Asih sulastri

Namaku Asih Sulastri. Aku ingin bertanya, apa yang membuat perempuan bahagia? Kakakku, Yu Darmi, cerita kepadaku kalau ia ingin tinggal di desa. Tiap siang menjelang dzuhur, ia ingin mengantar makanan ke sawah untuk suaminya, setelah memberi makan ayam-ayamnya, yang katanya tidak perlu banyak. Alasannya, pelataran rumahnya tidak cukup luas untuk meliarkan ribuan ayam. Ia takut rumahnya bau tembelek. Aku tertawa mendengar khayalannya itu. Pelihara ayam tetapi tidak mau bau tembelek. Seharusnya ia jadi juragan.

Aku, Asih Sulastri, hanya ingin pergi ke Arab. Itu cukup membuatku bahagia. Cita-cita Yu Darmi terwujud. Ia jadi istri petani miskin dengan rumah seluas kandang ayam. Kamu pasti mengira kalau 200 meter itu luas. Aku memahami, karena kamu biasa hidup di batok tempurung.

Tiap siang menjelang dzuhur, Yu Darmi mengantar makanan ke sawah untuk Larto, suaminya. Tiap tahun Yu Darmi melahirkan bayi. Yu Darmi beternak ayam. Yu Darmi beternak bayi. Rumahnya bau bayi. Dan juga tahi bayi. Aku ceritakan ke orang-orang kalau Yu Darmi anaknya sudah delapan. Tetapi ia bilang anaknya baru delapan. Aku tandaskan kalau dia beruntung karena lima bayi sebelumnya sudah mati. Kalau tidak mati, anaknya tiga belas. Angka sial! Hidupnya bisa jadi sial.

Punya suami Larto, petani sialan itu saja sudah sial. Tetapi Yu Darmi sangat bangga menjadi ladang yang dicangkuli Larto tiap hari. Bahkan ia kecewa jika tanaman yang disemai Larto mati. Bagiku, ia perempuan dungu. Karena seharusnya Larto mencangkuli ladangku!

Simbokku, mungkin satu-satunya perempuan terbodoh yang pernah kukenal. SD, ia tidak lulus. Tiap pagi Simbok ke pasar adhang-adhang buah. Simbok bukan penjual buah. Simbok makelar buah. Pelanggannya yang setia Rifa’i, lelaki kaya pemilik rumah serupa istana di pojok desa. Lelaki yang konon kata orang, bapakku. Ketika aku SD, pernah soal ini kutanyakan ke Simbok. “Mbok, apa benar Pak Rifa’i bapakku?” “Benar, Nduk,” terang Simbok saat itu,”Rifa’i itu bapakmu, bapaknya Darmi dan kakangmu, Rozak.” “Kenapa ia tidak tinggal di rumah kita, Mbok?” “Lastri…, ia harus mengurus keluarganya.”

Begitu penjelasan Simbok. Polos dan lugu, khas orang kampung. Waktu itu aku tidak paham betul penjelasan Simbok. Persoalan yang membingungkanku. Jika bapakku, kenapa Pak Rifa’i harus mengurus keluarganya, dan tidak mengurus Simbok, kakak-kakakku dan aku? Pengetahuanku semakin terang ketika aku SMP. Rupanya Simbok tidak hanya jual buah hasil adhang-adhang, tetapi juga jual buah dada ke Pak Rifa’i. Hanya ke Pak Rifa’i. Kata orang kampungku namanya kumpul kebo. Kumpul seperti kerbau, hanya berkumpul kalau sedang ingin adu kelamin. Kumpul kebo risikonya beranak. Jadilah aku anak kebo. Sejak aku tahu soal itu, cukup bagiku memanggil Rifa’i untuk lelaki yang menghamili ibuku, tanpa perlu embel-embel bapak. Karena aku Asih Sulastri. Perihal Larto dan Rifa’i cukup bagiku sebagai pembulat tekadku pergi ke Arab.

“Mengapa kamu ingin pergi ke Arab, Nduk?” tanya Simbok waktu aku lulus SMK.

“Aku ingin jadi TKI di tanah suci, Mbok,” jawabku. “Untuk apa kamu jadi TKI? Mbokmu masih sanggup kalau hanya menyekolahkanmu.” “Aku tidak ingin sekolah, Mbok. Aku ingin pergi ke Arab.” “Kamu masih terlalu kecil untuk pergi ke Arab, Nduk. Tunggulah dua atau tiga tahun lagi.” “Tidak! Pokoknya aku mau ke Arab!”

Saat itu, aku merasa tidak perlu memberi penjelasan ke Simbok. Aku tidak mau sekolah dengan uang haram. Aku hanya ingin minggat. Pergi sejauh-jauhnya. Pergi dari kandang ternak orang yang busuk, beranak tanpa bapak. Aku hanya ingin bersembunyi dari suara tengik para tetangga. Aku hanya ingin berlari, berlari dan terus berlari menghindari tatapan Larto yang membuatku masturbasi sepanjang malam. Aku ingin pergi dari duniaku yang terkutuk. Dan aku ingin pergi ke Arab.

Pagi itu, seminggu sejak obrolanku dengan Simbok, aku ikut ke pasar. Hari itu masih libur sekolah. (Apakah penting penjelasan libur sekolah ini? Libur atau tidak, tidak ada pengaruhnya dengan hidupku.) Saat para pedagang masih terkantuk-kantuk menunggu lalat dan pembeli mengerubuti dagangan mereka, aku menguping pembicaraan Simbok dengan Rifa’i.

“Lastri tidak mau sekolah,” terang Simbok ke Rifa’i, ”ia ingin jadi TKI ke Arab. Aku butuh biaya.” “Suruh dia ke rumahku. Biar aku yang mengurusnya.” “Bagaimana nanti anak dan istrimu?” bantah Simbok. “Itu soal sepele. Rumahku luas. Aku tinggal menjelaskan pada istriku bahwa sudah saatnya ia perlu pembantu. Dan Lastri cocok untuk itu.” “Lastri terlalu cantik untuk menjadi pembantu. Badannya sintal dan montok. Aku khawatir anak laki-lakimu jatuh cinta dengan Lastri. Mereka saudara satu bapak.” “Aku tahu. Akan kubuatkan kamar tersendiri untuknya. Setelah itu, sesegera mungkin kukabulkan keinginannya pergi ke Arab. Kau jelaskan saja pada Lastri bahwa di rumahku hanya sementara.”

Simbok tidak perlu menjelaskan pembicaraannya dengan Rifa’i. Aku telah mendengar semuanya. Aku tidak terlalu bodoh untuk menangkap maksud sandiwara yang harus kuperankan. Aku akan masuk ke rumah Rifa’i, bukan sebagai anaknya, tetapi sebagai pembantu. Ya, sebagai pembantu di rumah bapakku sendiri. Tidak punya hak sebagai anak. Dua hari setelah pembicaraan itu, hari celaka pun tiba. Aku menjadi pembantu di rumah bapakku. Dapatkah kamu membayangkan perasaanku?

Benar yang diceritakan orang, rumah Rifa’i seperti istana. Teras depan dipenuhi bunga-bunga. Ada anyelir, melati dan jemani. Tiang-tiang kayu berukir menyangga genteng berbentuk joglo. Akuarium besar berisi arwana menghiasi sudut belakang kanan, persis di samping kamar Rifa’i dan istrinya. Istrinya yang gemuk dan buruk. Pantas jika Rifa’i lebih suka ngeloni Simbok!

Di kiri pendopo berdiri bangunan untuk anak perempuan Rifa’i, Raminah namanya. Konon katanya, Raminah pernah kuliah di Surabaya tetapi disuruh pulang karena ketahuan hamil. Untuk mencegah malu, Rifa’i memaksa Raminah menggugurkan kandungannya dan pulang kampung. Tidak perlu kuliah lagi. Sejak itu Raminah jadi pengangguran berduit.

Sayap kanan pendopo dihuni anak sulung Rifa’i, lelaki buruk muka dengan mulut sebusuk alkohol. Konon juga, katanya ia mahasiswa tetapi aku setiap hari melihatnya terkapar teler di kandangnya. Banyak gambar perempuan bule telanjang bulat tanpa pakaian tertempel di dinding ruangan. Pantas jika Simbok mengkhawatirkan lelaki ini memangsaku!

Di belakang pendopo terdapat ruang tamu yang terhubung dengan pintu. Di sebelah kanan ruang tamu terletak dapur dan kamar mandi. Aku mendapat tempat di ruangan tiga kali empat di samping dapur, berseberangan dengan kamar mandi. Cukup jauh dari ruang utama. Di ruangan sempit tanpa jendela dan tanpa kaca itulah aku menjalani hari-hari yang mengerikan. Aku menjadi pembantu di rumah lelaki yang menghamili Simbokku.

Tiga belas bulan sudah aku menjadi pembantu, tanpa gajian, tanpa kejelasan kapan akan didaftarkan untuk menjadi TKI. Selama itu aku tidak menanyakan gajiku ke Rifa’i. Semua orang di rumah itu tidak memperdulikanku, karena aku hanya pembantu bagi mereka. Sampai suatu malam, aku memberanikan diri bertanya ke Rifa’i tentang kejelasan masa depanku. Malam itu saat yang tepat ketika bu Rifa’i pergi ke Yogya untuk kulakan bathik. Dan malam itu, malam celaka yang tak kan pernah kulupakan.

Aku datangi Rifa’i yang sedang makan malam. Aku tanyakan perihal kapan aku dapat pergi ke Arab. “Sabarlah sebentar. Tunggu sampai aku selesai makan,” jawabnya waktu itu.

Aku duduk di depannya dengan muka tertunduk. Sungguh itu bukan kemauanku, tetapi karena begitulah seharusnya menjadi pembantu. Rifa’i takut jika kedoknya terbongkar bahwa aku adalah anaknya. Anak haramnya. Jadi aku harus seperti itu. Menghayati peranku sebagai pembantu, agar aku dapat segera pergi ke Arab. “Mari bicara di kamarku,” ajak Rifa’i begitu ia menyelesaikan makan malamnya. “Ya, Pak.” Aku tunduk pada kemauannya. Kapan lagi aku dapat mewujudkan impianku jika aku tidak membicarakan soal itu dengannya.

Suasana senyap. Hujan membadai waktu sore menyisakan malas sehingga orang-orang lebih senang bersembunyi di kamarnya. Rumah besar itu terasa menyeramkan, tidak seperti biasanya. Aku masuk ke kamar Rifa’i. “Tutup pintunya. Apa yang ingin kamu tanyakan? Gajimu?” duga Rifa’i membuka percakapan. “Tidak Pak. Masak saya minta gaji sama Bapak.” “Kenapa tidak?” balas Rifa’i,”tapi tolong pijit kakiku dulu, nanti gajimu kubayar sebagai bekalmu ke Arab.” Aku menuruti kata-katanya. Aku mulai memijit kakinya. Itu semua kulakukan karena aku hanya ingin pergi ke Arab. Tak perduli bapak haramku menganggapku pembantu. “Cobalah lebih dekat,” pintanya. Aku mendekatkan tubuhku. “Kamu semakin dewasa dan…. montok.”

Aku diam membisu. Mukaku terasa sedikit panas waktu itu. Apakah Rifa’i sudah menerimaku sebagai anaknya? Mungkin sebab tidak ada orang di rumah, dia berani memperlakukanku begitu. Meskipun aku anak haramnya.

Tangannya mulai merangkul pinggangku. Aku merasa terharu. Bapakku memelukku. Sunyi semakin senyap. Bapakku mendekapku erat-erat. Perlahan kutumpahkan rinduku pada sosok Bapak. Ia menciumi wajahku dengan nafas memburu. Ya. Nafas memburu. Hingga aku tersadar lelaki itu tidak memelukku sebagai anak, tetapi hendak menggagahiku! Aku meronta. Aku marah. Tapi semuanya datang terlambat. Rifa’i gelap mata. Seperti tertimpa langit runtuh, berderak tiba-tiba kepalaku pening. Semua menjadi gelap. Gelap dan pekat!

Keesokan harinya aku sudah terkapar di kamar pengapku. Luka memar di sana-sini. Perih di sekujur tubuhku. Perih di kelaminku. Bercak amis mengering di sepanjang kakiku. Darah. Lukaku berdarah-darah. Aku mendadak seperti gila. Aku jambak rambutku. Aku robek-robek pakaianku. Aku ledakkan semua amarah pada pintu, pada tembok, pada kaca dan pada semua yang ada di sekelilingku. Perih itu terlampau pedih. Hingga aku tidak mampu menegakkan tubuhku. Aku ingin mati, tetapi tidak mati. Dunia kembali menggelap. Aku tidak mau pingsan. Tetapi aku pingsan.

Lima bulan berlalu sejak kejadian itu. Lima bulan aku terkunci di ruang sempit, gelap dan pekat kamarku sendiri. Aku ingin minggat, tapi tak berdaya. Setiap pagi dan sore Rifa’i memberiku makan lewat lubang di bawah pintu. Ia bercerita ke seisi rumah kalau aku kerasukan jin pohon beringin belakang rumah hingga harus di karantina. Jin jahat itu suka mengamuk dan memporakporandakan semuanya. Jin jahat itu tiga hari sekali harus mandi kembang. Jin jahat itu hanya mau tunduk pada Rifa’i. Tiga hari sekali Rifa’i memandikanku. Tiga hari sekali menggagahiku. Tidak ada yang perduli. Tidak ada yang menjawab pekik lolongku. Di mata mereka aku kerasukan iblis. Selama itu aku tinggal di neraka. Sampai suatu malam aku teringat untuk memohon pada-Nya, jika Ia itu memang ada. Aku berdoa. Aku memohon agar penderitaanku berakhir.

Sepertinya Ia ada dan doaku didengar-Nya. Suatu sore seorang ustad datang ke rumah. Ia datang karena mendengar cerita Raminah kalau aku kerasukan jin jahat. Ustad itu ingin mengusir jin jahat dari tubuhku. Aku menerimanya dengan senyum ceria. Allah mengabulkan doaku, batinku.

Menjelang maghrib aku dibawa ke tengah pendopo. Seluruh keluarga berkumpul di sana dan mengelilingiku. Di hadapan mereka terdapat meja-meja kecil dengan Al Quran di atasnya. Mereka mengaji. Termasuk lelaki tengik, Rifa’i itu juga turut mengaji. Aku tertawa geli. Seandainya aku tidak ingin balas dendam dan minggat dari rumah itu, tentu aku sudah menerkam dan mencekik lehernya. Ingin aku membunuhnya, mengambil jantungnya dan meminum darahnya. Mataku memerah, semerah darah. “Lihatlah, jin itu marah dan mentertawakan kita,” kata Rifa’i waktu itu. Mataku melotot ke arahnya. “Tenanglah, Saudaraku. Kami tidak ingin mengganggumu,” kata Ustad. Yang lain mulai melantunkan ayat-ayat suci. Dan aku berteriak,”Aminnnnn.” “Ustad, tolong bebaskan aku dari sini,” bisikku pada Ustad itu. “Ya, tentu saja. Kami akan mengirimmu pulang,” jawabnya. “Tidak. Aku tidak mau pulang. Aku malu. Aku ingin pergi ke Arab!” bisikku pada Ustad. “Jin yang menghuni tubuh Lastri ingin naik haji. Ia ingin pergi ke Arab.” Aku mendengar Ustad berbisik pada Rifa’i dan keluarganya. Marahku semakin menggila. “Aku tidak kemasukan jin. Aku hanya ingin pergi dari neraka jahanam ini. Biarkan aku pergi,” jeritku semakin mengeras. “Ikat dan tutup mulutnya!” lengking Rifa’i.

Tiga orang lelaki menubrukku. Lalu mengikat tangan dan kakiku. Kain pembersih keringat disumpalkan ke mulutku. Aku hanya mampu meronta dan meronta yang membuat tubuhku semakin terluka. Tidak ada lagi air mata. Marah itu terlalu merah. Hanya mataku menggelepar liar, melolong tanpa suara. “Diamlah kalau kau tidak ingin lebih menderita!” bentak Rifa’i. “Saudaraku….” “Kami akan membunuhmu jika kau terlalu banyak bicara!” Ustad itu tidak mampu menyelesaikan kalimatnya, terpotong hardikan Rifa’i. “Pak Rifa’i, tenanglah dulu. Jin ini bisa membunuh Lastri kalau kita terlalu keras padanya. Kalau kita membunuhnya, itu sama saja dengan membunuh Lastri.”

Lalu mereka memulai ritual lagi. Berbagai macam ayat mengalun memenuhi pendopo. Semua orang khusyuk melantunkan ayat-ayat suci. Aku lunglai tanpa daya seperti pesakitan.

Ya Allah, apa yang harus kulakukan, bisik batinku. Berpura-puralah waras. Bohongi mereka, yang penting kamu keluar dari rumah celaka ini, begitu bisikan yang tergiang di telingaku. Aku tenang. Aku letih. Aku tertidur. “Lastri..Lastri…”

Bisikan dan sentuhan lembut membangunkanku. Muka Ustad tepat di depanku. “Kamu sudah sadar, Nak?” tanyanya. “Ijinkan aku pergi Ustad. Ijinkan aku pergi,” desisku lemah. “Baiklah…kemana kamu ingin pergi?” “Aku ingin pergi ke Arab.” Muka Ustad tampak kecewa. “Jin di tubuh Lastri terlampau kuat. Ia senang mendengarkan ayat suci. Dan ia ingin naik haji ke Arab. Aku tidak sanggup mengusirnya,” terang Ustad ke Rifa’i dan keluarganya. “Ustad, jika memang jin itu ingin naik haji dengan meminjam tubuh Lastri, biarlah aku yang menanggung biayanya,” kata Rifa’i. “Baiklah kalau begitu,” jawab Ustad sok tahu itu. “Malam ini juga, aku akan mengirimnya ke Surabaya,” tandas Rifa’i. “Baiklah, hati-hati di jalan Pak Rifa’i. Saya pamit dulu. Assalamualaikum…” “Waalaikumsalam…”

Malam itu aku dibawa Rifa’i ke Surabaya.

“Aku akan membuka ikatanmu dan membebaskanmu jika kamu tidak membuatku repot,” ancam Rifa’i begitu sampai di depan sebuah gedung, lebih tepatnya pabrik yang tidak terpakai di Surabaya. “Dan jika kamu macam-macam, aku akan membunuhmu. Simbokmu hanya tahu kalau kamu sudah di Arab. Kalau kamu mati, aku tinggal menjelaskan kalau kamu mati di Arab,” tambah Rifa’i tampak panik. Aku hanya mengangguk lemah. Ingin rasanya kupecahkan kepala bapak haramku itu. Tapi aku sungguh tak berdaya. Hina dan tak berdaya.

Ia membebaskanku. Selangkah lagi aku akan terbebas dari iblis bermuka manusia, pikirku saat itu. Aku diserahkan ke seorang perempuan berperut buncit. Bukan agen untuk naik haji, tetapi agen TKI di Surabaya.

“Tolong urus dia. Dia agak stress akhir-akhir ini. Ingin ke Arab tapi tidak punya biaya. Tolong bantu dia,” kata bapak haramku ke perempuan itu.

“Tentu Pak. Kami akan membantunya menjadi perempuan kaya raya beristri raja minyak,” jawab perempuan gendut dengan nada mengejek.

Aku muak melihat wajahnya. Aku muak melihat muka mereka. Aku muak mengingat semua itu. Aku muak menceritakan semua ini kepadamu.

Hari-hariku berlalu kusut di penampungan TKI. Satu bulan, dua bulan, tiga bulan tidak ada perkembangan. Gerak-gerikku terus diawasi seperti napi. Aku tidak dibekali apapun untuk menjadi TKI. Aku hanya menjadi pelayan para calon TKI. Aku disuruh membersihkan kamar mereka, mencuci dan menyeterika baju mereka. Dan aku tidak punya apa-apa. Aku tidak mengerti mengapa aku diperlakukan seperi babu. Sampai hal itu kutanyakan pada perempuan yang kuingat pada malam celaka itu. Tapi jawaban yang kuterima cukup sederhana, aku telah dibelinya untuk menjadi babu!

Masyaallah. Seandainya kamu mengalami deritaku, masih inginkah untuk terus hidup. Aku hanya ingin pergi ke Arab, bukan menjadi babu di pabrik penampungan orang celaka itu. Dan setiap hari kuceritakan ke semua orang, bahwa aku hanya ingin pergi ke Arab. Tanpa mampu menceritakan perilaku durjana yang kuterima. Mampukah kau menceritakan aib yang kau terima? Aku tidak punya pilihan lain selain minggat sejauh-jauhnya. Aku tidak ingin mati. Aku tidak lagi ingin bunuh diri. Aku hanya ingin pergi. Pergi dari tanah terkutuk ini. Hingga suatu saat nanti aku dapat membalas semua penghinaan ini.

Lima tahun telah berlalu. Umurku kini 26 tahun. Dan aku menuliskan semua ini dari sebuah penjara yang mereka namai rumah sakit jiwa.

Jakarta, April berhujan 2011 Catatan: Adhang-adhang : membeli buah dari petani kemudian menjualnya lagi tanpa menetap di satu tempat. Kumpul kebo : hidup seperti pasangan suami istri tapi tidak menikah secara syah. Jika terdapat kesamaan nama, peristiwa dan tokoh dalam fiksi ini, merupakan kebetulan semata.

Ragil Koentjorodjati: Penulis lepas dan blogger di www.retakankata. wordpress.com

Nurbaya Belum Mati

Perempuan itu selalu saja menatapku begitu mendalam. Bukan sekali dua kali saja, tetapi setiap kali aku berpapasan dengannya. Dari sejak pertama sekali aku menetap di kontrakan yang kubayar dengan cara mencicil, di kampung pinggir kota yang pernah dilumat gelombang lapar lautan belakang sana.

Matanya kerap bertumbuk dengan matanya. Kelelakianku bisikkan pengakuan jujur, mata itu memang sangat indah. Mata itu adalah listrik yang menjalari kabel tak terlihat. Sialnya kabel itu pula yang sepertinya membawa arusnya sampai ke kamar tidurku, setiap malam.

Terbayang ia bergumul dengan lelaki yang sebenarnya sudah beristri tiga sebelum menikahi Dara, perempuan yang bermata penuh aliran listrik itu. Merenungi dan mereka-reka, apa yang mungkin melintas di pikirannya sebagai perempuan setiap tubuh lelaki pemiliknya itu menyelimutinya. Ah, pikiranku terlalu liar. Persetan! Toh, meski aku tertarik dengan kecantikan alami perempuan kampung itu. Tetap saja, secarik surat nikah dari penghulu adalah parang jagal yang memutuskan tali hasrat kelelakianku. Meski aku bisa busungkan dada, teriak-teriak bahwa cintaku lebih tulus daripada yang bisa diberi lelaki yang sudah disebut suami oleh Dara. Tidak aka nada yang berubah.

Mencari berbagai cara sampai meringis-ringis dalam shalat malam, agar Tuhan mencabut nyawa lelaki itu. Ini tentu ketololan yang teramat sangat kusadari. Apalagi meminta Pawang Saleh, lelaki tua yang mengerti ilmu hitam yang akrab denganku untuk turun tangan tangan. Oh, tidak! Aku lelaki yang masih waras. Soal rasa tidak akan kubiarkan menyulap cinta menjadi lumpur yang kotori aliran sungai bening nuraniku!

Iya, setelah tiga bulan aku di sana, Dara memilih berani bicara padaku dan terus terang dengan perasaannya dari sejak melihatku.

“Aku yakin, kau tahu perasaanku dari tatapanku padamu? Aku memang merasakan itu. Aku memang merasakan cinta yang teramat kuat padamu. Jauh melebihi perasaanku pada lelaki yang sudah membuatku lahirkan si kecil ini.”

Pengakuan yang nekad ia ucapkan di depan bayi berusia tujuh puluh hari, buah cintanya dengan lelaki yang sering diam-diam kusebut Datuk Maringgih. Ia perempuan berani. Ia bahkan memang berani ucapkan itu di sebuah tempat yang sama sekali tidak tersembunyi. Tempat yang juga menjadi jalan satu-satunya untuk orang kampungnya, dipilihnya untuk tidak mengundang kecurigaan.

Aku tidak menyahuti dengan kalimat penegas bahwa aku juga memiliki perasaan cinta teramat kuat padanya. Tidak, aku memilih untuk tidak tegaskan itu padanya. Aku tahu, perempuan yang memiliki rasa cenderung langsung tidak peduli apa-apa lagi jika yang menjadi tambatan hatinya memberi lampu hijau.

Aku menjadi lelaki autis seketika. Tidak bisa katakan apa-apa. Iya, aku memiliki perasaan yang tidak sedikitpun beda dengan yang ia rasa. Justru, aku tiba-tiba jadi tukang khutbah; “Aku tahu, kau perempuan. Seperti halnya perempuan, kau tidak bermain-main dengan perasaan itu.Tapi kau harus tahu, ada pernikahan yang mengikatmu dengan ayah anak ini. Ikatan itu melibatkan nama Tuhan, Dara. Kau kesampingkan saja perasaan itu. Singkirkan rasa itu…” “Tapi…” “Ingat, Dara. Kau harus bawa dalam pikiran dan hatimu, bayi ini sebagai anak yang lahir dari keringatmu dan keringat lelaki itu. Juga ingat lagi aroma keringat cinta suamimu itu saat menyatu dengan keringatmu setiap kalian bercinta. Aku tahu, perempuan sering kali lebih terkesan pada lelaki pertama yang menyentuhnya!” Beberapa jenak, hening saja. “Kau tidak punya perasaan. Aku juga tahu kau punya perasaan sepertiku. Kau juga mencintaiku, bukan? Kenapa kau tidak mau mengakuinya???” “Uhm, maksudku…” “Tidak! Kau tidak perlu jelaskan ini dan itu. Kau harusnya tahu dan bisa merasakan, kalau aku membayangkan kau akan berani untuk membawa aku lari. Lari sejauh-jauhnya, ke tempat yang tidak pernah dikenal sesiapa juga. Aku yakin kau bisa karena kau lelaki. Kenapa kau tidak lakukan itu!”

Aku merasa sedang berada di pengadilan mendengar kata-katanya yang sudah mulai mengalir bersamaan dengan air mata. Beberapa menetes di wajah bayi di dekapannya. Melihat mata bayi itu, aku malah merenung andai saja bayi ini tahu apa yang sedang terjadi antara aku dengan ibunya itu.

Syukurlah, azan magrib dari meunasah (mushalla) membantu air matanya untuk buru-buru ia seka. Dan, tentu saja menghentikan juga kalimat-kalimat dari bibirnya yang kerap kulamunkan menyatu dengan bibirku itu. Meski senja itu, ia tidak dapatkan jawaban apa-apa dariku, kecuali pendapatku yang lebih mirip khutbah. Alasan-alasanku pasti tidak diterimanya. Bagaimana tidak, meski mulutku isyaratkan penolakan dengan kata-kata berpetuah, tapi hatiku inginkan dia. Aku yakin, ketidak-selarasan mulut dan hatiku itu mustahil bisa mengendap di hatinya untuk kelak bisa hentikan niatnya kuperistri. ***

Dara berumur enam belas tahun saat ia harus menikah. Di kampung itu, ia satu-satunya perempuan yang paling cantik. Aku tahu cerita itu dari Paijal, remaja tanggung anak tetangga yang kerap membantuku habiskan batang-batang rokokku.

“Ayahnya memiliki hutang pada suaminya itu. Jadi, ayahnya tawarkan Dara untuk diperistri dengan maskawin berupa hutang yang sudah tidak sanggup terbayar itu.” Cerita Paijal sama sekali tidak dibumbui untuk sedikit terdengar dramatis olehku. Telanjang saja cara Paijal menceritakannya.

Aku mencoba berhitung. Bukan hanya menghitung berapa batang sudah rokokku dituntaskan Paijal, namun juga jarak usiaku dengan Dara. Dengan bayi kecilnya yang baru beberapa bulan, aku nyaris bisa pastikan sekarang Dara belum sampai dua puluh tahun. Sangat muda. Ingin rasanya mendebat Tuhan sejujur-jujurnya, kenapa yang sudah pernah mendapatkan keperawanan dari istri sebelumnya, lelaki itu masih bisa dapatkan yang lain lagi. Sedang aku?

Ah, aku penakut. Aku memang takut Tuhan memberi jawaban dengan cara-Nya. Cara yang tidak pernah bisa kuterka. Bahkan memang lebih sering Dia memberi jawaban dengan memberi masalah yang benar-benar sangat tidak pernah kuharap. Sampai, aku pernah menyimpulkan, Tuhan itu menyenangi teka-teka sepertinya. Sayangnya, aku baru menguasai tertatih-tatih, hanya teka-teki silang yang ada di Koran-koran. Dua teka-teki yang beda, namun keduanya menuntut jawaban.

Memang iya, yang kerap berkelebat di pikiranku tidak hanya ingin membawa lari Dara sejauh-jauhnya. Akan tetapi aku merasa ingin juga untuk malah membunuh suaminya, saat cintaku untuk Dara kian hari semakin bertumbuh. Alasanku, setiap kelak aku bersama dengan Dara, lelaki itu benar-benar tidak akan pernah terlihat lagi. Sebab kalaupun aku sering menyebut ke dalam pikiranku untuk membawanya lari sejauh-jauhnya, tetap saja tidak jauh-jauh sekali dari kampung ini. Apalagi, aku bukanlah lelaki yang terlalu berani juga untuk berada di kampung-kampung yang jauh dari kota ini.

*** Pulang ke kontrakan yang pintunya tidak pernah kukunci itu. Aku duduk beberapa menit di kursi depan. Kepulkan asap rokok. Sesekali kuciptakan bulatan-bulatan asap yang kemudian pecah di udara. Menatap tanah kosong yang begitu luas di depan. Tanah itu membuatku terasa tersindir.

Iya, tanah kosong yang demikian luas yang dimiliki penduduk kampung ini tidak ada yang menggarapnya. Katanya, dulu itu memang pesawahan yang setelah tsunami datang beberapa tahun lalu tidak ada lagi yang memanfaatkan. Padahal terlalu banyak yang bisa ditanami di sana, kukira. Ada kemiripan tanah itu denganku. Sebuah kemiripan yang bertolak belakang. Namun tetap kusebut mirip.

Tanah itu setidaknya sudah pernah dipakai. Tanah itu sudah pernah merasakan seperti apa rasanya cumbuan cangkul di tubuhnya. Sedang aku, lajang yang belum pernah pergunakan cangkulku! Walaupun sering berdalih bahwa aku masih kuat ke kawan-kawanku yang kerap usil tanyakanku kapan menikah. Lengkap dengan tambahan jawaban,”Pernikahan itu perlu segera dilakukan oleh mereka yang memiliki kesabaran tipis. Aku masih kuat menahan gempuran birahi!” Entah mereka teryakinkan dengan kilahku itu. Hanya saja, aku sendiri tidak bisa meyakini kata-kata sendiri. Sebab, kalimat itu kerap kuluncurkan hanya untuk menutup pertanyaan, kapan kau nikah.

Setelah api rokok kedua kupadamkan dengan menempelkan ke kaki kursi kayu itu. Bersegera masuk ke dalam. Tercekat.

Dara terduduk di kamarku dan bersandar di dindingnya. Entah berapa lama sudah dia berada di sana dan bagaimana ia bisa masuk ke sini. Walaupun memang pintu kontrakan ini tidak pernah kukunci, namun penduduk kampung ini biasanya selalu awas untuk hal-hal seperti ini. Jangan pernah berharap akan ada pecinta yang berani ke rumah siapa pun yang dicintainya di kampung ini. Mereka sudah ciptakan garis yang tidak boleh dilewati. Berdekatan saja dengan lawan jenis di tempat-tempat yang tidak umum, maka palu tudingan maksiat akan langsung jatuh. Disusul arak-arakan massa dengan wajah-wajah garang pemuda kampung. Selanjutnya, air comberan pun bisa menjadi pengganti aroma parfum di tubuh sebagai jawaban jatuhnya palu tuduhan.

Aku berdiri saja di pintu. Aku berkali-kali harus akui, aku pengecut. Cinta tidak bisa membuatku seketika menjadi pemberani, seperti halnya disebut-sebut banyak filsuf; cinta mengubah penakut menjadi pemberani. Aku malah bermain-main dengan bayangan kejadian yang kubaca di Koran-koran. Tentang orang-orang yang dihakimi massa. Disidang di tengah-tengah penduduk yang tidak pernah memusingkan hukum yang seharusnya.

Hukum adat adalah hukum yang termudah untuk mereka jadikan pilihan. Hukum adat yang mudah mereka pelintir. Untuk kemudian dijadikan obat penenang, bahwa di dapur mereka sudah tidak ada lagi beras untuk dimakan anak istrinya. Juga berbagai masalah hidup yang mendera lainnya diakibatkan kemiskinan mereka. Dan, malangnya, orang-orang yang berhasil mereka hakimi sudah dipandang sebagai obat penenang itu! Itu yang selama ini kulihat sebagai latar keberingasan yang kubaca di koran-koran. Paijal, pernah menyebut, kampung ini bisa membuat orang tidak berani bermacam-macam, karena dulu juga melakukan hal itu. Entahlah.

Sekarang Dara sudah tersadar dari keterpakuannya , tidak lagi bersandar di dinding kamarku. Tetapi, ia sudah memeluk kakiku.

Sejurus kemudian, aku merasakan dadanya terguncang-guncang. Dara terisak. Sedangkan aku, paling tidak tahan mendengar isakan tangis perempuan. Terenyuh. Aku juga memilih untuk berlutut.

“Bawa aku…” sangat lirih suaranya,”bawa aku… atau kau bunuh saja aku kalau kau masih memilih bertahan dengan perasaanmu!”

Matanya yang sudah dihiasi air mata benar-benar membuatnya makin terlihat indah. Sekarang aku tahu, air mata perempuan memang diberi Tuhan untuk kian memperindah mata mereka.

Terbawa perasaan. Sampai tidak ada lagi jarak antara bibirku dengan bibirnya. Tenggelam. Entah apa nama yang tepat untuk samudera ini.

“Tuntaskan!” Dara meminta sesuatu yang paling menentukan. Aku bukan pemberani, aku masih tetap seorang lelaki penakut. Matanya sudah menyiratkan desakan. Ia mendesak aku untuk tuntaskan. Ini birahi, bukan sekadar cinta. Aku tidak bisa memahami. Tetapi aku akan mengiyakan andai aku disebut sebagai lelaki tidak waras, karena alasan tidak memberinya satu hal, kelaminku. Padahal, semua yang ada di tubuh Dara akan diakui oleh semua lelaki di seluruh penjuru mata angin: tubuhnya sempurna.

Tidak! Cinta tidak melulu soal penyatuan dua kelamin. Kedewasaan juga tidak hanya diukur dari keberanian memberikan sesuatu yang termahal pada lelaki: kelaminnya sebagai simbol kehormatannya. Aku lelaki kampung. Aku lelaki kampung yang masih percaya dengan hal-hal yang oleh banyak orang disebut sebagai sesuatu yang remeh. Bahkan kawan-kawan dekatku sebagian besar memilih untuk menggauli kekasihnya terlebih dahulu agar mahar untuk ia bisa menikahinya bisa jauh lebih rendah. Penegas, bahwa kehormatan pun sudah menjadi hal remeh. Aku memilih untuk tidak meremehkannya.

Saat aku sudah bergeser menjauh dari tubuhnya yang setengah terbuka.

“Dani, selesaikan ini!” suaranya sudah tidak lagi berupa bisikan seperti sebelumnya tadi yang sempat membuat birahiku meninggi. Ia malah mengulangi permintaannya itu. Sebuah permintaan yang menurutku gila. Pikiran kolotku menyebut itu gila. Tidak! Cinta tidak diberikan untuk yang gila. Orang-orang gila tidak akan pernah bisa merasakan cinta. Aku yakini itu walaupun penyair menyebut pecinta yang sebenarnya adalah mereka yang memilih untuk gila demi cintanya. Suara Dara sudah menjadi teriakan. Ia histeris.

Ini tidak boleh terjadi. Kalau sampai diketahui orang-orang sekampung, aku pasti harus menerima aib berupa tudingan yang bisa dipastikan berlebihan dari yang seharusnya.

Tangan kekarku sudah membekap mulutnya. Maksudku hanya untuk membuat ia tidak berteriak. Kubekap kuat. Dara meronta. Membuat tanganku harus kian kuat menutupi mulutnya dari sisi belakang kepala perempuan ini.

Beberapa menit Dara masih mencoba meronta. Aku masih tidak melepaskan karena ketakutan ia akan berteriak lagi. Kukira cintanya padaku sudah membuat ia benar-benar gila.

Tunggu! Dara sudah tidak lagi meronta. Ia diam. Dara benar-benar terdiam! Aku alihkan inderaku yang dari tadi yang hanya lebih memperhatikan kemungkinan penduduk kampung mendatangi kontrakan ini. Akibat tercekam ketakutan kuat pada bayangan palu sidang mereka.

Aku mulai perhatikan wajah Dara. “Tidak! Dara belum mati! Jangan … jangan mati.” Mata Dara yang melotot cukup menjadi penjelas: Dara benar-benar mati! “Tidak! Dara belum mati. Ayo, jangan mati. Hidup lagi… Dara!!!” “Aku nanti pasti nikahi kau, Dara. Hidup lagi Dara!” Sudah tidak kupedulikan seberapa keras sudah teriakanku. Teriakan untuk membantah keyakinan bahwa Dara memang sudah benar-benar mati. Sekaligus teriakan yang kukira bisa membuat Tuhan berlunak hati untuk hidupkan lagi. “Dara, kau bukan istri dia. Kau akan kujadikan istriku! Bernafaslah sayang!” Histerisku melebih histerisnya tadi. “Dara! Kau belum mati!!!” Plakkk! Buk!

Ah, pemuda-pemuda kampung itu sudah benar-benar hadir ke kontrakanku, ke kamarku ini. Benar-benar tanpa kusadari sama sekali.

Tendangan di kepala. Punggung. Nyawaku terasa hilang saat salah satu dari mereka mengayunkan kaki sekeras-kerasnya ke arah kelaminku. Sekali. Dua kali. Mereka terus menerus arahkan kaki ke kelamin yang tadi kutolak berikan untuk Dara.

Beberapa lama, aku masih bisa merasakan seperti apa sakitnya pukulan mereka. Setelah pukulan yang sudah tidak bisa kuhitung lagi. Semuanya gelap sudah. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Aku merasa terbang. Jauh. Sangat jauh. Sepertinya ini benar-benar perjalanan yang sejauh-jauhnya yang bakal kutempuh. -------------------------

Tentang Penulis: Zulfikar Akbar: Pegiat media di Kompas Cyber Media. Salah seorang penulis buku Hasan Tiro: Unfinished Story of Aceh, dan 2 antologi puisi Kemayaan dan Kenyataan dan Antologi Tsunami Kopi. FB: facebook.com/zoelf.achbar Twitter: @zoelfick YM: fick_cyber Blog http://fick-cyber.blogspot.com
Share93

Apakah Kau Bisu?

Sediam itukah kau? Sesenyap ruang hampa? Menangkap gelagatku pun sepertinya kau tidak. Kau tahu, butuh kekuatan besar untuk merantaskan tali-tali pengikatku yang telah membelit sepanjang usiaku untuk dapat membuka diri kepadamu. Dapatkah kau sedikit menghargai itu?

Kau tetap hanya tersenyum; tarikan bibirmu dalam pandanganku adalah rentangan tali busur para kurcaci pemburu yang mengincar buruannya, rambutmu yang memuntir berkilau keemasan, seperti aliran sungai dibelakang rumahku yang pecah terpantul warna keemasan matahari sore.

Apakah kau bisu? Sekedar sapa pun tiada buatku, lelaki yang selalu mencoba untuk berada lebih dekat kepadamu. Lelaki yang tiap hari terpacak di seberang tempatmu berdiri, bersandar pada pagar taman, memperhatikan kesibukan orang-orang berlalu-lalang.

Akulah lelaki yang itu.

Aku telah mengenalmu sejak lama dan selalu memandangimu dari kejauhan. Kau pun mestinya demikian karena kita selalu saling berhadapan dari jarak itu dan akulah selalu yang pada akhirnya memalingkan wajah karena malu. Entahlah denganmu, kau hanya masih berupa misteri buatku dengan diammu.

Maka, saat beberapa waktu yang lalu kau tiada di tempat kau biasa berdiri, aku seperti menjadi hilang akal dan panik. Entahlah, awalnya aku memang tidak mengerti, tapi yang sebenarnya aku rasakan; tanpa memandangimu segalanya tiada akan sempurna lagi walau sesempurna apapun segalanya.

Waktu itu dengan tegang aku berlari mendapatkan tempatmu, tempat di mana kau biasa berada. Dengan kebisuanku, aku mencoba menanyakan mengapa kau tiada hari itu. Menggambarkan pada mereka tentang sosokmu, perempuan yang telah mencuri hatiku kepada semua orang yang kutemui dengan isyaratku. Dahi-dahi mereka kebanyakan berkerut menanggapiku.

Mereka pastilah telah mengenal aku, lelaki bisu yang biasa terpacak di seberang, tapi mereka tak dapat mengerti kepanikanku itu. “Maksudmu, kau mencarinya?” tanya seseorang.

Aku mengangguk dan kulihat dahinya berkerut. Lalu dia, yang belakangan kutahu sebagai penyelia di tempat itu, bertanya lagi dengan hati-hati: “Untuk apa mencarinya?”

Lalu kujelaskan padanya dalam kebisuanku betapa aku adalah seorang lelaki yang selalu terpacak di seberang, bersandar pada pagar taman dan memperhatikan kesibukan orang-orang yang berlalu-lalang. Aku telah terbiasa memandangimu dari kejauhan dan sangat kebingungan ketika hari itu aku tak dapat menemukanmu. Walaupun hanya sedikit yang ditangkapnya, sepertinya orang itu mengerti.

“Tapi…” kalimat yang hendak diucapkannya terputus karena seseorang yang lain telah menggamit lengannya lalu membisikkan sesuatu di kupingnya dan sebentar-sebentar ekor matanya jatuh padaku. Penyelia itupun kemudian mengangguk-angguk dan memandang padaku dengan iba. “Hari ini kau tidak akan bisa menemukan yang kau cari, tetapi besok pastilah kau temukan. Kau mengerti apa yang kukatakan? Kau bisu tetapi tak tuli, bukan? Nah, sekarang kau pergilah.”

Aku hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam, karena saat itu adalah saat pertama aku tidak bisa memandangmu dan aku benar-benar sangat kehilangan. Betapa sunyinya. Aku tidak ingin perasaan yang demikian berkelanjutan. Maka sejak itu pula aku bertekad akan berusaha sepenuh hati untuk memperkenalkan diri padamu.

Ya, sejak hari kepanikanku itu aku menjadi berani untuk mendekatimu, berdiri di hadapanmu dan tak lagi hanya memandang dari kejauhan tanpa peduli pula dengan orang-orang yang memandang dengan berbagai macam kesan. Setiap hari aku mendatangimu, setiap hari mengajakmu berbicara dengan isyaratku, setiap hari memegang tanganmu untuk menunjukkan perasaanku.

Tapi, apakah kau bisu? Telah ratusan hari aku mendapatkanmu di sini dan kau selalu hanya diam. Hanya pandangan matamu sajalah yang meyakinkan hatiku bahwa kau mengerti dan membuatku makin merasa dekat denganmu. Bukankah sebenarnya kau tak bisu?

Sehingga hari ini telah kukeraskan hatiku untuk mengungkapkan perasaanku padamu. Dengarlah. Tahukah kau? Aku mencintaimu. Ya, aku mencintaimu dalam kebisuanku. Jadi tolong jangan sambut aku dengan kebisuan pula. Setidaknya katakanlah sesuatu atau berilah isyarat tertentu. Jangan pedulikan orang-orang di sekitar kita yang selalu memandang dengan ekspresi yang aneh atau bahkan menertawakan. Biarkan saja. Mereka hanya menertawakan aku, bukan kau. Karena aku yang mereka tahu adalah seorang lelaki bisu yang biasa terpacak di seberang, bersandar pada pagar taman dan memperhatikan orang-orang berlalu-lalang juga memperhatikanmu. Mereka hanya menertawakan kebodohan dan kebisuanku, bukan kau.

Aku mencintaimu dengan kedalaman hatiku dan semua gemuruh-gemuruhnya, dengan aliran darahku ataupun geletar-geletar terujung dari saraf-sarafku. Karena itu, jawab aku. Bukankah kau tak bisu? Bicaralah. Atau kau sebenarnya hanya berniat untuk menyeimbangkan perbedaan kita dengan sengaja untuk tidak hendak berbicara? Tidak perlu seperti itu, sungguh, jawablah aku.

Hari berganti dengan malam setiap harinya dan aku selalu harus pulang tanpa mendapat sebuah isyaratpun darimu. Ucapan selamat malamku kini pun tetap tak kau jawab, sama seperti hari-hari yang lalu. Tapi tak mengapa. Esok aku akan tetap berada di sini lagi seperti kemarin atau hari-hari sebelum kemarin atau hari-hari sebelum hari-hari sebelum kemarin. Mungkin suatu waktu nanti dapat kau tangkap geleparku, karena jikapun kau memang tak hendak membuka pintumu, pastilah telah pernah kudengar kertap pintumu itu.

Selamat malam.

Di depan pertokoan itu aku kembali memandangmu sepuasnya sampai lampu-lampu mulai dipadamkan dan pintu geser berderit keras menutup malam, menyembunyikanmu. Malam ini bukanlah yang terakhir buat kita, bisikku dalam kebisuanku. Aku berjalan pulang.

Di belakangku, kudengar seorang penjaga malam pertokoan itu berkata kepada kawannya: “Orang bisu itu pasti akan berada di sini lagi esok. Entahlah, sepertinya dia akan selalu mencoba menguraikan kebisuan antara mereka; dia dan manekin* itu.” ***** * manekin: boneka seluruh tubuh atau setengah badan, seringkali dapat dilepas-lepas, untuk memamerkan pakaian jadi di toko-toko

Air Matamu, Air Mataku, Air Mata Kita

Ketika kamu bercerita tentang apa yang dilakukan lelaki tua itu terhadapmu, kita menangis bersama dalam sebuah kamar bermandikan cahaya. Hujan di luar telah mengembunkan kaca jendela sehingga membuatku ingin menggoreskan namaku dan namamu di permukaannya. Cahaya lampu kendaraan bergerak buram di bawah sana. Dari gerak cahaya yang lamban dan kadang berhenti, aku tahu kemacetan sedang terjadi. Hujan selalu menimbulkan kemacetan, tetapi air mata kita telah melegakan rongga dada. Dadaku dan dadamu. Dada kita tak jauh beda.

Lelaki itu kamu panggil Ayah John karena perbedaan usia membuatmu lebih sesuai menjadi anaknya. Dia adalah atasanmu di sebuah perusahaan farmasi. Dia memperlakukanmu seperti anak, meskipun sudah memiliki empat anak perempuan di rumahnya. Dia memanjakanmu dengan semua kelebihan yang dimilikinya. Menyewakan sebuah rumah buatmu dengan seorang pembantu dan seorang sopir, tapi dia selalu menjemputmu dari rumah ke kantor dan mengantarmu dari kantor ke rumah. Sopir hanya bekerja kalau Ayah John sedang ada tugas keluar daerah, sehingga dengan waktu yang demikian panjang, sopir menyambi kerja sebagai tukang ojek.

Kalau ada tanggal merah terutama di akhir pekan, dia mengajakmu berlibur ke Bali, Yogya, Lombok dan beberapa daerah lainnya di dalam negeri. Keluar, kalian hanya mengunjungi Singapura, Malaysia dan Thailand karena waktu yang sempit. Namun Ayah berjanji akan membawamu ke sebuah negara di Eropa nanti. “Aku harus menabung untuk itu. Yakinlah apa pun akan kulakukan untuk membuatmu bahagia,” kata Ayah John kepadamu dan aku mendengarkannya dari bibirmu.

Kamu pun bahagia, setidaknya sampai saat itu. Ayah John memberikan semua yang tidak kamu dapatkan di rumah. Sebagai balasannya kamu memberikan semua yang kamu miliki termasuk kehormatanmu. “Ayah John akan menjadi suamiku. Aku tak peduli jadi istri kedua, itu hanya masalah angka. Aku ingin memiliki anak dari Ayah John.”

Di luar rumah dia memperlakukan kamu seperti anaknya sendiri. Di dalam rumah ia memperlakukan kamu seperti istrinya sendiri. Akhirnya kamu hamil sebelum Ayah John sempat menikahimu. Untuk menenangkanmu dia hanya berjanji segera menikahimu setelah kesibukannya di kantor selesai. Kamu yakin itu benar adanya sampai kemudian kamu menemukan beberapa tablet kecil obat peluruh kandungan dalam mobilnya. Ketika kamu tanyakan, Ayah John berdalih mobilnya dipakai teman dan obat itu milik temannya. Kamu tidak percaya dan kalian bertengkar hebat. Saat itulah Ayah John memukul perutmu. Pukulan untuk pertama kali tapi dilakukan beberapa kali. DIa tak berhenti menangis histeris. Semakin kencang tangisanmu, semakin keras pukulannya.

“Aku tidak tahu apakah itu pukulan seorang ayah terhadap anaknya atau pukulan suami terhadap istrinya. Tapi aku tidak percaya Ayah John melakukan itu.”

Ketika memeriksakan diri ke dokter kandungan, kamu baru menyadari kandunganmu sudah hancur. Ternyata kamu sudah meminum banyak obat peluruh kandungan yang dilarutkan Ayah John dalam minuman kamu, jauh sebelum kamu menemukan sisa obat itu dalam mobilnya. Dokter mengatakan kamu harus dikuret dan dia bertanya apakah kamu sudah menikah.

Kamu mengangguk di tengah kegalauan yang melanda.

“Saya akan memberi rekomendasi untuk dikuret,” kata dokter itu.

Kamu pulang bukan saja dengan kandungan yang hancur, tetapi juga hati yang lebur. Pupus sudah impianmu untuk memiliki anak dari Ayah John. Isi rahimmu dikosongkan sekosong hatimu. Lalu Ayah John pun pergi darimu tanpa pernah mengatakan apa pun. Rumah kontrakan tidak dibayar lagi, pembantu pulang kampung dan supir sepenuhnya bekerja sebagai tukang ojek karena mobil ditarik Ayah John. Bahkan kemudian kamu pun dikeluarkan dari tempatmu berkerja dengan alasan yang tidak kamu pahami dan tanpa pesangon. Ayah John tidak pernah menjawab panggilan teleponmu. Pesan-pesanmu tak pernah ditanggapinya. Semua kemanisan hidup bersama Ayah John berubah menjadi pahit, lebih pahit dari obat yang diam-diam dilarutkan Ayah John dalam minumanmu.

Dalam keputusasaan itu, kamu kembali ingat masih memiliki keluarga. Kamu kembali kepada keluarga hanya untuk membuat hatimu semakin hancur. Bapak dan ibu menerimamu kembali tetapi tidak mau turut campur dalam persoalanmu karena sudah mengingatkan jauh-jauh hari. Mereka bahkan tidak pernah mau mendengarkan penderitaanmu akibat perlakuan Ayah John karena menganggapmu sudah cukup dewasa menanggungnya sendiri.

Itu kata-kata yang pernah kamu ucapkan ketika kamu pergi dari rumah untuk hidup bersama Ayah John. “Ayah John bukan saja telah membunuh bayiku, tetapi juga membunuh jiwaku.”

Kamu mengucapkan itu dengan air mata yang mengalir di pipi sambil menatap air hujan mengalir di permukaan kaca. Aku memelukmu dari belakang dan mencium pipimu penuh perasaan. Air mata kita menyatu seperti tubuh kita. Ketika pernyatuan itu terjadi, bahkan diriku dan dirimu tak bisa membedakan mana air mataku dan mana air matamu. Keduanya mengalir di pipiku dan di pipimu menjadi air mata kita.

***

Ketika kamu bercerita tentang apa yang kamu lakukan terhadap lelaki itu, aku menangis sendiri di dalam kamar yang minim cahaya. Tidak ada hujan di luar sana, tidak ada kemacetan dan tidak ada kamu di sini. Hanya ada aku, hati yang patah dan air mata.

Dua tahun kalian menjalin hubungan, jauh lebih lama dibandingkan denganku yang baru dua bulan. Dua tahun bukanlah perjalanan cinta terlama yang pernah kamu lewati. Masa tujuh tahun penuh cinta, tapi dua tahun itulah yang paling berkesan sepanjang hidupmu.

Di kamar sama, kita memulai percakapan soal masa lalumu, masa laluku serta masa depan kita. Kamu tidak bisa datang malam ini karena “ingin mengujungi saudara yang sakit”. Aku menelpon sabelum kamu berangkat. Kita berecerita tentang aroma dan lagu, dua hal yang bisa membangkitkan memori ke masa lalu. Aroma dan lagu mengundang kenangan, kita bersepakat soal itu.

Aku pun menyemprotkan aroma lemon yang lembut ke seluruh tubuh agar bisa mengingatkanmu sampai di dalam tidur. Aku ingat aroma tubuhmu saat kita menangis bersama dan kuyakin itulah kenikmatan terbesar dalam hidupku. Kejadian itu lebih kuat terpatri bahkan bila dibandingkan dengan desahan kita di kamar mandi.

Setelah mengucapkan janji untuk tetap mencintaiku, suaramu lenyap dari telinga tetapi tetap melekat di hatiku. Aku tidak pernah menyangka itulah kata cinta terakhir yang kudengar darimu. Malam itu aku membawa kerinduanku ke keramaian, berharap lelah datang dan pulang dengan kantuk yang mengundangmu lebih cepat dalam impianku.

Sampai hari berganti dan kamu tak hadir dalam mimpiku, kabar darimu belum juga datang. Aku harus menghubungimu karena didorong rasa rindu yang tak tertahankan. Panggilan pertama sampai panggilan yang tidak dapat kuingat tak juga mendapat tanggapan dari kamu. Aku mengirim pesan dan tidak mendapatkan jawaban. Haruskah kudatangi rumahmu untuk mengetahui apa yang terjadi?

Kamu pernah mengundangku ke rumah dan memperkenalkanku kepada orang tuamu dan ketiga adik lelakimu. Kamu anak perempuan satu-satunya dan sebagai anak sulung orangtuamu mengharapkan kamu bisa menjadi contoh yang baik bagi adik-adik. Kamu diharapkan menjadi tulang punggung keluarga bukan tumpuan tulang selangka Ayah John. Itulah kedatanganku yang pertama sekaligus yang terakhir. Kamu melarangku datang lagi karena kedua orang tuamu tidak merestui hubungan kita. “Bagaimana mereka bisa tahu hubungan kita? Kamu menceritakannya? Bukankan kita sudah sepakat akan merahasiakan sampai mereka dan dunia tahu dengan sendirinya?”

“Aku masih ingat dengan kesepakatan itu. Tapi aku tak ingin mereka tahu lebih cepat.”

“Mereka takkan tahu kalau kamu tidak menceritakannya. Keluargamu mengira kita hanya sahabat. Dunia juga mengira kita sepasang sahabat.”

“Aku bisa membohongi perasaanku dengan kata-kata, tapi tidak dengan mataku.”

Aku menyukai kekhawatiranmu itu dan percaya memang karena itulah kamu melarangku ke rumah lagi. Kalau sekarang aku nekat ke rumahmu untuk mengetahui apa yang terjadi, apakah kamu akan marah?

Panggilan kamu datang ketika aku berada dalam kebimbangan. Aku menyambut suaramu dengan gembira, tetapi kemudian kamu membawa kabar duka. Ayah John kena stroke. Ketika aku mendengar itu pertama kali aku malah menduga itulah kabar gembira sesungguhnya. Kemudian kamu mengatakan dengan jujur selama ini kamu berada di rumah sakit untuk merawat Ayah John.

“Mengapa harus kamu? Bukankah sudah ada keluarganya?”

“Ayah John yang mengharapkan aku datang. Kami merawatnya bersama.”

“Kami?

“Aku, istri Ayah John, dan ke empat anaknya.”

Aku masih belum dapat memahami. Bahkan setelah kamu menjelaskan panjang lebar kalian (kamu, Ayah John, istrinya dan anak-anaknya) sudah berdamai dan sepakat melangsungkan pernikahanmu dengan Ayah John. Itu janji yang akan dipenuhi setelah Ayah John benar benar sembuh.

“Ayah John pernah mengucapkan janji yang sama dulu. Tapi dia mengingkarinya…”

“Beda, sekarang janji di depan keluarganya sendiri dan semuanya menerima. Kami sekarang seperti sebuah keluarga.”

Kamu percaya dengan janji dan perubahan yang cepat sehingga suaramu terdengar sangat bahagia ketika mengucapkan itu. Kamu tidak peduli dengan hariku yang terluka sehingga dengan enteng mengatakan hal itu seperti mengabarkan sebuah berita ada film bagus yang main malam ini.

“Kenapa?” aku mulai tidak mampu mengendalikan emosi setelah sekian lama terdiam, “mengapa kamu lakukan ini kepadaku?

“Maaf, sayang. Aku tahu ini membuatmu sakit. Tapi aku harus mengatakannya. Aku menginginkan seorang anak dari rahimku sendiri.”

Kita pernah sepakat mengadopsi bebrapa anak saat kita hidup bersama. Masihkan kamu ingat dengan semua itu?

Suaramu lalu lenyap dari telingaku dan luka hatiku semakin menganga. Aku tidak percaya kamu melakukan semua ini kepadaku, apa pun alasannya. Kamu membunuh jiwaku dengan membuka kembali cinta lama yang ingin kamu kubur di dasar hatimu paling dalam. Jiwaku baru saja mati tetapi jiwamu baru hidup kembali.

Malam mulai beranjak tua tapi aku masih duduk di tepian ranjang sambil terus menangis. Aku ingin kamu berada di sini dan kita menangis bersama sampai air mata kita menyatu seperti dulu

Pring Re-ke-teg Gunung Gamping Ambrol

Ribuan orang baik-baik telah berkumpul di atas bukit, siap menyerbu perkampungan para pencuri, perampok, pembunuh, dan pelacur, yang terletak di tepi sebuah sungai yang mengalir dan berkelok dengan tenang, begitu tenang, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih tenang, yang memantulkan cahaya kemerah-merahan membara di langit meskipun matahari sudah terbenam.

Ribuan, barangkali lebih dari sepuluh ribu, sebut saja beribu-ribu orang baik-baik telah siap dengan segenap senjata tajam, parang-golok-kelewang, tombak, linggis, pentungan besi, rantai, alu, kayu, maupun badik yang lekuk liku dan geriginya jelas dibuat agar ketika ditusukkan mampu menembus perut dengan mulus, dan ketika ditarik keluar membawa serta seluruh isi perut itu tanpa dapat dibatalkan.

Beribu-ribu orang baik-baik, tiada satu pun tiada membawa senjata, tampak sangat amat siap menggebuk dan menyabet, mencincang dan membantai, memenggal dan menyembelih, bagai tiada tujuan lain dalam hidup ini selain melakukan pembunuhan dan tiada lain selain pembunuhan. Orang baik-baik yang sebelumnya tampak sebagai orang-orang yang selalu ketakutan, karena memang penakut dan pengecut jika sendirian, mendadak bagai kerasukan setan ketika melebur dalam jumlah ribuan.

Terdengar dentang parang saling diadukan seperti tiada sabar lagi untuk ditetakkan, suara kelewang diasah pada batu basah demi jaminan betapa darah pasti akan tersemburkan, semua orang sibuk dengan alat-alat pembunuhan, senjata tajam maupun senjata tumpul, yang telah disahihkan untuk memberlangsungkan pembinasaan.

Sebentar lagi, tepat pada saat hari menjadi gelap, telah disepakati menjadi waktu penyerbuan.

”Jika mereka masih tidak mau menyerahkan pemerkosa itu,” kata seseorang sambil mengacungkan pentungan, “perkampungan itu harus dibakar.”

Disebutkan betapa anak perempuan Pak Carik telah diperkosa. Ia ditemukan terkapar di jalan keluar desa setelah hilang semalaman. Para penggali kapur yang berangkat pada pagi hari berembun segera membawanya kembali ke desa, yang segera saja menjadi gempar. Mirah, kembang desa sederhana, tetapi yang justru karena itu layak dipuja, telah dihinakan begitu rupa sehingga nyaris tak bisa menangis dan tak bisa berbicara.

“Siapa mereka, Mirah? Siapa?”

Pak Lurah yang berkumis melintang tampak begitu berang, bertanya terus sambil memaksa, karena baginya penghinaan ini bukanlah hanya penistaan kepada seorang perawan umur 16 tahun yang diperkosa, melainkan juga penghinaan kepada desa. Pak Carik sendiri, ayah dari korban yang tak bisa bersuara, kaku beku membisu seribu bahasa.

“Katakan Mirah, katakan! Supaya aku tidak membunuh sembarang manusia!”

Wajah Mirah sulit diceritakan, karena perasaan yang terbayang di wajahnya pun mustahil diterjemahkan. Namun cerita para penggali kapur tentang kain dan kebayanya yang koyak moyak dan centang perenang, tanpa harus bernoda darah segala, bagi orang-orang desa itu sudah lebih dari segala pengungkapan.

Sebetulnya belum jelas bagaimana Mirah bisa ditemukan terkapar pada pagi hari di tempat itu. Di desa terpencil seperti itu, anak gadis seperti Mirah pasti sudah berada di dalam rumah pada pukul enam sore. Untuk berada di sana, seseorang atau beberapa orang, harus menculiknya—dan pikiran semua orang memang Mirah itu pasti diculik, diperkosa di tengah jalan itu, lantas dibuang…

Tepatnya lebih baik begitu, supaya terdapat pihak yang bisa diganyang.

Tidak jelas juga mengapa kecurigaan dan kesalahan harus dialamatkan kepada perkampungan para pencuri. Namun beberapa saat lagi, ribuan orang yang merupakan gabungan duapuluh desa di sekitar pegunungan kapur itu sudah akan menyerbu perkampungan.

***

“Seandainya pun tidak ada peristiwa pemerkosaan ini, perkampungan candala itu memang sudah lama harus dibakar,” kata Pak Lurah kepada Jagabaya yang hanya bisa mengangguk-angguk tanpa kata. Sebagai penjaga keamanan ia tahu diri betapa selama ini hanya menjadi tertawaan para pencuri, perampok, pembunuh, dan pelacur yang menghuni perkampungan itu.

Jalan keluar itu memang terarah menuju perkampungan di bawah sebuah bukit kapur, tetapi penduduk desa tidak pernah menapakinya turun ke sana, melainkan percabangannya yang menuju ke atas, tempat mereka melinggis dinding-dinding di bukit kapur, dan mengumpulkan bongkahannya yang menggelinding. Batu-batu kapur yang putih kekuning-kuningan telah lama menjadi sumber kehidupan mereka, sampai mereka lupa sebelumnya orangtua mereka mendapatkan penghasilan darimana.

Di pegunungan kapur tidak ada sawah, jadi nenek moyang mereka, bahkan sampai kepada orangtua mereka yang beberapa di antaranya masih hidup, tentu mempertahankan kehidupan dengan segala cara. Mulai dari berburu dan menjerat binatang, mencari ikan di sungai, dan sekadar berkebun di tengah hutan supaya ada yang bisa dimakan. Bagi mereka yang belum pernah melakukan perjalanan keluar desa, dijamin tidak pernah mengunyah nasi dan sudah cukup bahagia dengan ubi.

Ketika jalan aspal dibuat nun di balik pegunungan kapur, dan dari jalan aspal itu muncul sejumlah truk yang bersedia membeli dan mengangkut bongkahan batu-batu kapur, tidak kurang dari duapuluh desa sampai hari ini hidup dari penggalian kapur. Dalam waktu empatpuluh tahun wajah pegunungan itu sudah berubah. Apa yang semula tampak sebagai pegunungan dengan punggung bukit memanjang, separuhnya kini lebih terlihat sebagai dinding-dinding tegak lurus dan jurang-jurang baru yang terbentuk karena penggalian. Maka jalan setapak bisa juga berarti jalan setapak dengan jurang dalam di sisi kiri dan kanan …

Pada jalan setapak seperti itulah Mirah ditemukan.

“Ini saat yang tepat untuk membasmi mereka,” ujar Pak Lurah berulang-ulang.

Dengan datangnya truk-truk pengangkut bongkahan batu kapur, sedikit demi sedikit datang pula orang-orang dari luar desa, yang jika tidak ikut menggali atau membuka warung makan bagi para pekerja, di antaranya ada pula yang menjadi perantara pembelian bongkahan batu-batu, membuka kios rokok dan sampo untuk membersihkan rambut dari serbuk-serbuk kapur, dan sejumlah pekerjaan yang tidak begitu dipahami penduduk desa. Di antara pekerjaan itu antara lain menyewakan pengeras suara dan televisi untuk menyanyi-nyanyi. Adapun mereka yang menyewa pengeras suara dan televisi itu dilayani perempuan pekerja yang menyediakan minuman, ikut menyanyi, dan hampir selalu tersenyum dengan amat sangat manis sekali.

Senyuman itu juga dipermasalahkan penduduk desa, karena tidak dianggap sebagai senyum keramahan melainkan senyum rayuan.

“Senyum rayuan beracun!”

Kata orang-orang yang merasa wajib menjaga kesucian di setiap desa orang baik-baik.

Sebetulnya hanya para penggali kapur dari luar desa sajalah yang dalam kesepian dan keterasingan alam pegunungan kapur datang ke sana untuk melewatkan waktu. Namun pemandangan orang menyanyi dan tertawa-tawa rupanya memberikan perasaan tidak menyenangkan bagi orang-orang yang merasa dirinya suci.

“Lagipula, siapa bilang penduduk desa suatu hari tidak akan pernah tergoda?”

Tentu saja senyum yang manis adalah senyum yang manis. Apalagi jika itu senyuman yang manis sekali. Manusia yang bermata dan berhati tidak akan terlalu keberatan, jika suatu ketika secara suka rela merasa lebih baik tergoda sahaja.

Mirah masih terpaku beku tanpa suara. Pandangan matanya sungguh tanpa makna, bagaikan mata itu terbuat dari kelereng layaknya. Sebetulnya tidak ada kesimpulan yang bisa diambil dari pandangan mata seperti itu. Namun tergeletaknya anak Pak Carik di jalan keluar desa yang mengarah ke perkampungan itu bagai telah menyimpulkan sesuatu.

Memang benar, apabila ada pencurian, perampokan, bahkan pembunuhan, selalu saja kecurigaan terarah ke perkampungan itu. Memang benar pula betapa tiada pernah ada bukti, karena kambing yang lenyap dari kandang tak meninggalkan jejak, begal menyambar dan menghilang pada remang senja bagaikan bayangan, dan mayat korban selalu merupakan buangan dari desa takdikenal yang tidak pernah menunjuk langsung siapa pembunuhnya. Betapapun kali ini seperti terdapat kesepakatan tanpa perlu peresmian, bahwa perkampungan itu sudah waktunya dimusnahkan, jika perlu bahkan tanpa alasan!

Kebencian, ya kebencian yang tidak mungkin dicari alasannya, adalah satu-satunya alasan itu sendiri…

Orang-orang luar, orang-orang yang berbeda, orang-orang yang tidak mungkin sepenuhnya dimengerti, menimbulkan kebencian karena selalu tampak menyanyi dan tertawa-tawa.

Telah dikirimkan Jagabaya yang selalu gagal menjaga datangnya bahaya itu ke sana, dengan tugas meminta penyerahan sang pemerkosa.

Jagabaya itu, yang sejak awal sudah selalu ragu, pulang dengan tangan hampa.

“Apa kata mereka?”

Jagabaya pun menirukan jawaban kepala perkampungan di bawah sana.

“Pemerkosa? Tidak ada pemerkosa di kampung ini! Mungkin kami memang sebangsa candala, tetapi kami sama sekali tidak perlu memperkosa siapapun di luar kampung ini untuk mendapatkan cinta, karena di kampung ini cinta macam apapun setelah dibagi rata masih selalu bersisa. Tidakkah kalian sadari betapa semua perempuan memang pelacur di kampung ini? Dan perempuan kampung ini sudah jelas senyumannya manis sekali, baik kepada orang luar, apalagi kepada saudara candalanya sendiri! Tuduhan apalagi yang ingin ditimpakan kepada kami? Kami telah membuka warung makan dan kami telah membuka kios rokok maupun sampo maupun sabun untuk membasuh debu-debu kapur, tetapi kalian rupanya lebih suka menganggap kami sebagai candala! Katakan kepada bangsamu, bangsa orang-orang yang menamakan dirinya orang baik-baik itu, kami tidak takut mati, karena apapun yang kami lakukan selalu kami pertanggungjawabkan dengan seluruh hidup kami!”

Dalam keremangan, tetap saja terasa betapa wajah Pak Lurah merah dan padam.

“Dasar bejad!”

Ia mengangkat pedangnya bagaikan Drestajumena bersiap memimpin balatentara Pandawa dalam Perang Bharatayudha. Langit yang tadi kemerah-merahan dan membara sekarang memang sudah gelap. Perlu waktu sehari penuh untuk berkeliling dari desa ke desa, meyakinkan setiap lurahnya untuk ikut membasmi kampung candala.

“Serbu!”

Maka ribuan orang baik-baik dari duapuluh desa yang mengelilingi bukit bersama lurahnya masing-masing segera menyerbu ke bawah dengan senjata di tangan. Mereka berlari dalam gelap sambil berteriak-teriak, sebagian besar untuk menutupi ketakutannya sendiri. Ada yang tersandung batu dan jatuh tertelungkup lantas mati terinjak ribuan penyerbu di belakangnya. Ada yang menahan lari karena takut mati tetapi terseret dan terpaksa melaju ke depan jua. Ada pula yang menyerbu dengan semangat tekad bulat seolah-olah memang membela keadilan dan kebenaran, meski jika diamati jelas tidak menguasai cara bertempur sama sekali. Namun dalam kegelapan segala perbedaan hanya melebur dalam gelombang serbuan penuh amarah, karena berita yang tersebar dari mulut ke mulut bahwa Mirah putri Pak Carik telah diperkosa. Siapa lagi pelakunya jika bukan begundal dari kampung candala?

***

Syahdan, di perkampungan takbernama di tepi sungai yang mengalir dengan tenang dan berkelok yang selama ini dikenal sebagai kampung tempat bermukimnya para pencuri, perampok, pembunuh, dan pelacur, tampak semua orang dengan wajah sungguh-sungguh telah bersiap menyambut penyerbunya. Mereka tidak perlu berteriak-teriak dan hanya dengan saling memandang telah sangat siaga. Jumlah mereka tidak sampai seratus orang, tetapi wajah mereka tidak menunjukkan ketakutan sama sekali.

Nyaris tidak ada seorangpun yang memegang senjata karena apapun yang dipegangnya bisa menjadi senjata yang sangat berguna. Ada yang memegang batang kayu, ada yang memegang gagang sapu, dan ada pula yang cukup memegang sebatang lidi. Para pelacur yang senyumnya manis, begitu manis, bagaikan tiada lagi yang lebih manis, ada yang tampak mengebutkan selendang dan ada pula yang menggenggam ratusan jarum.

Tidakkah segenap orang baik-baik itu menyadari, betapa tindakan mereka itu seperti bunuh diri sahaja? Tidakkah mereka sadari, betapa para candala, jika memang candala, dan tiada lain selain candala, yang selalu terpinggirkan dari zaman ke zaman, tentulah jauh lebih siap menghadapi pertempuran terbuka daripada mereka, meskipun dikeroyok orang baik-baik begitu banyaknya? Tidakkah telah sering mereka bicarakan juga, meskipun tak pernah dan tiada akan pernah dengan bukti nyata, betapa para candala sebagai manusia memang digjaya dengan segala mantra sirep, tenung, teluh, kebal tubuh, dan setelah merapal ilmu halimunan bila perlu dapat menghilang bersama senja?

Tidakkah ribuan orang baik-baik yang menyerbu bagaikan air bah ke bawah menuju perkampungan candela di pegunungan kapur itu taksadar, setaksadartaksadarnya, betapa batang kayu, gagang sapu, dan sebatang lidi itu sekali digerakkan, sembari melenting-lenting di atas kepala, akan memakan korban jiwa, setidaknya ratusan dari mereka dalam seketika? Begitulah, ribuan orang baik-baik yang sedang berteriak-teriak sambil berlari-lari itu, betapapun tidaklah pernah membayangkan, bagaimana selendang yang halus dan wangi itu akan dapat memecahkan kepala, dan betapa ratusan jarum dalam genggaman akan melesat seketika bagaikan bermata untuk mencabut ratusan nyawa.

Banjir darah akan membuat bukit kapur itu menjadi merah.

“Serbuuuuuuuuu!”

Teriakan membahana yang terdengar dari jauh itulah yang telah menggugah kembali kesadaran Mirah, sehingga matanya yang semula bagaikan kelereng itu kini tampak bersukma dan bibirnya bergetar seperti mau berbicara.

Namun, betapapun, segalanya sudah terlambat.

Sudah terlambat bagi Mirah untuk menyampaikan, bahwa yang telah menyambarnya ketika ia kembali dari sumur pada pagi buta, melarikannya ke jalan itu dan berusaha—ya, masih berusaha—memaksakan suatu kehendak yang tidak dipahaminya, tiada lain dan tiada bukan adalah anak Pak Lurah adanya…

Kampung Utan,
Sabtu 1 Januari 2011. 23:23.

ALa Mana

Detik merangkak. Mereka berbicara dengan pikiran masing-masing. Hari beranjak siang. Rapat minggu pagi belum ada hasilnya. Setelah makan siang, diskusi termin kedua bertempat di meja makan.

Pada hari ketika Serai membolak-balik kamus bahasa Arab, mencari nama anaknya, Joni datang dengan tiga buku panduan. Pertama, ensiklopedi nama, terbitan kota di balik benua. Lalu, satu buku usang tebal. Ia pinjam dari perpustakaan daerah. Bukan main repotnya membaca halaman-halaman yang nyaris saling terpisah. Terakhir, sebuah kumpulan istilah dunia kedokteran. Ini paling terlihat modern.

“Sayang, minumlah. Susu baik untuk kesehatan janin dan tubuhmu,” Joni menyodorkan ke istrinya sambil meletakkan buku-buku ke meja di depan mereka. “Mas, aku belum tahu harus memberikan nama apa. Terlalu banyak pilihan,” ucap Serai sambil meraih tangan gelas dan meminum habis isinya. “Jangan khawatir. Aku sudah persiapkan buku-buku ini. Banyak sekali nama bagus. Tinggal kita pilih,” tangan Joni meraba perut Serai, kemudian menciumnya dengan bahagia. Telepon berdering, tak jauh dari jangkauan Joni. “Assalamualaikum, ... ya, Pak,” “Halo, Jon, kami mau ke tempatmu. Kangen sama calon cucu. Sebentar lagi sampai.” Tut-tut… “Hhh, menjelang tua, selalu saja ribut cucu,” Joni membatin.

* Tak lama setelah itu, ada langkah kaki mendekat menuju teras. Joni bergegas dan mempersilakan mertuanya masuk ke ruang tamu. Serai mencoba bangkit namun ditahan oleh ibunya. Serta merta Ibunya menciumi perut Serai. “Hai, Fajri, lagi apa, sayang? Ini eyang Uti datang, utuk-utuk, hii manisnya...” Mereka yang ada di situ bingung. Tidak ada yang bernama Fajri. “Bu, Fajri itu siapa?” tanya Bapak. Yang lain memandang heran. Ibu terlihat seperti mengkudang seorang anak kecil di depannya. “Lha anaknya Serai ini besok namanya Fajri, kan laki-laki.” “Bu, Serai ingin namanya Fadil. Agar menjadi anak yang berbudi luhur, bisa memuliakan orang tua dan keluarga.” “Itu nama artis, Bapak tidak setuju.” “Itu khas nama Islam, Pak!” Bapak diam, menarik nafas.

Sebentar. Ia dengar gesekan daun-daun di halaman depan. Angin sedang baik hati. Meliuk perlahan membuka sedikit pintu ruang tamu yang hampir tertutup.

“Ehm,” Joni memecah, “Namanya Tegar. Tegar Perkasa. Agar ia tegar menghadapi kehidupan. Ketika ia terpuruk, ia mampu untuk bangkit kembali.” “Ibu rasa itu bagus. Tidak kuno. Nama itu doa. Itu juga doa penting. Hidup ini keras, kalau cucu kita tidak tegar, bagaimana Pak? Laki-laki jangan lembek. Sebaiknya menjadi Tegara Fajri. Fajri berarti Fajar, yang menandakan ia laki-laki pertama generasi kedua keluarga kita. Setiap hari kita selalu menanti fajar. Dan anak ini yang kita tunggu-tunggu, bagaimana menurut kalian?” wajahnya berseri bagai sales promotion girl.

“Jangan, Serai sudah jatuh cinta pada nama Fadil,” ia berkata sambil memperbaiki letak duduknya. Suasana jadi sedikit tegang. Maklum, masalah nama memang sering membuat orang berebut berjasa. Nama apa saja, jalanlah, tokolah, peraturanlah, gedung, bus, masjid, dan sebagainya. Joni mengambil air minum untuk mertuanya.

Bapak sudah kembali segar. Ia bangit dari kursinya. Mulai bicara seperti orator, menggebu dan membius.

“Dengar, anak-anak jaman sekarang seperti kacang lupa pada kulitnya. Kalau sudah sukses dan jadi orang besar, mudah lupa asal. Kita orang Jawa, biar anak kalian tidak kebarat-baratan, Bapak yakin betul. Kita harus beri dia nama dari jagat pewayangan. Nama itu....” “Sudah ibu bilang, jangan. Kuno, Pak! Kasihan cucu kita nanti…” “Biarkan Bapak bicara dulu, Bu. Ada benarnya juga. Serai pikir, nama dari dunia pewayangan unik. Tapi tetap, ada Fadilnya, ya Pak? Di belakang, di tengah atau di mana saja.” “Dan ada Tegarnya. Biar jadi wayang yang kuat. “Diamlah. Bapak jadi lupa mau namain apa tadi.” Ketiganya menghela nafas. Bapak duduk kembali. Meraih minum dan menegaknya sampai tandas. * Detik merangkak. Mereka berbicara dengan pikiran masing-masing. Hari beranjak siang. Rapat minggu pagi belum ada hasilnya. Setelah makan siang, diskusi termin kedua bertempat di meja makan. “Bapak punya beberapa pilihan nama. Ada Abimanyu. Kalau nonton wayang, Bapak mengidolakan dia. Karena sejak bayi, Abimanyu sudah menguasai pengetahuan tentang segala hal. Setelah dewasa, ia mendapat Wahyu Cakraningrat, dengan wahyu itu Abimanyu ditakdirkan menurunkan raja-raja besar yang menguasai jagad raya. Abimanyu mempunyai sifat dan watak pemberani, halus, tingkah lakunya baik, kemauannya keras, dan bertanggung jawab. Coba kalau cucu laki-laki kita seperti Abimanyu, Bu. Bisa jadi presiden dia nanti.”

Mata Bapak menerawang. Kedua tangannya menekuk, menumpu dagunya yang bercambang halus.

“Maaf, Pak. Serai ingat nasihat Rosul. Beliau pernah menasihatkan agar kita memberi nama anak-anak kita ya yang islami. Agar selalu mendapat ridho Gusti Alloh.” “Ah, itu gampang. Dengar, kita bisa menambahkan nama Muhammad di depannya. Atau ini, ini! Ada lagi. Leksmana. Dia mempunyai watak halus, setia, dan tidak kenal takut. Cucu kita harus menjadi orang yang penuh kasih dan setia pada keluarganya.” “Maksud Bapak Lesmana?” “Tepat! Pandai kau, Jon.” “Kalau Muhammad Lesmana ya tidak pas, Pak” “Masih ada pilihan lagi, Bu. Ada lagi, Bapak ingin cucu kita berbakti seperti Arya Setyaka. Dia juga pemberani.”

Serai yang sedari tadi hendak angkat bicara, tapi selalu tidak jadi. Perutnya berasa aneh. Anaknya menendang-nendang. “Dulu, pernah Ibu dengar. Ada yang bilang, wayang itu tidak baik, karena wayang mengajarkan kita untuk menyembah dewa. Dan menjadikan orang-orang malas setelah semalam suntuk menonton wayang.” “Kalau begitu, Sunan Kalijaga tidak akan repot-repot pakai wayang buat dakwah Islam, Bu.” Ibu jadi merasa aneh, Serai meringis. Joni mengangguk. Ia telah melupakan tiga buku yang tadi digamitnya bersamaan. “Bapak masih punya lagi. Kita pikirkan baik-baik, jangan adu mulut. Kita semua ingin yang terbaik untuk anak itu” “Mungkin kita bisa kembali melihat buku-buku yang Joni bawa tadi.” “Ya. Itu bisa.” “Aduh…” “Serai, kamu tidak apa-apa, Nak? Fajri, bagaimana Fajri?” ia mengelus perut Serai. “Gak papa, Bu. Ini, si Fadil nendang-nendang terus. Monggo lanjutkan. Pak.” “Ini yang terakhir dari Bapak. Namanya Wisanggeni. Geni, api. Dia anak yang luar biasa. Cerdik, pandai, dan sakti. Ia juga tampan dan lugas. Bapak juga ingin cucu yang tampan. Hehee... “ “Aduh… sakit, Bu.” “Serai…” “Oh, siapkan mobil, cepat!” “Bagaimana ini?” “Ya, Wisanggeni.” “Bapak! Jangan mikir nama terus! ini Serai kenapa?” “Akhirnya…” “Kok akhirnya?” “Dia mau melahirkan, Bu. Cucu kita. Wisanggeni!” “Fajri!” “Aduh… tolong jangan ribut…” “Mobil sudah siap! Ayo cepat bawa. Perlengkapan jangan lupa.” “Biar aku, calon kakeknya saja yang nyupir, kau temani istrimu di belakang, Jon!” “Aduh… sa…kit…” “Sabar, nak, sabar. Fajri akan segera tiba dan hadir dalam keluarga kita.” “Ad..uh. Fadil…” “Hei, hei, tenang-tenang jangan ribut, nanti kacau. Wisanggeni jangan kita sambut dengan kekacauan.” “Yang tegar, ya sayang. Sebentar lagi kita sampai.” “Atau itu! Lihat!” “Apa sih ribut saja, tidak konsentrasi aku nyopirnya.” “Aduh… lihat dulu, semua memberi nama dengan bahasa Inggris, artis iklan shampo itu juga. Duh, kenapa kita tidak terpikir, itu nama yang modern, yang keinggris-inggrisan. Ibu ganti. Ibu punya usul. Bagaimana jika namanya adalah Evil Laura.” “Evil? Bu, Evil itu artinya setan.” “Hah!? Iya?” “Bagaimana kalau Claudia?” “Aduh nanti jadi ikut-ikutan…” “Sst.. jangan ribu terus, ayo lebih cepat.” “Aduh Jon kamu ini bagaimana? Kita sudah diambang kehadirannya.” “Tetap. Tetap Wisanggeni atau boleh apa saja asal dari dunia wayang, dunia kita sendiri!”

Tak lama kemudian mereka gelisah di luar ruang bersalin. Dokter, yang tak lazim jumlahnya, menangani. Ia tak mengizinkan anggota keluarga masuk. Sebelumnya dia, yang kebetulan kenalan masa kuliah Bapaknya Serai, mengusulkan untuk memberi nama bayi itu dengan namanya buat kenang-kenangan. Namanya Sarpito. Kemudian jam ikut menegangkan detik dan memberati tiga jarumnya yang berjalan dengan kehendak masing-masing seperti pikiran ketiga anggota keluarga itu. Terdengar suara bayi!

Mereka semakin tegang. Masing-masing mantap dengan diri dan pemikirannya. Mereka telah siap untuk mendaulat nama mereka dengan cepat ketika bayi itu ke luar dari ruang bersalin. Serai muncul, menimang seorang anak lagi-laki.

Ajaib. Anak itu tersenyum damai, lalu memandang suster, dokter, bergantian. Mulutnya membuka memunculkan gusi-gusi yang masih muda dan lemah. Dengan bahasa bayi yang aneh dan menakjubkan; penuh dengan magisme kehidupan, anak itu berkata pelan namun ceria dan penuh percaya diri, “Dengar, aku ingin menamai diriku sendiri. Namaku Udin!”

Yogyakarta, 31 Maret 2011

Sepucuk Surat di Akhir Tahun

Dan tibalah pada masa dimana harapan keindahan itu pupus dan sirna dengan kehadiran fakta yang menbuatku harus menerima kenyataan.

Keringatku untuk bertahan menyayangiMu, jika diibaratkan tetesan air Maka air tersebut kini sudah menjadi gumpalan air sungai yang besar. Tapi apa daya? Pintu hatimu belum terbuka. Akan aku tunggu pintu itu terbuka hingga keringatku kering dan tubuhku merapuh. Entah, rasanya detik ini sudah kering dan merapuh. Akankah kembali tumbuh???

Berawal dari lukisan senja aku alunkan dan aku teteskan semua desiran ombak yang telah mengantarkanku pada seorang perempuan di tengah gersangnya matahari. Akankah kau mengingat itu?. Aku tulis surat ini dikala aku tak sanggup lagi untuk membendung sekian gumpalan yang membuatku tersesak hingga terpuruk dan jatuh dalam kegelapan. Aku ungkapkan semua yang aku rasa, berharap kan ada sang malaikat kecil yang mengerti tentang diriku.

Ingatkah adek Tanggal 10 November 2009, bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional aku mengenalmu, di saat kita masih sama-sama dalam setatus kader baru Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Yang pada saat itu hendak mendeklarasikan dirinya di Makam Pahlawan Nasional Yogyakarta bahwa kader 2009 lahir untuk menjawab kegelisahan dan meneruskan perjuangan pahlawan negeri ini. Tapi di saat itu juga aku mengenalMu meski tidak sesempurna hari-hari berikutnya. No HP mu adalah satu jawaban pasti bahwa aku bisa mengenalMu lebih jauh...

Di sanalah kisah-kisah indah terukir dan mulai memancarkan sinar harapan. Hari demi hari, malam demi malam kekuatan sang malaikat menjadi penyemangat diriku untuk mengenalmu lebih jauh melewati sms dan telpon. Tak ada satu niat indah dalam hatiku kecuali bisa mengenalmu lebih dalam dan mengajakmu berlari kecil ditengah gersangnya kehidupan yang mengelilingiku. Dan harapan itu mulai terwujud saat aku benar-benar bisa mengajakmu menyelami tentang hidupku.

Kulantunkan melodi kasih pada sang fajar dan embun pagi, berharap dia akan mengerti dan menberiku isyarat tentang arti sebuah rasa. Deretan kisah hendak aku ukir bersamamu namun disaat aku tahu bahwa diriMu masih berstatus milik orang lain hatiku terluka kecil. Kurangkai benang-benang di hatiku yang kusut dan ku yakinkah bahwa tak lama lagi semuanya akan berubah menjadi keindahan yang menbuatku tersenyum bangga. Hanya satu kata yang aku tahu sabar dan menanti hari itu terwujud.

Sesekali kuajak dirimu ke suatu tempat yang sangat sederhana. Tempat nungkrong sahabat-sahabat aktifvs Mahasiswa, MATO KOPI namanya. Kita memilih tempat di bawah pohon rindang dan mulai bercerita tentang keseharian kita, aktifitas kampus, sesuatu yang menjengkelkan dan menyenagkan yang terjadi dan sampai pada obrolan harapan-harapan masa depan yang hendak kita raih bersama. Sungguh walaupun kejadian itu tanpa terencana, aku sangat bahagia. Entah dirimu?. kalau tidak salah ingat, insyaAllah kita kesana lebih dari tiga kali.

Andai aku harus menggambarkan tentang suasana yang kurasakan saat bersamamu, mungkin tumpukan lembaran kertas yang ada di dunia ini tak kan mampu menampung semua itu, tapi yang jelas aku bahagia dengan berada disampingMu. Sesekali juga aku sempatkan bermain ke kosmu, malam atau siang bahkan sore kusisakan waktuku untuk melihat sang purnama yang terlukis indah di wajahmu. Walaupun pada kenyataannya, obrolan yang kau paparkan disana hanya menggambarkan kisah kasihmu dengan pacarMu. Sabar dan sabar hatiku menerima semua. Begitulah ku mengingat semua itu….

Dan tibalah pada masa dimana harapan keindahan itu pupus dan sirna dengan kehadiran fakta yang menbuatku harus menerima kenyataan. Yaitu: kesibukanmu dengan EO yang kau geluti di Fakultas. Saat itu, waktu yang biasa kau hadirkan untukku mulai tersita, bahkan tak sempat untuk menberikan perhatian padaku. Bertepatan juga dengan fenomena lost contect di antara kita yang membuat komonikasi diantara kita putus. Ditambah lagi dengan kenyataan yang menbuatku sangat-sangat tersakiti bahwa kau telah menjalin hubungan dengan seorang dosen, info itu aku dapat dari sahabatMu. Sungguh bernasib malang hatiku.

Untuk menbuktikan kebenaran info itu, diam-diam kuselidiki dan ternyata benar-benar terjadi. Semua itu terlukis dalam catan pesan terakhirku untukmu:

Pesan Terakhir….!!!

Good luck nenk! Aq lihat kok tadi yang pas turun dari motor…

Lah abank ada dmn? Koq gak nyapa….

Tadi abank lihat. Cium tangan udah cukup menjadi bukti

Maksud abank apa? Maafin nenk y...

Gak koq gak ada maksud apa-apa! N yang terpenting nenk gak salah. Apapun yang menjadi keputusan nenk merupakan hak paten nenk.

Ciuman tangan sudah cukup menjadi bukti bahwa aQ tidak bisa menpertahankan Idealisme perasaanQ. Maafkan n maafkan aQ!!

Beliau UstadzQ. Awalnya Qta cuma sebagai teman curhat, dia banyak ngasih masukan ke aQ. Beliau juga ngajarin aQ tentang Fikih wanita. Ya hubungan Qta kayak aQ ama abank dulu, Qta share. Gak ada perlu di maafin koq, yang harus minta maaf itu aQ.

Iya sama-sama...

Abang masih mau temanan ama nenk to? Gak ada yang berubah dari semua ini toh? Nenk gak mau teman-teman nenk jauh gara-gara nenk berteman ama orang lain. Sebelum nenk nikah, nenk berhak temanan ama siapa aja. Nenk memang dekat ama beliau.

Dari dulu hingga sekarang apa yang pernah aQ tanamkan dalam hatiQ tidak pernah berubah! Apapun alasannya!

Jujur pada saat Qita lost kontek, aQ mantau nenk dari jauh dan dekat!

Demi Allah!!! aQ amini jika itu yang terbaik buat nenk walau aQ harus terbakar dengan kekecewaanQ.

Makasih y bank! Nenk juga ngerasa kalau abank perhatian ama nenk. Nenk senneng!. Pasti abank lihat perubahan yang sangat besar ama nenk. Nenk juga ngerasa gitu. Nenk juga gak tahu apa penyebabnya. Nenk kadang merasa bersalah ama kamu. Tiap lewat depan Syari’ah, nenk pasti mikir koQ gak pernah ketemu abank?. Nenk benar-benar minta maaf kalau udah nyakitin abang.

Di setiap sepertiga malam! aQ besitkan ingatanQ padamu dan berdo’a kepada Sang Khalik.

“ Ya Allah! Lindungilah dia dalam rahmatMu. Ampuni segala dosanya. Bimbinglah dia dalam keridhaanMu. Yakinkan dia pada kebenaran yang sesungguhnya.

Ya Allah! Jika dia adalah kebaikanQ maka yakinkan hatiQ padanya. Jika dia adalah masa depanQ maka biarkan hati ini subur walau harus gersang dahulu.

Ya Allah! Apapun yang menjadi rahasiaMu. Semuga demi kebaikan Qta berdua dunia dan akhirat”. Hanya itu nenk yang aQ pinta ama Sang Khalik.

Nenk jadi pingin nangis! Makasih banget y. Nenk tahu abang sayang banget ama nenk. Abank selalu korban perasaan buat nenk tapi nenk malah kayak gini. Nenk gak tahu lagi. Hidup nenk gak tertata.

Jangan pernah nenk sesali setiap hal yang terjadi karena itu merupakan bagian dari proses khidupan. Syukuri dan syukuri!.

Dulu, Hari ini, esok dan nanti!!! aQ akan bertahan bersama puing rindu yang aQ yakini. Jika aQ mampu mengepakkan sayap potensi diriQ. Maka akan aQ luapkan semuanya. Itu janjiQ ama alam nenk.

2 Februari 2010

Entah aku harus mengadu sama siapa tentang luka hatiku yang tertusuk ilalang. Sekian tekadku untuk menjauh dari bayanganmu, malah kau semakin dekat dan berada di urat nadiku. Aku buang dan aku tepis tentang semua kenangan indah tentangmu namun aku tidak bisa berbohong, kenyataan tentang kenangan bersamamu semakin tampak jelas diingatanku. Sungguh aku lelah jika harus jujur. Namun perasaan ini yang memotivasiku...

Teringat aku pada kisah Minke, sosok seorang pribumi yang tergambar dalam Novel Tatralogi Pramoedya Ananta Toer. Minke hendak mencintai seorang wanita asal keturunan pribumi Jawa dan Eropa. Namanya Annelies, putri kesayangan Nyai Ontosoroh. Sungguh dia perempuan yang sangat cantik dan menawan dimasa itu, hingga tak satupun gadis yang ada di negeri Hindia Belanda yang mampu menandingi kecantikan dan kelembutannya. Dan dengan sekejap mata pertemuan pertama dirumah Nyai Ontosoroh itu melahirkan kisah kasih diantara mereka.

Jika aku menggambarkan kecantikanmu, dek di dalam hati dan pikiranku. Sungguh tak ada bandingannya sosok Annelies itu. Bagiku kau adalah mentari pagi yang menberikan sinar indah untuk bumi manusia. kelembutanMu mengalahkan lembutnya embun pagi hari dan seluruh keindahan alam ini terpancar dalam sosokMu yang menawan. Namun sayang, semua itu hanyalah beban yang melilitku hingga aku terpuruk dalam perasanku sendiri.

Jika Minke dapat menjerat hati Annelies dengan sekejap mata dan membuat Annelies jatuh hati padanya, adalah suatu yang wajar. Sebab dalam diri Minke tersimpan kharismatik dan pribadi yang berpendidikan, hartawan dan sosok pemuda satria harapan bangsa. Sehingga sangat pantas mereka berdua bersatu dalam kesatuan cinta. Tapi tidak denganku, ternyata perjalanan kasihku untuk memiliki diriMu dek tidak semulus Minke. Mungkin banyak kekurangan yang ada pada diriku sehingga kau sulit menerima diriku? Aku pikir itulah kenyataannya sehingga kau lebih memilih seseorang yang secara pribadi mempunyai segalanya. Terlalu naif memang hanya bermodalkan perasaan. Kembali aku bersabar dan berlari dari impian itu.

Hingga di akhir tetesan tinta ini, air mataku mengalir tanpa aku sadari. Setahun lebih aku bertahan untukmu namun tidak pernah keringat itu terbalas. Sabar dan sabar itulah yang selalau menjadi hiasan dinding dalam hatiku dan kini sudah mulai merapuh dan mengering. Teringat kejadian kemeren pas di Jakarata. Sungguh kau menganggapku hanyalah patung gundik tak bernyawa dengan kehidupan tak berarti. Kembali tetesan air mata hati menghiasi di semenanjung kehidupanku.

Aku sadar, barang kali aku yang terlalu naif dan jangan-jangan aku yang salah mengertikan tentang makna dari perasaan itu. Ya sudahlah. Aku yakin semua ada hikmahnya. Dan aku tidak menyesali semua perasan ini, bahkan aku berterimkasih karena kau telah menagajari aku banyak hal.

Sebelum ku benar-benar lari dari kehidupanmu sang dewi mentariku. Biarkan aku masuk dalam kehidupanMu meski sekejap mata untuk mengucapkan bahwa aku benar-benar menyayangimu.

Terakhir, terimakasih atas segalanya. Kau memang yang terindah yang pernah aku kenal dan selamanya kau akan menjadi sejarah dalam Hidupku. Semuga kau selalu bahagia atas pilihan hatimu... (Yogyakarta, 31 Desember 201)

Sekilas Tentang saya

Romel M, Lahir di Pamekasan 01 Februari 1990. Alamat Asal Desa Blumbungan, Kec. Larangan, Kab. Pamekasan Madura Jawa Timur. Alamat Tinggal Gowok Komplek Polri, Blok E2 No. 225 Catur Tunggal Sleman Yogyakarta 55281. Saat ini sedang menempuh pendidikan S1 di UIN Sunan Kalijaga Jogja dan sekaligus sebagai kader muda Ashram Bangsa….