. Selain ramah, Yuni kini menjadi seorang wanita yang sublim dan mandiri. Ia tak segan mengulurkan tangan membantu yu Warti memasak untuk santri Pak Kyai.
Kebiasaan di dusun Adem Ayem, hari Minggu pagi, Ibu-ibu mencuci pakaian di sungai, bapak-bapak memandikan kerbaunya, sementara anak-anak cebur – cebur-an, mandi telanjang. Beratraksi salto, menukik, atau pantatnya menghantam air hingga mengeluarkan bunyi berdebam. Yuni tersenyum melihat tingkah polah anak-anak.
Maklum anak-anak, tak ada rasa risih walau mereka telanjang bulat dan alat kelaminnya lari kemana-mana. Tabu ketika mereka sudah akil baliq, dan alat tersebut sudah bisa berfungsi sebagai alat reproduksi. Dalam bahasa jawa, sebutan thithit -- berubah menjadi “anu”, ya karena “anu” tidak layak diucapkan secara terang-terangan, tertulis, atau di depan publik. Dan mengenai “anu” inilah biang keladi Yuni mendapat masalah yang membuat geger dusun Adem Ayem.
Kejadiannya bermula saat Pak Kyai Joko mengadakan pengajian di suraunya. Semua santri dan warga dusun Adem Ayem hadir bersimpuh di atas tikar, menyimak tausiyah Pak Kyai yang bersuara bariton empuk. Semilir angin malam itu sesekali membawa bau kotoran sapi dari kandang belakang milik pak Kyai. Tapi itu tak mengurangi suasana syahdu yang menenangkan hati. Yuni ikut hadir, khidmat memperhatikan ajaran Pak Kyai.
Tiba-tiba ada seekor lalat Ijo hinggap di jidat Yuni, barangkali kabur dari kandang sapi di belakang rumah Pak Kyai. Dan Atun yang berada di sebelah Yuni tiba-tiba secara reflek menepuk lalat itu. Warga yang hadir tak mengetahui kejadian itu sampai Yuni berteriak kaget, “ Eh.. Anu ... anu .....(menyebut alat vital laki-laki dewasa).. eeh anu ... Ya Tuhan .... maaf.”
Semua hadirin tersentak kaget. Pandangan mereka mengarah ke Yuni yang tertunduk malu. Bu Sastro istri pak Kadus memandang Yuni dengan jijik. Di tengah suasana khusuk menghadapkan diri kepada Tuhan, terselip kata-kata tak senonoh keluar dari mulut Yuni, tentang alat kelamin laki-laki dewasa..
Konon kebiasaan “latah” adalah bentuk pertahanan diri ketika ia kaget atau sering dikageti. Insting itu tersambung cepat ke kosa kata di otaknya, entah itu punya arti menyenangkan, lucu, atau bahkan traumatis. Hal itu sangatlah alamiah dan dapat dimaklumi. Tapi jika itu terjadi pada acara suci keagamaan apakah itu bisa dimaklumi? Yuni kini menanggung semua akibatnya.
Keesokan paginya berita itu cepat menyebar. Ibu-ibu yang tadinya akrab kini menjaga jarak, saling berbisik, dan menghindar. Tak butuh waktu lama, beredarlah rumor kalau Yuni adalah perempuan nakal yang suka mangkal di warung remang-remang, menunggu supir-supir truck melepas lelah, sambil menawarkan tubuhnya dengan genit. Rumor tak berhenti di situ, sebaliknya malah tambah hebat, ada pihak ketiga yang sengaja menghembuskannya. Bu Kadus sendiri tampak vokal seolah dia sedang mensosialisasikan program kesejahteraan keluarga layaknya Pos Yandu.
Yang bikin Yuni jengkel, anak-anak kini sering mengageti dirinya, entah Ia sedang di pekarangan, di sungai, atau di jalan. Latah joroknya jadi kumat, anak-anak tertawa, sambil berlari-lari dan ikut menirukan latahnya. Ibu-ibu yang mendengar mengingatkan, “ Eeeh bocah-bocah jangan ngomong saru yaaa.”
Para orang tua kewalahan dan mengadu pada Pak Sastro. Yuni tepekur sedih. Ia tak mau lagi terusir dari dusun Adem Ayem seperti dulu. Ya.. Yuni ingat waktu remaja dulu, ketika Wati anak Pak Yudo Kadus jamannya, selalu merasa iri pada dirinya. Ketika ia menjadi juara kelas mengalahkan Wati, menjadi penari kebanggaan warga dusun, dan yang paling telak adalah Sastro -- ketua pemuda dusun -- yang lebih memilih dirinya daripada Wati anak Pak Kadus.
Hingga pada suatu hari kejadian luar biasa terjadi, waktu Ia diminta membantu pernikahan Tatik anak pak Kadus yang tertua, dan ketika perhiasan emas dan uang seserahan dari mempelai pria itu tiba-tiba hilang berpindah tangan dan secara ajaib berada di dalam saku jaketnya yg digantungkannya di kamar rias. Maka dia mengerti bahwa Wati telah menjebaknya. Dan akhirnya dengan penyelesaian “kekeluargaan” Yuni terpaksa meninggalkan dusunnya, meninggalkan Sastro dan segala impian indah masa depannya.
*****
Bu Sastro alias Wati istri pak Kaduslah yang kini paling vokal bersuara. Kepada suaminya ia berkata, "Semenjak kedatangan Yuni, dusun kita jadi berubah tidak tentram, pakne.”
Pak Sastro yang melihat gelagat buruk Bu Sastro menghela nafas panjang. Ia tahu Yuni adalah pribadi yang baik hati. Ia lantas teringat kejadian puluhan tahun silam, ketika masa remaja, ketika Yuni telah mencuri hatinya, dan itu membuat Wati cemburu. Dan rasa cinta yang baru mekar itu tiba-tiba layu ketika Yuni meninggalkan dusun Adem Ayem dengan tiba-tiba, tanpa pamit, sepertinya ada sesuatu yang janggal dengan kepergiannya.
“ Ya nanti aku tak “rembugan” dengan dik Joko.”
“ Pak ne tau apa? Diusir saja, demi ketentraman warga dusun.”
“ Ya ojo kesusu to bu.”
“ Pokoknya lebih cepat lebih baik, pakne.”
Pak Kadus segera menyuruh pembantunya memanggil Kyai Joko. Diantara pembicaraan bertiga, Pak Kyai menengahi, “ Janganlah kita berburuk sangka dulu, bu. Lebih baik kita “khusnudzon” saja. Semua orang tempatnya salah, tetapi sebaik-baik orang yang berbuat banyak kesalahan itu adalah orang-orang yang banyak bertaubat."
“ Dik Joko tahu, si Kelik tukang ojeg yang mangkal di terminal itu bilang kalo Yuni suka mangkal di warung-warung pangkalan truk. Nama dusun kita akan cemar. Ibu-ibu PKK mulai cemas lho dik Joko. Khawatir kalau nanti Yuni menggoda suami – suami mereka.”
“Ya sabar bu Sastro.... Boleh jadi kita membenci sesuatu, padahal kita tidak tahu bahwa sesungguhnya itu amat baik bagi kita. Dan belum tentu apa yang menurut kita baik, padahal sebetulnya itu hal yang buruk bagi kita. Allah Maha Mengetahui. Saya akan berbicara dengan Yuni bu Sastro...”
*******
Dan mulailah Kyai Joko, atas permintaan Pak Kadus, menyelesaikan masalah ini dengan bijaksana. Dalam pembicaraan di surau Kyai Joko yang mengenyam pendidikan keguruan di IKIP menerapkan pendekatan psikologis pengajaran untuk menghilangkan “latah”nya Yuni.
“Jeng Yuni, kebiasaan latah jorok yang keluar dari mulutmu sudah membuat warga Adem Ayem geger.”
“Iya Pak Kyai, mohon maaf. Saya harus bagaimana? Apapun akan saya kerjakan asalkan saya jangan diusir dari dusun Adem Ayem. Saya ingin menghabiskan masa tua dan mati di dusun ini.”
“ Baiklah saya akan bantu, coba jeng Yuni.... bagaimana kalau yang sudah-sudah itu, latahnya lebih baik diganti dengan menyebut asma Allah. Subhanallah boleh. Masya Allah boleh. Atau Allahu Akbar. Setuju?”
“ Ya ya ya Pak Kyai. Saya akan mencoba ...”
Dan ketika Pak Kyai Joko mencoba mengageti Yuni, dan kebiasaan latah joroknya masih tetap saja, Pak Kyai hanya geleng-geleng kepala sambil tersipu malu. Orang-orang yang lewat di depan surau dan mendengar tersenyum kecut.
Mungkin besok bisa berubah, atau minggu depan. Dan ketika sampai berhari-hari Yuni tak bisa melepas kebiasaanya, maka Pak Kyai tak kehilangan kesabarannya.
Ia kemudian membuat target antara, dengan membelokkan latah joroknya menjadi Eh copot .. copot. Ya... ia sering melihat orang-orang yang latah mengucapkan kalimat seperti itu. Hal yang pernah dipopulerkan oleh penyanyi Adi Bing Slamet lewat lagu Mak Inemnya waktu kecil.
Akhirnya, walau memakan waktu lama, ternyata usaha itu berhasil. Pak Kyai Joko merasa senang. Juga Yuni. Kini kalau ada sesuatu yang mengejutkan Yuni maka kata-kata yang keluar adalah:” Eh copot ..copot”, bukan latah jorok yang dulu "Eh ..anu ... anu."
Mendengar itu Pak Kadus ikut senang, anak-anakpun juga senang dan sekarang mereka mengikuti latah barunya Jeng Yuni, eh copot...copot, sambil tertawa-tawa gembira. Ibu-ibu dusun Adem Ayem menjadi tenang, hanya Bu Kadus seorang diri merasa sebaliknya.
Bersyukur dan berbahagialah seseorang yang dibimbing alim ulama, yang selalu mengajarkan suri tauladan, kebaikan, cinta kasih, tata krama, sopan berbahasa, budi pekerti dan berkaca diri. Yuni merasakan kehadiran Kyai Joko sangat dekat dalam dirinya.
**********
Di sela-sela waktu longgar seputar surau siang itu, Pak Kyai Joko sedang terlibat pembicaraan dengan Yuni . Kali ini tidak lagi membahas “latahnya” melainkan hal lain.
“Jeng Yuni masih kayak dulu lho, awet muda... Resepnya apa? Mbok aku dikasih tau."
Yuni kaget dengan pertanyaan itu. Ia tak menyangka ucapan Pak Kyai akan seperti itu. Jangan-jangan kebiasaan joroknya selama ini mengakibatkan timbulnya kegelisahan terpendam pada diri Pak Kyai. Tapi ingatan Yuni langsung melayang ke masa mudanya ketika si Joko, adik kelasnya waktu di SMP dulu terlihat mencoba mendekati dirinya. Yuni ingat ketika Joko memboncengkan dirinya dalam karnaval sepeda 17 an. Juga beberapa kali pernah datang ke rumahnya.
“Aah bisa aja Pak Kyai, hmmm resepnya apa ya?? Hehehe”
“Wah ternyata sudah lama kita nggak ketemu yaa jeng ... ayo crita pengalaman merantaumu. Aku ingatnya dulu waktu zaman SMP, he he he. Jangan ngomong siapa-siapa ya jeng Yuni, aku dulu pengagum gelapmu lho.”
Dan ketika Yuni memahami bahwa Pak Kyai berubah menjadi sedikit kekanak-kanakan, tersipu-sipu malu. Ia tak merasa kehormatan Pak Kyai menjadi luntur. Semua laki-laki dewasa pada dasarnya adalah kanak-kanak yang butuh perhatian, kasih sayang, dan pelayanan. Apalagi Pak Kyai statusnya masih single belum menikah. Yuni tetap menghormati Pak Kyai sebagai panutan moral warga dusun Adem Ayem.
“Boong banget seeh .... puacarmu kan segudang...eh becanda Pak Kyai.. Aku sudah tua loh,” Yuni tersipu dan tiba-tiba ia berbicara dalam logat Betawi, barangkali dia pernah merantau di sana.
Suasana sangat akrab dan tidak formil,“ Kalo ingat jaman dulu lucu ya jeng Yuni. Waktu “mboncengin” kamu naik sepeda senangnya minta ampun. Tapi habis itu bingung mau gimana?? He he he cinta monyet ..., belum ngerti jurus-jurus merayu wanita. Jadinya diam saja, dipendam. Eeh ini jangan dimasukan hati ya, Jeng. Ini cuma pengakuan saja “
“Ha ha ha lucu....lucu...., iya ... iya tenang saja Pak Kyai, kita kan bukan hanya sudah dewasa tapi “wis tuwo”, sudah tua, hehehe..Cerita seperti ini kan jaman dulu Pak Kyai."
Pak Kyai agak tersipu, kemudian ia mencoba bersikap bijak,“Iya bener jeng Yuni, kita sudah tua, sudah banyak makan asam garam kehidupan. Kadang kita hampir menyerah pada kenyataan pahit, tapi kemudian bangkit dengan semangat. Kadang juga kalau kita kembali ke jaman kanak-kanak, rasanya semuanya indah, penuh tawa dan canda. Dan cukuplah itu sebagai kenangan indah saja. Terlalu indah untuk menjadi nyata jeng Yuni ...”
“Oh, jadi kalau sekarang Pak Kyai “udah canggih” ya cara merayunya.. hahaha. Ini becanda lho Pak Kyai.” terlihat Yuni mulai nyaman dengan gerak gerik dan ucapannya. Terlihat dia bisa mengendalikan keadaan.
Dan kini Pak Kyai Joko tak bisa menahan perasaan hatinya, lalu mengungkapkan dengan jujur apa yang pernah dia alami sewaktu muda dulu,“ He he he sebenarnya dulu itu aku pingin deket denganmu cuma aku nggak tau “piye carane”, bagaimana caranya? Pernah aku beberapa kali main ke rumahmu cuma kok aku jadi tambah bingung he he he. Mungkin salah satunya karena kamu kakak kelasku, dan juga waktu itu Mas Sastro yang ketua pemuda desa itu tergila-gila padamu --- jadi aku minder. Kalo sekarang, mungkin kita sudah sama-sama dewasa, jadi ya yang ada sekarang adalah rasa hormat, rasa saling menghormati."
“Pak Kyai, sebenernya aku juga inget banget kejadian waktu "kita" masih SMP. Seandainya waktu bisa diputar kembali...."
Seolah Pak Kyai faham film tv Time Tunnel alias Lorong Waktu jaman kecil dulu, dan ketika dia mahasiswa belajar agama dan memahami bahwa Lorong Waktu hanyalah angan-angan belaka, tapi dengan maksud tak serius dia menjawab, “Ahh masak siy jeng Yuni ingat banget kejadian-kejadian waktu "kita" masih SMP? Andai waktu bisa diputar kembali .... Apakah kira-kira ada cerita yang berbeda?”
“Kalau waktu bisa diputar kembali???!!! Kalau kita memang gak jodoh atau gak dipertemukan sama Tuhan, yo tetep ora ketemu yo?? "Pekok” banget si aku, bodo banget siy aku!! Hahaha... “
“Eh siapa tahu dipertemukan Tuhan dikemudian hari?”
“Eh copot ... copot .... Pak Kyai .... pak Kyai,” Yuni latah karena gugup.
“Jangan panggil aku Pak Kyai ... panggil aku Joko saja.”
“Aku tak berani ... apa nanti kata warga dusun Adem Ayem kalau dengar itu.”
“Dulu waktu mboncengin kamu naik sepeda untuk pertama dan yang terakhir kalinya, he he ehem, rasanya seolah sudah jadi laki-laki gagah, gede kepala, dan bangga. Ah sayang aku dulu kurang berani, kurang nekat. Mestinya pemuda-pemuda yang naksir kamu itu tak aku gubris, atau kulawan. Jeng Yuni, maukah menikah denganku?”
“Eh copot ... copot ... Ah... Pak Kyai bercanda.”
Tak pernah terbayangkan dalam benak Pak Kyai sebelumnya --- sampai pada keinginan ingin menikahi Yuni. Yaa ..usia Yuni mateng, lekuk pinggang dan busung dadanya menandakan hormon kewanitaannya melimpah. Demikianlah bahasa alam yang terungkap ketika seorang wanita menarik lawan jenisnya, sebagai bekal untuk bertahan di muka bumi, guna meneruskan keturunannya, beranak pinak dan pada saatnya berubah jadi gendut dan menua.
Dan akhirnya dusun Adem Ayem kembali tentram dan damai. Pak Kyai Joko bisa menyelesaikan permasalahan Yuni yang bikin dusun Adem Ayem heboh. Semua merasa bahagia, win win solution. Bu Sastro kini merasa tenang bisa menghabiskan masa tuanya bersama Pak Kadus, Kyai Joko bisa menikahi pujaan hatinya, dan Yuni tak terusir lagi dari dusunnya.
Di malam dingin, diantara suara angin yang mengguncang rimbunan bambu, sepertinya terdengar sayup-sayup Yuni mengucapkan kebiasaan latahnya, dan kini malah campur aduk tak karuan,
“Ehh .. Anu-copot ...eeh anu-copot ..eh maaf Pak Kyai.“
“Hayoo ... Jeng Yuni nggak boleh latah jorok lagi yaaa,” Pak Kyai agak kecewa latah jorok Yuni muncul kembali.
“Saestu Pak Kyai ... kulo mboten goroh.” (Benar Pak Kyai ... Saya tidak bohong kok)
“Ssssttt .....diam,” bisik pak Kyai Joko.
Washington DC 2011
Janu Jolang
Pengelola Blog: www.suararantau.blogspot.com
Warga dusun Adem Ayem amatlah bersahaja, sopan, dan religius. Pak Kyai Joko sebagai panutan dan pengayom warga dusun punya peran penting dalam menjaga keharmonisan hidup sehari-hari. Hanya bu Sastro, istri Pak Kepala Dusun agak terganggu dengan kepulangan Yuni.
Tak butuh waktu lama Yuni dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang pernah jadi kesehariannya. Selain ramah, Yuni kini menjadi seorang wanita yang sublim dan mandiri. Ia tak segan mengulurkan tangan membantu yu Warti memasak untuk santri Pak Kyai.
Kebiasaan di dusun Adem Ayem, hari Minggu pagi, Ibu-ibu mencuci pakaian di sungai, bapak-bapak memandikan kerbaunya, sementara anak-anak cebur – cebur-an, mandi telanjang. Beratraksi salto, menukik, atau pantatnya menghantam air hingga mengeluarkan bunyi berdebam. Yuni tersenyum melihat tingkah polah anak-anak.
Maklum anak-anak, tak ada rasa risih walau mereka telanjang bulat dan alat kelaminnya lari kemana-mana. Tabu ketika mereka sudah akil baliq, dan alat tersebut sudah bisa berfungsi sebagai alat reproduksi. Dalam bahasa jawa, sebutan thithit -- berubah menjadi “anu”, ya karena “anu” tidak layak diucapkan secara terang-terangan, tertulis, atau di depan publik. Dan mengenai “anu” inilah biang keladi Yuni mendapat masalah yang membuat geger dusun Adem Ayem.
Kejadiannya bermula saat Pak Kyai Joko mengadakan pengajian di suraunya. Semua santri dan warga dusun Adem Ayem hadir bersimpuh di atas tikar, menyimak tausiyah Pak Kyai yang bersuara bariton empuk. Semilir angin malam itu sesekali membawa bau kotoran sapi dari kandang belakang milik pak Kyai. Tapi itu tak mengurangi suasana syahdu yang menenangkan hati. Yuni ikut hadir, khidmat memperhatikan ajaran Pak Kyai.
Tiba-tiba ada seekor lalat Ijo hinggap di jidat Yuni, barangkali kabur dari kandang sapi di belakang rumah Pak Kyai. Dan Atun yang berada di sebelah Yuni tiba-tiba secara reflek menepuk lalat itu. Warga yang hadir tak mengetahui kejadian itu sampai Yuni berteriak kaget, “ Eh.. Anu ... anu .....(menyebut alat vital laki-laki dewasa).. eeh anu ... Ya Tuhan .... maaf.”
Semua hadirin tersentak kaget. Pandangan mereka mengarah ke Yuni yang tertunduk malu. Bu Sastro istri pak Kadus memandang Yuni dengan jijik. Di tengah suasana khusuk menghadapkan diri kepada Tuhan, terselip kata-kata tak senonoh keluar dari mulut Yuni, tentang alat kelamin laki-laki dewasa..
Konon kebiasaan “latah” adalah bentuk pertahanan diri ketika ia kaget atau sering dikageti. Insting itu tersambung cepat ke kosa kata di otaknya, entah itu punya arti menyenangkan, lucu, atau bahkan traumatis. Hal itu sangatlah alamiah dan dapat dimaklumi. Tapi jika itu terjadi pada acara suci keagamaan apakah itu bisa dimaklumi? Yuni kini menanggung semua akibatnya.
Keesokan paginya berita itu cepat menyebar. Ibu-ibu yang tadinya akrab kini menjaga jarak, saling berbisik, dan menghindar. Tak butuh waktu lama, beredarlah rumor kalau Yuni adalah perempuan nakal yang suka mangkal di warung remang-remang, menunggu supir-supir truck melepas lelah, sambil menawarkan tubuhnya dengan genit. Rumor tak berhenti di situ, sebaliknya malah tambah hebat, ada pihak ketiga yang sengaja menghembuskannya. Bu Kadus sendiri tampak vokal seolah dia sedang mensosialisasikan program kesejahteraan keluarga layaknya Pos Yandu.
Yang bikin Yuni jengkel, anak-anak kini sering mengageti dirinya, entah Ia sedang di pekarangan, di sungai, atau di jalan. Latah joroknya jadi kumat, anak-anak tertawa, sambil berlari-lari dan ikut menirukan latahnya. Ibu-ibu yang mendengar mengingatkan, “ Eeeh bocah-bocah jangan ngomong saru yaaa.”
Para orang tua kewalahan dan mengadu pada Pak Sastro. Yuni tepekur sedih. Ia tak mau lagi terusir dari dusun Adem Ayem seperti dulu. Ya.. Yuni ingat waktu remaja dulu, ketika Wati anak Pak Yudo Kadus jamannya, selalu merasa iri pada dirinya. Ketika ia menjadi juara kelas mengalahkan Wati, menjadi penari kebanggaan warga dusun, dan yang paling telak adalah Sastro -- ketua pemuda dusun -- yang lebih memilih dirinya daripada Wati anak Pak Kadus.
Hingga pada suatu hari kejadian luar biasa terjadi, waktu Ia diminta membantu pernikahan Tatik anak pak Kadus yang tertua, dan ketika perhiasan emas dan uang seserahan dari mempelai pria itu tiba-tiba hilang berpindah tangan dan secara ajaib berada di dalam saku jaketnya yg digantungkannya di kamar rias. Maka dia mengerti bahwa Wati telah menjebaknya. Dan akhirnya dengan penyelesaian “kekeluargaan” Yuni terpaksa meninggalkan dusunnya, meninggalkan Sastro dan segala impian indah masa depannya.
*****
Bu Sastro alias Wati istri pak Kaduslah yang kini paling vokal bersuara. Kepada suaminya ia berkata, "Semenjak kedatangan Yuni, dusun kita jadi berubah tidak tentram, pakne.”
Pak Sastro yang melihat gelagat buruk Bu Sastro menghela nafas panjang. Ia tahu Yuni adalah pribadi yang baik hati. Ia lantas teringat kejadian puluhan tahun silam, ketika masa remaja, ketika Yuni telah mencuri hatinya, dan itu membuat Wati cemburu. Dan rasa cinta yang baru mekar itu tiba-tiba layu ketika Yuni meninggalkan dusun Adem Ayem dengan tiba-tiba, tanpa pamit, sepertinya ada sesuatu yang janggal dengan kepergiannya.
“ Ya nanti aku tak “rembugan” dengan dik Joko.”
“ Pak ne tau apa? Diusir saja, demi ketentraman warga dusun.”
“ Ya ojo kesusu to bu.”
“ Pokoknya lebih cepat lebih baik, pakne.”
Pak Kadus segera menyuruh pembantunya memanggil Kyai Joko. Diantara pembicaraan bertiga, Pak Kyai menengahi, “ Janganlah kita berburuk sangka dulu, bu. Lebih baik kita “khusnudzon” saja. Semua orang tempatnya salah, tetapi sebaik-baik orang yang berbuat banyak kesalahan itu adalah orang-orang yang banyak bertaubat."
“ Dik Joko tahu, si Kelik tukang ojeg yang mangkal di terminal itu bilang kalo Yuni suka mangkal di warung-warung pangkalan truk. Nama dusun kita akan cemar. Ibu-ibu PKK mulai cemas lho dik Joko. Khawatir kalau nanti Yuni menggoda suami – suami mereka.”
“Ya sabar bu Sastro.... Boleh jadi kita membenci sesuatu, padahal kita tidak tahu bahwa sesungguhnya itu amat baik bagi kita. Dan belum tentu apa yang menurut kita baik, padahal sebetulnya itu hal yang buruk bagi kita. Allah Maha Mengetahui. Saya akan berbicara dengan Yuni bu Sastro...”
*******
Dan mulailah Kyai Joko, atas permintaan Pak Kadus, menyelesaikan masalah ini dengan bijaksana. Dalam pembicaraan di surau Kyai Joko yang mengenyam pendidikan keguruan di IKIP menerapkan pendekatan psikologis pengajaran untuk menghilangkan “latah”nya Yuni.
“Jeng Yuni, kebiasaan latah jorok yang keluar dari mulutmu sudah membuat warga Adem Ayem geger.”
“Iya Pak Kyai, mohon maaf. Saya harus bagaimana? Apapun akan saya kerjakan asalkan saya jangan diusir dari dusun Adem Ayem. Saya ingin menghabiskan masa tua dan mati di dusun ini.”
“ Baiklah saya akan bantu, coba jeng Yuni.... bagaimana kalau yang sudah-sudah itu, latahnya lebih baik diganti dengan menyebut asma Allah. Subhanallah boleh. Masya Allah boleh. Atau Allahu Akbar. Setuju?”
“ Ya ya ya Pak Kyai. Saya akan mencoba ...”
Dan ketika Pak Kyai Joko mencoba mengageti Yuni, dan kebiasaan latah joroknya masih tetap saja, Pak Kyai hanya geleng-geleng kepala sambil tersipu malu. Orang-orang yang lewat di depan surau dan mendengar tersenyum kecut.
Mungkin besok bisa berubah, atau minggu depan. Dan ketika sampai berhari-hari Yuni tak bisa melepas kebiasaanya, maka Pak Kyai tak kehilangan kesabarannya.
Ia kemudian membuat target antara, dengan membelokkan latah joroknya menjadi Eh copot .. copot. Ya... ia sering melihat orang-orang yang latah mengucapkan kalimat seperti itu. Hal yang pernah dipopulerkan oleh penyanyi Adi Bing Slamet lewat lagu Mak Inemnya waktu kecil.
Akhirnya, walau memakan waktu lama, ternyata usaha itu berhasil. Pak Kyai Joko merasa senang. Juga Yuni. Kini kalau ada sesuatu yang mengejutkan Yuni maka kata-kata yang keluar adalah:” Eh copot ..copot”, bukan latah jorok yang dulu "Eh ..anu ... anu."
Mendengar itu Pak Kadus ikut senang, anak-anakpun juga senang dan sekarang mereka mengikuti latah barunya Jeng Yuni, eh copot...copot, sambil tertawa-tawa gembira. Ibu-ibu dusun Adem Ayem menjadi tenang, hanya Bu Kadus seorang diri merasa sebaliknya.
Bersyukur dan berbahagialah seseorang yang dibimbing alim ulama, yang selalu mengajarkan suri tauladan, kebaikan, cinta kasih, tata krama, sopan berbahasa, budi pekerti dan berkaca diri. Yuni merasakan kehadiran Kyai Joko sangat dekat dalam dirinya.
**********
Di sela-sela waktu longgar seputar surau siang itu, Pak Kyai Joko sedang terlibat pembicaraan dengan Yuni . Kali ini tidak lagi membahas “latahnya” melainkan hal lain.
“Jeng Yuni masih kayak dulu lho, awet muda... Resepnya apa? Mbok aku dikasih tau."
Yuni kaget dengan pertanyaan itu. Ia tak menyangka ucapan Pak Kyai akan seperti itu. Jangan-jangan kebiasaan joroknya selama ini mengakibatkan timbulnya kegelisahan terpendam pada diri Pak Kyai. Tapi ingatan Yuni langsung melayang ke masa mudanya ketika si Joko, adik kelasnya waktu di SMP dulu terlihat mencoba mendekati dirinya. Yuni ingat ketika Joko memboncengkan dirinya dalam karnaval sepeda 17 an. Juga beberapa kali pernah datang ke rumahnya.
“Aah bisa aja Pak Kyai, hmmm resepnya apa ya?? Hehehe”
“Wah ternyata sudah lama kita nggak ketemu yaa jeng ... ayo crita pengalaman merantaumu. Aku ingatnya dulu waktu zaman SMP, he he he. Jangan ngomong siapa-siapa ya jeng Yuni, aku dulu pengagum gelapmu lho.”
Dan ketika Yuni memahami bahwa Pak Kyai berubah menjadi sedikit kekanak-kanakan, tersipu-sipu malu. Ia tak merasa kehormatan Pak Kyai menjadi luntur. Semua laki-laki dewasa pada dasarnya adalah kanak-kanak yang butuh perhatian, kasih sayang, dan pelayanan. Apalagi Pak Kyai statusnya masih single belum menikah. Yuni tetap menghormati Pak Kyai sebagai panutan moral warga dusun Adem Ayem.
“Boong banget seeh .... puacarmu kan segudang...eh becanda Pak Kyai.. Aku sudah tua loh,” Yuni tersipu dan tiba-tiba ia berbicara dalam logat Betawi, barangkali dia pernah merantau di sana.
Suasana sangat akrab dan tidak formil,“ Kalo ingat jaman dulu lucu ya jeng Yuni. Waktu “mboncengin” kamu naik sepeda senangnya minta ampun. Tapi habis itu bingung mau gimana?? He he he cinta monyet ..., belum ngerti jurus-jurus merayu wanita. Jadinya diam saja, dipendam. Eeh ini jangan dimasukan hati ya, Jeng. Ini cuma pengakuan saja “
“Ha ha ha lucu....lucu...., iya ... iya tenang saja Pak Kyai, kita kan bukan hanya sudah dewasa tapi “wis tuwo”, sudah tua, hehehe..Cerita seperti ini kan jaman dulu Pak Kyai."
Pak Kyai agak tersipu, kemudian ia mencoba bersikap bijak,“Iya bener jeng Yuni, kita sudah tua, sudah banyak makan asam garam kehidupan. Kadang kita hampir menyerah pada kenyataan pahit, tapi kemudian bangkit dengan semangat. Kadang juga kalau kita kembali ke jaman kanak-kanak, rasanya semuanya indah, penuh tawa dan canda. Dan cukuplah itu sebagai kenangan indah saja. Terlalu indah untuk menjadi nyata jeng Yuni ...”
“Oh, jadi kalau sekarang Pak Kyai “udah canggih” ya cara merayunya.. hahaha. Ini becanda lho Pak Kyai.” terlihat Yuni mulai nyaman dengan gerak gerik dan ucapannya. Terlihat dia bisa mengendalikan keadaan.
Dan kini Pak Kyai Joko tak bisa menahan perasaan hatinya, lalu mengungkapkan dengan jujur apa yang pernah dia alami sewaktu muda dulu,“ He he he sebenarnya dulu itu aku pingin deket denganmu cuma aku nggak tau “piye carane”, bagaimana caranya? Pernah aku beberapa kali main ke rumahmu cuma kok aku jadi tambah bingung he he he. Mungkin salah satunya karena kamu kakak kelasku, dan juga waktu itu Mas Sastro yang ketua pemuda desa itu tergila-gila padamu --- jadi aku minder. Kalo sekarang, mungkin kita sudah sama-sama dewasa, jadi ya yang ada sekarang adalah rasa hormat, rasa saling menghormati."
“Pak Kyai, sebenernya aku juga inget banget kejadian waktu "kita" masih SMP. Seandainya waktu bisa diputar kembali...."
Seolah Pak Kyai faham film tv Time Tunnel alias Lorong Waktu jaman kecil dulu, dan ketika dia mahasiswa belajar agama dan memahami bahwa Lorong Waktu hanyalah angan-angan belaka, tapi dengan maksud tak serius dia menjawab, “Ahh masak siy jeng Yuni ingat banget kejadian-kejadian waktu "kita" masih SMP? Andai waktu bisa diputar kembali .... Apakah kira-kira ada cerita yang berbeda?”
“Kalau waktu bisa diputar kembali???!!! Kalau kita memang gak jodoh atau gak dipertemukan sama Tuhan, yo tetep ora ketemu yo?? "Pekok” banget si aku, bodo banget siy aku!! Hahaha... “
“Eh siapa tahu dipertemukan Tuhan dikemudian hari?”
“Eh copot ... copot .... Pak Kyai .... pak Kyai,” Yuni latah karena gugup.
“Jangan panggil aku Pak Kyai ... panggil aku Joko saja.”
“Aku tak berani ... apa nanti kata warga dusun Adem Ayem kalau dengar itu.”
“Dulu waktu mboncengin kamu naik sepeda untuk pertama dan yang terakhir kalinya, he he ehem, rasanya seolah sudah jadi laki-laki gagah, gede kepala, dan bangga. Ah sayang aku dulu kurang berani, kurang nekat. Mestinya pemuda-pemuda yang naksir kamu itu tak aku gubris, atau kulawan. Jeng Yuni, maukah menikah denganku?”
“Eh copot ... copot ... Ah... Pak Kyai bercanda.”
Tak pernah terbayangkan dalam benak Pak Kyai sebelumnya --- sampai pada keinginan ingin menikahi Yuni. Yaa ..usia Yuni mateng, lekuk pinggang dan busung dadanya menandakan hormon kewanitaannya melimpah. Demikianlah bahasa alam yang terungkap ketika seorang wanita menarik lawan jenisnya, sebagai bekal untuk bertahan di muka bumi, guna meneruskan keturunannya, beranak pinak dan pada saatnya berubah jadi gendut dan menua.
Dan akhirnya dusun Adem Ayem kembali tentram dan damai. Pak Kyai Joko bisa menyelesaikan permasalahan Yuni yang bikin dusun Adem Ayem heboh. Semua merasa bahagia, win win solution. Bu Sastro kini merasa tenang bisa menghabiskan masa tuanya bersama Pak Kadus, Kyai Joko bisa menikahi pujaan hatinya, dan Yuni tak terusir lagi dari dusunnya.
Di malam dingin, diantara suara angin yang mengguncang rimbunan bambu, sepertinya terdengar sayup-sayup Yuni mengucapkan kebiasaan latahnya, dan kini malah campur aduk tak karuan,
“Ehh .. Anu-copot ...eeh anu-copot ..eh maaf Pak Kyai.“
“Hayoo ... Jeng Yuni nggak boleh latah jorok lagi yaaa,” Pak Kyai agak kecewa latah jorok Yuni muncul kembali.
“Saestu Pak Kyai ... kulo mboten goroh.” (Benar Pak Kyai ... Saya tidak bohong kok)
“Ssssttt .....diam,” bisik pak Kyai Joko.
Washington DC 2011
Janu Jolang
Pengelola Blog: www.suararantau.blogspot.com
Anak Saya Seorang Presiden
Anak saya yang baru saja duduk dikelas 1 SD yakin sekali jika besar nanti, dia akan menjadi seorang presiden. Entah dari mana pemikiran itu datang. Setahu saya dia jarang menonton berita di televisi dimana wajah presiden biasanya sering nongol. Tidak juga dari orang lain yang memberinya gambaran masa depan menjadi seorang yang berkuasa seperti itu. Dan yang jelas kami sama sekali tidak memajang foto presiden dan wakilnya di sisi tembok manapun di rumah kami, sehingga tidak ada pertanyaan darinya tentang seseorang yang tersenyum optimis di depan bendera merah putih itu. Tapi anehnya justru setiap orang yang bertanya soal cita-citanya kelak, dia akan menjawab tegas, gembira seperti anak kecil yang hendak mendapat hadiah: “Adi akan jadi Presiden!”
Entah mengapa pemikiran tentang menjadi presiden itu bagi saya adalah sebuah penyimpangan!
“Kamu terlalu berlebihan!” itu kata istri saya. “Umurnya saja belum tujuh tahun. Dia akan bilang ingin menjadi apa saja yang dia anggap hebat. Kalau dia bilang ingin jadi presiden mungkin sosok itulah yang dia anggap hebat.”
“Masalahnya dia tidak bilang begitu. Dia bilang, dia akan menjadi presiden. Ini dua hal yang sangat berbeda. Ingin dan akan. Bagaimana anak sekecil itu sudah bisa mengantisapasi masa depannya dan mengira akan menjadi presiden!”
“Kamu terlalu berlebihan!”
“Kamu sudah bilang itu tadi.”
“Ya, artinya kamu sudah terlalu berlebihan!”
Saya tahu percakapan ini tidak akan mengarah pada satu kecocokan. Istri saya tidak akan memperpanjang percakapan yang dianggapnya terlalu mengada-ada. Dia wanita sederhana yang menganggap bahwa kehidupannya dan sesuatu yang bersangkutan dengannya akan berlangsung wajar-wajar saja, sama seperti kehidupan banyak orang. Dia tidak bisa menerima kejutan-kejutan di dalam hidupnya, atau akhirnya dia akan menganggap itu sebaggai sebuah kenormalan juga. Artinya dalam kasus ini, saya harus mengantisipasinya sendiri. Dimana saya akan membiarkan istri saya menangani kehidupan normalnya seperti sarapan, sekolah, mengajarinya berhitung, ikut bermain, dan hal-hal lain semacam itu. Sementara saya akan tetap waspada pada penyimpangan keinginannya itu.
* * *
“Jadi kau tidak suka kalau anakmu jadi presiden?” tanya ayah ketika ia berkunjung ke rumah. Saya tahu ini rencana istri saya setelah pembicaraan dengannya beberapa waktu yang lalu. Dia tetap menganggap kalau pemikiran yang menyimpang itu justru ada pada saya.
“Tidak ada orang tua yang tidak suka anaknya menjadi presiden.”
“Lalu apa masalahnya?”
“Masalanya dia baru berumur tujuh tahun.”
“Dan dia tidak boleh bercita-cita?”
“Dia tidak bercita-cita. Dia akan menjadi presiden!”
“Lalu apa yang kau takutkan?”
“Entahlah…, bagiku ini suatu penyimpangan. Di umurnya yang sekarang dia sudah yakin akan menjadi presiden. Saya khawatir selama perkembangan hidupnya nanti pikiran itu menjadi sebuah obsesinya. Di sekolahnya dia akan berkoar-koar menjadi seorang presiden. Kemudian dia akan kuliah di fakultas hukum atau ekonomi, setelah lulus dia akan bergabung dengan partai politik besar. Bayangkan, hal buruk apa yang tidak bakal dia lalukan untuk memenuhi keingingiannya itu. Dia akan lebih parah dari Hitler karena telah menanam obsesi politiknya dari kelas 1 SD.”
“Kau ini terlalu berlebihan! Dia masih kecil, keinginannya akan berubah nanti.”
“Tidak juga! Kalau dia bilang akan menjadi Power Ranger atau Superman itu bisa berubah. Di umur 10 tahun nanti dia akan memilih cita-cita yang lain karena pada saat itu dia akan ditertawakan oleh teman-temannya. Tapi dengan menjadi presiden lecehan teman-temannya justru akan menjadi cambuk bahwa dia bisa membuktikan keinginannya itu.”
“Kau ini aneh! Waktu kau seusia dia yang aku khawatirkan darimu adalah kau tidak punya keinginan apapun. Setiap orang yang bertanya cita-cita padamu kau pasti cuma terdiam. Kau tidak menyebutkan mau jadi apa kelak, tapi itu tidak berarti kau tidak menjadi apa-apa sekarang.”
Sepertinya ayah saya benar. Mungkin memang tidak ada kaitannya antara keinginan masa kecil dan kenyataannya di kemudian hari. Dalam hal ini saya memang terlalu berlebihan.
Sejak pembicaraan dengan ayah saya itu rasa khawatir saya terhadap cita-cita anak saya semakin memudar. Apalagi sejauh ini saya tidak menemukan penyimpangan dari kesehariannya di rumah. Dia masih suka menonton film kartun di tv, bermain sepeda atau bermain bola jika ada yang mengajak. Saya mulai percaya pandangan istri saya bahwa hidup kami akan berlangsung wajar dan normal-normal saja. Tapi semua berubah, ketika dia pulang dari bermain bersama salah satu temannya. Saat saya tanya siapa temannya itu, dengan tenang dan berwibawa seperti anak sekolah yang baru naik kelas dengan nilai raport yang sempurna dia menjawab: “Ini Reza, Pah! Dia mentri pertahanan Adi!”
Terbukti kan!!!
* * *
Malamnya, setelah kembali membincangkan masalah ini dengan istri saya yang juga tidak berujung pada kecocokan, saya putuskan untuk berbicara langsung dengan anak saya, meski hal ini sangat ditentangnya. Katanya ini akan membunuh salah satu harapan terbesarnya, salah satu fantasi terhebatnya, dan itu yang malah bakal mempengaruhi perkembangannya nanti. Tapi akhirnya dia pasrah saja ketika saya duduk di ranjang anak saya saat dia meminta didongengkan sebuah kisah.
“Kenapa Adi ingin jadi presiden?” tanya saya ketika dia mulai jenuh dengan dongengan saya.
“Abis hebat sih, Pah! Presiden kan bisa punya mobil bagus, terbang pake pesawat, punya rumah besar dan kaya…”
Untunglah gambaran itu yang ia dapatkan dari sosok seorang presiden.
“…bisa ngatur-ngatur orang, punya tentara sendiri, bisa buat perang…”
Oh, tidak juga ternyata!!!
“…bisa nyerang musuh… dor dor dor!”
Lalu seperti tertarik pada khayalannya itu, saya baru berani bertanya, “emang presiden bisa buat perang ya?”
“Bisa dong! Kan presiden yang paling berkuasa!”
“Betul, tapi tugas presiden juga berat karena yang ngasih kekuasan itu kita… rakyatnya. Kalau presidennya nanti nggak bisa ngatur negara dengan bener, nggak bisa ngasih uang dan makanan buat rakyatnya yang miskin, nggak bisa sekolahin anak-anak sampai tinggi, nggak bisa melindungi rakyatnya yang lemah, nanti malah rakyatnya yang akan marah, karena dia nggak bisa ngejalanin amanat mereka. Bukan itu saja, Tuhan juga akan marah. Karena Tuhan tidak suka sama orang yang tidak amanah.”
“Tuhan akan marah sama presiden?”
“Ya!”
“Apa presiden takut sama Tuhan?”
“Tentu saja!”
“Kenapa?”
“Karena presiden itu cuma manusia dan Tuhanlah yang menciptakan manusia. Tuhan juga yang menciptakan presiden. Tuhan bisa berbuat apa saja pada ciptaannya. Karena Tuhanlah yang paling berkuasa.”
Anak itu termenung lama. Entahlah, apa cerita saya tadi benar-benar bisa dimengerti olehnya, yang jelas dia seperti menemukan kebenaran baru. Lalu setelah saya bercerita tentang sebuah dongeng lain, dia kemudian terlelap.
* * *
Besok-besoknya saya tidak pernah mendengar lagi keinginannya untuk menjadi presiden. Bayangan tentang itu sepertinya sudah lumer di otaknya. Terkadang saya merasa bersalah juga karena telah menghancurkan impian seorang anak kecil untuk menjadi sesuatu karena sebuah kekhawatiaran saya yang terlalu berlebihan. Tapi mungkin itu jalan yang harus dilalui sehingga dia tidak perlu melewati gurun yang menghanguskan nantinya. Saya beruntung karena sampai saat ini saya masih belum menemukan keanehan prilaku dia sehari-hari. Dia tetap gembira dan tertawa. Apalagi ketika kakeknya menggendong dia di atas pundaknya, dia semakin girang saja. Ini makin membuat saya yakin kalau saya tidak membuat kesalahan.
“Adi, turun! Kasihan kakek dong!” teriak istriku sambil membawa minuman dingin ke teras rumah di halaman belakang.
“Kakek capek?”
“Ya, kakek harus minum es buatan Mamamu dulu biar seger lagi.”
“Minum jamu juga ya? Kata Mama, Kakek suka minum jamu!”
“Kadang-kadang Kakek juga suka minum jamu biar sehat terus. Nah, kalo Adi harus banyak minum susu biar cepat besar, biar cepat jadi presiden seperti cita-cita Adi.”
“Adi tidak mau jadi presiden!”
Benar kan! Memang benar-benar sudah hilang keinginannya itu. Setelah ini saya percaya dia akan memilih menjadi sesuatu yang lain yang lebih realistis.
“Terus Adi mau jadi apa?” tanya kakeknya kemudian.
Lalu dengan penuh percaya diri persis seperti seorang anak kecil yang baru memenangkan lomba dia menjawab dengan tegas dan berwibawa: “Adi mau menjadi Tuhan!”
Blasss…tiba-tiba seluruh badan saya langsung lemas.
Entah mengapa pemikiran tentang menjadi presiden itu bagi saya adalah sebuah penyimpangan!
“Kamu terlalu berlebihan!” itu kata istri saya. “Umurnya saja belum tujuh tahun. Dia akan bilang ingin menjadi apa saja yang dia anggap hebat. Kalau dia bilang ingin jadi presiden mungkin sosok itulah yang dia anggap hebat.”
“Masalahnya dia tidak bilang begitu. Dia bilang, dia akan menjadi presiden. Ini dua hal yang sangat berbeda. Ingin dan akan. Bagaimana anak sekecil itu sudah bisa mengantisapasi masa depannya dan mengira akan menjadi presiden!”
“Kamu terlalu berlebihan!”
“Kamu sudah bilang itu tadi.”
“Ya, artinya kamu sudah terlalu berlebihan!”
Saya tahu percakapan ini tidak akan mengarah pada satu kecocokan. Istri saya tidak akan memperpanjang percakapan yang dianggapnya terlalu mengada-ada. Dia wanita sederhana yang menganggap bahwa kehidupannya dan sesuatu yang bersangkutan dengannya akan berlangsung wajar-wajar saja, sama seperti kehidupan banyak orang. Dia tidak bisa menerima kejutan-kejutan di dalam hidupnya, atau akhirnya dia akan menganggap itu sebaggai sebuah kenormalan juga. Artinya dalam kasus ini, saya harus mengantisipasinya sendiri. Dimana saya akan membiarkan istri saya menangani kehidupan normalnya seperti sarapan, sekolah, mengajarinya berhitung, ikut bermain, dan hal-hal lain semacam itu. Sementara saya akan tetap waspada pada penyimpangan keinginannya itu.
* * *
“Jadi kau tidak suka kalau anakmu jadi presiden?” tanya ayah ketika ia berkunjung ke rumah. Saya tahu ini rencana istri saya setelah pembicaraan dengannya beberapa waktu yang lalu. Dia tetap menganggap kalau pemikiran yang menyimpang itu justru ada pada saya.
“Tidak ada orang tua yang tidak suka anaknya menjadi presiden.”
“Lalu apa masalahnya?”
“Masalanya dia baru berumur tujuh tahun.”
“Dan dia tidak boleh bercita-cita?”
“Dia tidak bercita-cita. Dia akan menjadi presiden!”
“Lalu apa yang kau takutkan?”
“Entahlah…, bagiku ini suatu penyimpangan. Di umurnya yang sekarang dia sudah yakin akan menjadi presiden. Saya khawatir selama perkembangan hidupnya nanti pikiran itu menjadi sebuah obsesinya. Di sekolahnya dia akan berkoar-koar menjadi seorang presiden. Kemudian dia akan kuliah di fakultas hukum atau ekonomi, setelah lulus dia akan bergabung dengan partai politik besar. Bayangkan, hal buruk apa yang tidak bakal dia lalukan untuk memenuhi keingingiannya itu. Dia akan lebih parah dari Hitler karena telah menanam obsesi politiknya dari kelas 1 SD.”
“Kau ini terlalu berlebihan! Dia masih kecil, keinginannya akan berubah nanti.”
“Tidak juga! Kalau dia bilang akan menjadi Power Ranger atau Superman itu bisa berubah. Di umur 10 tahun nanti dia akan memilih cita-cita yang lain karena pada saat itu dia akan ditertawakan oleh teman-temannya. Tapi dengan menjadi presiden lecehan teman-temannya justru akan menjadi cambuk bahwa dia bisa membuktikan keinginannya itu.”
“Kau ini aneh! Waktu kau seusia dia yang aku khawatirkan darimu adalah kau tidak punya keinginan apapun. Setiap orang yang bertanya cita-cita padamu kau pasti cuma terdiam. Kau tidak menyebutkan mau jadi apa kelak, tapi itu tidak berarti kau tidak menjadi apa-apa sekarang.”
Sepertinya ayah saya benar. Mungkin memang tidak ada kaitannya antara keinginan masa kecil dan kenyataannya di kemudian hari. Dalam hal ini saya memang terlalu berlebihan.
Sejak pembicaraan dengan ayah saya itu rasa khawatir saya terhadap cita-cita anak saya semakin memudar. Apalagi sejauh ini saya tidak menemukan penyimpangan dari kesehariannya di rumah. Dia masih suka menonton film kartun di tv, bermain sepeda atau bermain bola jika ada yang mengajak. Saya mulai percaya pandangan istri saya bahwa hidup kami akan berlangsung wajar dan normal-normal saja. Tapi semua berubah, ketika dia pulang dari bermain bersama salah satu temannya. Saat saya tanya siapa temannya itu, dengan tenang dan berwibawa seperti anak sekolah yang baru naik kelas dengan nilai raport yang sempurna dia menjawab: “Ini Reza, Pah! Dia mentri pertahanan Adi!”
Terbukti kan!!!
* * *
Malamnya, setelah kembali membincangkan masalah ini dengan istri saya yang juga tidak berujung pada kecocokan, saya putuskan untuk berbicara langsung dengan anak saya, meski hal ini sangat ditentangnya. Katanya ini akan membunuh salah satu harapan terbesarnya, salah satu fantasi terhebatnya, dan itu yang malah bakal mempengaruhi perkembangannya nanti. Tapi akhirnya dia pasrah saja ketika saya duduk di ranjang anak saya saat dia meminta didongengkan sebuah kisah.
“Kenapa Adi ingin jadi presiden?” tanya saya ketika dia mulai jenuh dengan dongengan saya.
“Abis hebat sih, Pah! Presiden kan bisa punya mobil bagus, terbang pake pesawat, punya rumah besar dan kaya…”
Untunglah gambaran itu yang ia dapatkan dari sosok seorang presiden.
“…bisa ngatur-ngatur orang, punya tentara sendiri, bisa buat perang…”
Oh, tidak juga ternyata!!!
“…bisa nyerang musuh… dor dor dor!”
Lalu seperti tertarik pada khayalannya itu, saya baru berani bertanya, “emang presiden bisa buat perang ya?”
“Bisa dong! Kan presiden yang paling berkuasa!”
“Betul, tapi tugas presiden juga berat karena yang ngasih kekuasan itu kita… rakyatnya. Kalau presidennya nanti nggak bisa ngatur negara dengan bener, nggak bisa ngasih uang dan makanan buat rakyatnya yang miskin, nggak bisa sekolahin anak-anak sampai tinggi, nggak bisa melindungi rakyatnya yang lemah, nanti malah rakyatnya yang akan marah, karena dia nggak bisa ngejalanin amanat mereka. Bukan itu saja, Tuhan juga akan marah. Karena Tuhan tidak suka sama orang yang tidak amanah.”
“Tuhan akan marah sama presiden?”
“Ya!”
“Apa presiden takut sama Tuhan?”
“Tentu saja!”
“Kenapa?”
“Karena presiden itu cuma manusia dan Tuhanlah yang menciptakan manusia. Tuhan juga yang menciptakan presiden. Tuhan bisa berbuat apa saja pada ciptaannya. Karena Tuhanlah yang paling berkuasa.”
Anak itu termenung lama. Entahlah, apa cerita saya tadi benar-benar bisa dimengerti olehnya, yang jelas dia seperti menemukan kebenaran baru. Lalu setelah saya bercerita tentang sebuah dongeng lain, dia kemudian terlelap.
* * *
Besok-besoknya saya tidak pernah mendengar lagi keinginannya untuk menjadi presiden. Bayangan tentang itu sepertinya sudah lumer di otaknya. Terkadang saya merasa bersalah juga karena telah menghancurkan impian seorang anak kecil untuk menjadi sesuatu karena sebuah kekhawatiaran saya yang terlalu berlebihan. Tapi mungkin itu jalan yang harus dilalui sehingga dia tidak perlu melewati gurun yang menghanguskan nantinya. Saya beruntung karena sampai saat ini saya masih belum menemukan keanehan prilaku dia sehari-hari. Dia tetap gembira dan tertawa. Apalagi ketika kakeknya menggendong dia di atas pundaknya, dia semakin girang saja. Ini makin membuat saya yakin kalau saya tidak membuat kesalahan.
“Adi, turun! Kasihan kakek dong!” teriak istriku sambil membawa minuman dingin ke teras rumah di halaman belakang.
“Kakek capek?”
“Ya, kakek harus minum es buatan Mamamu dulu biar seger lagi.”
“Minum jamu juga ya? Kata Mama, Kakek suka minum jamu!”
“Kadang-kadang Kakek juga suka minum jamu biar sehat terus. Nah, kalo Adi harus banyak minum susu biar cepat besar, biar cepat jadi presiden seperti cita-cita Adi.”
“Adi tidak mau jadi presiden!”
Benar kan! Memang benar-benar sudah hilang keinginannya itu. Setelah ini saya percaya dia akan memilih menjadi sesuatu yang lain yang lebih realistis.
“Terus Adi mau jadi apa?” tanya kakeknya kemudian.
Lalu dengan penuh percaya diri persis seperti seorang anak kecil yang baru memenangkan lomba dia menjawab dengan tegas dan berwibawa: “Adi mau menjadi Tuhan!”
Blasss…tiba-tiba seluruh badan saya langsung lemas.
Langganan:
Postingan (Atom)