Jeng Susan dan suaminya sudah dua belas tahun menikah. Dulu kondisi ekonomi mereka tidak sebagus sekarang ini. Apa yang terjadi pada mereka adalah mimpi klise pendatang ke ibukota yang terwujud dalam waktu singkat karena berbalut keberanian dan keberuntungan. Sekejap saja Susanti berubah panggilan menjadi Jeng Susan di kalangan para istri pengusaha rekan bisnis suaminya. Anak-anak mereka mendadak berkulit mulus karena perawatan menghilangkan koreng di kaki mereka, bekas bermain di tanah becek dulunya sebelum mereka pindah ke Jakarta. Kulit wajah Jeng Susan semakin hari semakin terlihat bersinar karena perawatan intensif menggunakan masker emas di salon langganannya di daerah Blok M. Semua kagum pada keberuntungan mereka.
Tapi ada sedikit kerisauan di hati Jeng Susan saat dirinya sudah menginjak usia 40 tahun, dua tahun yang lalu. Bentuk tubuhnya berubah, semakin membulat. Lemak mulai bergelantungan di sekitar paha, punggung, tangan dan bawah dagu. Jeng Susan menyalahkan gen gemuk yang dibawanya dari Ambu di kampung. Percuma ikut program-program mahal di slimming center, tubuhnya tetap saja membesar. Segala rupa diet sudah dipraktekkan, hasilnya hanya sekejap saja untuk dinikmati. Tak lama kemudian, tubuhnya kembali melar, bahkan lebih lebar dari sebelumnya. Jeng Susan sempat mengutarakan keinginannya untuk operasi sedot lemak, seperti yang pernah dilakukan Jeng Mirna, kepada suaminya. Suami Jeng Susan pun tampaknya sudah memberikan lampu hijau. Bagi suaminya, tidak ada yang tidak bisa diberikan kepada keluarganya. Semua keinginan anak-anak dan istrinya selalu dipenuhi dengan kualitas nomor satu. Namun satu minggu menjelang operasi sedot lemaknya di Thailand, sebuah kabar heboh bersliweran di koran-koran ibukota. Seorang pengusaha perempuan tewas di meja operasi saat melakukan operasi sedot lemak. Apa pun penyebabnya, keinginan Jeng Susan untuk menyedot keluar lemak-lemak di dalam tubuhnya itu sirna seketika.
“Suamiku selingkuh, jeng…” ujarnya pada Jeng Mirna pada suatu sore, mengungkapkan kegelisahannya selama tiga bulan terakhir ini.
Mata Jeng Mirna seperti mau copot dari tempatnya. Cepat-cepat diletakkannya gelas minuman berisi red wine di tangannya. Dia menegakkan duduknya di kursi tinggi bar milik suaminya itu. Dulu proyek pembangunan bar dan restoran milik suaminya itu dipegang oleh suami Jeng Susan. Hal itu yang kini akhirnya membuat mereka berteman. Mata Jeng Mirna berbinar-binar menanti cerita yang akan meluncur dari mulut Jeng Susan.
“Pelacur jorok! Mereka bahkan tidak check in ke hotel dan malah bercinta di jok belakang mobil suamiku!” Jeng Susan mengumpat, lalu menenggak habis red wine di gelasnya. “Aku menemukan celana dalamnya yang super mini itu di bawah jok mobil saat memakai mobil suamiku. Perempuan setan! Jijik aku!”
Jeng Mirna mengelus-elus pundak Jeng Susan, berusaha tampak menghibur sebisa mungkin. Kupingnya berdiri makin tegak. Menanti kelanjutan cerita perselingkuhan abad ini. Suami Jeng Susan berselingkuh, itu bisa jadi berita besar di koran dan majalah-majalah ibukota. Dia adalah tokoh masyarakat, sedikit sensasi saja tentu akan terendus oleh banyak media. Dan segala kericuhan seperti ini merupakan hiburan, khususnya bagi Jeng Mirna. Hidupnya sudah mulai membosankan akhir-akhir ini. Suaminya lebih sering ada di rumah istri mudanya, dan anak satu-satunya masih asyik membuang-buang uang ayahnya di luar negeri; kuliah katanya.
“Aku ndak mau nyerah sama pelacur, Jeng! Aku tidak bisa membayangkan dimadu sama suamiku. Aku harus cari cara supaya suamiku balik ke aku!” kata Jeng Susan. “Bagaimana caranya?” tanya Jeng Mirna. “Aku harus balik langsing singset padet lagi kayak dulu. Jeng Mirna tahu, sejak badanku melar kayak gini, suamiku sudah tidak pernah menyentuh aku lagi! Sedih aku…” Jeng Susan berkata sambil berusaha menahan air matanya jatuh. “Oalaaah! Kalau cuma itu thok masalahnya, ya gampang tho!” “Nggak, nggak, aku ndak mau operasi sedot lemak! Jeng kan tahu aku takut sekali mati di meja operasi, setelah ada kejadian waktu itu, lho!”
Jeng Mirna tertawa keras sambil membuka tas kulit ularnya. Dia mengeluarkan dua buah wadah plastik kecil dari dalam tasnya itu. Jeng Susan melihatnya dengan tidak mengerti.
“Aku tahu kamu takut operasi. Tapi kan jaman sekarang mau langsing itu buanyak buanget caranya, jeeeng! Yang penting punya duit, ya gampang!” kata Jeng Mirna sambil meletakkan dua wadah plastik itu di hadapan mereka. “Aku sudah coba segala cara, semua mahal, tetep aja badanku melar begini!” tukas Jeng Susan. “Apa itu?” tanyanya lagi sambil mengambil salah satu wadah plastik di meja.
“Iniii…aku baru mau kasih tahu Jeng Susan. Penemuan terbaru! Belum beredar di pasaran. Namanya Krim Pelangsing Mejik,” bisik Jeng Mirna dengan suara rendah. “Ampuh?” tanya Jeng Susan ikut berbisik. Ada nada sangsi dalam suaranya. Jeng Mirna mengangkat blouse sutra yang dipakainya. Perutnya tersingkap sedikit. Mata Jeng Susan terbelalak. Perut Jeng Mirna datar, seperti perut perempuan umur belasan yang rajin berolahraga. Padahal, beberapa bulan yang lalu Jeng Mirna mulai mengeluh kalau dia sudah butuh operasi sedot lemak lagi. “Waaah, cuma dengan sekali pakai?” Jeng Susan tidak bisa menyembunyikan rasa takjubnya. Jeng Mirna menggangguk sambil tersenyum lebar. “Berapa harganya?” Jeng Susan tidak menunggu penjelasan lain lagi. Krim ini sudah pasti bisa menjawab masalahnya. “Untuk Jeng, murah aja…Kebetulan, yang bikin masih sodaraku yang kerja di bagian penelitian apa gitu, mbuh…Pokoknya kerjanya di laboratorium gitu, deh! Dia bilang bahan-bahanya memang mahal, karena sebagian besar baru ditemukan dan masih belum beredar di pasaran.” “Iya, iya, berapa?” tukas Jeng Susan tidak sabar. “Dua puluh lima aja. Harga sahabat,” jawab Jeng Mirna sambil mengerling. “Dua puluh aja, ya? Kan belum tentu ampuh di aku!” “Gini aja, Jeng Susan kasih ke aku dua puluh, kalau ternyata berhasil, sisanya lima juta baru transfer lagi. OK?” Malam itu Jeng Susan duduk di tempat tidur dalam kamarnya yang luas, sendirian. Suaminya entah kemana, bahkan akhir-akhir ini dia sudah tidak pernah lagi memberitahu Jeng Susan kalau akan pulang terlambat. Jeng Susan pun terlalu sibuk memikirkan keampuhan krim di tangannya.
Krim Pelangsing Mejik, begitu tulisan emas yang tercetak di bagian atas tutup wadah plastiknya. Jeng Susan membaca petunjuk pemakaian di stiker yang ditempel mengelilingi badan botol.
Usapkan ke bagian tubuh yang ingin diperkecil. Tipis dan sekali usap. Tunggu beberapa menit, lihat hasilnya. Kalau belum terlihat hasil yang diinginkan, tunggu selama 2 jam untuk pemakaian berikutnya. Krim ini bisa dipakai ke seluruh tubuh, termasuk wajah.
Jeng Susan beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju meja rias di ujung kamar. Dia duduk di depan kaca besar berbingkai kayu jati berukir. Melihat dengan teliti lekuk-lekuk di wajahnya. Menyusuri dengan jemarinya mulai dari kening hingga dagu. Sampai di bagian bawah dagu, Jeng Susan berhenti. Diambilnya wadah Krim Pelangsing Mejik di atas meja riasnya. Membuka tutupnya dengan perlahan, lalu mengambil sejumput krim berwarna putih di dalamnya dengan ujung jari telunjuk. Mengoleskannya dengan hati-hati ke bagian bawah dagunya yang menggelambir karena lemak.
Jeng Susan menunggu dengan gelisah. Semenit, dua menit, tiga menit…Lalu ia menutup mata, berharap semoga krim itu bekerja dengan sempurna. Jeng Susan membuka matanya, dan terbelalak melihat bagian bawah dagunya. Lehernya kini tampak jelas terlihat, tulang rahangnya yang biasanya tak pernah terlihat karena terbalut lemak, kini membingkai wajahnya dengan indah. Jeng Susan tampak sepuluh tahun lebih muda. Wajahnya terlihat lebih panjang dan lehernya menjadi terlihat jelas. “Luar biasa!” Jeng Susan berkata pelan sambil mengamati wajahnya.
Ia pun membuka baju tidurnya hingga tinggal pakaian dalam saja yang melekat di tubuhnya. Jeng Susan membalikkan tubuh untuk melihat tumpukan lemak di bagian pinggang belakangnya. “Ini dia yang harus dipermak duluan!” ujarnya sendiri. Jeng Susan mencoba menyentuh tumpukan lemak itu dengan tangannya yang gemuk pendek. Ternyata tangannya tidak bisa menjangkau bagian itu.
“Surti!!! Surti!!!” Jeng Susan berteriak memanggil pembantunya. Hari sudah malam, mungkin Surti sudah di kamarnya bersama Paino, suaminya yang juga supir keluarga Jeng Susan. Terdengar langkah berderap menuju kamar Jeng Susan. Jeng Susan tidur menelungkup di atas tempat tidurnya. Pintu kamar sengaja dibuka agar Surti dapat langsung masuk ke kamarnya. “Bu…” Terdengar suara Paino tercekat di depan pintu kamarnya. Jeng Susan terperanjat sambil melihat ke arah pintu. “Lho, mana si Surti?” “Sudah tidur, bu…” Jeng Susan mendengus kesal. Dia tidak sabar untuk melihat hasil kerja krim ajaib dari Jeng Mirna. Dilihatnya Paino yang masih berdiri bingung di depan kamarnya. “Ya sudah, kamu tolong saya. Balurkan krim ini ke pinggang saya!” “Tapi, bu…” Paino makin bingung. “Sudah, nggak usah ribut. Cepeeet!” tukas Jeng Susan.
Paino melangkah pelan ke arah tempat tidur Jeng Susan. Mengambil wadah plastik tempat krim pelangsing itu dari tangan Jeng Susan. Mencolek sedikit krim di tangannya, lalu berdiri bingung di samping tempat tidur besar majikannya itu.
“Kamu naik aja, biar gampang” Jeng Susan memerintah.
Paino naik ke atas tempat tidur dengan ragu. Ia duduk di samping tubuh setengah telanjang Jeng Susan. Tangannya mulai menyentuh punggung Jeng Susan yang hanya berbalut pakaian dalam. Nafasnya tertahan. Walau bagaimana kelelakiannya menggelegak kecil saat tangannya menyentuh kulit mulus putih Jeng Susan.
Tiba-tiba terdengar lenguhan pelan dari mulut Jeng Susan yang menelungkup di tempat tidur. Paino terkejut dan menghentikan usapannya ke punggung Jeng Susan. “Teruskan…” Parau suara Jeng Susan menyuruh Paino. Jeng Susan yang sudah lama tidak disentuh oleh suaminya itu, merasakan gairahnya memuncak dengan tiba-tiba saat disentuh oleh tangan kasar Paino.
Surti terkikik di dalam kamarnya sambil memegang wadah plastik bertuliskan Krim Pelangsing Mejik milik majikan perempuannya. Semalam ia terbangun dan mencari suaminya. Betapa terkejutnya Surti ketika melihat suaminya itu tengah mengusap-usap payudara nyonya majikan dalam keadaan sama-sama tanpa busana. Pintu kamar majikannya tidak tertutup. Surti mengamati selama beberapa saat, lalu berjingkat kembali ke kamarnya, menunggu Kang Paino kembali. Menjelang tengah malam, Paino masuk ke kamarnya dengan tubuh bersimbah keringat. Paino membangunkan Surti yang pura-pura tidur.
“Sur, Sur, ibu punya krim ajaib buat bikin langsing! Ini aku bawain buat kamu! Ibu nggak bakalan tau, dia udah tidur, kecapean!” katanya sambil berbisik ke telinga Surti.
Surti pura-pura menggeliat, lalu menarik tubuh Paino ke atas tubuhnya di ranjang kecil mereka. “Kok kamu keringetan gini, Kang?” tanyanya pada Paino. “Uh, aku, aku kegerahan…” jawab Paino gugup, menutupi kebohongannya. “Sini!” kata Surti sambil merebut krim di tangan Paino, lalu dengan cepat dia membalik tubuhnya sehingga sekarang posisinya menduduki pinggang Paino yang terbaring. Bergegas dia membuka celana Paino. “Aduh, Sur! Aku capek sekali! Besok aja, ya…” kata Paino berusaha menolaknya. “Kamu merem aja kalo capek!” kata Surti sambil mengelus-elus “burung” Paino dengan tangannya yang sudah berlumur krim milik sang nyonya. Tidak sampai lima menit, Paino tertidur tanpa sempat bercinta dengan Surti.
Pagi hari, Jeng Susan mandi sambil memikirkan kejadian semalam dengan Paino, supirnya. Rasanya sudah lama sekali dia tidak merasakan bercinta dengan menggebu-gebu seperti semalam. Di bawah shower yang mengucurkan air hangat, Jeng Susan menyentuh payudaranya sambil memejamkan mata. Dan dia terperanjat.
“Susuku hilaaaaang!” teriaknya dengan suara melengking. Tidak ada siapa pun yang mendengar teriakan Jeng Susan. Suaminya belum pulang sejak semalam. Anak-anaknya sejak dua hari yang lalu pergi menginap ke rumah teman mereka. Surti dan Paino entah ada di mana saat ini.
“Surti! Burungku hilang!” Tiba-tiba Paino sudah muncul di hadapannya dengan memakai handuk di pinggangnya. Surti membuang muka lalu keluar dari kamarnya dengan tidak peduli. “Rasakno!” katanya dengan marah. Krim Pelangsing Mejik seharga dua puluh lima juta itu dilemparnya ke dalam tong sampah di dapur.
Lelaki Pagi dan Sarapan Pagi kami Tadi Pagi
"Selayaknya ini bukan puisi," katamu saat mendorong secarik kertas itu kehadapanku. kertas itu berhenti dengan rapi dalam jarak yang tepat sekian senti dari cangkir kopiku yang mengepulkan asap dan aroma pagi yang kita kenal baik.
"Aku hanya ingin mengibaskan mendung yang menggantung di langitmu. bukankah sudah terlalu lama dia mengganggu karena enggan menjadi hujan?" Katamu lagi.
Aroma pagimu selalu saja lebih segar daripada milikku. Wajah cerahmu yang tercukur licin memantulkan sinar matahari yang begitu muda mengecup langkah pagi yang ringan membuka pintu hari. Sementara aku, selalu saja merasa diriku ini masih terus-terusan betah duduk dalam waktu seperempat malam, menarik selimut subuh dan bersikeras gelap masih menyertaiku. Ah, kamu kira semua itu mendung? Padahal bagiku semua itu adalah selimut yang nyaman. Aman. Menentramkan. Terbebas dari tanggungjawab. Boleh bermain dalam mimpi. Ah, bagimu semua itu mendung?
"Bacalah." Katamu, dan matamu, yang tenang setenang ombak saat riak angin lembut membantunya menggempur pantai membuatku tak tega membiarkan kertas itu terdiam di sana. Matamu itu nyaris tosca bagiku. Nyaris begitu dekat dengan langit yang pernah kubiarkan menyentuh bumiku. Sekilas aku tersenyum mengingatnya dekatku pada suatu sarapan pagi yang rasanya sudah berabadabad silam terjadinya, saat itu aku Cleopatra dan dia, Marc Anthony.
"Aku suka ungumu," Kata Laki-laki Langit Toscaku, berbisik di telingaku sambil menciumi batang leherku dan menurunkan kerah kemeja unguku. Tangannya hangat bermain-main pada kancing bajuku, seakan-akan jari-jemarinya sedang berdialog, kancing yang mana yang akan mereka buka lebih dahulu.
Selalu saja seperti itu, bicara soal warna sambil bercumbu, pikirku sambil menikmati nafasnya dan memperhatikan detak jantungku sendiri. Kami sedang berada di antara sepiring puisi sepasang pengantin baru dalam bulan madu yang serupa deras ombak mengalir seirama angin dan hujan saat musim monsoon tiba.
Puisi-puisi puting beliung dalam belitan gemuruh dan desakan keinginan paling mendasar yang kami santap pagi itu. Lalu kami teguk segelas besar kupu-kupu tosca dalam gelembumg soda sehingga dalam perut kami berdua ada ribuan kupu-kupu menarikan tarian mereka, bergelombang-gelombang sensasi yang aku rasakan dari setiap teguk, memenuhi degup hingga penuh dan aku mabuk dirinya seperti dirinya mabuk diriku.
Hanya saja.
Tak ada pesta yang tak usai. Tak ada tarian yang tak selesai.
Ternyata, kupu-kupu tidak hidup sampai selama-lamanya. Mereka rebah satu demi satu. Tertidur, pingsan, mati? Entah. Mereka hanyut dan hilang dari dalam sistem, eforia itu perlahan menepi. Lalu, senyap datar beringsut-ingsut datang mengisi celahnya, hidup menjadi sebuah kebiasaan, bercinta menjadi semacam kewajiban, bahkan kadang merupakan sebuah kematian yang monoton, entah dia yang mati atau aku yang mati, atau dua-duanya mati sebelum pertempuran. Lalu, suatu pagi, aku bangun dan dia pergi. Sepucuk surat, menjadi penegasan bahwa yang namanya cinta itu stempelnya bukan sampai maut memisahkan kami, melainkan sampai tak ada lagi kupu-kupu dalam gelembung-gelembung soda itu.
"Hei, bangun cantik, jangan mimpi lagi." Kau menjentikkan jarimu di depan wajahku. membangunkan aku dari mimpi tentang kemarin-kemarin yang merupakan detik-detik usang. Aku memandangmu dengan rasa terima kasih, yang sengaja kubiarkan menetap lama, jatuh tepat di anak matamu. Kita beradu pandang, sekian detik berlalu menghentak menuju menit, kubiarkan tatapanku berlabuh padamu, menepikan sampan-sampanku dan mencoba menemukan sesuatu tanpa perlu merasa sangat ingin. Bagiku, sejauh ini, adalah soal eksplorasi belaka, kemungkinan selalu menyenangkan untuk ditelusuri. Siapa tahu, mungkin saja memang di sana ada pengganti harta karunku? Entahlah. dan manik matamu bergerak, mengerjap, sebuah isyarat yang kukenal baik dari sekian banyak pertemuan, matamu perlahan berusaha mengalihkan pandangan ke lain tempat.
Aha!, di dalam relung hatiku aku bersorak, selalu saja seperti itu rasanya ketika menang adu tatap. Ah Lelaki Pagi berdasi kuning kecoklatan berselempangkan garis-garis abu-abu di atas kemeja abu-abu mudamu yang licin dan cermat (selalu saja aku ingin bertanya, siapa yang menyetrikakannya untukmu?), kau jengah saat kupandang sedemikian rupa. Lelaki pagi. Ya, ya, itu dirimu, Lelaki pagi, sepagi matahari muda yang mengecup wajah bumi dengan sekecup ringan dan harum nafasmu sesegar bau mulut setelah berkumur dan sikat gigi. benarbenar segar. Dan sekarang kau jengah, saat mata milik malam ini menghujanimu dengan kecupan dari dalam jiwa. Sekilas pipimu merona sebelum kau memberitahuku bahwa kau sudah memanggil seseorang masuk dalam lingkaran ajaib milik kita. Ah. Mengapa harus begitu?
"Tidak keberatan kan?" Tanyamu dengan suara rendah dan lembut seraya tanganmu menyeberangi ruang antara kita lalu menyentuh ringan tepi jemariku. "Tanpa ijinmu, aku mengajak Maya makan pagi bersama, sebab kita harus membicarakan proyek buku kita bersama-sama. Maya adalah ilustrator paling keren yang aku kenal. Aku mempercayainya. Dan satu hal lagi. Aku sudah secara lancang, mengirimkan draft tulisan itu kepadanya. Disela lunch, kemarin, kami sudah bertemu dan menakjubkan sekali hasil interpretasinya, karena itu aku berani mengajaknya pagi ini untuk bertemu denganmu. Ini sebuah kejutan." Kau mengangkat jemarimu dari atas jemariku dan tersenyum lebar seperti bocah kecil yang bangga karena berhasil membaca satu kalimat penuh tanpa terbata-bata. Mengapa kau angkat jemarimu dari tepi-tepi jemariku? Aku masih ingin persentuhan itu berjalan sedikit lebih lama.
Aku tersenyum tipis, memikirkan seandainya saja kamu bisa membaca pikiranku saat ini. Lelaki pagi berdasi kuning kecoklatan dihiasi garis miring abuabu, bolehkah aku mengecupmu? Tanya mataku. Kau sepertinya mencoba setengah mati untuk menjadi kekasihku setiap kita sarapan pagi. Kini kau sudah melangkah jauh ke dalam hidupku. Hei, kau bahkan bisa kulamar menjadi suamiku suatu saat nanti kalau keadaan kita tetap seperti ini.
Tapi, tunggu dulu.
"Maya? Aku ingat nama itu pernah dihubungkan dengan namamu, kan? Hmm... apakah dia ini Maya yang sama dengan Maya mantan kekasihmu?" Tanyaku, berusaha mengatakannya seenteng tisu yang baru saja kukeluarkan satu lembar dari bungkus mininya. Dan kamu, Laki-laki Pagi, nampak salah tingkah.
"Hanya rumours," katamu singkat seraya sedikit mengernyitkan keningmu, lalu berkonsentrasi pada sepiring nasi goreng yang pagi ini menjadi pilihanmu, sementara aku masih meniup permukaan sup krim panasku di dalam mangkuk lebar yang nyari menelan wajahku, sambil mengulang ucapanmu, "hanya rumours?", dan kamu mengangkat bahumu sedikit, ujung bibirmu sebelah kananmu terangkat sedikit juga, sambil menjawab ringan, "rumours yang sama sekali tidak penting."
Sialan kau! Mengapa gerakan facial kecil itu begitu menarik kelihatannya? Tiba-tiba saja aku menyadari bahwa ada sebuah sensasi yang berbeda. Nampaknya aku, perempuan teman sarapan pagimu ini sedang dilanda gelombang yang berbeda. Sedang menjadi buih-buih di atas ombak-ombak dari sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan. Diam-diam aku mencuri pandang ke arahmu dan terpesona sendiri dengan sesuatu di dalam diriku. Keinginan untuk memagari waktu-waktu kita tanpa interupsi, apapun bentuknya, atau lebih tepatnya siapapun bentuknya. Aku mendadak jengah dengan apa yang aku rasakan.
Tepat di saat itu Maya melambai cantik, bagai dua tetes madu manis yang menetes tanpa sengaja di antara kita, "Selamat pagi," katanya berdenting dalam sebuah notasi nyaris sempurna, perempuan yang dibalut busana kasual itu masuk dalam orkestrasi pagi hari ini, menyatu sempurna dengan pagi milik Lakilaki Pagi itu, seakan dialah yang telah menyetrikakan bajumu dan mengenakan dasi itu ke sekeliling kerah lehermu.
Dan kamu Lelaki Pagi, kamu tersenyum lebar, berdiri menyambutnya, mengecup pipinya kiri dan kanan sebelum menyeretkan kursi untuknya dan mempersilahkannya duduk. Kusadari bahwa kita kini bertiga. Tiga, sebuah angka yang ganjil kan? Ufh! Sarapan pagiku mendadak beku. Aku tersenyum ke arahnya dengan berkilo topeng memberati seluruh syaraf wajahku. Ingin rasanya aku pergi saja dan menyerahkan segala keputusan ke tanganmu, bukankah kamu sudah lebih dahulu memutuskan segala-galanya, jadi, silahkan, teruskan saja! ingin juga rasanya kutuangkan kopi ke atas kepalamu. Dasar lakilaki!
Tapi, tunggu dulu.
Mendadak aku berhenti dan merasa ingin menendang bokongku sendiri. Luarbiasa konyol! Ya, aku yang konyol. Jelas-jelas, amat sangat konyol! Bukankah baru lima menit yang lalu semua ini kuanggapa sebagai sebuah perhatian yang mendebarkan dan menghangatkan hati? Arrrggghhh... ingin kubenamkan wajahku ke dalam mangkuk sup, di saat itu kulihat asapasap tipis naik kembali dari permukaan sup. Aku jadi kepingin sekali tertawa, menertawakan kebodohan itu. Ayolah SN, tak ada alasan untuk cemburu, aku membujuk diri sendiri. Mendadak pula aku ingat kertas yang tadi kamu berikan kepadaku, belum juga sempat kubaca. "Selayaknya ini bukan puisi," katamu tadi. Kalau begitu, apa kirakira? Kulipat kertas itu lalu saat kuselipkan ke dalam tas tanganku, aku menangkap matamu memandangiku dengan sinar mata yang tak mampu kutebak sementara suara Maya mengisi udara disekitar kita, menceritakan tentang kemacetan yang harus ditembusnya sepanjang jalan menuju ke tempat pertemuan ini. Ah, pagi selalu berselingkuh erat dengan kemacetan di Kota Besar ini.
Baiklah, kututup sesi tanya-jawab dengan diri sendiri lalu bergabung dengan kalian. Maya menyalakan laptopnya, meletakkannya pada posisi yang paling tepat sehingga ia dapat mempertontonkan gambargambar yang telah dibuatnya untukku, untuk kita, sekaligus menjelaskan detil-detil yang perlu. Harus kuakui aku terpesona, dia bisa menangkap persis seperti yang kuinginkan. Hanya satu saja kekurangannya, mengapa musti Maya? Di saat itu, kurasakan tanganmu memijat lembut tengkukku, baru kusadari bahwa kamu telah berdiri tepat dibelakangku. Ah, aroma aftershavemu membuat aku memutuskan untuk mengecup bibirmu. Aku berjanji akan melakukannya. Nanti malam, dalam mimpiku.
Bio singkat pengarang: Ge Siahaya, domisili di Jakarta, aktif menulis di blog Kampung Fiksi: http://kampungfiksi.com/, sudah menerbitkan antologi cerpen.
"Aku hanya ingin mengibaskan mendung yang menggantung di langitmu. bukankah sudah terlalu lama dia mengganggu karena enggan menjadi hujan?" Katamu lagi.
Aroma pagimu selalu saja lebih segar daripada milikku. Wajah cerahmu yang tercukur licin memantulkan sinar matahari yang begitu muda mengecup langkah pagi yang ringan membuka pintu hari. Sementara aku, selalu saja merasa diriku ini masih terus-terusan betah duduk dalam waktu seperempat malam, menarik selimut subuh dan bersikeras gelap masih menyertaiku. Ah, kamu kira semua itu mendung? Padahal bagiku semua itu adalah selimut yang nyaman. Aman. Menentramkan. Terbebas dari tanggungjawab. Boleh bermain dalam mimpi. Ah, bagimu semua itu mendung?
"Bacalah." Katamu, dan matamu, yang tenang setenang ombak saat riak angin lembut membantunya menggempur pantai membuatku tak tega membiarkan kertas itu terdiam di sana. Matamu itu nyaris tosca bagiku. Nyaris begitu dekat dengan langit yang pernah kubiarkan menyentuh bumiku. Sekilas aku tersenyum mengingatnya dekatku pada suatu sarapan pagi yang rasanya sudah berabadabad silam terjadinya, saat itu aku Cleopatra dan dia, Marc Anthony.
"Aku suka ungumu," Kata Laki-laki Langit Toscaku, berbisik di telingaku sambil menciumi batang leherku dan menurunkan kerah kemeja unguku. Tangannya hangat bermain-main pada kancing bajuku, seakan-akan jari-jemarinya sedang berdialog, kancing yang mana yang akan mereka buka lebih dahulu.
Selalu saja seperti itu, bicara soal warna sambil bercumbu, pikirku sambil menikmati nafasnya dan memperhatikan detak jantungku sendiri. Kami sedang berada di antara sepiring puisi sepasang pengantin baru dalam bulan madu yang serupa deras ombak mengalir seirama angin dan hujan saat musim monsoon tiba.
Puisi-puisi puting beliung dalam belitan gemuruh dan desakan keinginan paling mendasar yang kami santap pagi itu. Lalu kami teguk segelas besar kupu-kupu tosca dalam gelembumg soda sehingga dalam perut kami berdua ada ribuan kupu-kupu menarikan tarian mereka, bergelombang-gelombang sensasi yang aku rasakan dari setiap teguk, memenuhi degup hingga penuh dan aku mabuk dirinya seperti dirinya mabuk diriku.
Hanya saja.
Tak ada pesta yang tak usai. Tak ada tarian yang tak selesai.
Ternyata, kupu-kupu tidak hidup sampai selama-lamanya. Mereka rebah satu demi satu. Tertidur, pingsan, mati? Entah. Mereka hanyut dan hilang dari dalam sistem, eforia itu perlahan menepi. Lalu, senyap datar beringsut-ingsut datang mengisi celahnya, hidup menjadi sebuah kebiasaan, bercinta menjadi semacam kewajiban, bahkan kadang merupakan sebuah kematian yang monoton, entah dia yang mati atau aku yang mati, atau dua-duanya mati sebelum pertempuran. Lalu, suatu pagi, aku bangun dan dia pergi. Sepucuk surat, menjadi penegasan bahwa yang namanya cinta itu stempelnya bukan sampai maut memisahkan kami, melainkan sampai tak ada lagi kupu-kupu dalam gelembung-gelembung soda itu.
"Hei, bangun cantik, jangan mimpi lagi." Kau menjentikkan jarimu di depan wajahku. membangunkan aku dari mimpi tentang kemarin-kemarin yang merupakan detik-detik usang. Aku memandangmu dengan rasa terima kasih, yang sengaja kubiarkan menetap lama, jatuh tepat di anak matamu. Kita beradu pandang, sekian detik berlalu menghentak menuju menit, kubiarkan tatapanku berlabuh padamu, menepikan sampan-sampanku dan mencoba menemukan sesuatu tanpa perlu merasa sangat ingin. Bagiku, sejauh ini, adalah soal eksplorasi belaka, kemungkinan selalu menyenangkan untuk ditelusuri. Siapa tahu, mungkin saja memang di sana ada pengganti harta karunku? Entahlah. dan manik matamu bergerak, mengerjap, sebuah isyarat yang kukenal baik dari sekian banyak pertemuan, matamu perlahan berusaha mengalihkan pandangan ke lain tempat.
Aha!, di dalam relung hatiku aku bersorak, selalu saja seperti itu rasanya ketika menang adu tatap. Ah Lelaki Pagi berdasi kuning kecoklatan berselempangkan garis-garis abu-abu di atas kemeja abu-abu mudamu yang licin dan cermat (selalu saja aku ingin bertanya, siapa yang menyetrikakannya untukmu?), kau jengah saat kupandang sedemikian rupa. Lelaki pagi. Ya, ya, itu dirimu, Lelaki pagi, sepagi matahari muda yang mengecup wajah bumi dengan sekecup ringan dan harum nafasmu sesegar bau mulut setelah berkumur dan sikat gigi. benarbenar segar. Dan sekarang kau jengah, saat mata milik malam ini menghujanimu dengan kecupan dari dalam jiwa. Sekilas pipimu merona sebelum kau memberitahuku bahwa kau sudah memanggil seseorang masuk dalam lingkaran ajaib milik kita. Ah. Mengapa harus begitu?
"Tidak keberatan kan?" Tanyamu dengan suara rendah dan lembut seraya tanganmu menyeberangi ruang antara kita lalu menyentuh ringan tepi jemariku. "Tanpa ijinmu, aku mengajak Maya makan pagi bersama, sebab kita harus membicarakan proyek buku kita bersama-sama. Maya adalah ilustrator paling keren yang aku kenal. Aku mempercayainya. Dan satu hal lagi. Aku sudah secara lancang, mengirimkan draft tulisan itu kepadanya. Disela lunch, kemarin, kami sudah bertemu dan menakjubkan sekali hasil interpretasinya, karena itu aku berani mengajaknya pagi ini untuk bertemu denganmu. Ini sebuah kejutan." Kau mengangkat jemarimu dari atas jemariku dan tersenyum lebar seperti bocah kecil yang bangga karena berhasil membaca satu kalimat penuh tanpa terbata-bata. Mengapa kau angkat jemarimu dari tepi-tepi jemariku? Aku masih ingin persentuhan itu berjalan sedikit lebih lama.
Aku tersenyum tipis, memikirkan seandainya saja kamu bisa membaca pikiranku saat ini. Lelaki pagi berdasi kuning kecoklatan dihiasi garis miring abuabu, bolehkah aku mengecupmu? Tanya mataku. Kau sepertinya mencoba setengah mati untuk menjadi kekasihku setiap kita sarapan pagi. Kini kau sudah melangkah jauh ke dalam hidupku. Hei, kau bahkan bisa kulamar menjadi suamiku suatu saat nanti kalau keadaan kita tetap seperti ini.
Tapi, tunggu dulu.
"Maya? Aku ingat nama itu pernah dihubungkan dengan namamu, kan? Hmm... apakah dia ini Maya yang sama dengan Maya mantan kekasihmu?" Tanyaku, berusaha mengatakannya seenteng tisu yang baru saja kukeluarkan satu lembar dari bungkus mininya. Dan kamu, Laki-laki Pagi, nampak salah tingkah.
"Hanya rumours," katamu singkat seraya sedikit mengernyitkan keningmu, lalu berkonsentrasi pada sepiring nasi goreng yang pagi ini menjadi pilihanmu, sementara aku masih meniup permukaan sup krim panasku di dalam mangkuk lebar yang nyari menelan wajahku, sambil mengulang ucapanmu, "hanya rumours?", dan kamu mengangkat bahumu sedikit, ujung bibirmu sebelah kananmu terangkat sedikit juga, sambil menjawab ringan, "rumours yang sama sekali tidak penting."
Sialan kau! Mengapa gerakan facial kecil itu begitu menarik kelihatannya? Tiba-tiba saja aku menyadari bahwa ada sebuah sensasi yang berbeda. Nampaknya aku, perempuan teman sarapan pagimu ini sedang dilanda gelombang yang berbeda. Sedang menjadi buih-buih di atas ombak-ombak dari sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan. Diam-diam aku mencuri pandang ke arahmu dan terpesona sendiri dengan sesuatu di dalam diriku. Keinginan untuk memagari waktu-waktu kita tanpa interupsi, apapun bentuknya, atau lebih tepatnya siapapun bentuknya. Aku mendadak jengah dengan apa yang aku rasakan.
Tepat di saat itu Maya melambai cantik, bagai dua tetes madu manis yang menetes tanpa sengaja di antara kita, "Selamat pagi," katanya berdenting dalam sebuah notasi nyaris sempurna, perempuan yang dibalut busana kasual itu masuk dalam orkestrasi pagi hari ini, menyatu sempurna dengan pagi milik Lakilaki Pagi itu, seakan dialah yang telah menyetrikakan bajumu dan mengenakan dasi itu ke sekeliling kerah lehermu.
Dan kamu Lelaki Pagi, kamu tersenyum lebar, berdiri menyambutnya, mengecup pipinya kiri dan kanan sebelum menyeretkan kursi untuknya dan mempersilahkannya duduk. Kusadari bahwa kita kini bertiga. Tiga, sebuah angka yang ganjil kan? Ufh! Sarapan pagiku mendadak beku. Aku tersenyum ke arahnya dengan berkilo topeng memberati seluruh syaraf wajahku. Ingin rasanya aku pergi saja dan menyerahkan segala keputusan ke tanganmu, bukankah kamu sudah lebih dahulu memutuskan segala-galanya, jadi, silahkan, teruskan saja! ingin juga rasanya kutuangkan kopi ke atas kepalamu. Dasar lakilaki!
Tapi, tunggu dulu.
Mendadak aku berhenti dan merasa ingin menendang bokongku sendiri. Luarbiasa konyol! Ya, aku yang konyol. Jelas-jelas, amat sangat konyol! Bukankah baru lima menit yang lalu semua ini kuanggapa sebagai sebuah perhatian yang mendebarkan dan menghangatkan hati? Arrrggghhh... ingin kubenamkan wajahku ke dalam mangkuk sup, di saat itu kulihat asapasap tipis naik kembali dari permukaan sup. Aku jadi kepingin sekali tertawa, menertawakan kebodohan itu. Ayolah SN, tak ada alasan untuk cemburu, aku membujuk diri sendiri. Mendadak pula aku ingat kertas yang tadi kamu berikan kepadaku, belum juga sempat kubaca. "Selayaknya ini bukan puisi," katamu tadi. Kalau begitu, apa kirakira? Kulipat kertas itu lalu saat kuselipkan ke dalam tas tanganku, aku menangkap matamu memandangiku dengan sinar mata yang tak mampu kutebak sementara suara Maya mengisi udara disekitar kita, menceritakan tentang kemacetan yang harus ditembusnya sepanjang jalan menuju ke tempat pertemuan ini. Ah, pagi selalu berselingkuh erat dengan kemacetan di Kota Besar ini.
Baiklah, kututup sesi tanya-jawab dengan diri sendiri lalu bergabung dengan kalian. Maya menyalakan laptopnya, meletakkannya pada posisi yang paling tepat sehingga ia dapat mempertontonkan gambargambar yang telah dibuatnya untukku, untuk kita, sekaligus menjelaskan detil-detil yang perlu. Harus kuakui aku terpesona, dia bisa menangkap persis seperti yang kuinginkan. Hanya satu saja kekurangannya, mengapa musti Maya? Di saat itu, kurasakan tanganmu memijat lembut tengkukku, baru kusadari bahwa kamu telah berdiri tepat dibelakangku. Ah, aroma aftershavemu membuat aku memutuskan untuk mengecup bibirmu. Aku berjanji akan melakukannya. Nanti malam, dalam mimpiku.
Bio singkat pengarang: Ge Siahaya, domisili di Jakarta, aktif menulis di blog Kampung Fiksi: http://kampungfiksi.com/, sudah menerbitkan antologi cerpen.
Romansa Warung Makan
Pertemuan adalah hal yang seringkali tidak dapat kita tebak. Sesuatu yang datang dengan sendirinya, dengan tiba-tiba. Dari pertemuan lah, nasib manusia sering ditentukan. Beberapa dari mereka banyak yang mengabaikannya, seolah itu adalah bagian dari rutinitas hidup, yang memang, bertemu dengan orang-orang yang sama. Hidup adalah hal yang wajar. Namun tidak sedikit pula yang memahami, bahwa pertemuan adalah nutfah-nutfah yang membentuk nasib kita, pelan-pelan namun pasti membawa kita ke dalam suatu tujuan. ***
Siang yang terik. Udara yang begitu berisik, aku berjalan menuju warung makan Bu Jul di belakang kantor, masih di bilangan Kalibata. Matahari belum tepat benar berada di atas ubun-ubun, kulihat jam tangan masih belum bergeser dari angka sebelas. Belum saatnya istirahat. Namun hari ini aku lapar betul. Pagi tadi aku alpa sarapan tersebab pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Tak apalah aku istirahat awal, toh pekerjaan sudah kurampungkan.
Warung belum terlalu ramai. Hanya ada dua pengunjung yang kutebak adalah sopir bajaj, sebab di depan warung terparkir dua bajaj yang sangat memprihatinkan. Bajaj adalah jenis kendaraan yang terbatuk-batuk di tengah deru kendaraan Ibukota. Hanya dua kali aku pernah menaikinya, itupun karena terpaksa. Satu karena aku datang terlalu pagi di terminal Lebakbulus, dulu sewaktu masih kuliah. Dua karena aku tidak menemukan kendaraan lain di bilangan Cempaka Putih saat pukul dua belas malam. Dan keduanya benar-benar membuat jantungku berdetak lebih cepat beberapa desibel. Sebab bila bajaj berbelok, tiba-tiba penumpang beserta sopirnya akan ikut rubuh, miring sekitar 45 derajat. Betul-betul suatu hal yang tidak terduga. Maka benarlah, hanya Tuhan dan sopir bajaj yang tahu kemana bajaj itu akan berbelok.
Siang yang terik, aku memesan menu berkuah. Sop pada mangkuk terpisah, dua tempe goreng, perkedel serta sedikit tumis kacang. Untuk minumnya, es teh sangat tepat memanjakan tenggorokan yang penuh dengan dahaga. Aku duduk dengan malas pada kursi lajur. Menghadap ke arah jalan yang terlihat dari jendela-jendela papan yang tersusun renggang-renggang. Sebelum menyantap makanan, seperti biasa, aku mengecek handphone memastikan tidak ada panggilan ataupun pesan yang akan mengganggu kenikmatan bersantap siang.
Tepat ketika aku hendak menyuapkan sendok pertama, seorang perempuan—yang kulihat sekilas berkuncir kuda—memasuki warung makan. Entah mengapa tiba-tiba semilir angin menerpa wajahku yang sedikit berminyak ini. Tidak begitu jelas apakah berasal dari kipas angin yang bertengger di dinding atas pintu itu atau memang sebab kedatangan perempuan itu. Aku berusaha tidak peduli. Meski kadang ekor mataku ini menangkap bayangan perempuan menunjuk-nunjuk menu yang ia inginkan, dan seiring bergeraknya kepala, rambut kuncir kudanya akan bergoyang-goyang. Aku tersenyum sambil mengunyah makanan. “Tambah kuah lodehnya sedikit, Bu” “Eh, udah..udah.. cukup segitu saja. Makasih.” Ucapnya manis pada Bu Julianti. Wanita itu berbalik, kutebak dari detak sepatu pantovelnya yang mendekat kepadaku. Aku masih diam, meski hati ini berdesir sedikit. Kunyahan-kunyahan di mulutku sekarang lebih jelas terdengar. Warung ini tiba-tiba sepi, sepi sekali.
“Maaf ya, Mas. Saya duduk di sini.” Ucapnya sambil meletakkan piring di sebelah kiri tempat dudukku. Nyaris tak berdentang. “Oh, iya silahkan, Mba.” Jawabku kikuk. Pada kesempatan ini, kucoba untuk menangkap sejenak wajahnya. Demi Tuhan, aku hampir saja menjatuhkan gelas di bibir meja. Tiba-tiba saja wajahku seperti terpaku, terpana oleh senyum dua senti seperti di iklan-iklan pasta gigi itu. Bedanya, model yang di depanku ini perempuan yang luar biasa cantiknya. Kalau boleh dibilang, model yang di televisi itu nilainya tujuh, ini sembilan.
Aku agak sedikit bergeser ke kanan, meski jelas-jelas tempat duduk di sebelah kiriku masih lempang. Ia duduk, berjalan memutar memasuki ruang antara meja lajur dengan kursi lajur ini. Ia mulai menyendok makanannya. Aku diam saja. Beberapa kali sendok dan garpunya beradu memisah udang rebus itu, nyaris tanpa denting. Aku masih diam, masih mengunyah makanan dengan tenang. Satu suap, dua suap, tiga suap sampai pada akhir suapan. Kami khusyuk dalam diam. ***
Entah mengapa, semenjak bertemu dengan perempuan berkuncir kuda itu, aku senantiasa terbayang-bayang akan wajahnya. Kulitnya yang putih, senyum dua sentinya yang mungil, perawakan anggun saat memakai pakaian kerjanya, dan yang paling kuingat rambutnya yang dikuncir. Bukan jenis rambut yang jatuh bila dikuncir, namun rambut yang tegak. Yang apabila ia menggerakkan kepalanya, rambut itu akan ikut bergoyang menyelaraskan kemana kepala itu menoleh. Lucu, lucu sekali.
Maka, pada hari-hari berikutnya aku memutuskan untuk kembali makan siang di warung makan Bu Jul kendati beberapa teman-temanku mengajak makan siang di lain tempat. Waktu makan siang dengan sengaja aku paskan menjadi pukul sebelas, kurang sedikit beberapa menit. Aku yang berkantor di Instansi Keuangan ini tentu sudah menyalahi jam istirahat. Namun kurasa ini tidak menjadi masalah, sebab saat waktu jam istirahat masih ada, aku sudah berada di tempat kerja. Kompensasi lah. Hari berikutnya aku tidak bertemu dengan perempuan berkuncir kuda itu. Nihil. Agak kecewa sebenarnya. Akhirnya aku hanya mendengar pembicaraan kedua sopir bajaj yang rupanya sudah langganan di warung ini. Tidak jauh-jauh obrolan mereka, tentang maraknya kasus korupsi di suatu instansi keuangan dan menyebutkan bahwasanya mereka semuanya sama saja: tukang palak uang rakyat. Aku geram. Nasi berlauk bandeng goreng dan sayur lodeh itu setengahnya tertinggal di atas piring, aku keburu muak dengan mereka.
Hari selanjutnya, bila bukan masih berharap bertemu dengan perempuan bersenyum dua senti itu, aku takkan menyambangi lagi warung Bu Jul. Masih di jam yang sama, masih pada saat matahari belum tepat benar di atas ubun-ubun, aku berjalan menuju warung makan Bu Jul. tentu membosankan bukan cerita yang begini-begini ini? Namun segala kebosanan ini sebentar lagi pasti hilang. Memasuki langkah pertama ke dalam warung, aku disambut oleh semilir angin yang menerpa wajah berminyak ini. Aku memandang ke atas pintu, oh, kipas angin jumbo bu Jul sudah dinyalakan. Namun lebih dari itu, di depan deretan menu-menu, di depan kaca etalase, aku melihat seorang perempuan tengah memilih jenis makanan. Perempuan yang tingginya kisaran 167 senti meter, memakai blouse kerja, bersepatu pantovel, bersenyum dua senti dan.. ya, tentu rambut kuncir kuda itu! Yang berderaian bergerak kesana-kemari. Aku tersenyum. Dua orang penarik bajaj yang biasanya duduk di pojokan sana tidak nampak. Barangkali ingin memberikan kesempatan kepadaku untuk menikmati makan siang kali ini.
Perempuan berkuncir itu duduk di kursi lajur pertama yang menghadap jalan, tempat pertama kali bertemu. Jangan-jangan ia ingin mengulang pertemuan lusa. Aku segera memilih menu siang ini. Nasi setengah, sebab sebenarnya aku belum lapar benar, tumis kacang, tempe goreng dan udang rebus. Warung masih sepi. Aku memberanikan diri untuk meletakkan piring di sebelah kanan perempuan itu, dengan sedikit dentang dari piring dan meja yang beradu.
“Maaf, bolehkah saya duduk disini?” tanyaku sedikit malu-malu. “Oh, tentu saja. Silahkan, Mas?” jawab perempuan itu tanpa menggeser duduknya, karena memang di samping kanannya kursi lajur itu masih lapang benar. Aku melompati korsi lajur, memposisikan duduk senyaman mungkin meski dada ini sedang berdesir-desir. “Sendirian saja, Mas?” ucap perempuan tadi tepat saat aku hendak memasukkan suapan pertama. “Eh, iya mba.” Terpaksa kuturunkan kembali sendok ini. “Mba sendirian juga?” tanyaku kikuk. “Iya, Mas. Eh, mas yang kerja di Gedung Keuangan di depan itu, kan?” “Betul. Mba sendiri kerja dimana? Sepertinya saya jarang melihat disini.” “Saya masih magang, mas. Di kantor Depnakertrans. Samping kantor Mas.” “Ooh, begitu.” Selanjutnya kami asyik dalam perbincangan remeh temeh, perbincangan orang yang baru saja berkenalan. Mengenai makan, aku memasukkan nasi sedikit-sedikit dalam tiap suapan. Tentu sebab satu hal: supaya makan siang ini jangan lekas cepat berlalu. “Oh iya, Mba namanya siapa?” tanyaku pada suapan terakhir. Tak kenal maka tak sayang. “Wah iya, sampai lupa kita berkenalan. Saya Zhafira.” Jawabnya manis. “Safira?” aku kurang jelas menangkap jawabannya. “Zhafira, mas.. Shabira Zhafira.” Jawabnya pelan. Ya, man shabara Zhafira. Barang siapa bersabar, ia akan menang. Aku teringat salah satu nukilan buku yang terakhir kubaca tadi malam. “Oke, Zhafira saya undur diri dulu. Senang berkenalan denganmu.” Pamitku. Rasanya kurang pantas aku berlama-lama di warung makan. Kulihat dia juga sudah menghabiskan makanannya. “Mari, mas.. Saya masih menunggu teman saya.” Jawabnya manis. Senyum dua senti itu dikembangkannya.
Aku segera membayar makanan, termasuk Zhafira. Namun kuucapkan diam-diam kepada Bu Jul tanpa sepengetahuannya, supaya tidak terkesan aku ini orang yang gampangan. Aku melangkahkan kaki keluar dari warung. Ada sesuatu yang membuat dada ini berbunga-bunga. Siang tidak lagi terik, udara tidak lagi berisik. Di tiap pandang, hanya ada Zhafira yang cantik. ***
Aku masih duduk cemas di kursi tunggu pasien. Sudah dua jam yang lalu istriku berada di kamar persalinan bersama ibu mertuaku. Dua minggu terakhir, istriku kutitipkan kepada ibu mertua sebab kandungannya sudah memasuki bulan kesembilan. Aku tidak mau mengambil resiko saat ia melahirkan nanti. Aku harus bekerja, tentu tidak setiap saat ada di sampingnya. Selama dua minggu itulah aku seperti bujangan kembali.
Istriku ini, aku sayang betul kepadanya. Kami menikah sekitar satu tahun lalu, dari sebuah pertemuan di Perpustakaan Nasional. Kami sering berjumpa setelahnya. Dari sanalah kami kemudian merencanakan hidup bersama.
Aku terbuyar dari lamunan ketika tangis seorang bayi melengking menyayat kesepian. Bergegas, aku masuk kamar persalinan.
“Selamat, anak anda perempuan. Lahir dengan proses normal.” Jawab dokter dengan senyuman yang tersembunyi di belakang maskernya.
Aku segera mengucapkan terima kasih, lantas mengumandangkan adzan di telinga mungil bayi ini. Perasaanku bercampur aduk. Inikah perasaan menjadi seorang bapak? Istriku terlihat kepayahan, keringat dingin sebesar kerikil-kerikil itu bercucuran di dahinya.
Seorang suster mempersilahkan istriku untuk melihat bayi yang masih kemerah-merahan. Ia tersenyum. Sangat bahagia. “Mas, anak kita perempuan..” “Iya, dek.. cantik sekali.” “Mas sudah mempersiapkan nama untuknya?” Aku diam sebentar. Tiba-tiba saja, entah ide ini datangnya dari mana, meluncur nama dari mulutku. “Shabira Zhafira.” Jawabku agak tercekat. Istriku tersenyum, bayi ini pun tersenyum. Manis. Manis sekali.***
Pengadegan, April 2011
M. Nurcholis penikmat sastra, tinggal di Jakarta, buku kumpulan ceritanya bersama Nana Sastrawan dkk. “Hampir Sebuah Metafora” terbit tahun 2011. Twitter: @n_choliz
Siang yang terik. Udara yang begitu berisik, aku berjalan menuju warung makan Bu Jul di belakang kantor, masih di bilangan Kalibata. Matahari belum tepat benar berada di atas ubun-ubun, kulihat jam tangan masih belum bergeser dari angka sebelas. Belum saatnya istirahat. Namun hari ini aku lapar betul. Pagi tadi aku alpa sarapan tersebab pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Tak apalah aku istirahat awal, toh pekerjaan sudah kurampungkan.
Warung belum terlalu ramai. Hanya ada dua pengunjung yang kutebak adalah sopir bajaj, sebab di depan warung terparkir dua bajaj yang sangat memprihatinkan. Bajaj adalah jenis kendaraan yang terbatuk-batuk di tengah deru kendaraan Ibukota. Hanya dua kali aku pernah menaikinya, itupun karena terpaksa. Satu karena aku datang terlalu pagi di terminal Lebakbulus, dulu sewaktu masih kuliah. Dua karena aku tidak menemukan kendaraan lain di bilangan Cempaka Putih saat pukul dua belas malam. Dan keduanya benar-benar membuat jantungku berdetak lebih cepat beberapa desibel. Sebab bila bajaj berbelok, tiba-tiba penumpang beserta sopirnya akan ikut rubuh, miring sekitar 45 derajat. Betul-betul suatu hal yang tidak terduga. Maka benarlah, hanya Tuhan dan sopir bajaj yang tahu kemana bajaj itu akan berbelok.
Siang yang terik, aku memesan menu berkuah. Sop pada mangkuk terpisah, dua tempe goreng, perkedel serta sedikit tumis kacang. Untuk minumnya, es teh sangat tepat memanjakan tenggorokan yang penuh dengan dahaga. Aku duduk dengan malas pada kursi lajur. Menghadap ke arah jalan yang terlihat dari jendela-jendela papan yang tersusun renggang-renggang. Sebelum menyantap makanan, seperti biasa, aku mengecek handphone memastikan tidak ada panggilan ataupun pesan yang akan mengganggu kenikmatan bersantap siang.
Tepat ketika aku hendak menyuapkan sendok pertama, seorang perempuan—yang kulihat sekilas berkuncir kuda—memasuki warung makan. Entah mengapa tiba-tiba semilir angin menerpa wajahku yang sedikit berminyak ini. Tidak begitu jelas apakah berasal dari kipas angin yang bertengger di dinding atas pintu itu atau memang sebab kedatangan perempuan itu. Aku berusaha tidak peduli. Meski kadang ekor mataku ini menangkap bayangan perempuan menunjuk-nunjuk menu yang ia inginkan, dan seiring bergeraknya kepala, rambut kuncir kudanya akan bergoyang-goyang. Aku tersenyum sambil mengunyah makanan. “Tambah kuah lodehnya sedikit, Bu” “Eh, udah..udah.. cukup segitu saja. Makasih.” Ucapnya manis pada Bu Julianti. Wanita itu berbalik, kutebak dari detak sepatu pantovelnya yang mendekat kepadaku. Aku masih diam, meski hati ini berdesir sedikit. Kunyahan-kunyahan di mulutku sekarang lebih jelas terdengar. Warung ini tiba-tiba sepi, sepi sekali.
“Maaf ya, Mas. Saya duduk di sini.” Ucapnya sambil meletakkan piring di sebelah kiri tempat dudukku. Nyaris tak berdentang. “Oh, iya silahkan, Mba.” Jawabku kikuk. Pada kesempatan ini, kucoba untuk menangkap sejenak wajahnya. Demi Tuhan, aku hampir saja menjatuhkan gelas di bibir meja. Tiba-tiba saja wajahku seperti terpaku, terpana oleh senyum dua senti seperti di iklan-iklan pasta gigi itu. Bedanya, model yang di depanku ini perempuan yang luar biasa cantiknya. Kalau boleh dibilang, model yang di televisi itu nilainya tujuh, ini sembilan.
Aku agak sedikit bergeser ke kanan, meski jelas-jelas tempat duduk di sebelah kiriku masih lempang. Ia duduk, berjalan memutar memasuki ruang antara meja lajur dengan kursi lajur ini. Ia mulai menyendok makanannya. Aku diam saja. Beberapa kali sendok dan garpunya beradu memisah udang rebus itu, nyaris tanpa denting. Aku masih diam, masih mengunyah makanan dengan tenang. Satu suap, dua suap, tiga suap sampai pada akhir suapan. Kami khusyuk dalam diam. ***
Entah mengapa, semenjak bertemu dengan perempuan berkuncir kuda itu, aku senantiasa terbayang-bayang akan wajahnya. Kulitnya yang putih, senyum dua sentinya yang mungil, perawakan anggun saat memakai pakaian kerjanya, dan yang paling kuingat rambutnya yang dikuncir. Bukan jenis rambut yang jatuh bila dikuncir, namun rambut yang tegak. Yang apabila ia menggerakkan kepalanya, rambut itu akan ikut bergoyang menyelaraskan kemana kepala itu menoleh. Lucu, lucu sekali.
Maka, pada hari-hari berikutnya aku memutuskan untuk kembali makan siang di warung makan Bu Jul kendati beberapa teman-temanku mengajak makan siang di lain tempat. Waktu makan siang dengan sengaja aku paskan menjadi pukul sebelas, kurang sedikit beberapa menit. Aku yang berkantor di Instansi Keuangan ini tentu sudah menyalahi jam istirahat. Namun kurasa ini tidak menjadi masalah, sebab saat waktu jam istirahat masih ada, aku sudah berada di tempat kerja. Kompensasi lah. Hari berikutnya aku tidak bertemu dengan perempuan berkuncir kuda itu. Nihil. Agak kecewa sebenarnya. Akhirnya aku hanya mendengar pembicaraan kedua sopir bajaj yang rupanya sudah langganan di warung ini. Tidak jauh-jauh obrolan mereka, tentang maraknya kasus korupsi di suatu instansi keuangan dan menyebutkan bahwasanya mereka semuanya sama saja: tukang palak uang rakyat. Aku geram. Nasi berlauk bandeng goreng dan sayur lodeh itu setengahnya tertinggal di atas piring, aku keburu muak dengan mereka.
Hari selanjutnya, bila bukan masih berharap bertemu dengan perempuan bersenyum dua senti itu, aku takkan menyambangi lagi warung Bu Jul. Masih di jam yang sama, masih pada saat matahari belum tepat benar di atas ubun-ubun, aku berjalan menuju warung makan Bu Jul. tentu membosankan bukan cerita yang begini-begini ini? Namun segala kebosanan ini sebentar lagi pasti hilang. Memasuki langkah pertama ke dalam warung, aku disambut oleh semilir angin yang menerpa wajah berminyak ini. Aku memandang ke atas pintu, oh, kipas angin jumbo bu Jul sudah dinyalakan. Namun lebih dari itu, di depan deretan menu-menu, di depan kaca etalase, aku melihat seorang perempuan tengah memilih jenis makanan. Perempuan yang tingginya kisaran 167 senti meter, memakai blouse kerja, bersepatu pantovel, bersenyum dua senti dan.. ya, tentu rambut kuncir kuda itu! Yang berderaian bergerak kesana-kemari. Aku tersenyum. Dua orang penarik bajaj yang biasanya duduk di pojokan sana tidak nampak. Barangkali ingin memberikan kesempatan kepadaku untuk menikmati makan siang kali ini.
Perempuan berkuncir itu duduk di kursi lajur pertama yang menghadap jalan, tempat pertama kali bertemu. Jangan-jangan ia ingin mengulang pertemuan lusa. Aku segera memilih menu siang ini. Nasi setengah, sebab sebenarnya aku belum lapar benar, tumis kacang, tempe goreng dan udang rebus. Warung masih sepi. Aku memberanikan diri untuk meletakkan piring di sebelah kanan perempuan itu, dengan sedikit dentang dari piring dan meja yang beradu.
“Maaf, bolehkah saya duduk disini?” tanyaku sedikit malu-malu. “Oh, tentu saja. Silahkan, Mas?” jawab perempuan itu tanpa menggeser duduknya, karena memang di samping kanannya kursi lajur itu masih lapang benar. Aku melompati korsi lajur, memposisikan duduk senyaman mungkin meski dada ini sedang berdesir-desir. “Sendirian saja, Mas?” ucap perempuan tadi tepat saat aku hendak memasukkan suapan pertama. “Eh, iya mba.” Terpaksa kuturunkan kembali sendok ini. “Mba sendirian juga?” tanyaku kikuk. “Iya, Mas. Eh, mas yang kerja di Gedung Keuangan di depan itu, kan?” “Betul. Mba sendiri kerja dimana? Sepertinya saya jarang melihat disini.” “Saya masih magang, mas. Di kantor Depnakertrans. Samping kantor Mas.” “Ooh, begitu.” Selanjutnya kami asyik dalam perbincangan remeh temeh, perbincangan orang yang baru saja berkenalan. Mengenai makan, aku memasukkan nasi sedikit-sedikit dalam tiap suapan. Tentu sebab satu hal: supaya makan siang ini jangan lekas cepat berlalu. “Oh iya, Mba namanya siapa?” tanyaku pada suapan terakhir. Tak kenal maka tak sayang. “Wah iya, sampai lupa kita berkenalan. Saya Zhafira.” Jawabnya manis. “Safira?” aku kurang jelas menangkap jawabannya. “Zhafira, mas.. Shabira Zhafira.” Jawabnya pelan. Ya, man shabara Zhafira. Barang siapa bersabar, ia akan menang. Aku teringat salah satu nukilan buku yang terakhir kubaca tadi malam. “Oke, Zhafira saya undur diri dulu. Senang berkenalan denganmu.” Pamitku. Rasanya kurang pantas aku berlama-lama di warung makan. Kulihat dia juga sudah menghabiskan makanannya. “Mari, mas.. Saya masih menunggu teman saya.” Jawabnya manis. Senyum dua senti itu dikembangkannya.
Aku segera membayar makanan, termasuk Zhafira. Namun kuucapkan diam-diam kepada Bu Jul tanpa sepengetahuannya, supaya tidak terkesan aku ini orang yang gampangan. Aku melangkahkan kaki keluar dari warung. Ada sesuatu yang membuat dada ini berbunga-bunga. Siang tidak lagi terik, udara tidak lagi berisik. Di tiap pandang, hanya ada Zhafira yang cantik. ***
Aku masih duduk cemas di kursi tunggu pasien. Sudah dua jam yang lalu istriku berada di kamar persalinan bersama ibu mertuaku. Dua minggu terakhir, istriku kutitipkan kepada ibu mertua sebab kandungannya sudah memasuki bulan kesembilan. Aku tidak mau mengambil resiko saat ia melahirkan nanti. Aku harus bekerja, tentu tidak setiap saat ada di sampingnya. Selama dua minggu itulah aku seperti bujangan kembali.
Istriku ini, aku sayang betul kepadanya. Kami menikah sekitar satu tahun lalu, dari sebuah pertemuan di Perpustakaan Nasional. Kami sering berjumpa setelahnya. Dari sanalah kami kemudian merencanakan hidup bersama.
Aku terbuyar dari lamunan ketika tangis seorang bayi melengking menyayat kesepian. Bergegas, aku masuk kamar persalinan.
“Selamat, anak anda perempuan. Lahir dengan proses normal.” Jawab dokter dengan senyuman yang tersembunyi di belakang maskernya.
Aku segera mengucapkan terima kasih, lantas mengumandangkan adzan di telinga mungil bayi ini. Perasaanku bercampur aduk. Inikah perasaan menjadi seorang bapak? Istriku terlihat kepayahan, keringat dingin sebesar kerikil-kerikil itu bercucuran di dahinya.
Seorang suster mempersilahkan istriku untuk melihat bayi yang masih kemerah-merahan. Ia tersenyum. Sangat bahagia. “Mas, anak kita perempuan..” “Iya, dek.. cantik sekali.” “Mas sudah mempersiapkan nama untuknya?” Aku diam sebentar. Tiba-tiba saja, entah ide ini datangnya dari mana, meluncur nama dari mulutku. “Shabira Zhafira.” Jawabku agak tercekat. Istriku tersenyum, bayi ini pun tersenyum. Manis. Manis sekali.***
Pengadegan, April 2011
M. Nurcholis penikmat sastra, tinggal di Jakarta, buku kumpulan ceritanya bersama Nana Sastrawan dkk. “Hampir Sebuah Metafora” terbit tahun 2011. Twitter: @n_choliz
Anisa dalam Cerita Roti
Anisa menyelinap di antara pepohonan. Menunduk, merangkak. Matanya yang sayu, mengamati sekelilingnya. Saat terdengar langkah kaki, ia berhenti. Kemudian menyusup kembali ketika yang terdengar hanya hembusan napasnya dan cacing yang terus menggeliat di dalam perut. Desauan angin merisau memacu degup jantung untuk berdetak kian kencang tatkala ia sampai di pintu pagar bagian belakang rumah tersebut.
Anisa mengamati rumah bertingkat dua bercat merah maron itu. Telinganya seksama mendengar segala suara di sekitarnya. Sesekali ia mengamati sekelilingnya untuk memastikan tidak ada orang yang melihat ia bersembunyi di balik bak sampah yang berada di samping pintu pagar bagian belakang rumah milik Abah Ahong. Suara kucing ribut ketika terdengar benda jatuh dari arah belakang rumah itu. Seperti biasa, Anisa langsung mengendap masuk ke pekarangan dan menyelinap mendekati asal suara. Setelah mengusir empat lima ekor kucing, ia bergegas membongkar plastik hitam yang berisi penuh. Wajah gadis belasan tahun itu tersenyum ketika menemukan dua potong roti.
Tanpa mengucapkan salam, ia langsung membuka pintu. Tampak dalam samar perempuan setengah baya yang tiduran di atas kertas karton berbagai ukuran dan warna.
“Hari ini kita masih diberi rejeki, Mak,” katanya sambil duduk di samping perempuan itu. Dengan susah payah perempuan tersebut duduk.
Sesuwir demi sesuwir roti dimasukan ke dalam mulut sang emak. Pelan dan seolah mehanan sakit, mulut perempuan itu mengunyah roti yang disuapkan anak semata wayangnya. Anisa tersenyum melihat emaknya menelan makan malam mereka. ***
Rohila siang itu sibuk memunguti bekas kemasan air minum di lapangan seusai kampanye sebuah partai. Bukan hanya dia, setidaknya lima sampai tujuh orang juga beradu cepat memunguti bekas kemasan air minum dan apa saja yang mereka anggap bisa dijadikan uang. Meskipun karung yang dibawanya sudah penuh sesak dengan bekas kemasan air minum dan barang bekas lainnya yang bisa dijual, Rohila masih terus memungutinya. Batinnya, hari ini adalah rejeki anaknya yang baru masuk sekolah.
Rohila kesulitan membawa dua karung yang penuh sesak dengan barang-barang bekas. Ia sempat terjatuh beberapa kali karena tak kuat membawa keduanya secara bersamaan. Pinggang dan kedua tangannya seolah akan lepas, tapi ia tetap berusaha agar barang-barang itu cepat sampai ke pengumpul.
Terbayang olehnya betapa bahagianya Anisa saat tahu dirinya pulang membawa buku tulis. Bagi dirinya, Anisa bisa belajar saja merupakan berkah yang tak pernah hadir dalam mimpinya. Awalnya sulit bagi Rolihan untuk mendaftarkan anaknya belajar di kelompok belajar yang didirikan oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat yang tak jauh dari rumahnya mengingat kondisinya yang tidak mungkin bisa menyekolahkan putri kesayangannya. Jangankan untuk sekolah, makan sehari-hari saja ia harus menahan lapar agar Anisa bisa kenyang.
Bahkan dirinya hanya meminum air putih satu sampai dua hari agar anaknya bisa makan. Karena hampir seluruh anak seusia Anisa ikut belajar di kelompok itu, Rohila pun akhirnya memasukannya. Meskipun gratis, tapi ia masih risau dengan perlengkapan belajar Anisa, seperti alat tulis. Dengan menatap prihatin kepada anak dan nasibnya, Rohila mengumpulkan buku-buku tulis bekas yang masih kosong. Ah, silet-silet kehidupan menyayat hatinya saat Anisa tertawa bahagia menerima buku-buku bekas itu. Dan hari ini, senyum bahagia anaknya akan menjadi obat mujarab semua luka yang selama ini menjadi borok dalam kehidupannya. Luka-luka hidup itu sembuh sekejab oleh senyum anaknya.
Cericit rem mobil sedan dengan kecepatan tinggi membuyarkan senyum bahagia Anisa yang melintas di pikirannya. Bekas kemasan air mineral itu berserak memenuhi jalan. Tubuhnya terpental sekian meter. Hampir menghantam trotoar. Tapi, Tuhan masih sayang kepadanya. Jantungnya masih berdetak. Napasnya masih hangat. Nadinya masih berdenyut. Karung yang berisi bekas kemasan air mineral itu menyelamatkan kaki dan pinggangnya saat mobil sedang itu menabraknya. Meskipun begitu, tulang pinggangnya retak. Sementara mobil sedan itu, menghantam trotoar dan sopirnya tewas. ***
Setelah menghabiskan satu dari dua roti, Rohila menyandarkan tubuh ke dinding. Hanya tidur dan duduk yang bisa ia lakukan setelah tabrakan itu. Kedua kakinya tidak bisa digerakan, apalagi untuk jalan. Dia lumpuh. Sekolah Anisa ikut menjadi korban. Kini, perempuan kecil itu memikul beban untuk menghidupi mereka berdua. Pagi, setelah membuatkan air minum untuk emaknya, Anisa harus bergegas ke tempat pembuangan sampah mencari barang-barang bekas untuk dijual. Malamnya, ia harus menyuapi emaknya. Ketika uang yang ia peroleh tidak cukup untuk membeli makanan, Anisa datang ke rumah Abah Ahong berharap ada sisa makanan, seperti malam ini.
“Kamu gak makan, Sa?” tanya Rohila. “Sudah Mak. Tadi sehabis jual barang bekas, aku beli nasi uduk tempak mbok Nah.” jawab Anisa. Hati Rohila tercabik-cabik dengan jawaban anaknya. Ia tahu kalau Anisa belum makan sejak tadi pagi. Namun, ia mencoba menyembunyikan kepedihan hatinya. “Roti ini sepertinya dari rumah Abah Ahong?” tanya Rohila. “Iya Mak. Uang penjualan barang bekas tadi hanya cukup untuk beli satu bungkus nasi uduk. Waktu lagi makan, truk sampah datang. Aku lupa membungkus lagi nasinya. Kemudian aku lihat lagi sudah habis dimakan anjing,” jelas Anisa.
Rohilah tersenyum. Hujan dalam dadanya kian deras. Banjir kepedihan menghantam kekuatan bendungan hatinya. Ia bertahan dan terus menahan bendungan itu agar tidak jebol di hadapan anaknya. Rohila menyandarkan tubuh dengan pasrah. Napas berat menjadi pelampiasan sesak dadanya. Meskipun tidak melegakan dada, tapi bebannya sedikit lepas.
“Mak, tadi masih ada sisa sedikit. Aku masukin celengan, ya?” tanya Anisa. Rohila mengangguk.
Setelah mengambil celengan dari kaleng susu dan memasukan beberapa lembar uang ribuan, Anisa mendekat ke emaknya dan tiduran di sampingnya. Rohila membelai rambut anak perempuannya. Rambut hitam itu terasa kasar dan kumal. Sesekali Rohila mengusap kening pertama hatinya. Batinnya saat ini tak setenang belaiannya. Berkecambuk antara perih, sedih dan putus asa. Entah karena kelelahan atau lembutnya belaian Rohila, Anisa pun terlelap.
Rohila memandangi wajah teduh anaknya. Ia tampak kecewa dengan hidup yang dijalaninya sekarang. Mimpi dan angan yang ia bangun itu hancur oleh kenyataan. Padahal, tinggal selangkah lagi ia akan merasakan kebahagiaan yang begitu didambakannya, meskipun itu hanya sekedar senyuman Anisa. Kebahagiaan Anisa, bagi Rohila, adalah seluruh hidupnya. Walaupun matahari menjadi payung dan karang menjadi jalan, akan ia tempuh asal senyuman Anisa mekar laksana bunga di pagi hari. Itulah kesejukan hatinya.
Semilir angin menyusup melalui lubang-lubang rumah kayu yang dibangun mendiang suaminya sepuluh tahun silam. Dingin yang menyapa tubuhnya menciptakan kerinduan kepada mendiang suaminya. Dulu, saat-saat seperti ini ia selalu berbagi dengan suaminya. Ia begitu tabah, begitu kuat dan sabar menghadapi hidup meskipun dalam kesusahan terberat mereka saat suaminya divonis mengidap HIV. Awalnya ia tak tahu jenis penyakit apa itu. Setelah banyak buku yang ia baca dan konsultasi deengan beberapa dokter kenalannya, jantung seakan berhenti seketika. Hidup seolah tak berguna setelah mengetahui kenyataan yang begitu pahit. Harta kekayaan yang mereka kumpulkan selama menikah habis untuk menngobati suaminya agar sembuh. Tapi semuanya gagal. Dia dan suaminya pun akhirnya menyingkir dari kehidupan mewah yang memanjakannya selama ini.
Bukan hanya dia, Ardan, suaminya, tak kuat lagi menjalani hidup dengan kenyataan bahwa dirinya mengidap HIV. Setelah mengetahui kondisinya, Ardan menghabiskan hari-harinya dengan minuman keras. Sampai pada akhirnya ia tewas ditikam preman di kawasan kumuh saat pulang.
Setelah kematian Ardan, duka tak berhenti di situ. Malam itu hujan lebat dengan angin kencang, genap seminggu suaminya meninggal. Hatinya sudah resah sejak sore. Semua yang ia kerjakan sehari itu sia-sia dan kurang srek. Gundah itu menggelayuti sampai malam tiba. Gemuruh petir dan desauan angin mencekam malam. Satu dua butiran air jatuh ke bumi dan berubah menjadi hujan, lebat. Dalam temaram, Rohila mencoba mengistirahatkan tubuh dan pikiran dengan bersahabat dengan gundah gulananya. Saat dirinya menggapai mati, tiba-tiba tubuh ditindih sesuatu dengan aroma alkohol menyenggat. Semua terjadi begitu cepat dan sekejap menggapai klimaks. Kepahitan-kepahitan itu mampu Rohila hadapi meskipun sendirian.
Rohila kian menyandar. Semua kenangan itu tergambar begitu jelas, seolah hendak menekankan bahwa garis hidupnya tak mentas dari kubangan duka. Ia tak tahu harus bagaimana lagi menjalani hidup. Ketika pasrah, hidup seolah mengejeknya. Saat mencoba tegar, ia dihadapkan pada kenyataan yang sangat sulit diterima. Tangannya kembali mengelus rambut Anisa. Dan meyakinkan diri harus ada sebuah keputusan. ***
Malam itu Anisa kembali mengendap ke pekarangan belakang rumah Abah Ahong. Dengan sabar ia menunggu pembantu Abah Ahong membuang sampah. Satu dua kucing berdatangan, sama seperti dirinya menanti rejeki malam ini. Di antara mereka, terjadi pertengkaran kecil atau bercumbu karena musim kawin datang. Anisa mencoba mengusir kucing-kucing itu.
Kucing-kucing pergi, kemudian datang lagi. Setengah jam kemudian, pintu belakang rumah Abah Ahong terbuka. Wanita setengah baya keluar dengan menjinjing dua plastik hitam yang berisi penuh. Wanita itu melemparkan barang bawaannya ke dalam bak sampah yang berada di sudut pekarangan, tak jauh dari pintu pagar bagian belakang. Kucing-kucing bergegas mendekati wanita tersebut dan satu per satu melompat ke bak sampah. Setelah pembantu itu kembali ke dalam rumah, Anisa bergegas menyusul kucing-kucing itu. Ia harus berebut dengan kucing yang sudah mendahuluinya untuk mendapatkan makanan. Kedua plastik itu dibongkarnya, tapi tak ada sisa makanan, cuma sampah dapur dan beberapa helai pembalut wanita. Dengan murung ia kembali ke rumah.
Anisa membuka pintu tanpa salam. Rumahnya begitu sepi dan senyap. Tak terlihat emaknya yang biasa tidur di ruang depan yang juga kamar bagi mereka berdua. Karton-karton yang digunakan sebagai alas tidur tersusun rapi di sebelah kiri ruangan. Bekas spanduk yang mereka gunakan untuk selimut terlipat rapi di atas karton. Meskipun dalam temaram, Anisa bisa melihat rumahnya malam ini begitu bersih dan rapi. Tapi, tidak ada emak.
Hati Anisa risau. Tak biasa emak pergi pada malam hari. Beberapa tetangga yang ia tanyai mengaku tidak melihat emaknya. Di belakang rumah, hanya tumpukan barang bekas yang belum dijual. Airmata mulai menetes. Mulutnya tak berhenti-henti memanggil Rohila. Saat ia akan kembali ke dalam rumah, dalam gelap terlihat daster yang biasa dipakai emaknya di antara tumpukan sampah yang tak jauh dari rumahnya. Anisa bergegas lari ke tempat daster itu. Daster itu koyak. Sekitar lima meter dari tempat ia menemukan daster, tampak tubuh Rohila terbujur dengan telanjang bulat. Mulutnya mengeluarkan busa dan tercium bau racun. (*)
Padang, September 2011
Biodata: Joko Nugroho. Lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, 18 Maret 1979. Saat ini tinggal di Padang, Sumatera Barat, dengan alamat Jln Palinggam No. 34, Kelurahan Pasa Gadang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat.
Anisa mengamati rumah bertingkat dua bercat merah maron itu. Telinganya seksama mendengar segala suara di sekitarnya. Sesekali ia mengamati sekelilingnya untuk memastikan tidak ada orang yang melihat ia bersembunyi di balik bak sampah yang berada di samping pintu pagar bagian belakang rumah milik Abah Ahong. Suara kucing ribut ketika terdengar benda jatuh dari arah belakang rumah itu. Seperti biasa, Anisa langsung mengendap masuk ke pekarangan dan menyelinap mendekati asal suara. Setelah mengusir empat lima ekor kucing, ia bergegas membongkar plastik hitam yang berisi penuh. Wajah gadis belasan tahun itu tersenyum ketika menemukan dua potong roti.
Tanpa mengucapkan salam, ia langsung membuka pintu. Tampak dalam samar perempuan setengah baya yang tiduran di atas kertas karton berbagai ukuran dan warna.
“Hari ini kita masih diberi rejeki, Mak,” katanya sambil duduk di samping perempuan itu. Dengan susah payah perempuan tersebut duduk.
Sesuwir demi sesuwir roti dimasukan ke dalam mulut sang emak. Pelan dan seolah mehanan sakit, mulut perempuan itu mengunyah roti yang disuapkan anak semata wayangnya. Anisa tersenyum melihat emaknya menelan makan malam mereka. ***
Rohila siang itu sibuk memunguti bekas kemasan air minum di lapangan seusai kampanye sebuah partai. Bukan hanya dia, setidaknya lima sampai tujuh orang juga beradu cepat memunguti bekas kemasan air minum dan apa saja yang mereka anggap bisa dijadikan uang. Meskipun karung yang dibawanya sudah penuh sesak dengan bekas kemasan air minum dan barang bekas lainnya yang bisa dijual, Rohila masih terus memungutinya. Batinnya, hari ini adalah rejeki anaknya yang baru masuk sekolah.
Rohila kesulitan membawa dua karung yang penuh sesak dengan barang-barang bekas. Ia sempat terjatuh beberapa kali karena tak kuat membawa keduanya secara bersamaan. Pinggang dan kedua tangannya seolah akan lepas, tapi ia tetap berusaha agar barang-barang itu cepat sampai ke pengumpul.
Terbayang olehnya betapa bahagianya Anisa saat tahu dirinya pulang membawa buku tulis. Bagi dirinya, Anisa bisa belajar saja merupakan berkah yang tak pernah hadir dalam mimpinya. Awalnya sulit bagi Rolihan untuk mendaftarkan anaknya belajar di kelompok belajar yang didirikan oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat yang tak jauh dari rumahnya mengingat kondisinya yang tidak mungkin bisa menyekolahkan putri kesayangannya. Jangankan untuk sekolah, makan sehari-hari saja ia harus menahan lapar agar Anisa bisa kenyang.
Bahkan dirinya hanya meminum air putih satu sampai dua hari agar anaknya bisa makan. Karena hampir seluruh anak seusia Anisa ikut belajar di kelompok itu, Rohila pun akhirnya memasukannya. Meskipun gratis, tapi ia masih risau dengan perlengkapan belajar Anisa, seperti alat tulis. Dengan menatap prihatin kepada anak dan nasibnya, Rohila mengumpulkan buku-buku tulis bekas yang masih kosong. Ah, silet-silet kehidupan menyayat hatinya saat Anisa tertawa bahagia menerima buku-buku bekas itu. Dan hari ini, senyum bahagia anaknya akan menjadi obat mujarab semua luka yang selama ini menjadi borok dalam kehidupannya. Luka-luka hidup itu sembuh sekejab oleh senyum anaknya.
Cericit rem mobil sedan dengan kecepatan tinggi membuyarkan senyum bahagia Anisa yang melintas di pikirannya. Bekas kemasan air mineral itu berserak memenuhi jalan. Tubuhnya terpental sekian meter. Hampir menghantam trotoar. Tapi, Tuhan masih sayang kepadanya. Jantungnya masih berdetak. Napasnya masih hangat. Nadinya masih berdenyut. Karung yang berisi bekas kemasan air mineral itu menyelamatkan kaki dan pinggangnya saat mobil sedang itu menabraknya. Meskipun begitu, tulang pinggangnya retak. Sementara mobil sedan itu, menghantam trotoar dan sopirnya tewas. ***
Setelah menghabiskan satu dari dua roti, Rohila menyandarkan tubuh ke dinding. Hanya tidur dan duduk yang bisa ia lakukan setelah tabrakan itu. Kedua kakinya tidak bisa digerakan, apalagi untuk jalan. Dia lumpuh. Sekolah Anisa ikut menjadi korban. Kini, perempuan kecil itu memikul beban untuk menghidupi mereka berdua. Pagi, setelah membuatkan air minum untuk emaknya, Anisa harus bergegas ke tempat pembuangan sampah mencari barang-barang bekas untuk dijual. Malamnya, ia harus menyuapi emaknya. Ketika uang yang ia peroleh tidak cukup untuk membeli makanan, Anisa datang ke rumah Abah Ahong berharap ada sisa makanan, seperti malam ini.
“Kamu gak makan, Sa?” tanya Rohila. “Sudah Mak. Tadi sehabis jual barang bekas, aku beli nasi uduk tempak mbok Nah.” jawab Anisa. Hati Rohila tercabik-cabik dengan jawaban anaknya. Ia tahu kalau Anisa belum makan sejak tadi pagi. Namun, ia mencoba menyembunyikan kepedihan hatinya. “Roti ini sepertinya dari rumah Abah Ahong?” tanya Rohila. “Iya Mak. Uang penjualan barang bekas tadi hanya cukup untuk beli satu bungkus nasi uduk. Waktu lagi makan, truk sampah datang. Aku lupa membungkus lagi nasinya. Kemudian aku lihat lagi sudah habis dimakan anjing,” jelas Anisa.
Rohilah tersenyum. Hujan dalam dadanya kian deras. Banjir kepedihan menghantam kekuatan bendungan hatinya. Ia bertahan dan terus menahan bendungan itu agar tidak jebol di hadapan anaknya. Rohila menyandarkan tubuh dengan pasrah. Napas berat menjadi pelampiasan sesak dadanya. Meskipun tidak melegakan dada, tapi bebannya sedikit lepas.
“Mak, tadi masih ada sisa sedikit. Aku masukin celengan, ya?” tanya Anisa. Rohila mengangguk.
Setelah mengambil celengan dari kaleng susu dan memasukan beberapa lembar uang ribuan, Anisa mendekat ke emaknya dan tiduran di sampingnya. Rohila membelai rambut anak perempuannya. Rambut hitam itu terasa kasar dan kumal. Sesekali Rohila mengusap kening pertama hatinya. Batinnya saat ini tak setenang belaiannya. Berkecambuk antara perih, sedih dan putus asa. Entah karena kelelahan atau lembutnya belaian Rohila, Anisa pun terlelap.
Rohila memandangi wajah teduh anaknya. Ia tampak kecewa dengan hidup yang dijalaninya sekarang. Mimpi dan angan yang ia bangun itu hancur oleh kenyataan. Padahal, tinggal selangkah lagi ia akan merasakan kebahagiaan yang begitu didambakannya, meskipun itu hanya sekedar senyuman Anisa. Kebahagiaan Anisa, bagi Rohila, adalah seluruh hidupnya. Walaupun matahari menjadi payung dan karang menjadi jalan, akan ia tempuh asal senyuman Anisa mekar laksana bunga di pagi hari. Itulah kesejukan hatinya.
Semilir angin menyusup melalui lubang-lubang rumah kayu yang dibangun mendiang suaminya sepuluh tahun silam. Dingin yang menyapa tubuhnya menciptakan kerinduan kepada mendiang suaminya. Dulu, saat-saat seperti ini ia selalu berbagi dengan suaminya. Ia begitu tabah, begitu kuat dan sabar menghadapi hidup meskipun dalam kesusahan terberat mereka saat suaminya divonis mengidap HIV. Awalnya ia tak tahu jenis penyakit apa itu. Setelah banyak buku yang ia baca dan konsultasi deengan beberapa dokter kenalannya, jantung seakan berhenti seketika. Hidup seolah tak berguna setelah mengetahui kenyataan yang begitu pahit. Harta kekayaan yang mereka kumpulkan selama menikah habis untuk menngobati suaminya agar sembuh. Tapi semuanya gagal. Dia dan suaminya pun akhirnya menyingkir dari kehidupan mewah yang memanjakannya selama ini.
Bukan hanya dia, Ardan, suaminya, tak kuat lagi menjalani hidup dengan kenyataan bahwa dirinya mengidap HIV. Setelah mengetahui kondisinya, Ardan menghabiskan hari-harinya dengan minuman keras. Sampai pada akhirnya ia tewas ditikam preman di kawasan kumuh saat pulang.
Setelah kematian Ardan, duka tak berhenti di situ. Malam itu hujan lebat dengan angin kencang, genap seminggu suaminya meninggal. Hatinya sudah resah sejak sore. Semua yang ia kerjakan sehari itu sia-sia dan kurang srek. Gundah itu menggelayuti sampai malam tiba. Gemuruh petir dan desauan angin mencekam malam. Satu dua butiran air jatuh ke bumi dan berubah menjadi hujan, lebat. Dalam temaram, Rohila mencoba mengistirahatkan tubuh dan pikiran dengan bersahabat dengan gundah gulananya. Saat dirinya menggapai mati, tiba-tiba tubuh ditindih sesuatu dengan aroma alkohol menyenggat. Semua terjadi begitu cepat dan sekejap menggapai klimaks. Kepahitan-kepahitan itu mampu Rohila hadapi meskipun sendirian.
Rohila kian menyandar. Semua kenangan itu tergambar begitu jelas, seolah hendak menekankan bahwa garis hidupnya tak mentas dari kubangan duka. Ia tak tahu harus bagaimana lagi menjalani hidup. Ketika pasrah, hidup seolah mengejeknya. Saat mencoba tegar, ia dihadapkan pada kenyataan yang sangat sulit diterima. Tangannya kembali mengelus rambut Anisa. Dan meyakinkan diri harus ada sebuah keputusan. ***
Malam itu Anisa kembali mengendap ke pekarangan belakang rumah Abah Ahong. Dengan sabar ia menunggu pembantu Abah Ahong membuang sampah. Satu dua kucing berdatangan, sama seperti dirinya menanti rejeki malam ini. Di antara mereka, terjadi pertengkaran kecil atau bercumbu karena musim kawin datang. Anisa mencoba mengusir kucing-kucing itu.
Kucing-kucing pergi, kemudian datang lagi. Setengah jam kemudian, pintu belakang rumah Abah Ahong terbuka. Wanita setengah baya keluar dengan menjinjing dua plastik hitam yang berisi penuh. Wanita itu melemparkan barang bawaannya ke dalam bak sampah yang berada di sudut pekarangan, tak jauh dari pintu pagar bagian belakang. Kucing-kucing bergegas mendekati wanita tersebut dan satu per satu melompat ke bak sampah. Setelah pembantu itu kembali ke dalam rumah, Anisa bergegas menyusul kucing-kucing itu. Ia harus berebut dengan kucing yang sudah mendahuluinya untuk mendapatkan makanan. Kedua plastik itu dibongkarnya, tapi tak ada sisa makanan, cuma sampah dapur dan beberapa helai pembalut wanita. Dengan murung ia kembali ke rumah.
Anisa membuka pintu tanpa salam. Rumahnya begitu sepi dan senyap. Tak terlihat emaknya yang biasa tidur di ruang depan yang juga kamar bagi mereka berdua. Karton-karton yang digunakan sebagai alas tidur tersusun rapi di sebelah kiri ruangan. Bekas spanduk yang mereka gunakan untuk selimut terlipat rapi di atas karton. Meskipun dalam temaram, Anisa bisa melihat rumahnya malam ini begitu bersih dan rapi. Tapi, tidak ada emak.
Hati Anisa risau. Tak biasa emak pergi pada malam hari. Beberapa tetangga yang ia tanyai mengaku tidak melihat emaknya. Di belakang rumah, hanya tumpukan barang bekas yang belum dijual. Airmata mulai menetes. Mulutnya tak berhenti-henti memanggil Rohila. Saat ia akan kembali ke dalam rumah, dalam gelap terlihat daster yang biasa dipakai emaknya di antara tumpukan sampah yang tak jauh dari rumahnya. Anisa bergegas lari ke tempat daster itu. Daster itu koyak. Sekitar lima meter dari tempat ia menemukan daster, tampak tubuh Rohila terbujur dengan telanjang bulat. Mulutnya mengeluarkan busa dan tercium bau racun. (*)
Padang, September 2011
Biodata: Joko Nugroho. Lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, 18 Maret 1979. Saat ini tinggal di Padang, Sumatera Barat, dengan alamat Jln Palinggam No. 34, Kelurahan Pasa Gadang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat.
Gadis Piano, Piano dan Pria Kesepian
Panggung sudah siap. Beberapa ornamen etnik berupa porselen-porselen unik tertata rapi di jajaran rak yang berfungsi sebagai latar belakang panggung. Di sebelah kanan dan kiri, tergolek properti berbentuk buku-buku tebal berwarna hijau dan merah. Bola dunia raksasa yang ditopang oleh kerangka baja berdiri kokoh di sudut kanan panggung, di samping rak yang berisi porselen giok itu. Di langit-langit panggung, digantung layar putih yang berfungsi untuk menampilkan lirik atau partitur lagu yang nantinya akan dipentaskan.
Dan di tengah panggung—ini yang terlihat begitu anggun—sebuah piano elektrik berwarna hitam metalik sedang bersimpuh. Cahaya amber temaram menyinari panggung yang harmoni ini.
Penonton, tentu saja, sedang menunggu secara tidak sabar siapa yang akan muncul dari ujung tirai sana.
Di tempat duduk lajur kesebelas, nomor dua belas, seorang pria sedang berharap-harap cemas, menanti seseorang yang akan mengisi panggung malam ini sendirian. Di sampingnya, seorang gadis berambut pirang dan bermata safir, beberapa kali meminta penjelasan tentang siapa artis yang akan tampil malam hari ini. Pria tersebut menjawab sekenanya dalam Bahasa Inggris. Gadis di sampingnya ini adalah turis yang sedang ia guide. Untuk mendapatkan penghasilan sampingan, pria tadi bekerja menjadi tour guide. Dan kini, di acara International Literary Biennale, ia bertugas memandu seorang turis wanita yang jauh-jauh hari sudah memesan jasanya melalui internet.
Sesungguhnya ia sedang berdebar menantikan seorang gadis yang akan memainkan piano anggun itu. Gadis yang, kalau boleh saya ceritakan sedikit, telah menarik perhatiannya dari ayunan lentik jarinya yang sangat lihai menekan tuts-tuts piano. Serta suara vokalnya yang begitu membius, seperti Muse yang mendendangkan lagu-lagu bagi para dewa Athena. Gadis pemain piano ini pertama kali dikenalnya saat mengisi sebuah acara sastra di Bentara Budaya Yogyakarta. Saat itu, lelaki ini (yang lagi-lagi sedang bersama seorang gadis berambut pirang dan bermata cokelat) begitu terkesima. Tak lama setelah itu, Gadis Piano mengeluarkan album rekaman yang langsung meledak. Dan tentu saja, pria tadi begitu antusias mencari setiap rekaman yang dipentaskan Gadis Piano. Baik rekaman dalam bentuk kaset, CD, atau unggahan video di Youtube. Dan perlahan-lahan, pria tadi mempunyai perasaan khusus terhadap Gadis Piano ini. Tidak dapat dipungkiri, bahwa pria ini menyukai Gadis Piano itu, secara perlahan-lahan pula. ***
Piano metalik hitam yang bernama Oscar itu berusaha untuk memperkencang sekrup-sekrupnya. Beberapa tuts ia kibaskan untuk menggeser debu-debu yang bakalan mengotori tangan lentik tuan puterinya nanti. Oscar sangat mencintai tuan putrinya ini. Kemanapun Gadis Piano pergi, Oscar selalu menemani di setiap pertunjukannya. Malam ini adalah pertunjukan ke tujuh puluh sembilannya bersama Gadis Piano. Dan sejauh ini, setelah pertunjukkan usai, Gadis Piano akan mendapatkan gemuruh pujian dari panggung penonton. Namun Sang Gadis Piano adalah manusia yang rendah hati. Dengan bangga ia katakan bahwa penampilannya adalah karena peran dari Oscar pula. Dan sekali lagi pengunjung akan bergemuruh, khusus bagi piano hitam itu. Ini tentu sangat menyenangkan bagi Oscar. ***
Dari balik tirai, Gadis Piano itu muncul. Ia mengenakan gaun terusan berwarna chiffon, dengan rambut tergerai yang dihiasi beberapa jepet di bagian samping-samping telinganya. Dengan langkah-langkah kecil ia memasuki panggung sambil membawa cangkir porselen, mungkin berisi minuman. Ia segera meletakkan cangkir itu di meja kecil samping pianonya, lalu duduk dengan terlebih menyingkap rok bagian belakangnya ke samping. Setiap gerakannya tak pernah luput dari tatapan pria di tempat duduk nomor dua belas tadi.
Gadis Piano melempar senyum ke seluruh pengunjung. Ia lalu mengucapkan beberapa kata pembuka. Cara ia berbicara sungguh kekanak-kanakan. Maksudnya, aksen yang ia ucapkan begitu renyah dan kata per kata yang diucapkan secara terbata-bata membuat penonton tersenyum dan tertawa berderaian. Mungkin memang begitu ciri khasnya. Dan tentu, itu akan tetap memukau bagi para penggemarnya. Terutama adalah pria tadi yang kini entah mengapa sedang tersenyum-senyum sendiri.
Seperti pertunjukan biasanya, Gadis Piano itu akan melempar pandang ke segenap penjuru penonton. Mungkin para penonton tidak menyadarinya, ada seseorang yang sedang ia cari. Seorang penonton pria yang selalu menonton pertunjukkannya. Ia hafal betul wajah pria itu. Pria berwajah tirus dengan tatapan mata yang tajam. Rambut sedikit ikal, kaos oblong dan tas ransel berisi kamera yang kerap menangkapnya saat ia sedang berpiano. Kini Gadis Piano itu tersenyum sekali lagi. Bukan kepada seluruh penonton karena ia akan memulai pertunjukannya, tetapi karena ia telah menemukan pria yang ia maksudkan tadi di antara penonton yang hadir, dan Oscar—piano di depannya—tahu hal itu. Meski sekali lagi, ia merasa sedikit gundah dengan kehadiran gadis pirang di sampingnya yang kerap berbincang-bincang dengannya.
Gadis Piano menarik nafas panjang, kemudian nada pertama berdenting dari Pianonya, disusul nada kedua, ketiga dan seterusnya yang terdengar sangat beraturan. Gedung pertunjukan kini menjelma gugusan awan dengan desau angin yang begitu lembut menerpa telinga orang-orang di dalamnya. Pada giliran berikutnya, bait-bait puisi Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil Anwar terlantun begitu merdu berdeburan dengan suara piano yang perlahan menghadirkan kesepian bagi pria di tempat duduk nomor dua belas itu.
Tiga puisi masing-masing dari Chairil Anwar, Asrul Sani dan Sanusi Pane begitu lantun dibawakan Gadis Piano. Musikalisasi puisi ketiga maestro ini menjadikan Gadis Piano maestro baru. Lalu kita tengok di tempat duduk nomor dua belas tadi. Pria yang tiba-tiba merasa kesepian tadi terus mengembangkan senyum. Ia tak habis pikir, barusan tadi di gedung ini hanya Ia dan Gadis Piano yang ada. Masalah penonton lain, kita kesampingkan dulu. Cerita ini tidak akan segera berakhir bila kesan tiap penonton saya ceritakan.
Ada orang-orang yang memang diciptakan untuk dikagumi, pikir Pria Kesepian. Mari kita sebut namanya demikian supaya ia dapat dibedakan dengan pria-pria lain di ruangan itu. Baginya, Gadis Piano hanyalah sosok yang dapat ia lihat dari kejauhan. Seperti mobil-mobil mewah dalam showroom mobil bagi rakyat jelata. Jangankan untuk mengendarainya, untuk menyentuhnya pun tidak ada niatan yang terbersit sama sekali. Maka jadilah ia penonton setia, dan rasa berbunga-bunga dalam dadanya cukuplah ditutupi oleh kaos oblongnya.
Gadis Piano disambut keriuhan tepuk tangan dari para penonton. Ia pun tertawa kekanak-kanakan. Ia mengelus-elus Pianonya, Pianonya tersenyum kepadanya. Yang lebih membuatnya bahagia adalah Pria Kesepian di tempat duduk nomor dua belas terlihat sangat terhibur. Mukanya cerah dan matanya begitu legam berbinar. Ah, ingin rasanya ia mendapatkan ucapan atau tepuk tangan khusus darinya. Namun apa daya, Pria itu—sebagaimana pria-pria yang datang pada pertunjukannya—selalu datang dengan kekasihnya. Sebenarnya ia sering iri dengan penonton yang menikmati pertunjukannya. Bagaimanapun, ia ingin sekali menikmati lantunan Piano dengan orang yang ia sukai diam-diam. Ikut bersenandung kecil, menafsir kembali apa yang ditampilkan atau sekedar memperoleh suasana panggung konser piano yang begitu mempesona. Namun semua ini tentu hanya khayalannya.
Kondisi Tuan Putri tiap pertunjukan, dirasakan betul oleh Piano kesayangannya itu. Setelah selesai pertunjukan, atau ketika mereka sedang berduaan di kamar mengaransemen nada-nada, Tuan Putri sering curhat perihal keinginannya bertemu dengan pria yang selalu hadir pada pertunjukannya. Piano sebenarnya mengerti, kalau Pria Kesepian itu benar-benar kesepian. Gadis pirang yang kerap ada di sampingnya selama pertunjukan adalah turis yang sedang ia guide. Menjadi guide rupanya pekerjaan sampingannya sebagai mahasiswa. Kalau saja Tuan Putri lebih teliti mengamati gadis-gadis pirang yang ada di sampingnya, Tuan Putri pasti akan menemukan perbedaan-perbedaan, gumam si Piano. Pada konser sebelumnya ada Gadis Pirang bermata amber, berikutnya lagi Gadis Pirang bermata cokelat, dan kini Gadis Pirang bermata safir. Hal ini ingin ia sampaikan kepada Tuan Putri, namun apa daya, ia hanyalah Piano yang hanya bisa menghasilkan nada, bukan untuk berkata-kata. ***
Pertunjukan Gadis Piano malam ini betul-betul luar biasa. Para penonton memancarkan wajah yang ceria. Mereka berharap, suatu ketika dapat kembali menyaksikan pertunjukan piano yang begitu mempesona. Di luar gedung, hujan turun perlahan, mengabutkan mata-mata yang tak mampu menggapai cinta.***
Salihara-Pancoran, Oktober 2011. Biodata: M. Nurcholis lahir pada 22 Juni 1986 di kota Cilacap. Menulis Puisi dan Cerpen di waktu senggangnya. Kontak: Twitter: n_cholize Facebook: Muhammad Nurcholis
Dan di tengah panggung—ini yang terlihat begitu anggun—sebuah piano elektrik berwarna hitam metalik sedang bersimpuh. Cahaya amber temaram menyinari panggung yang harmoni ini.
Penonton, tentu saja, sedang menunggu secara tidak sabar siapa yang akan muncul dari ujung tirai sana.
Di tempat duduk lajur kesebelas, nomor dua belas, seorang pria sedang berharap-harap cemas, menanti seseorang yang akan mengisi panggung malam ini sendirian. Di sampingnya, seorang gadis berambut pirang dan bermata safir, beberapa kali meminta penjelasan tentang siapa artis yang akan tampil malam hari ini. Pria tersebut menjawab sekenanya dalam Bahasa Inggris. Gadis di sampingnya ini adalah turis yang sedang ia guide. Untuk mendapatkan penghasilan sampingan, pria tadi bekerja menjadi tour guide. Dan kini, di acara International Literary Biennale, ia bertugas memandu seorang turis wanita yang jauh-jauh hari sudah memesan jasanya melalui internet.
Sesungguhnya ia sedang berdebar menantikan seorang gadis yang akan memainkan piano anggun itu. Gadis yang, kalau boleh saya ceritakan sedikit, telah menarik perhatiannya dari ayunan lentik jarinya yang sangat lihai menekan tuts-tuts piano. Serta suara vokalnya yang begitu membius, seperti Muse yang mendendangkan lagu-lagu bagi para dewa Athena. Gadis pemain piano ini pertama kali dikenalnya saat mengisi sebuah acara sastra di Bentara Budaya Yogyakarta. Saat itu, lelaki ini (yang lagi-lagi sedang bersama seorang gadis berambut pirang dan bermata cokelat) begitu terkesima. Tak lama setelah itu, Gadis Piano mengeluarkan album rekaman yang langsung meledak. Dan tentu saja, pria tadi begitu antusias mencari setiap rekaman yang dipentaskan Gadis Piano. Baik rekaman dalam bentuk kaset, CD, atau unggahan video di Youtube. Dan perlahan-lahan, pria tadi mempunyai perasaan khusus terhadap Gadis Piano ini. Tidak dapat dipungkiri, bahwa pria ini menyukai Gadis Piano itu, secara perlahan-lahan pula. ***
Piano metalik hitam yang bernama Oscar itu berusaha untuk memperkencang sekrup-sekrupnya. Beberapa tuts ia kibaskan untuk menggeser debu-debu yang bakalan mengotori tangan lentik tuan puterinya nanti. Oscar sangat mencintai tuan putrinya ini. Kemanapun Gadis Piano pergi, Oscar selalu menemani di setiap pertunjukannya. Malam ini adalah pertunjukan ke tujuh puluh sembilannya bersama Gadis Piano. Dan sejauh ini, setelah pertunjukkan usai, Gadis Piano akan mendapatkan gemuruh pujian dari panggung penonton. Namun Sang Gadis Piano adalah manusia yang rendah hati. Dengan bangga ia katakan bahwa penampilannya adalah karena peran dari Oscar pula. Dan sekali lagi pengunjung akan bergemuruh, khusus bagi piano hitam itu. Ini tentu sangat menyenangkan bagi Oscar. ***
Dari balik tirai, Gadis Piano itu muncul. Ia mengenakan gaun terusan berwarna chiffon, dengan rambut tergerai yang dihiasi beberapa jepet di bagian samping-samping telinganya. Dengan langkah-langkah kecil ia memasuki panggung sambil membawa cangkir porselen, mungkin berisi minuman. Ia segera meletakkan cangkir itu di meja kecil samping pianonya, lalu duduk dengan terlebih menyingkap rok bagian belakangnya ke samping. Setiap gerakannya tak pernah luput dari tatapan pria di tempat duduk nomor dua belas tadi.
Gadis Piano melempar senyum ke seluruh pengunjung. Ia lalu mengucapkan beberapa kata pembuka. Cara ia berbicara sungguh kekanak-kanakan. Maksudnya, aksen yang ia ucapkan begitu renyah dan kata per kata yang diucapkan secara terbata-bata membuat penonton tersenyum dan tertawa berderaian. Mungkin memang begitu ciri khasnya. Dan tentu, itu akan tetap memukau bagi para penggemarnya. Terutama adalah pria tadi yang kini entah mengapa sedang tersenyum-senyum sendiri.
Seperti pertunjukan biasanya, Gadis Piano itu akan melempar pandang ke segenap penjuru penonton. Mungkin para penonton tidak menyadarinya, ada seseorang yang sedang ia cari. Seorang penonton pria yang selalu menonton pertunjukkannya. Ia hafal betul wajah pria itu. Pria berwajah tirus dengan tatapan mata yang tajam. Rambut sedikit ikal, kaos oblong dan tas ransel berisi kamera yang kerap menangkapnya saat ia sedang berpiano. Kini Gadis Piano itu tersenyum sekali lagi. Bukan kepada seluruh penonton karena ia akan memulai pertunjukannya, tetapi karena ia telah menemukan pria yang ia maksudkan tadi di antara penonton yang hadir, dan Oscar—piano di depannya—tahu hal itu. Meski sekali lagi, ia merasa sedikit gundah dengan kehadiran gadis pirang di sampingnya yang kerap berbincang-bincang dengannya.
Gadis Piano menarik nafas panjang, kemudian nada pertama berdenting dari Pianonya, disusul nada kedua, ketiga dan seterusnya yang terdengar sangat beraturan. Gedung pertunjukan kini menjelma gugusan awan dengan desau angin yang begitu lembut menerpa telinga orang-orang di dalamnya. Pada giliran berikutnya, bait-bait puisi Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil Anwar terlantun begitu merdu berdeburan dengan suara piano yang perlahan menghadirkan kesepian bagi pria di tempat duduk nomor dua belas itu.
Tiga puisi masing-masing dari Chairil Anwar, Asrul Sani dan Sanusi Pane begitu lantun dibawakan Gadis Piano. Musikalisasi puisi ketiga maestro ini menjadikan Gadis Piano maestro baru. Lalu kita tengok di tempat duduk nomor dua belas tadi. Pria yang tiba-tiba merasa kesepian tadi terus mengembangkan senyum. Ia tak habis pikir, barusan tadi di gedung ini hanya Ia dan Gadis Piano yang ada. Masalah penonton lain, kita kesampingkan dulu. Cerita ini tidak akan segera berakhir bila kesan tiap penonton saya ceritakan.
Ada orang-orang yang memang diciptakan untuk dikagumi, pikir Pria Kesepian. Mari kita sebut namanya demikian supaya ia dapat dibedakan dengan pria-pria lain di ruangan itu. Baginya, Gadis Piano hanyalah sosok yang dapat ia lihat dari kejauhan. Seperti mobil-mobil mewah dalam showroom mobil bagi rakyat jelata. Jangankan untuk mengendarainya, untuk menyentuhnya pun tidak ada niatan yang terbersit sama sekali. Maka jadilah ia penonton setia, dan rasa berbunga-bunga dalam dadanya cukuplah ditutupi oleh kaos oblongnya.
Gadis Piano disambut keriuhan tepuk tangan dari para penonton. Ia pun tertawa kekanak-kanakan. Ia mengelus-elus Pianonya, Pianonya tersenyum kepadanya. Yang lebih membuatnya bahagia adalah Pria Kesepian di tempat duduk nomor dua belas terlihat sangat terhibur. Mukanya cerah dan matanya begitu legam berbinar. Ah, ingin rasanya ia mendapatkan ucapan atau tepuk tangan khusus darinya. Namun apa daya, Pria itu—sebagaimana pria-pria yang datang pada pertunjukannya—selalu datang dengan kekasihnya. Sebenarnya ia sering iri dengan penonton yang menikmati pertunjukannya. Bagaimanapun, ia ingin sekali menikmati lantunan Piano dengan orang yang ia sukai diam-diam. Ikut bersenandung kecil, menafsir kembali apa yang ditampilkan atau sekedar memperoleh suasana panggung konser piano yang begitu mempesona. Namun semua ini tentu hanya khayalannya.
Kondisi Tuan Putri tiap pertunjukan, dirasakan betul oleh Piano kesayangannya itu. Setelah selesai pertunjukan, atau ketika mereka sedang berduaan di kamar mengaransemen nada-nada, Tuan Putri sering curhat perihal keinginannya bertemu dengan pria yang selalu hadir pada pertunjukannya. Piano sebenarnya mengerti, kalau Pria Kesepian itu benar-benar kesepian. Gadis pirang yang kerap ada di sampingnya selama pertunjukan adalah turis yang sedang ia guide. Menjadi guide rupanya pekerjaan sampingannya sebagai mahasiswa. Kalau saja Tuan Putri lebih teliti mengamati gadis-gadis pirang yang ada di sampingnya, Tuan Putri pasti akan menemukan perbedaan-perbedaan, gumam si Piano. Pada konser sebelumnya ada Gadis Pirang bermata amber, berikutnya lagi Gadis Pirang bermata cokelat, dan kini Gadis Pirang bermata safir. Hal ini ingin ia sampaikan kepada Tuan Putri, namun apa daya, ia hanyalah Piano yang hanya bisa menghasilkan nada, bukan untuk berkata-kata. ***
Pertunjukan Gadis Piano malam ini betul-betul luar biasa. Para penonton memancarkan wajah yang ceria. Mereka berharap, suatu ketika dapat kembali menyaksikan pertunjukan piano yang begitu mempesona. Di luar gedung, hujan turun perlahan, mengabutkan mata-mata yang tak mampu menggapai cinta.***
Salihara-Pancoran, Oktober 2011. Biodata: M. Nurcholis lahir pada 22 Juni 1986 di kota Cilacap. Menulis Puisi dan Cerpen di waktu senggangnya. Kontak: Twitter: n_cholize Facebook: Muhammad Nurcholis
Putriku dan Dongeng-dongengnya
Putriku senang mendengarkan dongeng. Berkat ibunya yang rajin, gadis cilik berusia lima tahun itu kini tergila-gila pada dongeng. Setiap kali dia ingat, dia akan meminta hingga memaksa siapa pun untuk mendongeng padanya. Juru cerita favoritnya, tentu saja adalah ibunya sendiri, si racun pertama. Dongeng-dongeng yang diceritakan istriku kebanyakan adalah gubahan ngaco yang terinspirasi Grimm, Perault, Andersen, ataupun cerita-cerita rakyat. Istriku adalah penggila dongeng yang taat. Dia bahkan menulis skripsinya tentang dongeng sebagai syarat kelulusannya menjadi Sarjana Sastra.
Aku sendiri menganggap dongeng sebagai mainan anak perempuan, apalagi dongeng-dongeng yang melibatkan kisah para putri yang minta diselamatkan. Aku hanya mengangguk-angguk saja berpura-pura tertarik ketika istriku bercerita tentang dongeng-dongeng yang digilainya itu. Maka aku pun tidak heran ketika anakku yang bicaranya masih cadel itu tertular kegilaan ibunya.
Suatu waktu, putriku menarik-narik ujung kemejaku meminta didongengi sesuatu. Kala itu aku sedang sibuk mengerjakan laporan dan tidak bisa memenuhi permintaannya. Dia meraung kencang sekali, dan tak ada satu pun yang dapat meredakan tangisannya itu, tidak pula dongeng dari istriku. Dia menginginkan dongeng hanya dariku.
Maka baiklah, pikirku, toh laporan ini sudah hampir selesai dan tak ada salahnya jika kutinggalkan sebentar demi bisa bercerita pada putri semata wayangku.
Dia langsung berhenti menangis dan air matanya mengering dengan sendirinya, wajahnya dihiasi tawa, tak ada jejak-jejak tangis di mukanya yang mungil itu. Dasar penipu cilik, pikirku.
Anakku sudah menyiapkan tempat di ranjang kecilnya. Dia menyusun bantal-bantal sedemikian rupa agar aku bisa mendongeng dengan nyaman. Sungguh, melihatnya berseri-seri seperti ini membuat hatiku membuncah bahagia. Matanya berbinar menatapku penuh antisipasi, bersiap mendengar dongeng paling hebat.
“Pada zaman dahulu,” demikian aku memulai. Namun, sebelum sampai pada kalimat berikutnya, dia sudah protes dengan suaranya yang kenes. “Ibu tidak pakai ‘pada zaman dahulu’ kalau mendongeng. Ibu bilang, mendongeng kayak gitu udah kuno.”
Ingatkan aku untuk mencubit istriku karena telah menyebabkan semua kerepotan ini. Aku tidak suka dongeng, pun tidak pandai mengarang dan sekarang harus berkutat dengan itu setiap hari.
“Baiklah. Hmmm, bagaimana ya?” "Telselah Ayah."
Aku memutar otak, lalu kembali memulai. “Kisah ini terjadi tidak terlalu lama. Mungkin kemarin, tapi bisa juga baru terjadi. Pokoknya, di dunia dongeng, soal waktu bukanlah masalah penting....”
Anakku sudah memperhatikan dengan saksama.
“Ini adalah cerita dua monster yang saling membenci.” "Kenapa meleka saling membenci, Ayah?” “Hush... dengarkan dulu.” "Monstelnya selam tidak, Ayah? "Monsternya tidak seram. Kamu mau dengar ceritanya atau tidak?” Aku terus mengulur-ulur waktu sambil memikirkan apa yang akan kuceritakan berikutnya. Dia diam, siap mendengarkan lagi. “Pada saat ini, mungkin terjadi di dalam lemarimu, atau di bawah ranjangmu, hidup dua ekor monster yang saling membenci. Mereka tidak tahu mengapa mereka saling membenci. Tiba-tiba saja begitu. Awalnya mereka berpapasan di gang, kemudian tumbuhlah benih-benih kebencian di antara mereka.
Mereka adalah Monster Merah dan Monster Ungu. Monster Merah menyukai segala yang berwarna merah dan senang menggambar dan mendengarkan dongeng. Sementara itu, Monster Ungu menyukai warna ungu, suka mewarnai dan membacakan dongeng. Tetapi mereka tidak tahu itu. Monster Merah hanya tahu kalau Monster Ungu adalah monster jelek dan tinggi yang berwarna ungu dan punya tampang bodoh. Sementara Monster ungu mengenali monster merah sebagai monster bertampang galak yang senang membentak orang juga sok pintar. Keduanya tidak tahu kalau mereka berdua memiliki hobi yang sama.
Setiap hari, kebencian mereka semakin menjadi-jadi. Kedua monster itu tinggal bersebelahan dan setiap hari yang mereka pikirkan adalah bagaimana caranya agar tidak usah bertemu muka dengan tetangga mereka. Mereka begitu sibuk memikirkan kebencian mereka sampai-sampai mereka melupakan hal-hal yang mereka sukai. Mereka mulai meninggalkan hobi mereka menggambar dan mendengarkan dongeng. Mereka malah berlomba-lomba membuat senjata penghancur!”
“Senjata apa, Ayah? Pelulu meliam?” "Senjata jenis apa pun.” “Senjata biologis?”
Dari mana pula anakku yang masih lima tahun mengetahui soal senjata biologis? Aku geleng-geleng kepala.
"Dengarkan dulu,” ujarku. “Nah, suatu hari, datang monster lain ke wilayah itu dan membangun sarang di seberang rumah kedua monster kita. Namanya Monster Hitam. Ia mengundang kedua tetangga barunya untuk datang ke rumahnya dan makan-makan, karena ia ingin mengenal keduanya. Menurutnya, kita harus mengenal orang terdekat kita dengan baik, agar kita bisa saling menolong. Karena kita tidak bisa hidup sendiri-sendiri.
“Monster Merah senang sekali menerima undangan dari Monster Hitam. Ia menyisir bulu merahnya sampai rapi agar tetangga barunya terkesan. Sementara itu, Monster Ungu mandi di sungai lamaa sekali, sampai seluruh tubuhnya wangi. Kau bahkan bisa mencium wanginya dari jauh. Mereka datang ke sarang Monster Hitam pada saat yang bersamaan. Ketika mengetahui tetangga lama mereka diundang juga, keduanya memalingkan muka lalu meludah ke pinggir jalan.”
“Ih jolok!” putriku tak tahan untuk berkomentar. “Mau diterusin, enggak?”
Gadis kecilku langsung terdiam sambil menutupi mulutnya. Matanya membelalak. Dia pasti akan memarahi dirinya sendiri seandainya dia melontarkan komentar lagi hingga membuatku berhenti bercerita. Pemikiran itu membuatku tertawa.
“Kenapa ketawa sendiri, Ayah?” Ya. Dan dia tidak tahan. Lalu menutup mulutnya lagi dengan tangan. Aku mengabaikannya, lalu meneruskan ceritaku. “Dengan gusar, kedua monster itu mengetuk pintu sarang Monster Hitam. Monster hitam membukakan pintu buat mereka dengan senyum lebar. Mau tak mau si Merah dan Ungu pun ikut tersenyum setelah memasang tampang merengut karena bertemu musuh.
‘Silakan duduk,” Monster Hitam sangat ramah. Ia mempersilakan kedua tamunya duduk di sofa empuk. Di meja sudah tersedia berbagai makanan enak. Monster Merah dan Ungu menelan liur. ‘Aku senang dapet teman baru seperti kalian. Aku jadi punya teman bermain baru. Katakan, apa hobimu?’ Monster Hitam menoleh pada Monster Merah. ‘Aku suka menggambar dan mendengar dongeng,’ jawab Monster Merah.
Monster Ungu terkesiap, tidak mengira mendapatkan jawaban seperti itu. Lalu Monster Hitam menoleh padanya dan menanyakan hal yang sama.
‘Aku suka mewarnai dan membaca cerita.’ ‘Wah, kalian pasti sering bermain bersama ya, dengan hobi seperti itu. Menyenangkan sekali. Kalau monster merah menggambar, Monster Ungu yang mewarnai gambarnya. Monster Ungu senang mendongeng, dan Monster Merah senang mendengarnya. Kalian pasti dekat sekali, ya? Aku iri.... Aku ingin punya teman seperti kalian.’
Monster Merah dan Monster Ungu saling berpandangan. Hati mereka berkecamuk. Bagaimana mungkin, monster yang paling mereka benci, ternyata memiliki kesukaan yang sama?”
“Setelah itu gimana, Ayah? Apakah meleka jadi belteman?” “Monster Merah mengulurkan tangan berbulu merahnya ke Monster Ungu, lalu malu-malu berkata: ‘Kayaknya kita harus kenalan dulu. Aku Monster Merah. Aku suka menggambar dan mendengarkan dongeng.’ Monster Ungu menyambutnya dan berkata: ‘Aku Monster Ungu, aku senang mewarnai dan membaca dongeng.’ Monster Hitam hanya tersenyum-senyum melihat kelakuan mereka berdua.
Sejak saat itu, Monster Merah dan Monster Ungu menjadi sahabat yang tak terpisahkan. Berdua, mereka menggambar, mewarnai, dan berbagi dongeng setiap hari.”
“Lalu Monstel Hitam ditinggalin sendili?” “Monster Hitam pindah rumah dan mencari monster-monster lain yang bermusuhan.” “Ohhh...” “Sekarang kamu tidur, ya...” Aku menyelimuti tubuhnya dan mencium keningnya. “Dongeng yang lain, Yah... Ibu suka mendongeng soal Laksasa dan Timun Suli. Atau Sangkuliang. Atau Lutung Kasalung, Yah! Atau celita Bandung Bondowoso!” “Timun Mas, maksud kamu?” “Iya, Timun Suli!” “Ibu saja ya, yang mendongeng.” “Ayah saja!” Putriku bersikeras.
Aku menghela napas dan mulai memutar otak lagi. Istriku harus dihukum habis ini.
Coffeewar, 2 Oktober 2011
Jia Effendie. Penggiat komunitas menulis The Hermes. Editor buku dan penerjemah. Bukunya yang telah terbit adalah Nyonya Perca (2008) dan Ya Lyublyu Tebya (2010). Cerita Sahabat adalah buku kumpulan cerpen yang memuat dua cerpennya bersama 11 penulis lain, terbit Oktober 2011. Karyanya yang lain dapat dibaca di http://jiaeffendie.wordpress.com atau dengarkan sajaknya di http://membacasajak.posterous.com
Aku sendiri menganggap dongeng sebagai mainan anak perempuan, apalagi dongeng-dongeng yang melibatkan kisah para putri yang minta diselamatkan. Aku hanya mengangguk-angguk saja berpura-pura tertarik ketika istriku bercerita tentang dongeng-dongeng yang digilainya itu. Maka aku pun tidak heran ketika anakku yang bicaranya masih cadel itu tertular kegilaan ibunya.
Suatu waktu, putriku menarik-narik ujung kemejaku meminta didongengi sesuatu. Kala itu aku sedang sibuk mengerjakan laporan dan tidak bisa memenuhi permintaannya. Dia meraung kencang sekali, dan tak ada satu pun yang dapat meredakan tangisannya itu, tidak pula dongeng dari istriku. Dia menginginkan dongeng hanya dariku.
Maka baiklah, pikirku, toh laporan ini sudah hampir selesai dan tak ada salahnya jika kutinggalkan sebentar demi bisa bercerita pada putri semata wayangku.
Dia langsung berhenti menangis dan air matanya mengering dengan sendirinya, wajahnya dihiasi tawa, tak ada jejak-jejak tangis di mukanya yang mungil itu. Dasar penipu cilik, pikirku.
Anakku sudah menyiapkan tempat di ranjang kecilnya. Dia menyusun bantal-bantal sedemikian rupa agar aku bisa mendongeng dengan nyaman. Sungguh, melihatnya berseri-seri seperti ini membuat hatiku membuncah bahagia. Matanya berbinar menatapku penuh antisipasi, bersiap mendengar dongeng paling hebat.
“Pada zaman dahulu,” demikian aku memulai. Namun, sebelum sampai pada kalimat berikutnya, dia sudah protes dengan suaranya yang kenes. “Ibu tidak pakai ‘pada zaman dahulu’ kalau mendongeng. Ibu bilang, mendongeng kayak gitu udah kuno.”
Ingatkan aku untuk mencubit istriku karena telah menyebabkan semua kerepotan ini. Aku tidak suka dongeng, pun tidak pandai mengarang dan sekarang harus berkutat dengan itu setiap hari.
“Baiklah. Hmmm, bagaimana ya?” "Telselah Ayah."
Aku memutar otak, lalu kembali memulai. “Kisah ini terjadi tidak terlalu lama. Mungkin kemarin, tapi bisa juga baru terjadi. Pokoknya, di dunia dongeng, soal waktu bukanlah masalah penting....”
Anakku sudah memperhatikan dengan saksama.
“Ini adalah cerita dua monster yang saling membenci.” "Kenapa meleka saling membenci, Ayah?” “Hush... dengarkan dulu.” "Monstelnya selam tidak, Ayah? "Monsternya tidak seram. Kamu mau dengar ceritanya atau tidak?” Aku terus mengulur-ulur waktu sambil memikirkan apa yang akan kuceritakan berikutnya. Dia diam, siap mendengarkan lagi. “Pada saat ini, mungkin terjadi di dalam lemarimu, atau di bawah ranjangmu, hidup dua ekor monster yang saling membenci. Mereka tidak tahu mengapa mereka saling membenci. Tiba-tiba saja begitu. Awalnya mereka berpapasan di gang, kemudian tumbuhlah benih-benih kebencian di antara mereka.
Mereka adalah Monster Merah dan Monster Ungu. Monster Merah menyukai segala yang berwarna merah dan senang menggambar dan mendengarkan dongeng. Sementara itu, Monster Ungu menyukai warna ungu, suka mewarnai dan membacakan dongeng. Tetapi mereka tidak tahu itu. Monster Merah hanya tahu kalau Monster Ungu adalah monster jelek dan tinggi yang berwarna ungu dan punya tampang bodoh. Sementara Monster ungu mengenali monster merah sebagai monster bertampang galak yang senang membentak orang juga sok pintar. Keduanya tidak tahu kalau mereka berdua memiliki hobi yang sama.
Setiap hari, kebencian mereka semakin menjadi-jadi. Kedua monster itu tinggal bersebelahan dan setiap hari yang mereka pikirkan adalah bagaimana caranya agar tidak usah bertemu muka dengan tetangga mereka. Mereka begitu sibuk memikirkan kebencian mereka sampai-sampai mereka melupakan hal-hal yang mereka sukai. Mereka mulai meninggalkan hobi mereka menggambar dan mendengarkan dongeng. Mereka malah berlomba-lomba membuat senjata penghancur!”
“Senjata apa, Ayah? Pelulu meliam?” "Senjata jenis apa pun.” “Senjata biologis?”
Dari mana pula anakku yang masih lima tahun mengetahui soal senjata biologis? Aku geleng-geleng kepala.
"Dengarkan dulu,” ujarku. “Nah, suatu hari, datang monster lain ke wilayah itu dan membangun sarang di seberang rumah kedua monster kita. Namanya Monster Hitam. Ia mengundang kedua tetangga barunya untuk datang ke rumahnya dan makan-makan, karena ia ingin mengenal keduanya. Menurutnya, kita harus mengenal orang terdekat kita dengan baik, agar kita bisa saling menolong. Karena kita tidak bisa hidup sendiri-sendiri.
“Monster Merah senang sekali menerima undangan dari Monster Hitam. Ia menyisir bulu merahnya sampai rapi agar tetangga barunya terkesan. Sementara itu, Monster Ungu mandi di sungai lamaa sekali, sampai seluruh tubuhnya wangi. Kau bahkan bisa mencium wanginya dari jauh. Mereka datang ke sarang Monster Hitam pada saat yang bersamaan. Ketika mengetahui tetangga lama mereka diundang juga, keduanya memalingkan muka lalu meludah ke pinggir jalan.”
“Ih jolok!” putriku tak tahan untuk berkomentar. “Mau diterusin, enggak?”
Gadis kecilku langsung terdiam sambil menutupi mulutnya. Matanya membelalak. Dia pasti akan memarahi dirinya sendiri seandainya dia melontarkan komentar lagi hingga membuatku berhenti bercerita. Pemikiran itu membuatku tertawa.
“Kenapa ketawa sendiri, Ayah?” Ya. Dan dia tidak tahan. Lalu menutup mulutnya lagi dengan tangan. Aku mengabaikannya, lalu meneruskan ceritaku. “Dengan gusar, kedua monster itu mengetuk pintu sarang Monster Hitam. Monster hitam membukakan pintu buat mereka dengan senyum lebar. Mau tak mau si Merah dan Ungu pun ikut tersenyum setelah memasang tampang merengut karena bertemu musuh.
‘Silakan duduk,” Monster Hitam sangat ramah. Ia mempersilakan kedua tamunya duduk di sofa empuk. Di meja sudah tersedia berbagai makanan enak. Monster Merah dan Ungu menelan liur. ‘Aku senang dapet teman baru seperti kalian. Aku jadi punya teman bermain baru. Katakan, apa hobimu?’ Monster Hitam menoleh pada Monster Merah. ‘Aku suka menggambar dan mendengar dongeng,’ jawab Monster Merah.
Monster Ungu terkesiap, tidak mengira mendapatkan jawaban seperti itu. Lalu Monster Hitam menoleh padanya dan menanyakan hal yang sama.
‘Aku suka mewarnai dan membaca cerita.’ ‘Wah, kalian pasti sering bermain bersama ya, dengan hobi seperti itu. Menyenangkan sekali. Kalau monster merah menggambar, Monster Ungu yang mewarnai gambarnya. Monster Ungu senang mendongeng, dan Monster Merah senang mendengarnya. Kalian pasti dekat sekali, ya? Aku iri.... Aku ingin punya teman seperti kalian.’
Monster Merah dan Monster Ungu saling berpandangan. Hati mereka berkecamuk. Bagaimana mungkin, monster yang paling mereka benci, ternyata memiliki kesukaan yang sama?”
“Setelah itu gimana, Ayah? Apakah meleka jadi belteman?” “Monster Merah mengulurkan tangan berbulu merahnya ke Monster Ungu, lalu malu-malu berkata: ‘Kayaknya kita harus kenalan dulu. Aku Monster Merah. Aku suka menggambar dan mendengarkan dongeng.’ Monster Ungu menyambutnya dan berkata: ‘Aku Monster Ungu, aku senang mewarnai dan membaca dongeng.’ Monster Hitam hanya tersenyum-senyum melihat kelakuan mereka berdua.
Sejak saat itu, Monster Merah dan Monster Ungu menjadi sahabat yang tak terpisahkan. Berdua, mereka menggambar, mewarnai, dan berbagi dongeng setiap hari.”
“Lalu Monstel Hitam ditinggalin sendili?” “Monster Hitam pindah rumah dan mencari monster-monster lain yang bermusuhan.” “Ohhh...” “Sekarang kamu tidur, ya...” Aku menyelimuti tubuhnya dan mencium keningnya. “Dongeng yang lain, Yah... Ibu suka mendongeng soal Laksasa dan Timun Suli. Atau Sangkuliang. Atau Lutung Kasalung, Yah! Atau celita Bandung Bondowoso!” “Timun Mas, maksud kamu?” “Iya, Timun Suli!” “Ibu saja ya, yang mendongeng.” “Ayah saja!” Putriku bersikeras.
Aku menghela napas dan mulai memutar otak lagi. Istriku harus dihukum habis ini.
Coffeewar, 2 Oktober 2011
Jia Effendie. Penggiat komunitas menulis The Hermes. Editor buku dan penerjemah. Bukunya yang telah terbit adalah Nyonya Perca (2008) dan Ya Lyublyu Tebya (2010). Cerita Sahabat adalah buku kumpulan cerpen yang memuat dua cerpennya bersama 11 penulis lain, terbit Oktober 2011. Karyanya yang lain dapat dibaca di http://jiaeffendie.wordpress.com atau dengarkan sajaknya di http://membacasajak.posterous.com
K e m b a l i
Kembalilah, Ina. Sudah delapan tahun kita berpisah. Sungguh satu hal yang selalu menggangguku adalah kesepian. Pulanglah, Inaku sayang!” Aku sangat merindukanmu. Kuharap, purnama malam nanti kita bisa sama menyaksikannya dari taman bunga-bunga mawar itu. Kau suka sekali dengan mawar dan aku suka sekali berada di sampingmu, Ina. Aku tunggu, ya. Kedatanganmu.” Dari Yang Mencintaimu Zion −−− Inilah bunyi surat pertama Zion untuk kekasihnya, Ina, yang sekarang sedang berada di negeri Samba. Sebuah negeri yang terkenal dengan sepak bolanya yang aduhai. Jelas timnas Garuda harus lebih banyak berlatih dan berlatih serta harus siap mental yang baik dan fisik yang kuat untuk melawan permainan anak-anak Samba yang sudah lima kali menjuarai piala dunia itu. Ah, kurasa bukan soal sepak bola yang hendak aku ceritakan saat ini.
Delapan tahun sudah Zion dan Ina berpisah. Ina pergi ke Brazil mengikuti kedua orangtuanya yang sekarang sedang bekerja di sana. Entah apa perkerjaan kedua orang tua Ina, Zion sahabatku ini tidak pernah memberitahuku. Entah apa sebab, jelas aku tak tahu. Setiap kali aku menanyakan soal itu, Zion tak pernah mau memberitahuku. Tapi, sudahlah. Itukan bukan urusanku.
Zion dan Ina selama ini−selama delapan tahun tidak pernah berkomunikasi sedikit pun. Padahal soal komunikas di zaman yang serba canggih ini adalah hal yang sangat gampang. Bisa lewat telpon seluler atau pun lewat jejaring sosial yang sekarang sedang marak-maraknya. Namun, kecanggihan itu tidak dimanfaatkan penuh oleh kedua pasang kekasih ini untuk sekedar menghilangkan kerinduan. Sangatlah disayangkan, bukan? Mereka hanya membiarkan kerinduan itu datang dan terus datang mengusik malam-malam mereka. Hal ini sangat dirasakan Zion sahabatku ini. Dia pernah bercerita kepadaku soal kerinduannya pada Ina yang tak bisa ia tahan lagi. Entah, Ina juga merasakan hal yang sama. Dia tidak tahu. Tapi jelas ia sangat merindukan Ina, buah hatinya ini.
Kesepian yang sudah bertahun mengisi malam-malam Zion sahabatku ini membuat aku juga seperti merasakannya. Kadang ia murung membuat aku pun jadi merasakan betapa dunia ini sepi sekali bila hidup tak ada yang menemani. Mungkin karena itu maka Tuhan menciptkan Hawa. Bayangkan saja jika tak ada Hawa, Adam tentu akan kesepian seperti halnya yang Zion rasakan sekarang ini. Zion adalah sahabat dekatku yang sangat akrab denganku sehingga membuat aku tak tega membiarkan ia dalam kesepian yang berlarut. Kadang bila ia hendak menangis karena kesepian itu, aku coba mengajak ia mendengarkan beberapa lagu kesukaannya. November Rain adalah salah satu lagu kesukaannya. Lagu milik Guns N’ Roses ini kadang membuat ia bisa tersenyum, walau hanya beberapa jam saja.
Pernah aku menyuruh Zion untuk membuat akun facebooknya. Siapa tahu dengan akun yang ia miliki bisa membuat ia lebih gampang berkomuniksi dengan Ina. Meski tujuankku baik, tapi ia selalu saja menolak setiap ide-ide yang kukasih. Ia tidak suka dengan dunia maya. Banyak kejahatan yang terjadi di sana. Ia hanya ingin Ina kembali dalam dunia yang nyata. Dunia dimana mereka bisa saling dekap dan saling bercakap-cakap tentang bulan dan tentang bintang. Lalu tersenyum bersama-sama. Sesungguhnya dunia nyatalah yang dapat membuat ia bisa merasakan bahwa bumi ini tak ia sendiri yang menjadi penghuni. Ada Ina di sana yang bisa mengecup keningnya. Hal inilah yang membuat ia selalu saja menolak untuk membuat akun facebook.
Aku hanya ingin hidup dalam dunia yang nyata. Dunia dimana ada sahabat-sahabtku yang benar-benar bisa membantuku bila aku menjumpai kesusahan dan kesedihan. Begitulah katanya. Baginya dunia maya sama sekali tak bisa memberikan ia sebuah kebahagian. Memang agak keras kepala, namun itulah yang menjadi pilihan hidup Zion, sahabatku ini. Atas sifat keras kepalanya itu membuat ia bisa menahan segala kesepian yang datang meski kadang ia harus meratapi kesepian. Sekali pun kesepian itu sangatlah menikam, ia tetap kuat untuk melawannya. Ia selalu menunggu untuk kembalinya Ina ke dalam dekapannya. Memang, menunggu adalah pekerjaan yang tidak mudah. Tapi, Zion adalah manusia yang boleh dibilang beda dari yang lainnya. Bisa menunggu hingga bertahun lamanya. Ia selalu percaya bahwa Ina tidak mungkin mengkhianati cinta tulusnya. Kepercayaan yang ia miliki inilah membuat ia selalu menanti Ina. −−− Sebuah sore yang tenang, aku coba mengajak Zion untuk minum kopi sore bersamaku di rumahku. “Zion, kamu terlalu kuat kawanku.” Kataku memujinya. “Aku selalu kuat kawanku. Aku mampu hidup bertahun dalam kesepian, kawan. Jika hal ini terjadi padamu, kurasa kau tak akan bertahan untuk hidup di bumi Tuhan ini, bukan?” Kata Zion sambil menertawaiku. “Ah, aku lebih kuat kawanku. Aku bisa hidup tanpamu. Kau sahabat yang paling menyebalkan.” Sekarang giliranku yang menertawainya. “Jangan bohong kau kawanku. Tanpa aku kau mungkin sudah lama mati.” Zion tersenyum sambil meneguk kopi panas.
“Sudahlah kawanku. Kita tidak usah berdebat soal kesunyian. Tapi, mari kita pikirkan bagaimana cara agar si Ina segera kembali ke dalam dekapmu”. “Boleh, tapi jangan kau suruh aku untuk membuat akun facebook dan lalu mencari Ina, kemudian meng-add-nya dan lalu mengirim pesan kepadanya untuk segera pulang”. “Kali Ini tidak kawanku. Kau tahu bukan sahabatku?” “Tahu tentang apa?” “Konon, tanggal 04 Oktober ini si Claudius akan ke Brazil. Coba saja kau menuliskan surat untuk Ina”. “ Serius kau kawanku?” “Iya, tentu aku serius kawanku. Tidak pernah bukan aku membohongimu?” “Hmm..benar, kawanku.”
Zion pun mulai menuliskan surat pertamanya untuk Ina. Setelah delapan tahun tidak pernah saling mengabarkan akhirnya segala kerinduan yang ia pendam selama ini pun tertuangkan di atas kertas putihnya. Ia melakukan penyandian yang baik dengan bahasa yang baku. Surat yang padat dengan kata-kata pun ia tuliskan. Kata demi kata ia rancang dengan indahnya. Tulisannya pun indah terlihat di sana. Rapi dan sangat mengikuti kaidah bahasa yang baik dan benar.
“Tulisanmu bagus kawan? Ujarku memuji.” ”Oh, tentu kawanku”. Tapi, Zion tidak begitu memperhatikan aku yang duduk di depannya. Ia menjawab semua ucapanku dengan begitu saja. Kali ini benar-benar ia memusatkan perhatiannya pada surat yang ia tuliskan. Kerinduannya sudah terlalu penuh tersimpan di dalam dadanya. Sekarang saatnya ia menuangkannya.
Sebuah surat telah selesai ia tuliskan. Dadanya yang selama ini hanya berisi kerinduan terlihat seperti kosong. Ia tersenyum, lalu tertawa kecil dan kemudian meneguk kopinya. Setelah itu membakar sebatang rokok. "Ah, enak sekali dadaku. Serunya.” “Enak?” ”Iya, Duff, kawanku. Dadaku sekarang benar-benar kosong. Segala rinduku kini sudah menjadi huruf-huruf, kawanku. Aku merasa sebuah beban berat di dadaku telah terbuang. Sekarang tinggal saja aku kirimkan surat ini lewat Claudius dan tinggal menanti balasan dari Ina”.
Tetap saja kau menanti lagi kawanku. Bukakah itu hanya menambah deritamu?” “Tidak. Kali ini tidak. Dengan suratku ini kurasa Ina akan pulang dan menemuiku. Suratku ini sangat puitis kawanku.” ”Seyakin itukah kamu pada suratmu ini?” ”Yakin. Iya, aku sangat yakin pada kata-kataku sendiri. Kata-kata yang bisa membuat Ina bisa pulang ke pangkuanku seperti sedia kala.” ”Bolehkah aku membaca suratmu itu?” ”Tentu boleh kawanku. “Kembalilah, Ina. Sudah delapan tahun kita berpisah. Sungguh satu hal yang selalu menggangguku adalah kesepian. Pulanglah, Inaku sayang!”
"Aku sangat merindukanmu. Kuharap, purnama malam nanti kita bisa sama menyaksikannya dari taman bunga-bunga mawar itu. Kau suka sekali dengan mawar dan aku suka sekali berada di sampingmu, Ina. Aku tunggu, ya. Kedatanganmu.” Dari Yang Mencintaimu Zion.
Begitulah bunyi surat Zion untuk Ina yang akan ia kirimkan lewat sahabat kami, Claudius, yang akan pergi ke Brasil Oktober mendatang. Aku sudah membacanya sebelum kekasihnya. Sekarang saatnya kawanku menanti balasan atas surat ini.
Jika semua kita semua di bumi ini selalu setia kepada kekasih atau pun pasangan kita seperti halnya sahabatku yang satu ini. Bertahun-tahun ia menunggu dalam kesepian. Tentu yang namanya perselingkuhan dan isteri simpanan itu tak akan ada. Sakitkan bila di khianati? Sebagai manusia normal jawabannya pasti ‘tentu’. Aku ingin menjadi lelaki setia seperti sahabatku ini. −−− "Kawanku sudahkah kau mendapatkan balasan dari Ina atas suratmu yang kau kirimkan kepadanya?”. Tanyaku saat kami berjumpa di Gereja suatu senja. Sebulan setelah Zion menuliskan suratnya untuk Ina.
”Iya, kawanku. Aku sudah mendapatkan balasannya. Dalam suratnya, Ina bilang ia akan pulang bulan Februari mendatang. Dan kami akan menikah kawanku.” ”Wah, ternyata Ina juga setia sama seperti kau, kawanku. Semoga saja Kau dan Ina akan bahagia nantinya.” ”Amin, kawanku. Kesetian kami ini sudah cukup membuat aku bahagia, kawanku. Semoga saja kamu juga bahagia bersama isterimu, Stefanie.
“Bisakah aku setia seperti mereka? Tanyaku dalam hati.”
Ciputat, 2011
Delapan tahun sudah Zion dan Ina berpisah. Ina pergi ke Brazil mengikuti kedua orangtuanya yang sekarang sedang bekerja di sana. Entah apa perkerjaan kedua orang tua Ina, Zion sahabatku ini tidak pernah memberitahuku. Entah apa sebab, jelas aku tak tahu. Setiap kali aku menanyakan soal itu, Zion tak pernah mau memberitahuku. Tapi, sudahlah. Itukan bukan urusanku.
Zion dan Ina selama ini−selama delapan tahun tidak pernah berkomunikasi sedikit pun. Padahal soal komunikas di zaman yang serba canggih ini adalah hal yang sangat gampang. Bisa lewat telpon seluler atau pun lewat jejaring sosial yang sekarang sedang marak-maraknya. Namun, kecanggihan itu tidak dimanfaatkan penuh oleh kedua pasang kekasih ini untuk sekedar menghilangkan kerinduan. Sangatlah disayangkan, bukan? Mereka hanya membiarkan kerinduan itu datang dan terus datang mengusik malam-malam mereka. Hal ini sangat dirasakan Zion sahabatku ini. Dia pernah bercerita kepadaku soal kerinduannya pada Ina yang tak bisa ia tahan lagi. Entah, Ina juga merasakan hal yang sama. Dia tidak tahu. Tapi jelas ia sangat merindukan Ina, buah hatinya ini.
Kesepian yang sudah bertahun mengisi malam-malam Zion sahabatku ini membuat aku juga seperti merasakannya. Kadang ia murung membuat aku pun jadi merasakan betapa dunia ini sepi sekali bila hidup tak ada yang menemani. Mungkin karena itu maka Tuhan menciptkan Hawa. Bayangkan saja jika tak ada Hawa, Adam tentu akan kesepian seperti halnya yang Zion rasakan sekarang ini. Zion adalah sahabat dekatku yang sangat akrab denganku sehingga membuat aku tak tega membiarkan ia dalam kesepian yang berlarut. Kadang bila ia hendak menangis karena kesepian itu, aku coba mengajak ia mendengarkan beberapa lagu kesukaannya. November Rain adalah salah satu lagu kesukaannya. Lagu milik Guns N’ Roses ini kadang membuat ia bisa tersenyum, walau hanya beberapa jam saja.
Pernah aku menyuruh Zion untuk membuat akun facebooknya. Siapa tahu dengan akun yang ia miliki bisa membuat ia lebih gampang berkomuniksi dengan Ina. Meski tujuankku baik, tapi ia selalu saja menolak setiap ide-ide yang kukasih. Ia tidak suka dengan dunia maya. Banyak kejahatan yang terjadi di sana. Ia hanya ingin Ina kembali dalam dunia yang nyata. Dunia dimana mereka bisa saling dekap dan saling bercakap-cakap tentang bulan dan tentang bintang. Lalu tersenyum bersama-sama. Sesungguhnya dunia nyatalah yang dapat membuat ia bisa merasakan bahwa bumi ini tak ia sendiri yang menjadi penghuni. Ada Ina di sana yang bisa mengecup keningnya. Hal inilah yang membuat ia selalu saja menolak untuk membuat akun facebook.
Aku hanya ingin hidup dalam dunia yang nyata. Dunia dimana ada sahabat-sahabtku yang benar-benar bisa membantuku bila aku menjumpai kesusahan dan kesedihan. Begitulah katanya. Baginya dunia maya sama sekali tak bisa memberikan ia sebuah kebahagian. Memang agak keras kepala, namun itulah yang menjadi pilihan hidup Zion, sahabatku ini. Atas sifat keras kepalanya itu membuat ia bisa menahan segala kesepian yang datang meski kadang ia harus meratapi kesepian. Sekali pun kesepian itu sangatlah menikam, ia tetap kuat untuk melawannya. Ia selalu menunggu untuk kembalinya Ina ke dalam dekapannya. Memang, menunggu adalah pekerjaan yang tidak mudah. Tapi, Zion adalah manusia yang boleh dibilang beda dari yang lainnya. Bisa menunggu hingga bertahun lamanya. Ia selalu percaya bahwa Ina tidak mungkin mengkhianati cinta tulusnya. Kepercayaan yang ia miliki inilah membuat ia selalu menanti Ina. −−− Sebuah sore yang tenang, aku coba mengajak Zion untuk minum kopi sore bersamaku di rumahku. “Zion, kamu terlalu kuat kawanku.” Kataku memujinya. “Aku selalu kuat kawanku. Aku mampu hidup bertahun dalam kesepian, kawan. Jika hal ini terjadi padamu, kurasa kau tak akan bertahan untuk hidup di bumi Tuhan ini, bukan?” Kata Zion sambil menertawaiku. “Ah, aku lebih kuat kawanku. Aku bisa hidup tanpamu. Kau sahabat yang paling menyebalkan.” Sekarang giliranku yang menertawainya. “Jangan bohong kau kawanku. Tanpa aku kau mungkin sudah lama mati.” Zion tersenyum sambil meneguk kopi panas.
“Sudahlah kawanku. Kita tidak usah berdebat soal kesunyian. Tapi, mari kita pikirkan bagaimana cara agar si Ina segera kembali ke dalam dekapmu”. “Boleh, tapi jangan kau suruh aku untuk membuat akun facebook dan lalu mencari Ina, kemudian meng-add-nya dan lalu mengirim pesan kepadanya untuk segera pulang”. “Kali Ini tidak kawanku. Kau tahu bukan sahabatku?” “Tahu tentang apa?” “Konon, tanggal 04 Oktober ini si Claudius akan ke Brazil. Coba saja kau menuliskan surat untuk Ina”. “ Serius kau kawanku?” “Iya, tentu aku serius kawanku. Tidak pernah bukan aku membohongimu?” “Hmm..benar, kawanku.”
Zion pun mulai menuliskan surat pertamanya untuk Ina. Setelah delapan tahun tidak pernah saling mengabarkan akhirnya segala kerinduan yang ia pendam selama ini pun tertuangkan di atas kertas putihnya. Ia melakukan penyandian yang baik dengan bahasa yang baku. Surat yang padat dengan kata-kata pun ia tuliskan. Kata demi kata ia rancang dengan indahnya. Tulisannya pun indah terlihat di sana. Rapi dan sangat mengikuti kaidah bahasa yang baik dan benar.
“Tulisanmu bagus kawan? Ujarku memuji.” ”Oh, tentu kawanku”. Tapi, Zion tidak begitu memperhatikan aku yang duduk di depannya. Ia menjawab semua ucapanku dengan begitu saja. Kali ini benar-benar ia memusatkan perhatiannya pada surat yang ia tuliskan. Kerinduannya sudah terlalu penuh tersimpan di dalam dadanya. Sekarang saatnya ia menuangkannya.
Sebuah surat telah selesai ia tuliskan. Dadanya yang selama ini hanya berisi kerinduan terlihat seperti kosong. Ia tersenyum, lalu tertawa kecil dan kemudian meneguk kopinya. Setelah itu membakar sebatang rokok. "Ah, enak sekali dadaku. Serunya.” “Enak?” ”Iya, Duff, kawanku. Dadaku sekarang benar-benar kosong. Segala rinduku kini sudah menjadi huruf-huruf, kawanku. Aku merasa sebuah beban berat di dadaku telah terbuang. Sekarang tinggal saja aku kirimkan surat ini lewat Claudius dan tinggal menanti balasan dari Ina”.
Tetap saja kau menanti lagi kawanku. Bukakah itu hanya menambah deritamu?” “Tidak. Kali ini tidak. Dengan suratku ini kurasa Ina akan pulang dan menemuiku. Suratku ini sangat puitis kawanku.” ”Seyakin itukah kamu pada suratmu ini?” ”Yakin. Iya, aku sangat yakin pada kata-kataku sendiri. Kata-kata yang bisa membuat Ina bisa pulang ke pangkuanku seperti sedia kala.” ”Bolehkah aku membaca suratmu itu?” ”Tentu boleh kawanku. “Kembalilah, Ina. Sudah delapan tahun kita berpisah. Sungguh satu hal yang selalu menggangguku adalah kesepian. Pulanglah, Inaku sayang!”
"Aku sangat merindukanmu. Kuharap, purnama malam nanti kita bisa sama menyaksikannya dari taman bunga-bunga mawar itu. Kau suka sekali dengan mawar dan aku suka sekali berada di sampingmu, Ina. Aku tunggu, ya. Kedatanganmu.” Dari Yang Mencintaimu Zion.
Begitulah bunyi surat Zion untuk Ina yang akan ia kirimkan lewat sahabat kami, Claudius, yang akan pergi ke Brasil Oktober mendatang. Aku sudah membacanya sebelum kekasihnya. Sekarang saatnya kawanku menanti balasan atas surat ini.
Jika semua kita semua di bumi ini selalu setia kepada kekasih atau pun pasangan kita seperti halnya sahabatku yang satu ini. Bertahun-tahun ia menunggu dalam kesepian. Tentu yang namanya perselingkuhan dan isteri simpanan itu tak akan ada. Sakitkan bila di khianati? Sebagai manusia normal jawabannya pasti ‘tentu’. Aku ingin menjadi lelaki setia seperti sahabatku ini. −−− "Kawanku sudahkah kau mendapatkan balasan dari Ina atas suratmu yang kau kirimkan kepadanya?”. Tanyaku saat kami berjumpa di Gereja suatu senja. Sebulan setelah Zion menuliskan suratnya untuk Ina.
”Iya, kawanku. Aku sudah mendapatkan balasannya. Dalam suratnya, Ina bilang ia akan pulang bulan Februari mendatang. Dan kami akan menikah kawanku.” ”Wah, ternyata Ina juga setia sama seperti kau, kawanku. Semoga saja Kau dan Ina akan bahagia nantinya.” ”Amin, kawanku. Kesetian kami ini sudah cukup membuat aku bahagia, kawanku. Semoga saja kamu juga bahagia bersama isterimu, Stefanie.
“Bisakah aku setia seperti mereka? Tanyaku dalam hati.”
Ciputat, 2011
Langganan:
Postingan (Atom)